PENGEMBANGAN BAHAN AJAR
I. Pendahuluan
Selaras
dengan tuntutan kompetensi yang harus dimiliki guru (kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesi), pengembangan
bahan ajar (materi pembelajaran) dan media merupakan salah satu kewajiban yang
diemban guru untuk mengembangkan kompetensi yang dimiliki, pada gilirannya
dapat meningkatkan eksistensinya sebagai guru yang profesional.
Permasalahan
lain yang ada sekarang ini adalah pemahaman guru yang bervariasi tentang KTSP.
Perbedaan pemahaman akan berdampak pada penjabaran kemampuan-kemampuan dalam
standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga berakibat makin lebarnya
variasi terhadap pemahaman dalam pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran
sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku.
Pemilihan
bahan ajar dan media pembelajaran terkait erat dengan pengembangan silabus,
yang di dalamnya terdapat standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi
pokok, pengalaman belajar, metoda, evaluasi dan sumber. Selaras dengan
pengembangan silabus maka materi pembelajaran yang akan dikembangkan sudah semestinya tetap memperhatikan
pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar, kesesuaian dengan materi
pokok yang diajarkan, mendukung pengalaman belajar, ketepatan metoda dan media
pembelajaran, dan sesuai dengan indikator untuk mengembangkan asesmen.
Pedoman pengembangan bahan ajar
dan media pembelajaran ini merupakan rambu-rambu yang perlu diperhatikan ketika
mengembangkan bahan ajar dan media pembelajaran. Sejumlah manfaat yang dapat
dipetik dari pedoman pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran ini bagi para pengembang bahan
ajar dan media pembelajaran (dalam hal
ini adalah guru) di antaranya adalah untuk:
1) memperoleh gambaran
tentang cara menganalisis bahan ajar dan media yang akan diajarkan;
2) memperoleh gambaran
tentang cara-cara analisis pedagogik yang akan diterapkan dalam pembelajaran;
3) dapat mengembangkan
kemampuannya dalam mengelola bahan ajar dan media pembelajaran;
4) lebih kritis menyesuaikan
bahan ajar dan media yang dikembangkannya dengan karakteristik siswa;
5) dapat mengembangkan
kemampuannya dalam mengembangkan kurikulum sekolah;
6) berpeluang menjadi guru
yang profesional terkait dengan
kompetensi pedagogis, kompetensi profesi, kompetensi kepribadian, dan
kompetensi sosial.
II. Pengertian Bahan Ajar (Materi Pembelajaran)
Materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL),
Standar Kompetensi (SK), dan Kompetensi Dasar (KD) pada standar isi yang harus
dipelajari oleh siswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditentukan.
Contoh sederhana materi pembelajaran adalah sebagai berikut. Untuk Kompetensi
Dasar (KD) 6.1: Mengidentifikasi
ciri-ciri makhluk hidup. Materi
pembelajaran yang berkaitan dengan KD ini meliputi ciri-ciri makhluk hidup,
yakni bergerak, tumbuh dan berkembang, bernafas, membutuhkan makan, peka
terhadap rangsangan, mengeluarkan zat sisa dan berkembang biak. Namun, seberapa
dalam dan seberapa luas materi pembelajaran ini untuk siswa kita, dari mana saja
sumber materi pembelajaran ini dapat kita peroleh, dan bagaimana mengemas
materi pembelajaran ini, tentu saja memerlukan pemahaman yang lebih dalam
tentang pengembangan materi
pembelajaran.
Isi Materi Pembelajaran
1. Pengetahuan sebagai
Materi Pembelajaran
Isi materi pembelajaran yang
berupa pengetahuan meliputi fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.
Kadang-kadang kita sulit memberi pengertian pada keempat materi pembelajaran
tersebut. Oleh sebab itu, perhatikan perbedaan-perbedaan pada tabel kualifikasi
isi materi pembelajaran di bawah ini.
Tabel
1. Klasifikasi isi materi pembelajaran dalam ranah pengetahuan
|
No
|
Jenis
|
Pengertian |
|
1
|
Fakta
|
Mudah
dilihat, menyebutkan nama, jumlah, dan bagian-bagiannya.
Contoh:
Negara RI merdeka pada
tanggal 17 Agustus 1945; Seminggu ada 7 hari; Ibu kota Negara RI Jakarta;
Ujung Pandang terletak di Sulawesi Selatan.
|
|
2
|
Konsep
|
Definisi, identifikasi,
klasifikasi, ciri-ciri khusus
Contoh:
Hukum ialah peraturan
yang harus dipatuh-taati, dan jika dilanggar dikenai sanksi berupa denda atau
pidana.
|
|
3
|
Prinsip
|
Penerapan dalil, hukum,
rumus, (diawali dengan jika …., maka …. )
Contoh:
a. Hukum permintaan dan
penawaran (Jika penawaran tetap permintaan naik, maka harga akan naik).
|
|
4
|
Prosedur
|
Bagan arus atau bagan
alur (flowchart), alogaritma
langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut
Contoh:
Langkah-langkah
menjumlahkan pecahan ialah:
1.
Menyamakan
penyebut
2.
Menjumlahkan
pembilang dengan dengan pembilang dari penyebut yang telah disamakan.
3.
Menuliskan
dalam bentuk pecahan hasil penjumlahan pembilang dan penyebut yang telah
disamakan.
|
2. Keterampilan sebagai Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran yang
berhubungan dengan keterampilan antara lain kemampuan mengembangkan ide,
memilih, menggunakan bahan, menggunakan peralatan, dan teknik kerja. Ditinjau
dari level terampilnya seseorang, aspek keterampilan dapat dibedakan menjadi
gerak awal, semi rutin, dan rutin (terampil). Keterampilan perlu disesuaikan
dengan kebutuhan siswa/peserta didik dengan memperhatikan aspek bakat, minat,
dan harapan siswa itu agar mampu mencapai penguasaan keterampilan bekerja (pre
– vocational skill) yang secara integral ditunjang oleh keterampilan hidup (life
skill).
3. Sikap atau Nilai sebagai Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran yang
tergolong sikap atau nilai adalah materi yang berkenaan dengan sikap ilmiah,
antara lain:
a) Nilai–nilai kebersamaan,
mampu bekerja berkelompok dengan orang lain yang berbeda suku, agama, dan
strata sosial;
b) Nilai kejujuran, mampu
jujur dalam melaksanakan observasi, eksperimen, tidak memanipulasi data hasil
pengamatannya;
c) Nilai kasih sayang, tak
membeda-bedakan orang lain yang mempunyai karakter sama dan kemampuan sosial
ekonomi yang berbeda semua sama-sama makhluk Tuhan;
d) Tolong menolong, mau
membantu orang lain yang membutuhkan tanpa meminta dan mengharapkan imbalan
apapun;
e) Semangat dan minat
belajar, mempunyai semangat, minat, dan rasa ingin tahu;
f) Semangat bekerja, mempunyai rasa untuk bekerja keras,
belajar dengan giat;
g) Mau menerima pendapat
orang lain bersikap legowo, mau di kritik, menyadari kesalahannya sehingga
saran dari teman /orang lain dapat diterima dan tidak sakit hati.
III. Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi pembelajaran
A. Prinsip
Ada sejumlah prinsip yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan materi pembelajaran atau materi pembelajaran.
Prinsip-prinsip yang dimaksud meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan
kecukupan.
Prinsip relevansi artinya
keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada
hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar dan standar
isi. Sebagai contoh, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa
menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus
dikuasai siswa satu macam, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan juga
harus meliputi satu macam. Misalnya Kompetensi Dasar 6.3 Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan
mulai dari tingkat sel sampai organisme, maka kompetensi yang harus
dimiliki siswa adalah kemampuan mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan
mulai dari tingkat sel sampai organisme. Dalam hal ini meliputi kemampuan
melihat keragaman tingkat seluler (misalkan membedakan antara sel hewan dan
tumbuhan), keragaman jaringan pada hewan dan tumbuhan (membedakan perbedaan
macam jaringan yang dimiliki sel hewan dan tumbuhan), begitu juga dengan kemampuan
untuk mendeskripsikan macam-macam organ pada tumbuhan dan hewan yang akan
menyusun suatu organisme.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai
dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak
boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit
akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak
perlu untuk mempelajarinya.
B. Cakupan dan Urutan Materi pembelajaran
Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian
materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan dalam menentukan cakupan,
ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran akan menghindarkan guru dari
mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu
mendalam. Ketepatan urutan penyajian (sequencing)
akan memudahkan bagi siswa mempelajari materi pembelajaran.
1. Cakupan materi pembelajaran
Dalam
menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran perlu memperhatikan
beberapa aspek, yaitu:
a) aspek kognitif (fakta,
konsep, prinsip, prosedur);
b) aspek afektif; dan
c) aspek psikomotorik.
Selain
memperhatikan jenis materi pembelajaran juga harus memperhatikan prinsip-prinsip
yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang
menyangkut
a) keluasan materi, adalah
menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi
pembelajaran; dan
b) kedalaman materi, adalah
seberapa detail konsep-konsep yang harus dipelajari/dikuasai oleh siswa.
Sebagai
contoh, proses fotosintesis dapat diajarkan di SD, SMP, dan SMA, juga di
perguruan tinggi, namun keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan
tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas
cakupan aspek proses fotosintesis yang dipelajari dan semakin detail pula
setiap aspek yang dipelajari. Di SD dan SMP aspek kimia dipelajari terbatas
tanpa mempelajari reaksi kimianya. Di SMA reaksi-reaksi kimia mulai dipelajari,
dan di perguruan tinggi reaksi kimia dari proses fotosintesis semakin
diperdalam.
Cukup
tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan sangat membantu
tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Misalnya, jika
suatu pelajaran dimaksudkan untuk memberikan kemampuan kepada siswa tentang
ekosistem, maka uraian materinya mencakup penguasaan atas: (1)
konsep-konsep/pengertian dalam ekosistem;
(2) komponen-komponen ekosistem; dan (3) penerapan pengetahuan tentang
ekosistem untuk kesejahteraan manusia.
2. Penentuan urutan materi pembelajaran
Urutan penyajian (sequencing) materi pembelajaran sangat penting. Tanpa urutan yang
tepat, akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya, terutama untuk materi yang
bersifat prasyarat (prerequisite)
akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya.
Misalnya materi operasi bilangan
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa akan mengalami
kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum dipelajari. Siswa
akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan belum dipelajari.
Materi
pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat
diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan
hierarkis.
a. Pendekatan
prosedural
Urutan
materi pembelajaran secara prosedural yang menggambarkan langkah-langkah secara
urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya Misalnya
langkah-langkah menelpon, langkah-langkahmengoperasikan kamera
video.
b. Pendekatan
hierarkis
Urutan materi pembelajaran secara
hierarkis menggambarkan urutan yang
bersifat berjenjang dari mudah ke sulit, atau dari yang sederhana ke yang
kompleks.
Contoh urutan hierarkis (berjenjang):
Soal ceritera tentang perhitungan laba rugi dalam jual beli
Agar siswa mampu menghitung laba atau rugi dalam jual beli (penerapan
rumus/dalil), siswa terlebih dahulu harus mempelajari konsep/pengertian laba,
rugi, penjualan, pembelian, modal dasar (penguasaan konsep). Setelah itu siswa
perlu mempelajari rumus/dalil menghitung laba, dan rugi (penguasaan dalil).
Selanjutnya siswa menerapkan dalil atau prinsip jual beli (penguasaan penerapan
dalil).
IV. Langkah-Langkah Pengembangan Materi Pembelajaran
Sebelum
melaksanakan pemilihan materi pembelajaran, terlebih dahulu perlu diketahui
kriteria pemilihan materi pembelajaran. Kriteria pokok pemilihan materi
pembelajaran adalah standar kompetensi lulusan, standar kompetensi, dan
kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk
diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak
hendaknya berisikan materi pembelajaran yang benar-benar menunjang tercapainya
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan materi
pembelajaran haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi.
Setelah diketahui kriteria pemilihan
materi pembelajaran, sampailah kita pada langkah-langkah pengembangan materi
pembelajaran. Secara garis besar langkah-langkah pengembangan materi
pembelajaran meliputi:
1) mengidentifikasi
aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
menjadi acuan atau rujukan pengembangan materi pembelajaran;
2) mengidentifikasi
jenis-jenis materi materi pembelajaran;
3) memilih materi
pembelajaran yang sesuai atau
relevan dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi; dan
4) memilih sumber materi
pembelajaran dan selanjutnya mengemas materi pembelajaran tersebut.
Alur
pemilihan materi pembelajaran ini dapat dilihat dalam bagan berikut.
![]() |
Secara
lengkap, langkah-langkah pengembangan materi pembelajaran dapat dijelaskan
sebagai berikut.
A.
Mengidentifikasi
aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar
Sebelum
menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai
siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi
dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan
pembelajaran. Perlu ditentukan apakah standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang harus dipelajari siswa termasuk aspek atau ranah:
1.
Kognitif
yang meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis, analisis, dan
penilaian.
2.
Psikomotorik
yang meliputi gerak awal, semi rutin, dan rutin.
3.
Afektif
yang meliputi pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.
Setiap aspek standar kompetensi
tersebut memerlukan materi pembelajaran atau materi pembelajaran yang
berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.
B. Mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran
Sejalan
dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat
dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat
jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur, seperti telah diuraikan di
depan.
C.
Memilih jenis materi yang
sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar
Pemilihan
jenis materi harus disesuaikan dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi
yang telah ditentukan. Selain itu, perlu diperhatikan pula jumlah atau ruang
lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar
kompetensi. Sebagaimana disebutkan di point B di atas, materi yang akan
diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip,
prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada
satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan
diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya.
Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan
mengajarkannya, sebab setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi
pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang
berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah
dengan menggunakan “jembatan keledai”,
“jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur
adalah “demonstrasi”.
Cara yang paling mudah untuk
menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan
mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Dengan mengacu pada kompetensi
dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta,
konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik. Berikut adalah
pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis materi pembelajaran
D.
Memilih
sumber materi pembelajaran
1.
Sumber Materi pembelajaran
Setelah
jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber materi
pembelajaran. Materi pembelajaran atau materi pembelajaran dapat kita temukan
dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet,
media audiovisual, dan sebagainya.
- Buku teks
Buku
teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan
sebagai sumber materi pembelajaran. Buku teks yang digunakan sebagai sumber
materi pembelajaran untuk suatu jenis matapelajaran tidak harus hanya satu
jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan
sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas.
- Laporan hasil penelitian
Laporan
hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti
sangat berguna untuk mendapatkan sumber materi pembelajaran yang atual atau
mutakhir.
- Jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah)
Penerbitan
berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat bermanfaat
untuk digunakan sebagai sumber materi pembelajaran. Jurnal-jurnal tersebut
berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya
masing-masing yang telah dikaji kebenarannya.
d.
Pakar
bidang studi
Pakar
atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber materi pembelajaran.
Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau materi
pembelajaran, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dan sebagainya.
- Profesional
Kalangan
professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan
perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan. Sehubungan dengan
itu materi pembelajaran yang berkenaan dengan eknomi dan keuangan dapat
ditanyakan pada orang-orang yang bekerja di perbankan.
- Standar Isi
Standar
ini penting untuk digunakan sebagai sumber materi pembelajaran, karena berdasar
itulah SKL, SK, dan KD dapat ditemukan.
- Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan
Penerbitan
berkala seperti Koran banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan materi
pembelajaran suatu matapelajaran. Penyajian dalam koran-koran atau mingguan
menggunakan bahasa popular yang mudah dipahami. Karena itu baik sekali apa bila
penerbitan tersebut digunakan sebagai sumber materi pembelajaran.
- Internet
Materi
pembelajaran dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet kita
dapat memperoleh segala macam sumber materi pembelajaran. Bahkan satuan
pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita peroleh melalui
internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi.
- Media audiovisual (TV, Video, VCD, kaset audio)
Berbagai
jenis media audiovisual berisikan pula materi pembelajaran untuk berbagai jenis
mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di
hutan belantara melalui siaran televisi.
- Lingkungan ( alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi)
Berbagai
lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan social, lengkungan seni budaya,
teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebgai sumber materi
pembelajaran. Untuk mempelajari abrasi atau penggerusan pantai, jenis pasir,
gelombang pasang misalnya kita dapat menggunakan lingkungan alam berupa pantai
sebagai sumber.
2. Bahan Pertimbangan Pemilihan Materi
pembelajaran
Cakupan matapelajaran adalah sedemikian
luasnya sehingga pemilihan mana-mana yang akan dipakai sebagai materi
pembelajaran yang kita ”sajikan” untuk dipelajari siswa merupakan keputusan
yang relatif sulit, walaupun kita telah berhasil mengidentifikasikan materi
pembelajaran secara global dengan mencermati SK dan KD seperti yang telah
diuraikan di atas. Sebagai contoh, mari kita perhatikan KD 5.1: menerapkan
hukum Newton untuk menjelaskan berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mencermati KD ini,
tampak bahwa materi pembelajaran inii berupa 3 hukum Newton tentang gerak, dan termasuk kategori prinsip.
Namun, seberapa dalam materi pembelajaran harus disampaikan kepada siswa?
Apakah sampai pada tataran kuantitatif? Kehidupan sehari-hari seperti apakah
yang relevan dengan kehidupan siswa baik sebagai siswa maupun sebagai generasi
muda, dan warga negara?
BAHAN AJAR
SHALAT JAMA’AH DAN MUNFARID

Sumber:
www.presidenri.go.id.bmp.
Kompetensi yang harus dicapai
dalam bab ini meliputi:
Standar Kompetensi:
Memahami tatacara shalat jama’ah dan munfarid (sendiri).
Kompetensi Dasar:
1.
Menjelaskan
pengertian shalat jama’ah dan munfarid (sendiri).
2.
Mempraktikkan
shalat jama’ah dan munfarid (sendiri).
Peta Kompetensi:
![]() |
PERLU DIKETAHUI:
Kalian sejak
kecil mungkin sering diajak orang tua kalian ke masjid atau mushalla untuk
shalat bersama-sama dengan umat Islam yang lain. Di antara kalian ada yang
mengikuti shalat dengan baik hingga selesai, dan di antara kalian mungkin juga
ada yang hanya ikut ke masjid tetapi tidak ikut shalat hanya main-main saja
atau hanya sekedar ingin ketemu dengan teman. Meskipun demikian hal itu banyak memberi pengaruh kepada
kita dalam melakukan shalat. Kita terbiasa dengan gerakan-gerakan shalat,
meskipun terkadang kurang pas. Orang tua pun terkadang mengajak anak-anaknya
untuk shalat bersama di rumah. Ini dilakukan agar anak-anaknya terbiasa
melakukan shalat, sehingga pada waktunya nanti dapat melaksanakannya dengan
baik dan tidak berani meninggalkannya.
Berangkat dari
kebiasaan kalian melihat dan meniru orang melakukan shalat bersama seperti di
atas, kita kemudian mulai bisa melakukan shalat sendiri, tentunya setelah
mengetahui aturan-aturannya. Aturan shalat sendirian memang berbeda dengan
shalat bersama-sama. Mengenai shalat sendirian sudah diuraikan panjang lebar
di bagian sebelumnya. Sedang shalat
bersama atau yang biasa disebut dengan shalat jama’ah (berjama’ah) akan
diuraikan pada pembahasan berikut ini.
Di atas sudah
diuraikan permasalahan shalat wajib mulai dari pengertiannya sampai fungsinya
dalam kehidupan. Tentunya kalian sudah memahami ketentuan shalat secara umum
dan berusaha untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesempurnaan
shalat harus dimulai dengan memperhatikan syarat dan rukun serta
sunnah-sunnahnya. Kekhusyukan shalat juga sangat penting dalam meraih
kesempurnaan shalat. Di samping itu, Nabi Muhammad Saw. memberikan keutamaan
yang lebih dalam melakukan shalat, yakni dengan berjama’ah. Shalat yang
dilakukan dengan berjama’ah jauh lebih utama dibandingkan dengan shalat yang
dilakukan dengan sendirian (munfarid). Pada uraian selanjutnya akan
dikaji shalat jama’ah dengan segala permasalahannya.
Kegiatan Pembelajaran yang bisa lakukan oleh siswa di
antaranya:
1.
Siswa membaca dan menelaah berbagai sumber bahan untuk
menemukan ketentuan yang benar dan jelas tentang shalat jama’ah dan shalat
munfarid.
2.
Siswa melakukan
diskusi bersama teman-temannya tentang shalat jama’ah dan munfarid.
3.
Siswa
mempraktikkan shalat jama’ah dan munfarid di sekolah di bawah bimbingan guru,
atau di rumah bersama keluarganya, dan yang terpenting siswa melaksanakan
shalat jama’ah dan munfarid dalam kehidupannya.
A. Pengertian
Shalat Jama’ah dan Shalat Munfarid
Shalat bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu sendirian dan
berjama’ah. Shalat sendirian sering disebut dengan shalat munfarid.
Shalat bersama atau shalat jama’ah adalah shalat yang dikerjakan oleh
dua orang atau lebih secara bersama-sama dengan cara salah seorang menjadi imam
dan lainnya menjadi makmum dengan syarat-syarat tertentu.
Tatacara pelaksanaan shalat munfarid sama seperti
tatacara pelaksanaan shalat pada umumnya seperti yang sudah dijelaskan pada bab
sebelumnya. Yang perlu diperhatikan terkait dengan shalat munfarid adalah
tatacara dan langkah-langkah shalat pada umumnya (shalat wajib), juga
persyaratan dan rukun shalat, serta gerak-gerik dan bacaan-bacaan shalat.
Sebagian
besar ulama berpendapat bahwa shalat jama’ah hukumnya sunnah muakkad, artinya
shalat jama’ah sangat dianjurkan untuk dilakukan. Sebagian ulama lainnya ada
yang berpendapat hukum shalat jama’ah adalah fardlu ‘ain dan sebagiannya lagi
fardlu kifayah. Dalam al-Quran dijelaskan bahwa Nabi Saw. melakukan shalat
jama’ah beserta para sahabatnya dengan beliau menjadi imam dan para sahabat
menjadi makmumnya. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:
#sÎ)ur |MZä. öNÍkÏù |MôJs%r'sù
ãNßgs9
no4qn=¢Á9$# öNà)tFù=sù
×pxÿͬ!$sÛ
Nåk÷]ÏiB
y7tè¨B
ÇÊÉËÈ
102.
dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak
mendirikan shalat bersama-sama mereka,
Dilihat
dari keutamaannya, shalat jama’ah jauh lebih utama dibandingkan dengan shalat sendirian
(munfarid). Keutamaan shalat jama’ah ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad
Saw. dalam salah satu hadits sebagai berikut:
صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ اْلفَذِّ بِسَبْعٍ
وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً (رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر).
Artinya: “Shalat
jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh
derajat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ‘Umar).
Dari
hadits di atas jelaslah bahwa shalat jama’ah lebih utama dibandingkan dengan
shalat sendirian, dengan keutamaan yang sangat tinggi, yakni 27 kali lipat
shalat sendirian. Shalat jama’ah bisa dilaksanakan di masjid, mushalla, atau
tempat-tempat lain, tetapi yang paling utama adalah di masjid. Shalat jama’ah
di masjid jauh lebih utama dibandingkan dengan shalat jama’ah di rumah.
Hadits-hadits Nabi banyak yang mengisyaratkan tentang keutamaan shalat jama’ah
di masjid, seperti sabda Nabi Saw.:
لاَصَلاَةَ لِجَارِ اْلمَسْجِدِ إِلاَّ فِى اْلمَسْجِدِ (رواه
الدارقطنى والجابر والحاكم عن أبى هريرة).
Artinya: “Tidak (sempurna) shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” (HR. ad-Daruquthni, Jabir, dan al-Hakim, dari Abu
Hurairah).
Nabi Saw. juga
bersabda:
مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ بِغَيْرِ عُذْرٍ فَلاَ
صَلاَةَ لَهُ (رواه أحمد).
Artinya: “Barang
siapa mendengar seruan azan, lalu dia tidak menjawab (memenuhi seruannya),
dengan tanpa uzur, maka tidak (sempurna) shalatnya.” (HR.
Ahmad).
Dari
dua hadits di atas, jelaslah bahwa Nabi sangat menganjurkan shalat jama’ah di
masjid, terutama bagi kaum Muslim yang tinggal di sekitar masjid, atau yang
dapat mendengar seruan azan. Dari sini juga sebagian ulama mewajibkan shalat
jama’ah di masjid bagi siapa yang mendengar seruan azan, dan jika dia melakukan
shalat di rumah, maka dia akan berdosa, dan shalatnya dinilai tidak sempurna.
|
Tugas kalian di rumah adalah:
Kalian perlu membaca buku-buku
sumber tentang shalat jama’ah dan munfarid atau ketentuan shalat pada
umumnya. Cobalah kalian kumpulkan dalil-dalil naqli baik dari al-Quran maupun
hadits yang menjelaskan permasalahan terkait dengan shalat jama’ah, lalu
tuliskan dalam buku tugas kalian. Selanjutnya, berusahalah kalian memahami
isi dari setiap dalil yang kalian kumpulkan agar kalian dapat mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
|
B.
Syarat Shalat Jama’ah
Untuk
sempurnanya shalat jama’ah, harus dipenuhi syarat-syarat tertentu.
Syarat-syarat ini terutama terkait dengan imam dan makmum yang merupakan bagian
pokok dari shalat jama’ah. Posisi
imam berada di depan dan makmum berada di belakangnya. Dalam shalat jama’ah ini
imam dan makmum harus berada dalam satu tempat.
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi bagi imam dalam
shalat jama’ah adalah seperti berikut:
1.
Imam
hendaklah orang yang memiliki pengetahuan agama yang lebih dibanding makmumnya.
2.
Imam hendaklah orang yang lebih fasih
bacaan al-Quran.
3.
Imam hendaklah orang yang memahami
ketentuan-ketentuan shalat.
4.
Imam hendaklah orang yang berakhlak
mulia sehingga tidak dibenci oleh makmumnya.
5.
Imam hendaklah orang yang lebih tua di
antara jama’ah.
6.
Imam
hendaklah berdiri di depan makmum.
7.
Imam
hendaklah orang yang tidak terpengaruh dan tidak mengikuti orang lain.
8.
Imam hendaklah memperhatikan shaf
(barisan) makmum/jama’ah.
9.
Imam hendaklah berniat menjadi imam,
meskipun tidak wajib.
10.
Jika jama’ahnya terdiri dari laki-laki
dan perempuan, maka imamnya harus laki-laki. Orang perempuan boleh menjadi imam
jika jama’ahnya hanya terdiri dari kaum perempuan.
Sedang
persyaratan yang harus dipenuhi oleh makmum dalam shalat jama’ah adalah seperti
berikut:
1.
Makmum harus berniat menjadi makmum.
2.
Makmum
hendaklah mengetahui dan mengikuti gerak-gerik imam.
3.
Makmum hendaklah mendengar bacaan imam.
4.
Makmum tidak boleh mendahului imam.
5.
Makmum harus berada satu tempat dengan
imam.
6.
Makmum harus berdiri di belakang imam.
7.
Makmum harus melaksanakan shalat yang
sama dengan imam.
8.
Jika imam selesai membaca surat
al-Fatihah yang dikeraskan, makmum hendaklah membaca amin dengan suara
keras.
9.
Makmum hendaklah membaca semua bacaan
shalat dengan suara pelan (tidak keras), kecuali bacaan amin.
10.
Makmum laki-laki tidak dibolehkan
mengikuti imam perempuan.
11.
Salah seorang makmum harus menggantikan
kedudukan imam dengan berdiri di depan, jika imam batal shalatnya.
12.
Makmum berkewajiban mengingatkan imam
yang lupa, bagi makmum laki-laki dengan mengucapkan tasbih (membaca سُبْحَانَ اللهِ) dan bagi makmum
perempuan dengan bertepuk tangan.
C.
Hal-hal Penting dalam Shalat
Jama’ah
Di
samping persyaratan penting dalam shalat jama’ah seperti di atas, masih banyak
hal yang penting yang harus diperhatikan dalam melakukan shalat jama’ah. Di
antara hal-hal penting tersebut adalah seperti berikut:
1.
Dalam melakukan shalat jama’ah, semakin
banyak jama’ahnya akan semakin baik.
2.
Makmum yang mengikuti shalat jama’ah
sejak awal atau bersamaan dengan imam (muwafiq) lebih baik daripada
makmum yang ketinggalan rekaat pertama imam (masbuq).
3.
Imam hendaklah memperpendek bacaan
al-Qurannya, kecuali jika makmum menghendaki bacaan yang panjang.
4.
Susunan shaf (barisan) bagi makmum,
jika makmumnya hanya seorang, hendaklah berdiri di sebelah kanan imam dan agak
ke belakang sedikit. Jika datang seorang lagi untuk ikut berjama’ah hendaklah
berdiri di sebelah kiri imam, lalu imam maju ke depan atau kedua makmum itu
mundur ke belakang.
5.
Jika susunan jama’ahnya ada anak-anak
dan kaum perempuan, maka susunannya adalah sebagai berikut:
a.
Shaf pertama (bagian depan) diisi oleh
jama’ah laki-laki dewasa
b.
Shaf kedua (bagian tengah) diisi oleh
jama’ah anak-anak, yang laki-laki di depan yang perempuan.
c.
Shaf ketiga (bagian belakang) diisi
oleh jama’ah perempuan.
6.
Secara umum, makmum ada dua macam,
yaitu makmum yang mengikuti imam sejak awal/takbiratul ihram (makmum muwafiq)
dan makmum yang ketinggalan rekaat pertama imam (makmum masbuq). Bagi
makmum masbuq, ketentuannya seperti berikut:
a.
Makmum masbuq harus bertakbir
dan niat mengikuti imam lalu langsung mengikuti gerak-gerik imam. Terkait
dengan ini Nabi Saw. bersabda:
مَا أَدْرَكْتُمْ
فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا (رواه البخاري ومسلم).
Artinya:
“Bagaimanapun keadaan imam yang kamu dapatkan, maka
hendaklah kamu ikuti, dan yang ketinggalan hendaklah kamu sempurnakan.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
b.
Jika ia mengikuti imam pada rekaat
pertama, maka hendaklah ia langsung takbir dan membaca surat al-Fatihah. Jika
belum selesai membaca al-Fatihah, imam melakukan ruku’, maka segeralah ia ikut
ruku’, dan ini sudah dihitung mendapat satu rekaat.
c.
Jika ia mendapatkan ruku’ bersama imam
pada rekaat pertama meskipun sebentar (asal mendapatkan thuma’ninah/sempurna),
maka ia dianggap mendapatkan satu rekaat dan salamnya bersamaan dengan imam.
d.
Jika ia mengikuti imam setelah ruku’
rekaat pertama, maka ia harus menambah kekurangan rekaatnya setelah imam
melakukan salam.
Terkait dengan ini Nabi bersabda:
إِذَا
جِئْتُمْ إِلىَ الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعُدُّوْهَا
شَيْئاً وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ (رواه ابن ماجه).
Artinya: “Apabila
kamu datang ke tempat shalat sedang kami (Nabi) sedang bersujud, maka sujudlah
kamu dan janganlah kamu menghitung apa-apa. Barang siapa mendapatkan satu
rekaat maka sesungguhnya ia mendapatkan shalat (yang lengkap).” (HR.
Abu Daud).
D.
Halangan Shalat Jama’ah
Pada
prinsipnya shalat jama’ah sangat dianjurkan oleh Nabi Saw., namun karena
beberapa hal (halangan) shalat jama’ah boleh kita tinggalkan. Hal-hal yang
membolehkan kita untuk tidak (yang menghalangi kita) melakukan shalat jama’ah
adalah seperti berikut:
1.
Karena hujan lebat sehingga menghalangi
kita untuk datang ke tempat shalat jama’ah.
2.
Karena angin topan atau udara terlalu dingin.
3.
Karena sakit yang menyusahkan kita
datang ke tempat shalat jama’ah.
4.
Karena lapar dan haus, padahal makanan
sudah dihidangkan.
5.
Karena baru makan makanan yang baunya
kurang sedap.
6.
Karena mau buang air besar atau kecil.
7.
Karena
takut ada bahaya yang menimpa.
E.
Mempraktikkan Shalat Jama’ah
Dengan
memperhatikan ketentuan-ketentuan tentang shalat jama’ah seperti di atas,
dapatlah kalian mempraktikkan shalat jama’ah sebagaimana shalat sendirian (munfarid)
seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya. Untuk mempraktikkan shalat jama’ah
perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.
Perhatikan cara-cara mempraktikkan
shalat seperti di atas.
2.
Shalat
jama’ah hendaklah diawali dengan adzan dan iqamah. Namun, kalau tidak
memungkinkan, cukup dengan iqamah saja.
3.
Tentukan
siapa yang paling utama untuk menjadi imam sesuai dengan kriteria yang
disebutkan di atas.
4.
Dalam
shalat jama’ah ini ada bacaan yang harus dinyaringkan (jahr) dan ada
bacaan yang harus dilirihkan (sirr), terutama oleh imam.
Bacaan
yang harus nyaring (jahr) adalah:
a.
Bacaan-bacaan takbiratulihram,
semua takbir intiqal, tasmi’, dan salam pada semua shalat.
b.
Bacaan surat al-Fatihah dan ayat-ayat
al-Quran pilihan pada shalat Subuh serta dua rekaat pertama shalat Maghrib dan
Isya’. Hal ini juga berlaku pada shalat Jum’at, shalat ‘Idain (dua hariraya),
shalat Tarwih, shalat Witir, shalat Gerhana, dan shalat Istisqa’ (minta hujan).
c.
Bacaan amin bagi imam dan makmum
sehabis imam membaca surat al-Fatihah yang dinyaringkan.
Bacaan-bacaan selain
yang dinyaringkan seperti di atas harus dibaca lirih (sirr).
5. Makmum harus selalu mengikuti gerakan imam dan jangan
sampai mendahuluinya.
6. Sehabis salam, imam boleh membaca dzikir dan doa
bersama-sama dengan makmum atau membacanya sendiri-sendiri.
F.
Fungsi Shalat Jama’ah
Di
atas sudah dikemukakan beberapa fungsi shalat secara umum. Di samping itu,
dapat dikemukakan secara khusus fungsi atau hikmah yang dapat diambil dari
pelaksanaan shalat jama’ah, di antaranya sebagai berikut:
1.
Shalat jama’ah memberi pelajaran yang
berharga dalam kehidupan bermasyarakat. Kita diajarkan bagaimana cara
bermasyarakat melalui shalat jama’ah. Dengan shalat jama’ah kita akan saling
bersilaturrahim dan saling mengenal antar saudara sesama Muslim dan akan
memahami keadaan mereka masing-masing. Hubungan di antara mereka sangat akrab
tidak saling bermusuhan, karena mereka bersatu di bawah seruan dan ajakan sang
imam untuk menuju arah yang sama, yakni meraih keridoan Allah Swt.
2.
Shalat jama’ah juga mengajarkan kepada
kita tentang persamaan derajat manusia. Dalam shalat jama’ah tidak
pernah ditonjolkan siapa, derajatnya apa, pangkatnya apa, kekayaannya berapa,
dan sebagainya untuk menduduki posisi imam. Yang menjadi kriteria utama untuk
yang berhak menjadi imam adalah kualitas agama atau ketakwaannya kepada Allah
Swt., bukan ukuran duniawi. Ini mengajarkan bahwa manusia itu di hadapan Allah
adalah sama, dan yang membedakan di antara mereka adalah ketakwaannya saja.
3.
Shalat jama’ah juga mengajarkan tentang
kepatuhan seorang Muslim kepada pimpinannya. Dalam shalat jama’ah makmum
harus selalu mengikuti imam selama imam tidak melakukan kesalahan, namun jika
imam melakukan kesalahan makmum harus mengingatkannya dan imam harus
memperhatikan peringatan makmum tadi. Jika sudah diingatkan, imam tetap tidak
mengindahkannya, maka makmum tidak perlu mengikuti imam lagi dan boleh
memisahkan diri dari jama’ah shalat. Jadi, dalam bermasyarakat, kepatuhan
seorang Muslim kepada pemimpinnya adalah suatu keharusan selama pemimpin itu
layak diikuti dan tidak melakukan kesalahan. Jika ia melakukan kesalahan harus
diingatkan agar kembali kepada jalan yang benar. Jika diingatkan tetap tidak
mengindahkannya, maka seorang Muslim tidak perlu taat kepada pemimpin tersebut.
4.
Shalat jama’ah mengajarkan kepada umat
Islam akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Kekuatan umat Islam
terletak pada kuatnya persatuan dan kesatuan di antara mereka. Hal ini terlihat
dalam praktik shalat jama’ah.
|
Yang dapat kalian lakukan adalah:
Berusahalah kalian agar dapat
melaksanakan shalat wajib lima waktu dengan berjama’ah. Jika kalian tidak
dapat melaksanakannya dengan berjama’ah, tentu kalian harus melaksanakannya
dengan sendirian (munfarid). Yang paling penting, jangan sampai kalian
tidak melakukan shalat lima waktu tersebut. Pergunakanlah waktu-waktu di
sekitar shalat jama’ah untuk mempererat tali silaturrahim di antara
teman-teman kalian. Jika kalian dapat melakukan shalat jama’ah di rumah
kalian bersama-sama bapak, ibu, dan saudara-saudara kalian, maka hal itu
sangat baik dan banyak manfaat yang akan kalian dapatkan. Keluarga kalian
akan semakin bersatu dan harmonis, serta rumah kalian akan disinari shalat
jama’ah, sehingga ketenangan dalam keluarga kalian dapat diwujudkan.
|
UJI KOMPETENSI
A.
Pilihlah satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A,
B, C, atau D!
1.
Shalat yang dilakukan dengan sendirian disebut dengan shalat
…
A. Jama’ah B. Munfarid
C. Qadla’
D. Jama’
2.
Sedang shalat yang dilakukan dengan bersama-sama disebut
shalat ….
A. Jama’ah
B. Munfarid
C. Jum’ah
D. Qadla’
3.
Hukum melaksanakan shalat jama’ah adalah …
A. Sunnah muakkad
B. Fardu
‘ain
C. Ibadah mahdlah D. Fardu
kifayah
4.
Pahala shalat jama’ah dibandingkan dengan shalat sendirian
adalah …
A. 27 kali lipat B. 2
kali lipat
C. 3 kali
lipat
D. Berlipat-lipat
5.
Di antara hal-hal
di bawah ini yang tidak termasuk persyaratan imam adalah …
A.
Memiliki pengetahuan agama yang lebih dibanding makmumnya.
B.
Imam hendaklah orang yang lebih tua di antara jama’ah.
C.
Imam hendaklah orang yang lebih fasih bacaan al-Qurannya.
D.
Imam hendaklah orang yang diserahi oleh masyarakat memangku
masjid
6.
Dalam shalat jama’ah yang diikuti oleh jama’ah laki-laki,
perempuan, dan anak-anak, maka posisi anak-anak berada di …
A.
Di barisan paling belakang
B.
Di barisan depan
bersama-sama laki-laki
C.
Di antara barisan laki-laki dan perempuan
D.
Bersma-sama jama’ah perempuan
7.
Di antar hal yang dapat menghalangi shalat jama’ah adalah …
A.
Karena hujan lebat sehingga menghalangi kita untuk datang ke
tempat shalat jama’ah.
B.
Karena sedang
menyelesaikan pekerjaan rumah.
C.
Karena sakit hati kepada temannya yang ada di masjid.
D.
Karena lapar dan haus.
8.
Hikmah atau fungsi shalat jama’ah bagi kita di antaranya
dalah …
A.
Persamaan derajat manusia
B. Disiplin melaksanakan tugas
C. Tidak rakus terhadap dunia D. Membiasakan pertemanan
9.
Jumlah minimal dapat melakukan shalat jama’ah adalah …
A. Dua orang B. Tiga orang
C. Sepuluh orang D. Empat
puluh orang
10.
Dalah shalat jama’ah jika imamnya salah maka cara
mengingatkannya adalah …
A. Bagi perempuan
dengan tepuk tangan
B. Bagi laki-laki
dengan tepuk tangan
C. Bagi perempuan
dengan bertasbih
D. Bagi laki-laki
dengan bertakbir sekali
B. Isilah
titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang singkat dan tepat!
1.
Shalat yang dilakukan dengan sendirian disebut …
2.
Dalam shalat jama’ah posisi imam harus … makmum.
3.
Shalat jama’ah
paling utama dilakukan di …
4.
Pahala shalat jama’ah dibandingkan dengan shalat sendirian
adalah …
5.
Hukum melaksanakan shalat jama’ah adalah …
C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
dengan singkat dan tepat!
1.
Jelaskan apa
yang dimaksud dengan shalat jama’ah?
2.
Apa persyaratan
yang harus dipenuhi oleh imam dalam shalat jama’ah?
3.
Tunjukkan
hadits yang menunjukkan keutamaan shalat jama’ah!
4.
Hal-hal apa saja yang dapat menghalangi seseorang untuk
melakukan shalat jama’ah!
5.
Bagaimana cara makmum yang ketinggalan dari imam dalam
mengikuti shalat jama’ah?
D. Tugas
individu dan kelompok!
1. Untuk tugas individu, buatlah laporan pelaksanaan
shalat jama’ah yang kalian ikut di dalamnya baik di rumah bersama keluarga maupun
di masjid/mushalla!
2. Untuk tugas kelompok, cobalah kalian diskusikan
mengenai keutamaan atau hikmah dilakukannya shalat jama’ah!
3. Cobalah kalian melakukan penilaian diri dengan cara
seperti di bawah ini:
Hingga saat ini, seberapa baik kalian sudah memahami dan
melaksanakan shalat dalam keseharian kalian. Silanglah:
§
1 untuk BELUM BAIK,
§
2 untuk CUKUP BAIK,
§
3 untuk BAIK, dan
§
4 untuk SANGAT
BAIK
Sesuai dengan diri kalian
pemahaman kalian tentang shalat
jama’ah:
1. Bacaan-bacaan shalat kalian: 1
2
3 4
2. Tatacara dan langkah-langkah shalat
1
2 3 4
baik shalat jama’ah maupun mandiri
3. Pelaksanaan
shalat secara mandiri 1
2 3 4
4. Pelaksanaan shalat dengan berjama’ah 1
2 3 4


Tidak ada komentar:
Posting Komentar