KOMPONEN STRATEGI
PEMBELAJARAN
A. Pendahuluan
Pembelajaran
merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling
berhubungan dan mempengaruhi. Komponen tersebut adalah guru, siswa, tujuan,
materi, metode, dan evaluasi. Dari komponen-komponen pembelajaran tersebut,
tujuan dijadikan fokus utama pengembangan, artinya komponen-komponen yang lain
dikembangkan mengacu pada komponen tujuan yang ingin dicapai.
Pada
hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi transksional yang
bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk
mencapai tujuan yang telah dicapai. Komunikasi transaksional adalah bentuk
komunikasi yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang
terkait dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran
komponen-komponenya saling keterkaitan yang mengacu pada suatu tujuan yang
ingin dicapai. Pada kajian
yang penulis buat membahas tentang komponen-komponen pembelajaran yang mengacu
pada tujuan untuk menambah pamahaman bagi pembaca berkaitan dengan pembelajaran
dan komponen-komponen yang ada didalamnya.
B. Pengertian
Komponen Pembelajaran
Dalam menerapkan strategi
pembelajaran ada beberapa komponen yang harus diperhatikan agar dalam kegiatan
pembelajaran tercapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Menurut Dick and
Carey menyebutkan adanya 5 komponen strategi pembelajaran yakni :
- Kegiatan pembelajaran pendahuluan.
- Penyampaian informasi.
- Partisipasi siswa
- Tes, dan
- Kegiatan lanjutan
Berbeda dengan yang dikemukakan oleh
Gagne and Briggs, komponen dalam strategi pembelajaran adalah :
1)
Memberikan motivasi atau
menarik perhatian.
2)
Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa.
3)
Mengingatkan kompetensi prasyarat.
4)
Memberi stimulus (masalah, topic, konsep).
5)
Memberi petunjuk belajar (cara mempelajari).
6)
Menimbulkan penampilkan siswa
7)
Memberi umpan balik
8)
Menilai penampilan
9)
Menyimpulkan.
Berdasarkan rumusan komponen
strategi pembelajaran yang dikemukakan ahli secara garis besar dapat
dikelompokkkan menjadi :
1. Komponen
pertama yaitu urutan kegiatan pembelajaran
Mengurutkan kegiatan pembelajaran dapat memudahkan guru
dalam pelaksanaan kegiatan mengajarnya, guru dapat mengetahui bagaimana ia
harus memulainya, menyajikannya dan menutup pelajaran.
a) Sub komponen pendahuluan,
merupakan kegiatan awal dalam pembelajaran. Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk memberikan motivasi kepada siswa,
memusatkan perhatian siswa agar siswa bisa
mempersiapkan dirinya untuk menerima pelajaran dan juga mengetahui kemampuan
siswa atau apa yang telah dikuasai siwa sebelumnya dan berkaitan dengan materi
pelajaran yang akan disampaikan. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah
memberikan gambaran singkat tentang isi pelajaran, penjelasan relevansi isis
pelajaran baru, dan penjelasan tentang tujuan pembelajaran.
b) Sub komponen penyajian, kegiatan ini
merupakan inti dari
kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan ini peserta didik akan ditanamkan
pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah dimiliki dikembangkan pada tahap
ini. Tahap-tahapnya adalah menguraikan materi pelajaran, memberikan contoh dan memberikan
latihan yang disesuaikan dengan materi pelajaran.
c) Sub komponen penutup, merupakan
kegiatan akhir dalam urutan kegiatan pembelajaran. Dilaksanakan untuk
memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan materi
pelajaran yang telah diberikan.
2.
Komponen kedua yaitu metode pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara yang
digunakan oleh pengajar dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta
didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengajar atau guru harus dapat memilih
metode yang tepat yang disesuaikan dengan materi pelajaran agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran mungkin dapat dikatakan tepat
untuk suatu pelajaran tetapi belum tentu tepat untuk pelajaran yang lainnya,
untuk itu guru haruslah pandai dalam memilih dan menggunakan metode-metode
pembelajaran mana
yang akan digunakan dan disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dan
karakteristik siswa.
Macam-macam
metode pembelajaran adalah :
a)
Metode ceramah
b)
Metode demonstrasi
c)
Metode simulasi
d)
Metode diskusi
e)
Metode studi
mandiri
f)
Metode studi kasus dll.
g)
Metode pembelajaran terprogram
h)
Metode discovery
i)
Metode do-look-learn
j)
Metode praktikum
k)
Metode bermain peran
3.
Komponen ketiga yaitu media yang digunakan.
Media adalah segala bentuk dan
saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Media dapat
berbentuk orang/guru, alat-alat elektronik, media cetak,dsb. Hal-hal yang harus
dipertimbangkan dalam memilih media adalah :
a)
Ketepatan dengan tujuan pembelajaran
b)
Dukungan terhadap isi pelajaran
c)
Kemudahan memperoleh media
d)
Keterampilan guru dalam menggunakannya
e)
Ketersediaan waktu menggunakannya
f)
Sesuai dengan taraf berpikir siswa.
4.
Komponen keempat adalah waktu tatap muka.
Pengajar harus tahu alokasi waktu
yang diperlukan dalam menyelesaikan pembelajaran dan waktu yang digunakan
pengajar dalam menyampaikan informasi pembelajaran. Sehingga proses
pembelajaran berjalan sesuai dengan target yang ingin dicapai.
5. Komponen
kelima adalah pengelolaan kelas.
Kelas adalah ruangan belajar
(lingkungan fisik) dan lingkungan sosio-emosional. Lingkungan fisik meliputi:
ruangan kelas, keindahan kelas, pengaturan tempat duduk, pengaturan sarana atau
alat-alat lain, dan ventilasi dan pengaturan cahaya. Sedangkan lingkungan
sosio-emosional meliputi tipe kepemimpinan guru, sikap guru, suara guru,
pembinaan hubungan baik, dsb. Pengelolaan kelas menyiapkan kondisi yang optimal
agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara lancar
Dikatakan dalam kamus Besar Bahasa
Indonesia (1997 : 15) bahwa arti kata pembelajaran adalah cara, proses
menjadikan orang belajar. Irvan Junaedi mengemukakan bahwa pembelajaran berarti
proses membuat orang belajar.
Sedangkan menurut Udin Sarifudin
Winata Putra menyatakan bahwa pembelajaran yakni proses membuat orang melakukan
proses belajar sesuai dengan rancangan. Dalam arti sempit proses pembelajaran
adalah proses pendidikan dalam lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses
pembelajaran adalah proses sosialisasi individu peserta didik dengan lingkungan
sekolah, seperti guru, fasilitan dan teman sesama peserta didik.
Menurut konsep komunikasi
pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara peserta didik dengan
guru, dan peserta didik dengan peserta didik, dalam rangka perubahan sikap dan
pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi peserta didik yang bersangkutan.
Guru berperan sebagai komunikator,
peserta didik sebagai komunikan, dan materi yang akan dikomunikasikan berisi
pesan-pesan berupa ilmu pengetahuan. Dalam komunikasi banyak arah dalam
pembelajaran, pesan-pesan tersebut bias berubah, yaitu antara guru dengan
peserta didik dan sebaliknya, serta antara peserta didik dengan peserta didik.
Sedangkan Bahtia Rifai (
Suhito 2000 : 4 ) prestasi berarti hasil kerja secara maksimal. Sedangkan A.
Gozali ( Suhito 2000 : 4 ) prestasi adalah hasil kerja dalam suatu lapangan
yang telah dicapai dengan sangat mengagumkan. Oemar Hamalik (Suhito 2000
:4)mengemukakan berprestasi adalah hasil interaksi antara beberapa faktor yang
mempengaruhi, baik dalam individu maupun dari luar individu yang bersangkutan .
Dalam kegiatan belajar mengajar
tidaklah bisa lepas dari komponen-komponen yang harus ada didalam kegiatan (
proses ) belajar mengajar.
Komponen-komponen tersebut antara lain :
a.
Tujuan yang hendak dicapai.
b.
Materi bahan pelajaran .
c.
Metode dan alat.
d.
Alat penilaian.
Adapun keempat komponen yang telah
disebutkan di atas tidaklah dapat berdiri sendiri melainkan saling interelasi,
saling berhubungan dan saling berpengaruh. Tujuan dalam dalam proses belajar
mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam kegiatan proses
belajar mengajar yang berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran.
Tujuan ini merupakan rumusan tingkah
laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh peserta didik, setelah
ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar. Materi / bahan
pelajaran isi tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Materi yang tersedia dan
dirumuskan menjadi satu kemasan sedemikian rupa dalam proses kegiatan belajar
mengajar sangatlah mendukung tercapainya tujuan. Metode dan alat merupakan
jembatan atau media untuk tercapainya tujuan yang hendak dicapai.
Metode pengajaran diusahakan sesuai
dengan tujuan dan materi yang akan diajarkan. Tidak kalah pentingnya untuk
mengetahui apakah tujuan dapat dicapai atau tidak, maka kita harus mengadakan
penilaian terhadap peserta didik, karena suatu proses kegiatan belajar mengajar
tanpa diakhiri dengan penilaian tidak akan bisa mengukur berhasil atau tidaknya
suatu proses kegiatan.
Dari uraian di atas maka ke empat
komponen tersebut saling berpengaruh dan saling mendukung agar kegiatan belajar
mengajar dapat mencapai tujuan yang seoptimal mungkin dan sesuai yang
diharapkan.
C. Pengertian Proses
Belajar-Mengajar
Winataputra,
dkk (2007: 1.18-1.1), Proses belajar-mengajar merupakan salah satu bagian dari
proses pembelajaran. Istilah proses belajar-mengajar dikenal sebelum
dipopulerkannya proses pembelajaran. Proses pembelajaran dipilih sebagai
istilah yang menunjukkan kegiatan guru dan siswa sebagai pengganti istilah
proses belajar-mengajar. Istilah pembelajaran dipopulerkan karena pembelajaran
lebih tepat dipakai sebagai istilah terjadinya kegiatan belajar, karena
kegiatan belajar tidak hanya terjadi di sekolah tetapi di dalam kehidupan di
luar sekolah dan kegiatan belajar belum tentu timbul karena adanya kegaitan
mengajar. Winataputra, dkk (2007: 1.5) Banyak istilah/pepatah berkaitan dengan
kegiatan belajar contohnya, Iqra bismirobbika ladzi kholag (bacalah alam semesta
atas nama tuhanmu), Belajarlah sampai ke negeri cina sekalipun ( Belajarlah
tentang apa saja, siapa saja, dan dimana saja) Bend the willow when it is young
( didiklah anak selagi masih muda). Semua pepatah itu bertujuan untuk
membangkitkan semangat belajar yang mengacu dalam usaha mencapai harkat hidup
yang lebih tinggi. Dan hal tersebut berkaitan erat dengan tujuan pendidikan dan
kegiatan belajar-mengajar yang mengacu pada tujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Winataputra,
dkk (2007: 1.18) Proses belajar-mengajar lebih mengacu pada kegiatan pendidikan
di sekolah sebagian besar di kelas dan lingkungan sekolah, yang dikenal sebagai
suatu proses pembelajaran dalam konteks pendidikan formal. Winataputra, dkk
(2007: 1.20 Konsep pembelajaran seperti hal tersebut dirumuskan dalam Pasal 1
butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sikdiknas, yakni “Pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar, dan
lingkungan belajar.
Lussy
(www.lussy.blogspot/Inovasi Model dan Evaluasi Pembelajaran) Pengajar, desain
pembelajaran, dan peserta didik adalah 3 (tiga) hal yang selalu disebut saat
kita ingin berbicara tentang proses pembelajaran. Mengapa demikian ? karena
sesungguhnya 3 (tiga) hal tersebutlah yang menjadi motor dalam pergerakan
sebuah roda pembelajaran.
Dari
pengertian di atas, kita mengetahui bahwa ciri utama proses belajar-mengajar
(pembelajaran) adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar
siswa. Ini menunjukkan adanya unsur kesengajaan dari pihak luar individu yang
melakukan proses belajar, dalam hal ini pendidik secara perorangan atau secara
kolektif dalam suatu sistem, merupakan ciri utama dari pembelajaran. Selain
itu, ciri lainnya adalah adanya interaksi yang sengaja diprogramkan. Interaksi
tersebut terjadi antara peserta didik yang belajar dengan lingkungan
belajarnya, baik dengan pendidik, siswa lainnya, media, dan sumber belajar.
Artinya dalam pembelajaran terdapat hubungan yang keterkaitan antara
komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari guru, siswa, tujuan, materi,
Kegiatan (pendekatan mengajar, metode, materi, media) dan evaluasi.
Hermawan,
dkk (2008: 9.6) Secara visual konsep dasar kegiatan belajar-mengajar dapat digambarkan
sebagai berikut:
D. Komponen-Komponen Proses
Belajar-Mengajar
Komponen-komponen proses pembelajaran
antara lain yaitu:
1.
Tujuan
Pembelajaran
Hermawan
(2008: 9.4) Tujuan pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang telah
ditetapkan sebelumnya agar tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan
belajar yang telah dilakukan. Hermawan (2008: 1.17. Tujuan yang jelas akan
memberi petunjuk yang jelas terhadap pemilihan materi/bahan ajar, strategi,
media, dan evaluasi.
Berkaitan
dengan tujuan pembelajaran terjadi pertentangan pendapat tentang tujuan
pembelajaran, ada sebagian ahli menyatakan tujuan pembelajaran merupakan proses
dan sebagian menyatakan tujuan haruslah menggambarkan hasil belajar bukan
prosesnya. Terlepas dari pertentangan pendapat bahwa tujuan sebagai proses atau
tidak, tujuan pembelajaran tidak dapat melepaskan diri dari tuntunan dan
kebutuhan masyarakat, serta didasari atas falsafah dan ideologi suatu negara.
Hal ini dapat dimengerti sebab upaya pendidikan itu sendiri merupakan subsistem
dalam sistem masyarakat dan negara sehingga kekuatan-kekuatan sosial,
politik,budaya. Ekonomi sangat berperan dalam penentuan tuajuan pembelajaran
terutama tujuan pendidikan yang sifatnya lebih umum.
Menurut
Bloom, dkk. Tujuan pembelajaran (proses belajar-mengajar) dapat dipilah menjadi
tujuan yang bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), psikomotorik
(ketrampilan). Derajat pencapaian tujuan ini merupakan indikator kualitas
pencapaian tujuan dan hasil perbuatan belajar siswa. Tujuan merupakan fokus
utama dari kegiatan belajar-mengajar.
2. Guru
Winataputra
(2007: 1.20. Menurut pasal 1 butir 6 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas,
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan
istilah lainnya yang sesuai dengan kekhususannya yang juga berperan dalam
pendidikan.
Hermawan,
dkk (2008: 9.4) Guru menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan
suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar
dapat mencapai tujuan secara optimal. Untuk guru harus mampu menempatkan
dirinya sebagai diseminator, informator, transmitter, transformator, organizer,
fasilitator, motivator, dan evaluator bagi terciptanya proses pembelajaran siswa
yang dinamis dan inovatif.
Pembelajaran
pada haikatnya adalah proses sebab-akibat. Guru sebagai pengajar merupakan
penyebab utama terjadinya proses pembelajaran siswa, meskipun tidak semua
belajar siswa merupakan akibat guru yang mengajar. Oleh sebab itu, guru sebagai
figur sentral harus mampu menetapkan strategi pembelajaran yang tepat sehingga
dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang aktif, produktif, dan
efesien. Guru hendaknya dalam mengajar harus memperhatikan kesiapan, tingkat
kematangan, dan cara belajar siswa.
Kiranawati,
wijianta@gmail.com. Peran Guru dalam proses belajar mengajar :
memperhatikan dan bersikap positif;
memperhatikan dan bersikap positif;
a.
mempersiapkan
baik isi materi pelajaran maupun praktek pembelajarannya
b.
memiliki
ekspektasi yang tinggi terhadap siswanya;
c.
memiliki
sensitivitas dan sadar akan adanya hubungan antara guru, siswa, serta
tugas masing-masing;
tugas masing-masing;
d.
konsisten
dan memberikan umpan balik positif kepada siswa.
3. Siswa
Lussy (www.lussy.blogspot)
Peserta didik adalah semua individu yang menjadi audiens dalam suatu lingkup
pembelajaran. Biasanya penyebutan peserta didik ini mengikuti skup/ruang
lingkup dimana pembelajaran dilaksanakan, diantaranya : siswa untuk jenjang
pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa untuk jenjang pendidikan tinggi, dan
peserta pelatihan untuk diklat. Peserta didik adalah masukan mentah (raw input)
dalam sebuah proses pembelajaran yang harus dithreat agar output dan
outcomesnya sesuai dengan yang dicanangkan institusi (khususnya) dan dunia pendidikan
Indonesia pada umumnya.
Hermawan, dkk (2008: 9.4).
Siswa sebagai peserta didik merupakan subyek utama dalam proses pembelajaran.
Keberhasilan pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara
belajar yang dilakukan siswa. Harryanto (1997:http: //one.indoskripsi.com) Hal ini seperti
yang dikemukakan oleh Kemp(1997:4),” students are the center of the teaching
and learning process, so they have to be involved in almost all the phrases of
the classroom interaction from planning to evaluation.”
Udin S. Winataputra (2007:
1.20, Teori Belajar dan Pembelajaran). Menurut Pasal 1 butir 4 UU Nomor 20
tahun 2003 tentang Sisdiknas, peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang trsedia
pada jalur, jenjang dan pendidikan tertentu. Siswa atau peserta didik merupakan
subyek utama dalam pembelajaran dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran yang
telah dibuat sebagai acuan kegiatan belajar-mengajar.
a.
Kiranawati,
wijianta@gmail.com. Peran Siswa dalam pembelajaran, antara lain:
b.
tertarik
pada topik yang sedang dibahas;
c.
dapat
melihat relevansi topik yang sedang dibahas;
d.
merasa
aman dalam lingkungan sekolah;
e.
terlibat
dalam pengambilan keputusan belajarnya;
f.
memiliki
motivasi;
g.
melihat
hubungan antara pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan pengalaman belajar yang akan dicapai.
4. Kegiatan
Pembelajaran
Winataputra
(2007: 1.2) Kegiatan Pembelajaran pada dasarnya mengacu pada Pendekatan Mengajar,
Metode, Materi, Media.
a). Pendekatan Mengajar
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan
selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Hermawan, dkk (2008:
1.23) Strategi pembelajaran pada hakikatnya merupakan tindakan nyata dari guru
dalam melaksanakan pembelajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif
dan lebih efesien.
Wina
Senjaya (2008) (Akhmad Sudrajat (http://www.psb-psma.org). Menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung
makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual
tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke
dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2)
group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau
dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat
dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran
deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan
kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something”
Tinggi
rendahnya kadar aktivitas belajar siswa banyak dipengaruhi oleh strategi atau
pendekatan mengajar yang digunakan. Banyak pendapat mengenai berbagai
pendekatan yang dapat digunakan dalam penyampaian materi/bahan ajar. Richard
Anderson (Sudjana, 1990) dalam Hermawan, dkk, 2008 mengajukan dua pendekatan,
yaitu: Pendekatan
berorientasi pada guru (teacher centered), Tipe Otokratis Pendekatan ini biasa disebut sebagai
model ekspositori atau model Informasi karena guru lebih dominan.
Pendekatan
berorientasi pada siswa (student centered), Tipe demokratis. Pendekatan ini
biasa disebut model Inquiry atau Problem solving karena kegiatan pembelajaran
lebih berpusat pada siswa dan siswa lebih aktif dalam kegiatan
belajar-mengajar.
Pemilihan strategi atau pendekatan yang dipilih oleh guru disesuaikan dengan mempertimbangkan hakikat tujuan, materi/bahan ajar, dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
Pemilihan strategi atau pendekatan yang dipilih oleh guru disesuaikan dengan mempertimbangkan hakikat tujuan, materi/bahan ajar, dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
b). Metode
Akhmad
Sudrajat (http://www.psb-psma.org). Metode adalah “a way in achieving
something” ” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan
sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Asep Herry Hermawan, dkk (2008: 11.11-11.13, Pengembangan
Kurikulum dan Pembelajaran).
Metode
pembelajaran adalah cara dalam menyajikan (menguraikan materi, memberi contoh
dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.
Tidak setiap metode pembelajaran sesuai untuk digunakan dalam mencapai tujuan
pembelajaran tertentu. Oleh karena itu sebagai seorang guru haruslah mampu
memilih metode yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Ada
berbagai metode pembelajaran, yaitu metode diskusi, metode ceramah, metode
demonstrasi, metode studi mandiri, metode simulasi, metode latihan dengan
teman, metode studi kasus, metode proyek, metode praktikum. Dalam kegiatan
pembelajaran guru dapat menggunakan lebih dari satu metode, maksudnya dapat
digunakan variasi metode dalam pembelajaran.
Ada beberapa
faktor yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pemilihan metode, antara lain:
1. Tujuan Khusus
Pembelajaran
2.
Karakteristik Materi Pelajaran
3. Kemampuan
Guru
4. Fasilitas
yang tersedia
c). Materi
Pembelajaran
Winataputra
(2007: 1.2) Materi pembelajaran adalah segala sesuatu yang dibahas dalam
pembelajaran dalam rangka membangun proses belajar,antara lain membahas materi
dan melakukan pengalaman belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai
secara optimal. Materi sebagai sumber belajar dapat dikelompokkan menjadi
beberapa begian antara lain sumber belajar cetak/tertulis, terekan, tersiar
jaringan, dan lingkungan (alam, budaya, sosial, spiritual).
Hermawan
(2008: 1.2) Materi merupakan komponen terpenting kedua dalam pembelajaran yang
menentukan tercapainya suatu tujuan dalam pembelajaran. Materi pembelajaran
dapat meliputi fakta-fakta, observasi, data, persepsi, pengindraan, pemecahan
masalah, yang berasal dari pikiran manusia dan pengalaman yang diatur dan
diorganisasikan dalam bentuk berupa fakta-fakta, gagasan (ideas), konsep
(concept), generalisasi (generalitation), prinsip-prinsip (principles), dan
pemecahan masalah ( solution).
d). Media
Winataputra
(2007: 11.19) Secara harfiah media disebut medium atau perantara. Dalam
kaitannya dengan proses komunikasi media diartikan sebagai wahana penyalur
pesan pembelajaran. Pengelompokan media pembelajaran dapat dipilah menjadi tiga
bagian, antara laian:
a.
Media
Visual
b.
Media
Audio
c.
Media
Audio Visual
Fungsi media pembelajaran antara lain
sebagai berikut:
1. Mengatasi berbagai hambatan proses
komunikasi, Kegunaan
media dalam mengatasi hambatan proses komunikasi antara lain untuk mengatasi
verbalisme (ketergantungan untuk menggunakan kata-kata lisan dalam memberikan
penjelasan), dengan penggunaan media kata-kata abstrak dalam penjelasan dapat
diminimalkan atau bahkan dihilangkan seperti pepatah a picture worht a thousand
words (satu gambar mewakili seribu kata.
2. Sikap pasif siswa dalam belajar, Penggunaan media pembelajaran
mempunyai banyak kegunaan dalam kegiatan pembelajarn yang berkaitan dengan
siswa, antara lain menimbulkan kegairahan belajar, menfokuskan/menarik perhatian siswa, memberikan
perangsang yang sama untuk setiap pengalaman, memberikan gambaran nyata tentang
materi yang dijelaskan, dan menimbulkan persepsi yang sama.
3. Mengatasi keterbatasan fisik kelas, dengan penggunaan media dapat membantu
guru dalam penjelasan berkaitan dengan obyek yang dijelaskan, antara lain
kegunaan untuk memperkecil obyek yang terlalu besar, memperbesar obyek yang
terlalu kecil, menyederhanakan obyek yang terlalu rumit, dan menggambarkan
obyek yang terlalu luas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan
media, antara lain:
Tujuan pembelajaran
Situasi belajar
Kemudahan
Ekonomis
Fleksibilitas
Kepraktisan dan keasederhanaan
Kemampuan guru
5. Evaluasi
Komponen evaluasi
ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Hasil dari
kegiatan evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik (feedback) untuk
melaksanakan perbaikan dalam kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan materi
yang digunakan, pemilihan media, pendekatan pengajaran, dan metode dalam
pembelajaran.
Mustikasari,
(http://edu-articles.com ). Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar
proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan
kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil
pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:
a.
Membandingkan
poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses
b.
Mengidentifikasi
kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru
Sesungguhnya,
dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran,
assessment dan evaluasi.
a. Pengukuran
atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan
kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif,
bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Pengukuran ini, antara
lain adalahsebagai berikut:
1). tujuan
pengukuran,
2).
ada objek ukur,
3). alat ukur
4). proses
pengukuran,
5). hasil
pengukuran kuantitatif.
b.
asesmen
(assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil
pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan
keputusan.
c.
evaluasi
secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value,
yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi
terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:
1.
Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
2.
Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan
atas tujuan yang jelas.
3.
Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk keperluan
pengambilan keputusan.
Berdasarkan
pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa
perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap
pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun
asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa
sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran.
Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation)
secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran
terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan
evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta
pembandingan (assessment). Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara
umum terdiri dari:
(1)
perencanaan,
(2)
pengumpulan data,
(3)
verifikasi data,
(4)
analisis data, dan
(5)
interpretasi data.
Prinsip-prinsip
penilaian antara lain sebagai berikut:
1) Valid
Ada
kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertang gungjawabkan, maka data yang masuk
salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.
2) Mendidik
Penilaian
dilakukan untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan
sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang
berhasil (negative reinforcement), sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus
tetap diapresiasi dalam penilaian.
3)
Berorientasi pada kompetensi
Penilaian
harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan
berfikir dan bertindak. Dengan berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran
keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
4) Adil dan
obyektif
Penilaian
harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa
membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang
memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian,
dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa
dianaktirikan.
5)
Terbuka
Penilaian
hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik
langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa
jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau
sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
6)
Berkesinambungan
Penilaian
harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu,
untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan
unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.
7)
Menyeluruh
Penilaian
harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan
berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada
semua pihak.
8) Bermakna
Penilaian
diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu,
Penilaian hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak
yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh
tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan,
minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah
ditetapkan.
E. Tujuan Dan Fungsi
Evaluasi
Dalam
konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain
sebagai berikut:
1). Untuk mengetahui kemajuan belajar
siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2). Untuk
mengetahui efektivitas metode pembelajaran.
3). Untuk
mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.
4). Untuk memperoleh masukan atau umpan
balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.
Selain
tujuan di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi,
penempatan, dan diagnostik,guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil
pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:
a). Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi
atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu
lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.
b). Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi
atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta
pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang
sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.
c). Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik
berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang
dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.
F. Teknik Penilaian Proses
Dan Hasil Belajar
Untuk
keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti
kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat
evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan
nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling
banyak digunakan adalah tes.
G. Penutup
Proses pembelajaran dapat dikatakan
sebagai proses komunikasi, yang menunjuk pada proses penyampaian pesan dari
seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima
pesan). Pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah materi pelajaran yang
diorganisir dan disusun sesuai dengan tujuan tertentu yaang ingin dicapai.
Dalam proses komunikasi guru berfungsi sebagai sumber pesan dan siswa berfungsi
sebagai penerima pesan.
Dalam proses komunikasi,
bagaimanapun sederhananya, selalu terjadi urutan pemindahan pesan (informasi)
dari sumber pesan ke penerima pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif
manakala pesan itu dapat mudah ditangkap oleh penerima pesan secara utuh.
Sebaliknya, sistem komunikasi dikatakan tidak efektif, manakala penerima pesan
tidak dapat menangkap setiap pesan yang disampaikan. Kesulitan menangkap pesan
itu dapat terjadi oleh berbagai gangguan (noise) yang dapat menghambat
kelancaran proses komunikasi. Akibat gangguan (noise) tersebut
memungkinkan penerima pesan (siswa)
tidak memahami atau tidak dapat menerima sama sekali pesan yang ingin disampaikan.
tidak memahami atau tidak dapat menerima sama sekali pesan yang ingin disampaikan.
Sebagai suatu strategi pembelajaran
yang menekankan pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi merupakan
prinsip yang sangat penting untuk diperhatikan. Artinya, bagaimana upaya yang
bisa dilakukan agar setiap guru dapat menghilangkan setiap gangguan (noise) yang
bisa mengganggu proses komunikasi.
DAFTAR PUSTAKA
A. Suhaenah Suparno , membangun kompetensi
Belajar, Jakarta Depdiknas 2000
Ali Muhammad, 1992, Strategi
Penelitian Pendidikan, Bandung : Angkasa.
Amirul Hadi, 2005, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung : CV. Pustaka Setia.
Sanjaya, Wina, 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana
Sagala, Syaiful, 2009. Konsep dan Makna Pembelejaran. Bandung : Alfabeta
Amirul Hadi, 2005, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung : CV. Pustaka Setia.
Sanjaya, Wina, 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana
Sagala, Syaiful, 2009. Konsep dan Makna Pembelejaran. Bandung : Alfabeta
Hermawan, A.H
dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka
Kiranawati. 28
September 2009. Komponen Pembelajaran. wijianta@gmail.com
Mustikasari,
Ardiani. 28 September 2009. Evaluasi-proses-pembelajaran. http:/ /eduarticles.com.
Haryanto. 28 September 2009. Komponen-komponen Pembelajaran. http://one. indoskripsi.com.
Haryanto. 28 September 2009. Komponen-komponen Pembelajaran. http://one. indoskripsi.com.
R
Ibrohim dan Nana Syaodih S,
Perencanaan Pengajaran, Jakarta
Rienka cipta 1996
Winataputra, Udin.S.
2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Lussy. 28 September 2009. Model dan Evaluasi Pembelajaran. www.lussy.blogspot.
Sudrajat, akhmad. 28 September 2009. Pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran. http://www.psb-psma.org.
Lussy. 28 September 2009. Model dan Evaluasi Pembelajaran. www.lussy.blogspot.
Sudrajat, akhmad. 28 September 2009. Pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran. http://www.psb-psma.org.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar