Rabu, 06 Maret 2013



EVALUASI HASIL BELAJAR

A. Pendahuluan
1. Pengertian Evaluasi, Pengukuran, Tes dan Penilaian (Assessment)
Pengertian  antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (assessment), memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996) memengemukakan bahwa : educational evaluation is the process of delineating, obtaining,and providing useful, information for judging decision alternatif . Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.
Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas.
Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri.
Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.
2.  Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Menurut Anas Sudijono, tujuan evaluasi adalah, pertama, untuk mencari informasi atau bukuti-bukti tentang sejauhmana kegiatan-kegiatan yang dilakukan telah mencapai tujuan, atau sejauhmana batas kemampuan yang telah dicapai oleh seseorang atau sebuah lembaga. Kedua, untuk mengetahui sejauhmana efektifitas cara dan proses yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut
Adapun fungsi evaluasi, menurut Abudin Nata adalah:
1.      Mengetahui tercapai tidaknya tujuan
2.      Memberi umpan balik bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran.
3.      Untuk menentukan kemajuan belajar
4.      Untuk mengenal peserta didik yang mengalami kesulitan
5.      Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar yang tepat
6.      Bagi pendidik, untuk mengatur proses pembelajaran. Bagi peserta didik untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai, bagi masyarakat untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan program.
Selain itu, ada beberapa fungsi lain Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran, diantaranya untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
1.        Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
2.        Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu.
3.        Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi.
4.        Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
5.        Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
6.        Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik.
Dari keenam tujuan penilaian tersebut, tujuan untuk melihat tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, dan diagnostik merupakan peranan utama dalam penilaian.
Sesuai dengan tujuan tersebut, penilaian menuntut guru agar secara langsung atau tak langsung mampu melaksanakan penilaian dalam keseluruhan proses pembelajaran. Untuk menilai sejauhmana siswa telah menguasai beragam kompetensi, tentu saja berbagai jenis penilaian perlu diberikan sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai, seperti unjuk kerja/kinerja (performance), penugasan (proyek), hasil karya (produk), kumpulan hasil kerja siswa (portofolio), dan penilaian tertulis (paper and pencil test). Jadi, tujuan penilaian adalah memberikan masukan informasi secara komprehensif tentang hasil belajar peserta didik, baik dilihat ketika saat kegiatan pembelajaran berlangsung maupun dilihat dari hasil akhirnya, dengan menggunakan berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai peserta didik.
3. Pendekatan Penilaian
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterion referenced assessment).
Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan.
Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi.
Meskipun demikian, kadang kadang dapat digunakan penilaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antar-sekolah.
4. Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar
Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu:
(1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – matematika),
(2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan
(3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).
Sejauh mana masing-masing domain tersebut memberi sumbangan terhadap sukses seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan ? Data hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika yang termasuk dalam domain kognitif memiliki kontribusi hanya sebesar 10 %.
Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang sangat besar yaitu 80 %.
Sedangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spatial dan kecerdasan musikal yang termasuk dalam domain psikomotor memberikan sumbangannya sebesar 10 %
Namun, dalam kegiatan pendidikan di Indonesia yang tercermin dalam proses belajar-mengajar dan penilaian, yang amat dominan ditekankan justru domain kognitif. Domain ini terutama direfleksikan dalam 4 kelompok mata pelajaran, yaitu bahasa, matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial.
Domain psikomotor yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran pendidikan jasmani, keterampilan, dan kesenian cenderung disepelekan. Demikian pula, hal ini terjadi pada domain afektif yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran agama dan kewarganegaraan.
Agar penekanan dalam pengembangan ketiga domain ini disesuaikan dengan proporsi sumbangan masing-masing domain terhadap sukses dalam pekerjaan dan kehidupan, para guru perlu memahami pengertian dan tingkatan tiap domain serta bagaimana menerapkannya dalam proses belajar-mengajar dan penilaian.
Perubahan paradigma pendidikan dari behavioristik ke konstruktivistik tidak hanya menuntut adanya perubahan dalam proses pembelajaran, tetapi juga termasuk perubahan dalam melaksanakan penilaian pembelajaran siswa. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada hasil (produk) dan cenderung hanya menilai kemampuan aspek kognitif, yang kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes obyektif.Sementara, penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali diabaikan.
Dalam pembelajaran berbasis konstruktivisme, penilaian pembelajaran tidak hanya ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan kognitif semata, tetapi mencakup seluruh aspek kepribadian siswa, seperti: perkembangan moral, perkembangan emosional, perkembangan sosial dan aspek-aspek kepribadian individu lainnya. Demikian pula, penilaian tidak hanya bertumpu pada penilaian produk, tetapi juga mempertimbangkan segi proses.
Kesemuanya itu menuntut adanya perubahan dalam pendekatan dan teknik penilaian pembelajaran siswa. Untuk itulah, Depdiknas (2006) meluncurkan rambu-rambu penilaian pembelajaran siswa, dengan apa yang disebut Penilaian Kelas.
B. Teknik   Penilaian
1.  Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian kelas  adalah  pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk memberikan keputusan (nilai) hasil belajar siswa berdasarkan tahapan belajarnya. Berorientasi pada kompetensi, mengacu pada patokan, ketuntasan belajar, dilakukan dengan berbagai cara. Dan Dilakukan melalui kumpulan kerja siswa (portopolio), hasil karya (products), penugasan (projects), Unjuk kerja (performances) dan tes tulis (paper & pen).
2. Tujuan Penilaian Kelas :
a.    keeping-track (proses pembelajaran sesuai dengan rencana)
b.    cheking-up (mencek kelemahan dalam proses pembelajaran)
c.    finding-out(menemukan kelemahan & kesalahan dalam pembelajaran)
d.   summing-up (menyimpulkan pencapaian kompetensi peserta didik)
Manfaat : informasi, umpan balik, memantau kemajuan, umpan balik bagi guru, informasi kepada orang tua dan komite sekolah.
3.  Fungsi Penilaian Kelas :
a.    Alat menetapkan siswa dalam penguasaan kompetensi
b.    Sebagai bimbingan
c.    Sebagai alat diagnosis
d.   Sebagai alat prediksi
e.    Sebagai grading
f.     Sebagai alat seleksi
4.  Jenis-jenis penilaian kelas :
1. Melalui Portofolio
2. Melalui unjuk kerja (performance)
3. Melalui penugasan (project)
4. Melalui hasil kerja (Product)
5. Melalui tes tertulis (paper & pen)
1).  PORTOFOLIO : Penilaian melalui koleksi karya (hasil kerja) siswa yang sistematis
a.       Pengumpulan data melalui karya siswa
b.      Pengumpulan dan penilaian yang terus menerus
c.       Refleksi perkembangan berbagai kompetensi
d.      Memperlihatkan tingkat perkembangan kemajuan belajar siswa
e.       Bagian Integral dari Proses Pembelajaran
f.       Untuk satu periode
g.      Tujuan Diagnostik
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.         Siswa merasa memiliki portofolio sendiri
b.         Tentukan bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan
c.         Kumpulkan dan simpan hasil kerja siswa dalam 1 map atau folder
d.        Beri tanggal pembuatan
e.         Tentukan kriteria untuk menilai hasil kerja siswa
f.          Minta Siswa untuk menilai hasil kerja mereka secara berkesinambungan
g.         Bagi yang kurang, beri kesempatan perbaiki karyanya, tentukan jangka waktunya
h.         Bila perlu, jadwalkan pertemuan dengan orang tua
Karya-karya yang dapat dikumpulkan melalui penilaian portofolio
a.       Pidato
b.      Puisi
c.       Karangan
d.      Gambar / Lukisan
e.       Desain
f.       Paper
g.      Sinopsis
h.      Naskah Drama
i.        Rumus
j.        Doa
k.      Surat
l.        Komposisi Musik
m.    Teks Lagu
n.      Resep Makanan
o.      Laporan Observasi/ Penyelidikan / Eksperimen
p.      Dsb.
Contoh Portofolio Mata Pelajaran      :  PAI 
Alokasi Waktu                                    : 1 Semester
Nama Siswa                                        :
Kelas                                                   :
Membuat resensi buku  dst/atau……  :
Menulis karangan deskriptif/atau…..:
Sistematika penulisan                          :
Kelengkapan gagasan                          :
Kosakata Tata bahasa                          :
Keterangan Kriteria  SK / KD            :
2). Unjuk Kerja (Performance) : pengamatan terhadapa aktivitas siswa sebagaimana terjadi (unjuk kerja, tingkah laku, interaksi)
Dipakai dan dilaksakan dalam bentuk  :
a.    Penyajian lisan: keterampilan berbicara, berpidato, baca puisi, berdiskusi.
b.    Pemecahan masalah dalam kelompok
c.    Partisipasi dalam diskusi
d.   Menari
e.    Memainkan alat musik
f.     Olah Raga
g.    Menggunakan peralatan laboratorium
h.    Mengoperasikan suatu alat
3).  Melalui penugasan (project) Bermanfaat untuk menilai :
a.    Keterampilan menyelidiki secara umum
b.    Pemahaman & Pengetahuan dalam bidang tertentu
c.    Kemampuan mengaplikasi pengetahuan dalam suatu penyelidikan
d.   Kemampuan menginformasikan subyek secara jelas
CONTOH PENILAIAN PROYEK
a.    Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
b.    Jenjang : SMP / MTS
c.    Kelas / Semester : VII
d.   Contoh Kompetensi Dasar :
e.    menganalisis bentuk-bentuk perilaku yang muncul sebagai dampak globalisasi (konsumerisme, gaya hidup)
Indikator :
a.    Mengidentifikasi bukti-bukti globalisasi di lingkungan masyarakat (mis: dalam hal periklanan, pariwisata, migrasi, telekomunikasi)
b.    Membuat daftar perubahan perilaku masyarakat setempat sebagai dampak globalisasi (mis: dalam hal makanan, perilaku, gaya hidup, pakaian, nilai-nilai, komunikasi, perjalanan, dan tradisi)
c.    Membandingkan pandangan orang tua dan anak mengenai perubahan-perubahan yang terjadi akibat pengaruh globalisasi
4). Melalui hasil kerja (Product)
Hasil Kerja (Produk) : Penilaian terhadap kemampuan membuat produk teknologi dan seni
a.    Penilaian Hasil Akhir dan Proses :
b.    hasil akhir seperti :
c.    makanan
d.   pakaian
e.    hasil karya seni: gambar, lukisan, pahatan
f.     barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam
g.    proses seperti :
h.    menggunakan teknik menggambar
i.      menggunakan peralatan dengan aman
j.      membakar kue dengan baik
 5). Melalui tes tertulis (paper & pen)
Memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas.
a.         Ulangan Harian : selesai satu atau beberapa Indikator. (tertulis, observasi, penugasan, atau lainnya)
b.        Ulangan Tengah Semester : selesai beberapa Kompetensi Dasar pada semester yang bersangkutan
c.         Ulangan Akhir Semester : selesai semua Kompetensi Dasar pada semester yang bersangkutan.
d.        Ulangan Kenaikan Kelas : selesai semua Kompetensi Dasar pada semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap
6).   PELAKSANAAN PROGRAM REMEDIAL
a.         Tatap muka dengan guru
b.        Belajar sendiri - dinilai
c.         Kegiatan: menjawab pertanyaan, membuat rangkuman, mengerjakan tugas, mengumpulkan data, pada atau di luar jam efektif
7).  PROGRAM PENGAYAAN :
a.         Siswa agar berprestasi lebih baik
b.        Memperkaya kompetensi
c.         Kegiatan :
d.        Memberi materi tambahan, latihan tambahan tugas individual
e.         Hasil penilaian menambah nilai mata pelajaran bersangkutan
f.         Setiap saat, pada atau di luar jam efektif .
C. Klasifikasi Tes Dalam Pendidikan
Test psikologis itu banyak macamnya ragamnya dan sangat luas scorenya . sehingga untuk mendapatkan orientasi yang baik mengenainya perlu dilakukan klasifikasi..
1). Klasifikasi tes berdasarkan cara mengerjakan :
1. Tes Tulis (written Test)
2. Tes Lisan (oral test)
3. Tes Perbuatan (Performance test)
2). Tes tulis ada 2 :
1. Tes obyektif
2. Tes subyektif (tes essai/tes uraian)
3). Tes obyektif ada 5 :
1. Tes benar salah
2. Tes menjodohkan
3. Tes pilihan ganda
4. Tes melengkapi
5. Tes jawaban singkat
4). Tes subyektif ada 2 :
1. Tes uraian bebas
2. Tes uraian terikat
5). Cara penggolongannya:
                  1.     Test Intelegensi
                  2.     Test Bakat Minat
                  3.     Test Kepribadian
                  4.     Test Prestasi
D. Sasaran Evaluasi
Yang dimaksud dengan sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang dijadikan titik pusat perhatian/pengamatan. Salah satu cara untuk mengetahui objek dari evaluasi pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga aspek, yaitu input, transformasi, dan output.
1. Input
Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah, input tidak lain adalah calon siswa. Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup empat hal:
a. Kemampuan
Untuk dapat mengikuti program pendidikan suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon peserta didik harus memiliki kemampuan yang sepadan atau memadai, sehingga nantinya peserta didik tidak akan mengalami hambatan atau kesulitan.
b. Kepribadian
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan, sebab baik-buruknya kepribadian secara psikologis akan dapat mempengaruhi mereka dalam mengikuti program pendidikan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut Personality Test.
c. Sikap
Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka informasi mengenai sikap seseorang penting sekali. Alat untuk mengetahui keadaan sikap seseorang dinamakan Attitude Test.
d. Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang digunakan tes inteligensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Seperti, tes Binet-Simon (buatan Binet dan Simon), SPM, Tintum, dsb. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence Qoutient) yaitu angka yang menunjukkan tinggi rendahnya inteligensi seseorang tersebut.
2. Transformasi
Transformasi yang dapat diibaratkan sebagai “mesin pengolah bahan mentah menjadi bahan jadi”, akan memegang peranan yang sangat penting. Ia dapat menjadi faktor  penentu yang dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan; karena itu objek-objek yang termasuk dalam transformasi itu perlu dinilai/dievaluasi secara berkesinambungan. Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan antara lain:
a. Kurikulum/materi pelajaran,
b. Metode pengajaran dan cara penilaian,
c. Sarana pendidikan/media pendidikan,
d. Sistem administrasi,
e. Guru dan personal lainnya dalam proses pendidikan.
3. Output
Sasaran evaluasi dari segi output adalah tingkat pencapaian atau prestasi belajar yang berhasil diraih peserta didik setelah mereka terlibat dalam proses pendidikan selama jangka waktu yang telah ditentukan. Ranah yang biasa digunakan adalah tiga trikhotomik Benyamin Bloom, yaitu  kognitif,  Afektif dan psikomotor.
Sasaran di atas, merupakan obyek dari evaluasi pendidikan, evaluasi pengajaran dan evaluasi kurikulum. Akan tetapi untuk   evaluasi kebijakan, sasarannya adalah kebijakan yang telah diputuskan dan diimplementasikan. Evaluasi ini meliputi dasar kebijakan, desain, implementasi, dan hasilnya.  Sedangkan evaluasi sasarannya adalah proses atau kegiatan evaluasi itu sendiri.
D.  PENUTUP
Evaluasi dalam rangkaian proses pendidikan merupakan hal yang sangat urgen. Hal ini mengingat evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Evaluasi ini dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan. (Depag RI, 2006:67).
Pendidikan sebagai upaya mengembangkan kemampuan dan potensi individu baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat merupakan usaha sadar yang bertujuan mendewasakan anak mencakup kedewasaan fisik, intelektual, sosial dan moral. (Nana Sudjana, 1996:2)
Operasionalisasi pendidikan tersebut dalam lingkup yang lebih kecil ditempuh melalui proses belajar mengajar atau pengajaran. Pengajaran adalah interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran, yakni kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Tujuan pengajaran pada dasarnya adalah diperolehnya bentuk perubahan tingkah laku baru pada siswa, sebagai akibat dari proses belajar mengajar.
Perubahan tingkah laku dalam pengertian luas seperti dikemukakan Kingsley mencakup keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan, pengertian serta sikap dan cita-cita. Sedangkan menurut Gagne mencakup keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Adapun menurut Benyamin S Bloom dibedakan dalam tiga ranah, yakni ranah kognitif (aspek intelektual), ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotor (keterampilan). (Nana Sudjana, 1996:6)





















DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Logos, 2005)
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Raja Grafindo: Jakarta,  2006),
Baharuddin Psikologi Pendidikan Ar Ruz Media 2007
Jamaludin Ancok, Psikologi Islami, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 1994)
Jemari Mardapi, Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes, (Yogjakarta: Mitra Cendekia Press, 2008),
Janan Asifuddin, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan, Tinjauan Filosofis, (Yogjakarta: Suka-Press, 2009),
Muhibbins Syah. Psikologi Pendidikan : Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosdakarya. 1995
M. Utsman Najati. Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa. Bandung : Pustaka 1997
Mustaqim,  Abdul Wahib,   Psikologi Pendidikan Rineka Cipta 2003
M. Dalyono Psikologi Pendidikan Rineka Cipta 2005
Sumadi Suryabrata Psikologi Pendidikan Rrajagrapindo Persada 1993
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008),
Wasty Sumanto Psikologi Pendidikan Rineka Cipta 2005
Whitheringotn, Psikologi Pendidikan. Jakarta : Aksara Baru  1985

Tidak ada komentar:

Posting Komentar