METODE PENDIDIKAN QURANI
A.
Pendahuluan
Metode pendidikan memiliki peran yang strategis dalam
mencapai tujuan pendidikan. Tanpa adanya metode, maka proses pencapaian tujuan
pendidikan akan terhambat bahkan tidak berhasil sama sekali. Oleh karena itu penting
bagi pendidik atau guru untuk menguasai banyak metode dalam melaksanakan
kegiatan mendidik. Sebenarnya banyak literature-literatur yang membahas tentang
metode pendidikan yang dapat digunakan sebagai rujukan dalam melaksanakan tugas
mendidik. Namun sebagai pendidik atau guru agama, menjadi penting juga untuk
mengkaji, menemukan, dan menggunakan metode-metode yang bersumber dari ajaran
agama.
Al-Qur`an sebagai sumber utama ajaran Islam, yang wajib
dipahami oleh setiap muslim, menampilkan metode dan cara yang sangat menarik
sehingga memudahkan bagi mereka yang tertarik untuk mempelajarinya. Bagi
seorang pendidik atau guru agama Islam, juga dapat menggunakan beberapa metode
seperti metode yang termuat dalam Al-Qur`an. Ini menjadi penting untuk menambah
wawasan pendidik atau guru khususnya tentang metode pendidikan.
Secara sederhana, metode dapat diartikan sebagai cara untuk
menyampaikan suatu nilai tertentu dari si pembawa pesan (guru) kepada si
penerima pesan (siswa/murid). Metode diartikan sebagai tindakan-tindakan
pendidik dalam lingkup peristiwa pendidikan untuk mempengaruhi siswa kearah
pencapaian hasil belajar yang maksimal sebagaimana terangkum dalam tujuan
pendidikan. Metode juga dapat disebut sebagai alat yang digunakan untuk
menciptakan proses pendidikan, menumbuhkan kegiatan yang bersifat edukatif, dan
menigkatkan mutu pendidikan.
Sedangkan metode pendidikan qur`ani adalah suatu cara atau
tindakan-tindakan dalam lingkup pristiwa pendidikan yang terkandung dalam
Al-Qur`an. Beberapa metode yang dapat digali dari Al-Qur`an antara lain adalah
: metode kisah, metode amtsal, metode ibrah-mauizhah, metode targhib-tarhib,
metode hiwar, dan metode uswatun hasanah.
B. Beberapa Metode Pendidikan Qur`ani
1.
Metode Kisah (cerita)
Sebagaimana halnya isi al-Qur`an yang banyak memuat
kisah-kisah tentang orang-orang dahulu. Dalam beberapa ayat menyebutkan bahwa
Rasulullah tidak hidup pada zaman sebelumnya tetapi Al-Qur`an mengisahkan semua
kepada nabi Muhammad.
"Demikianlah
kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan
sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al
Quran)" (QS. Thaha : 99. Melalui cerita, Rasulullah dapat mengetahui tentang
kisah-kisah nabi dan umat sebelumnya. Demikan pula melalui cerita, kita dapat
mengetahui kisah-kisah para nabi dan orang dahulu yang diinformasikan oleh
Al-Qur`an.
Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan agama islam
(sebagai suatu bidang study ), kisah sebagai metode pendidikan amat penting.
Dikatakan amat penting, alasannya antara lain sebagai berikut:
- Kisah selau memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya. Selanjutnya, makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati pembaca atau pendengar tersebut.
- Kisah Qur`ani dan dapat menyentuh hati manusia karena kisah itu menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh. Karena tokoh cerita ditampilkan dalam konteks yang menyeluruh, pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati atau mersakan isi kisah itu, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya.
- Kisah Qur`ani mendidik perasaan keimanan dengan cara; membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf , rida, dan cinta, mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada suatu puncak, yaitu kesimpulan kisah, dan melibatkan pembaca atau pendengar kedalam kidsak itu sehingga ia terlibat secara emosional.
2.
Metode Amtsal (perumpamaan)
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur`an dalam penyampaian pesan
menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Adakalanya Tuhan mengajari umat dengan
membuat perumpamaan, misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 17: perumpamaan
orang-orang kafir itu adalah seperti orang yang menyalakan api... Dalam surat
al-`Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau tuhan orang kafir
dengan sarang laba-laba: perumpamaan orang yang berlindung kepada selain Allah
adalah seperti laba-laba yang membuat rumah; padahal rumah yang paling lemah
adalah rumah laba-laba.
Cara seperti itu dapat juga digunakan oleh guru dalam
mengajar. Pengungkapannya tentu saja sama dengan metode kisah, yaitu dengan
berceramah atau membaca teks. Kelebihan metode ini antara lain ialah sebagai
berikut:
- Mempermudah siswa memahami konsep abstrak; ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda kongkret seperti tuhan orang kafir diumpamakan dengan sarang laba-laba. Sarang laba-laba memang lemah sekali, disentuh dengan lidi pun dapat rusak. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh muslim, Nabi mengumpamakan "harga" dunia ini dengan anak kambing yang bertelinga kecil dan sudah mati: Dari Jabir diriwayatkan bahwa rasulullah saw. Sedang lewat di sebuah pasar. Ada seekor anak kambing bertelinga kecil yang sudah mati, lalu diangkatnya telinga anak kambing itu seraya berkata,"siapa diantara kalian yang ingin memiliki anak kambing ini dengan membayar satu dirham?" Orang-orang menjawab," kami tidak sudi membeli anak kambing itu dengan membayar sesuatu. Apa manfaat bagi kami ?" dia bertanya lagi," atau barang kali kalian ingin memilikinya secara gratis ?" mereka menjawab," demi Allah, sekalipun anak kambing itu masih hidup, kami tak ingin memilikinya karena cacat pada telinganya, apalagi sudah mati." Maka Rasul saw. Bersabda,"Demi Allah, sesungguhnya bagi Allah dunia ini lebih hina daripada anak kambing ini bagi kalian."
- Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut. Dalam hal ini Abduh menyatakan , tatkala menafsirkan kata dlarb dalam surat al-Baqarah: 26,"penggunaan kata dlarb dimaksudkan untuk mempengaruhi dan membangkitkan kesan, seakan si pembuat perumpamaan menjewer telinga pembaca dengannya sehingga pengaruh jeweran itu meresap ke dalam qalbu."
- Merupakan pendidikan agar bila menggunakan perumpamaan harus logis, mudah dipahami., jangan sampai dengan menggunakan perumpamaan kemudian pengertiannya menjadi kabur atau hilang sama sekali. Perumpamaan harus memperjelas konsep, bukan sebaliknya. Keistimewaan perumpamaan dalam al-quran ialah natijah (konklusi) silogismennya justru tidak disebutkan ; yang disebutkan hanya premis-premisnya. Ini hebat karena begitu jelas konklusinya sampai-sampai tidak disebutkan pun konklusi itu dapat ditangkap pengertiannya. Biasanya silogisme selalu menyebutkan konklusi setelah premis. Konklusi silogisme dari Allah (perumpamaan itu) kebanyakan harus ditebak sendiri oleh pendengar atau pembaca; Allah tahu manusia dapat menebaknya.
- Amtsal Qur`ani dan Nabawi memberikan motivasi kepada pendengarnya untuk berbuat amal baik dan menjauhi kejahatan. Jelas hal ini amat penting dalam pendidikan islam.
3. Metode Ibrah-Mauizhah (nasehat)
Ibrah ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia
kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan
nalar, yang menyebabkan hati mengakuinya. Adapun mau`idzah ialah nasihat yang
lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.
Penggunaan `ibrah dalam al-Quran dan sunah ternyata bebeda-beda sesuai dengan
objek `ibrah itu sendiri. Pengambilan `ibrah dari kisah hanya akan dapat
dicapai oleh orang yang berfikir dengan akal dan hatinya seperti firman Allah
dalam S. Yusuf: 111 : Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur`an itu bukanlah cerita
yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman. (12:111)
Esensi `ibrah dalam kisah ini ialah bahwa Allah berkuasa
menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan kedalam sumur yang gelap, meninggikan
kedudukanya setelah dijeblosannya ke dalam penjara dengan cara menjadikannya
raja mesir setelah dijual sebagai hamba (budak). Kisah ini menjelaskan
kekuasaan Tuhan. Allah mengatakan bahwa `ibrah (pelajaran) dari kisah ini hanya
dapat dipahami oleh orang yang disebut ulul al-bab, yaitu orang yang berfikir
dan berzikir. Pendidikan islam memberikan perhatian khusus kepada metode `ibrah
agar pelajar dapat mengambilnya dari kisah-kisah dalam al-Quran, sebab
kisah-kisah itu bukan sekedar sejarah, melainkan sengaja diceritakan Tuhan
karena ada pelajaran (`ibrah) yang penting didalamnya pendidik dalam pendidikan
Islam harus memanfaatkan metode ini.
Mau`izah berarti tadzkir (peringatan). Yang memberi nasihat
hendaknya berulang kali mengingatkan agar nasihat itu meninggalkan kesan
sehingga orang yang dinasihati tegerak untuk mengikuti nasihat itu.
4. Metode Targhib-Tarhib (reward and funishment
Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat
yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman kerena dosa yang dilakukan.
Keduanya bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Akan tetapi, tekanannya
ialah targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi
kejahatan. Metode ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan) manusia, yaitu
sifat keinginan kepada kesenangan, keselamatan, dan tidak menginginkan
kepedihan, kesengsaraan.
Banyak sekali ayat Al-Qur`an yang berkenaan dengan ancaman
dan ganjaran. Ancaman diperuntukan bagi orang yang durhaka dan ganjaran
diperuntukan bagi orang yang takwa. "Perumpamaan syurga yang dijanjikan
kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di
dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat
kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi
orang-orang kafir ialah neraka".(QS. Ar-Ra`du : 35).
5. Metode Hiwar ( dialog )
Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua
pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja diarahkan kepada satu tujuan
yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Terdapat berbagai jenis hiwar,
seperti:
- Hiwar khitabi atau ta`abudi;
Hiwar khitabi atau ta`abbudi
merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dan hamba-Nya. Tuhan
memanggil hamba-Nya dengan mengatakan,"wahai, orang-orang yang beriman
," dan hamba-Nya menjawab dalam qalbunya dengan mengatakan," kusambut
panggilan Engkau, ya Rabbi." Dialog antara Tuhan dan hamba-nya ini menjadi
petunjuk bahwa pengajaran seperti itu dapat kita gunakan; dengan kata lain,
metode dialog merupakan metode pengajaran yang pernah digunakan Tuhan dalam
mengajari hamba-nya. Logikanya, kita pun dapat menggunakan dialog dalam
pengajaran.
- Hiwar washfi
Adapun hiwar washfi ialah dialog
antara Tuhan dengan malaikat atau dengan mahluk gaib lainnya. Dalam surat
al-Shaffat ayat 20-23 ada dialog antara Tuhan dengan penghuni neraka: Dan
mereka berkata: "Aduhai celakalah kita!" Inilah hari
pembalasan. (37:19)Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.
(37:20) (kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang
zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka
sembah, (37:22)selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.
(37:23). Di sini Allah berdialog dengan malaikat. Topik pembicaraannya tentang
orang-orang dzalim. Dalam surat al-Shaffat ayat 27-28: Sebahagian dari mereka
menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. (37:27)
Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka):
"Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan".(37:28)
. Hiwar washfi menyajikan kepada kita gambaran yang hidup tentang kondisi
psikis ahli neraka dan ahli surga. Dengan imajinasi dan deskripsi yang rinci,
hiwar washfi memperlancar berlangsungnya pendidikan perasaan keTuhanan.
Gambaran tentang peenyesalan ahli neraka itu seoalah-olah dirasakan oleh
pembaca atau pendengar dialog itu: pendengar itu seolah terlibat dalam dialog
itu, lantas ada pemihakan. Kemudian ada pertanyaan, "dipihak mana
aku?"hiwar washfi seolah-olah juga mengingatkan pendengar dialog
itu,"jangan kalian terjerumus seperti mereka itu."Dialog juga terjadi
antara ahli surga, seperti dialog yang terdapat dalam surat al-Saffat ayat
50-57.
- Hiwar qishashi
Hiwar qishashi terdapat dalam
al-Quran, baik bentuk maupun rangkaian ceritanya sangat jelas, merupakan bagian
dari uslub kisah dalam al-Quran. Kalaupun disana terdapat kisah yang
keseluruhanya merupakan dialog langsung, yang sekarang disebut sandiwara, hiwar
ini tidak dimaksudkan sebagai sandiwara. Sebagai contoh ialah kisah syu`aib dan
kaumnya dalam surat Hud. Sepuluh ayat pertama dari surat ini merupakan hiwar
(dialog), kemudian Allah mengakhiri kisah ini dengan dua ayat yang menerangkan
akibat yang diterima oleh kaum nabi syu`aib. Hiwar seperti ini banyak terdapat
dalm al-Quran. Hiwar ini dapat mempunyai pengaruh kejiwaan pada pendengarannya.
Dengan hiwar ini para pelajar yang diajak berdialog diharapkan memihak kepada
pihak yang benar dan membenci pihak yang salah.
- Hiwar jadali
Hiwar jadali bertujuan untuk
memantapkan hujjah (alasan). Contohnya antara lain dalam surat al-Najm ayat
1-5: Demi bintang ketika terbenam, kawan kalian ( Muhammad) tidak sesat dan
tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemuan hawa
nafsunya. Ucapannya itu adalah wahyu yang diberikan kepadanya yang diajarkan
oleh jibril yang perkasa.
Dalam setiap hiwar jalan dialog
harus disusun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan-tujuan itu tidak
selalu langsung kepada pembinaan rasa, didikan rasa yang membentuk sikap dan
tingkah laku yang sesuai dengan sikap itu.
6.
Metode Uswatun Hasanah (keteladanan)
Keteladanan merupakan upaya konkret dalam menanamkan
nilai-nilai luhur kepada peserta didik. Karena secara psikologis anak memang
senang meniru; tidak saja yang baik, yang jelekpun ditirunya. Sifat peserta
didik itu diakui dalam islam. Umat meneladani nabi; nabi meneladani al-Quran.
Aisyah pernah berkata bahwa akhlak Rasul Allah itu adalah al-Quran. Pribadi
rasul itu adalah interpretasi al-Quran secara nyata. Tidak hanya cara
beribadah, caranya berkehidupan sehari-hari pun kebanyakan merupakan contoh
tentang cara kehidupan islami. Contoh-contoh dari rasul itu kadang-kadang amat
asing bagi manusia ketika itu. Contohnya, Allah menyuruh Rasul-nya menikahi
bekas istri Zaid; Zaid itu anak angkat rasul. Ini ganjil bagi orang arab ketika
itu. Dengan itu Allah memberikan teladan secara praktis yang berisi ajaran
bahwa anak angkat bukanlah anak kandung; bekas istri anak angkat boleh dinikahi
.
Banyak contoh yang diberikan oleh nabi yang menjelaskan
bahwa orang (dalam hal ini terutama guru) jangan hanya berbicara, tetapi juga
harus memberikan contoh secara langsung. Dalam peperangan, nabi tidak hanya
memegang komando; dia juga ikut berperang , menggali parit perlindungan. Dia
juga menjahit sepatunya, pergi berbelanja ke pasar, dan lain-lain. Hal senada
disampaikan oleh Khalid bin Hamid al-Khazimi bahwa pentingnya teladan itu
disebabkan karena beberapa hal:
1. Manusia
itu saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain, dalam
perkataan,perbuatan, orentasinya, pemikirannya, tradisinya dan segala sikap
prilaku yang lainnya.
2. Menyaksikan sendiri suatu sikap atau prilaku
dalam pendidikan lebih dapat diterima dari pada melalui susunan kata-kata, dengan kata lain bahasa
sikap lebih dapat diterima dari pada bahasa lisan.
3. Manusia itu pada hakekatnya membutuhkan
kepada sosok yang mampu meluruskan pengetahuan atau anggapan-anggapan atau
konsep-konsep yang salah yang ada pada dirinya
4. Adanya pahala pada teladan yang baik dan
adanya dosa pada teladan yang jelek, karena adanya pahala itu mempertegas
terhadap pentingnya teladan.
Sabda Nabi
Saw : "Barang siapa yang menetapkan suatu kebaikan dalam islam maka
baginya adalah pahala dan pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi
pahala mereka sedikitpun dan barang siapa yang menetapkan kejelekan dalam islam
maka dia harus menanggung dosa itu dan dosa orang yang melakukannya tanpa
mengurangi dosa-dosa mereka (HR. Muslim)".
C.
Penutup
Banyak macam metode yang dapat digunakan dalam proses
pembelajaran. Diantaranya adalah metode pendidikan qur`ani. Metode pendidikan
qur`ani ini sangat cocok untuk diaplikasikan dalam pembelajaran pelajaran agama
Islam (PAI). Meskipun demikian, metode pendidikan qur`ani ini masih merupakan
hal baru bagi kebanyakan para guru PAI. Ini adalah tantangan bagi guru PAI
untuk terus menggali berbagai metode pendidikan baik yang bersumber dari
Al-Qur`an maupun As-Sunnah dan diaplikasikan dalam kegiatan proses belajar
mengajar di sekolah.
Daftar Pustaka
Syahidin,
Metode Pendidikan Qur`ani : Teori dan Aplikasi, Jakarta : Misaka Galiza, 2001
Nasih
Ulwan, Abdullah, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Jakarta : Asy-Syifa
Departemen
Agama, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta, 2001
Al
Jumbulati, Ali, Perbandingan Pendidikan Islam, pen, M.Arifin, Jakarta : Rineka
Cipta, 1994
Tidak ada komentar:
Posting Komentar