EVALUASI HASIL BELAJAR
A. Pendahuluan
1. Pengertian
Evaluasi, Pengukuran, Tes dan Penilaian (Assessment)
Pengertian
antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian
(assessment), memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi
untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau
belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi
pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement).
Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996) memengemukakan bahwa : educational
evaluation is the process of delineating, obtaining,and providing useful,
information for judging decision alternatif . Dari pandangan
Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni memberikan
informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang pendidikan, kita
dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan,
sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.
Pengukuran (measurement) adalah proses
pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di
mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Penilaian (assessment) adalah penerapan
berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi
tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi
(rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang
sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian
dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai
kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau
penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan
dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam
kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.
Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di
kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta
didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses
belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas.
Melalui penilaian dapat diperoleh informasi
yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar
peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri.
Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat
keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan
yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.
2.
Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Menurut
Anas Sudijono, tujuan evaluasi adalah, pertama, untuk mencari
informasi atau bukuti-bukti tentang sejauhmana kegiatan-kegiatan yang dilakukan
telah mencapai tujuan, atau sejauhmana batas kemampuan yang telah dicapai oleh
seseorang atau sebuah lembaga. Kedua, untuk mengetahui sejauhmana
efektifitas cara dan proses yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut
Adapun
fungsi evaluasi, menurut Abudin Nata adalah:
1. Mengetahui tercapai tidaknya tujuan
2. Memberi umpan balik bagi guru dalam
melakukan proses pembelajaran.
3. Untuk menentukan kemajuan belajar
4. Untuk mengenal peserta didik yang
mengalami kesulitan
5. Untuk menempatkan murid dalam
situasi belajar yang tepat
6. Bagi pendidik, untuk mengatur proses
pembelajaran. Bagi peserta didik untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai,
bagi masyarakat untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan program.
Selain itu, ada beberapa fungsi lain
Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran, diantaranya
untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis,
dan prediksi.
1.
Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau
membedakan kedudukan hasil kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta
didik lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan
dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading
ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu
kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
2.
Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara
peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik
yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi
penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah
tertentu.
3.
Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah
menguasai kompetensi.
4.
Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil
belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya,
membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program,
pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
5.
Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan
kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa
dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu
remidiasi atau pengayaan.
6.
Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan
informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang
pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian
ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik.
Dari keenam tujuan penilaian tersebut, tujuan
untuk melihat tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, dan diagnostik
merupakan peranan utama dalam penilaian.
Sesuai dengan tujuan tersebut, penilaian
menuntut guru agar secara langsung atau tak langsung mampu melaksanakan
penilaian dalam keseluruhan proses pembelajaran. Untuk menilai sejauhmana siswa
telah menguasai beragam kompetensi, tentu saja berbagai jenis penilaian perlu
diberikan sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai, seperti unjuk
kerja/kinerja (performance), penugasan (proyek), hasil karya (produk), kumpulan
hasil kerja siswa (portofolio), dan penilaian tertulis (paper and pencil test).
Jadi, tujuan penilaian adalah memberikan masukan informasi secara komprehensif
tentang hasil belajar peserta didik, baik dilihat ketika saat kegiatan
pembelajaran berlangsung maupun dilihat dari hasil akhirnya, dengan menggunakan
berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai
peserta didik.
3. Pendekatan
Penilaian
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam
melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma
(Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang
mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterion referenced
assessment).
Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak
pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi
hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta
didik yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta
didik digunakan sebagai acuan.
Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada
kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau
sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau menguasai kriteria atau patokan
yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi
atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis
kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu
kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini prestasi peserta didik ditentukan
oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi.
Meskipun demikian, kadang kadang dapat
digunakan penilaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan
kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang
mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, dan untuk
menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antar-sekolah.
4. Ruang Lingkup
Penilaian Hasil Belajar
Hasil belajar peserta didik dapat
diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu:
(1) domain kognitif (pengetahuan atau yang
mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – matematika),
(2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang
mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain
kecerdasan emosional), dan
(3) domain psikomotor (keterampilan atau yang
mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan
musikal).
Sejauh mana masing-masing domain tersebut
memberi sumbangan terhadap sukses seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan ?
Data hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan
kecerdasan logika-matematika yang termasuk dalam domain kognitif memiliki
kontribusi hanya sebesar 10 %.
Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan
intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang sangat
besar yaitu 80 %.
Sedangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan
visual-spatial dan kecerdasan musikal yang termasuk dalam domain psikomotor
memberikan sumbangannya sebesar 10 %
Namun, dalam kegiatan pendidikan di Indonesia
yang tercermin dalam proses belajar-mengajar dan penilaian, yang amat dominan
ditekankan justru domain kognitif. Domain ini terutama direfleksikan dalam 4
kelompok mata pelajaran, yaitu bahasa, matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial.
Domain psikomotor yang terutama direfleksikan
dalam mata-mata pelajaran pendidikan jasmani, keterampilan, dan kesenian
cenderung disepelekan. Demikian pula, hal ini terjadi pada domain afektif yang
terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran agama dan kewarganegaraan.
Agar penekanan dalam pengembangan ketiga
domain ini disesuaikan dengan proporsi sumbangan masing-masing domain terhadap
sukses dalam pekerjaan dan kehidupan, para guru perlu memahami pengertian dan
tingkatan tiap domain serta bagaimana menerapkannya dalam proses
belajar-mengajar dan penilaian.
Perubahan paradigma pendidikan dari
behavioristik ke konstruktivistik tidak hanya menuntut adanya perubahan dalam
proses pembelajaran, tetapi juga termasuk perubahan dalam melaksanakan
penilaian pembelajaran siswa. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran
lebih ditekankan pada hasil (produk) dan cenderung hanya menilai kemampuan
aspek kognitif, yang kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes
obyektif.Sementara, penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali
diabaikan.
Dalam pembelajaran berbasis konstruktivisme,
penilaian pembelajaran tidak hanya ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan
kognitif semata, tetapi mencakup seluruh aspek kepribadian siswa, seperti:
perkembangan moral, perkembangan emosional, perkembangan sosial dan aspek-aspek
kepribadian individu lainnya. Demikian pula, penilaian tidak hanya bertumpu
pada penilaian produk, tetapi juga mempertimbangkan segi proses.
Kesemuanya itu menuntut adanya perubahan dalam
pendekatan dan teknik penilaian pembelajaran siswa. Untuk itulah, Depdiknas
(2006) meluncurkan rambu-rambu penilaian pembelajaran siswa, dengan apa yang
disebut Penilaian Kelas.
B. Teknik
Penilaian
1. Penilaian
Berbasis Kelas
Penilaian
kelas adalah pengumpulan dan penggunaan informasi oleh
guru untuk memberikan keputusan (nilai) hasil belajar siswa berdasarkan tahapan
belajarnya. Berorientasi pada kompetensi, mengacu pada patokan, ketuntasan
belajar, dilakukan dengan berbagai cara. Dan Dilakukan melalui kumpulan kerja
siswa (portopolio), hasil karya (products), penugasan (projects), Unjuk kerja
(performances) dan tes tulis (paper & pen).
2. Tujuan Penilaian Kelas :
a.
keeping-track
(proses pembelajaran sesuai dengan rencana)
b.
cheking-up
(mencek kelemahan dalam proses pembelajaran)
c.
finding-out(menemukan
kelemahan & kesalahan dalam pembelajaran)
d.
summing-up
(menyimpulkan pencapaian kompetensi peserta didik)
Manfaat
: informasi, umpan balik, memantau kemajuan, umpan balik bagi guru, informasi
kepada orang tua dan komite sekolah.
3. Fungsi
Penilaian Kelas :
a.
Alat
menetapkan siswa dalam penguasaan kompetensi
b.
Sebagai
bimbingan
c.
Sebagai
alat diagnosis
d.
Sebagai
alat prediksi
e. Sebagai grading
f.
Sebagai
alat seleksi
4. Jenis-jenis
penilaian kelas :
1.
Melalui Portofolio
2.
Melalui unjuk kerja (performance)
3.
Melalui penugasan (project)
4.
Melalui hasil kerja (Product)
5.
Melalui tes tertulis (paper & pen)
1). PORTOFOLIO : Penilaian melalui koleksi karya (hasil kerja)
siswa yang sistematis
a. Pengumpulan data melalui karya siswa
b. Pengumpulan dan penilaian yang terus
menerus
c. Refleksi perkembangan berbagai
kompetensi
d. Memperlihatkan tingkat perkembangan
kemajuan belajar siswa
e. Bagian Integral dari Proses
Pembelajaran
f. Untuk satu periode
g. Tujuan Diagnostik
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.
Siswa
merasa memiliki portofolio sendiri
b.
Tentukan
bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan
c.
Kumpulkan
dan simpan hasil kerja siswa dalam 1 map atau folder
d.
Beri
tanggal pembuatan
e.
Tentukan
kriteria untuk menilai hasil kerja siswa
f.
Minta
Siswa untuk menilai hasil kerja mereka secara berkesinambungan
g.
Bagi
yang kurang, beri kesempatan perbaiki karyanya, tentukan jangka waktunya
h.
Bila
perlu, jadwalkan pertemuan dengan orang tua
Karya-karya yang dapat dikumpulkan
melalui penilaian portofolio
a. Pidato
b. Puisi
c. Karangan
d. Gambar / Lukisan
e. Desain
f. Paper
g. Sinopsis
h. Naskah Drama
i.
Rumus
j.
Doa
k. Surat
l.
Komposisi
Musik
m. Teks Lagu
n. Resep Makanan
o. Laporan Observasi/ Penyelidikan /
Eksperimen
p. Dsb.
Contoh Portofolio Mata Pelajaran :
PAI
Alokasi Waktu :
1 Semester
Nama Siswa :
Kelas :
Membuat resensi buku dst/atau…… :
Menulis karangan deskriptif/atau…..:
Sistematika penulisan :
Kelengkapan gagasan :
Kosakata Tata bahasa :
Keterangan Kriteria SK / KD :
2). Unjuk Kerja (Performance) : pengamatan
terhadapa aktivitas siswa sebagaimana terjadi (unjuk kerja, tingkah laku, interaksi)
Dipakai dan dilaksakan dalam bentuk :
a.
Penyajian lisan: keterampilan berbicara, berpidato, baca puisi,
berdiskusi.
b.
Pemecahan masalah dalam kelompok
c.
Partisipasi dalam diskusi
d.
Menari
e.
Memainkan alat musik
f.
Olah Raga
g.
Menggunakan peralatan laboratorium
h.
Mengoperasikan suatu alat
3). Melalui
penugasan (project) Bermanfaat
untuk menilai :
a.
Keterampilan
menyelidiki secara umum
b.
Pemahaman
& Pengetahuan dalam bidang tertentu
c.
Kemampuan
mengaplikasi pengetahuan dalam suatu penyelidikan
d.
Kemampuan
menginformasikan subyek secara jelas
CONTOH PENILAIAN PROYEK
a.
Mata
Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
b.
Jenjang
: SMP / MTS
c.
Kelas
/ Semester : VII
d.
Contoh
Kompetensi Dasar :
e.
menganalisis
bentuk-bentuk perilaku yang muncul sebagai dampak globalisasi (konsumerisme,
gaya hidup)
Indikator :
a. Mengidentifikasi bukti-bukti
globalisasi di lingkungan masyarakat (mis: dalam hal periklanan, pariwisata,
migrasi, telekomunikasi)
b. Membuat daftar perubahan perilaku
masyarakat setempat sebagai dampak globalisasi (mis: dalam hal makanan,
perilaku, gaya hidup, pakaian, nilai-nilai, komunikasi, perjalanan, dan
tradisi)
c. Membandingkan pandangan orang tua
dan anak mengenai perubahan-perubahan yang terjadi akibat pengaruh globalisasi
4). Melalui hasil kerja (Product)
Hasil Kerja (Produk) : Penilaian terhadap kemampuan membuat
produk teknologi dan seni
a.
Penilaian
Hasil Akhir dan Proses :
b.
hasil
akhir seperti :
c.
makanan
d.
pakaian
e.
hasil
karya seni: gambar, lukisan, pahatan
f.
barang-barang
terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam
g.
proses
seperti :
h.
menggunakan
teknik menggambar
i.
menggunakan
peralatan dengan aman
j.
membakar
kue dengan baik
5). Melalui tes tertulis (paper & pen)
Memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil
terus menerus dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan
Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas.
a.
Ulangan Harian : selesai satu atau beberapa Indikator.
(tertulis, observasi, penugasan, atau lainnya)
b.
Ulangan Tengah Semester : selesai beberapa Kompetensi Dasar pada
semester yang bersangkutan
c.
Ulangan Akhir Semester : selesai semua Kompetensi Dasar pada
semester yang bersangkutan.
d.
Ulangan Kenaikan Kelas : selesai semua Kompetensi Dasar pada
semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester
genap
6). PELAKSANAAN PROGRAM REMEDIAL
a.
Tatap
muka dengan guru
b.
Belajar
sendiri - dinilai
c.
Kegiatan:
menjawab pertanyaan, membuat rangkuman, mengerjakan tugas, mengumpulkan data,
pada atau di luar jam efektif
7). PROGRAM PENGAYAAN :
a.
Siswa
agar berprestasi lebih baik
b.
Memperkaya
kompetensi
c.
Kegiatan
:
d.
Memberi
materi tambahan, latihan tambahan tugas individual
e.
Hasil
penilaian menambah nilai mata pelajaran bersangkutan
f.
Setiap
saat, pada atau di luar jam efektif .
C. Klasifikasi
Tes Dalam Pendidikan
Test psikologis itu
banyak macamnya ragamnya dan sangat luas scorenya . sehingga untuk mendapatkan
orientasi yang baik mengenainya perlu dilakukan klasifikasi..
1). Klasifikasi tes berdasarkan cara
mengerjakan :
1.
Tes Tulis (written Test)
2.
Tes Lisan (oral test)
3.
Tes Perbuatan (Performance test)
2). Tes tulis ada 2 :
1.
Tes obyektif
2.
Tes subyektif (tes essai/tes uraian)
3). Tes obyektif ada 5 :
1. Tes benar salah
2. Tes menjodohkan
3. Tes pilihan ganda
4. Tes melengkapi
5. Tes jawaban singkat
4). Tes subyektif ada 2 :
1. Tes uraian bebas
5). Cara penggolongannya:
1. Test Intelegensi
2. Test Bakat Minat
3. Test Kepribadian
4. Test Prestasi
D. Sasaran Evaluasi
Yang
dimaksud dengan sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang dijadikan
titik pusat perhatian/pengamatan. Salah satu cara untuk mengetahui objek dari
evaluasi pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga aspek, yaitu
input, transformasi, dan output.
1. Input
Dalam
dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah, input tidak
lain adalah calon siswa. Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau
dari segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai
alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup empat
hal:
a. Kemampuan
Untuk dapat
mengikuti program pendidikan suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon peserta
didik harus memiliki kemampuan yang sepadan atau memadai, sehingga nantinya
peserta didik tidak akan mengalami hambatan atau kesulitan.
b. Kepribadian
Kepribadian
adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam
tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat
diperlukan, sebab baik-buruknya kepribadian secara psikologis akan dapat
mempengaruhi mereka dalam mengikuti program pendidikan. Alat untuk mengetahui
kepribadian seseorang disebut Personality Test.
c. Sikap
Sebenarnya
sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau
gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan
sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka
informasi mengenai sikap seseorang penting sekali. Alat untuk mengetahui
keadaan sikap seseorang dinamakan Attitude Test.
d. Inteligensi
Untuk
mengetahui tingkat inteligensi seseorang digunakan tes inteligensi yang sudah
banyak diciptakan oleh para ahli. Seperti, tes Binet-Simon (buatan Binet dan
Simon), SPM, Tintum, dsb. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence
Qoutient) yaitu angka yang menunjukkan tinggi rendahnya inteligensi seseorang
tersebut.
2. Transformasi
Transformasi
yang dapat diibaratkan sebagai “mesin pengolah bahan mentah menjadi bahan
jadi”, akan memegang peranan yang sangat penting. Ia dapat menjadi faktor penentu yang dapat menyebabkan keberhasilan
atau kegagalan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan;
karena itu objek-objek yang termasuk dalam transformasi itu perlu
dinilai/dievaluasi secara berkesinambungan. Unsur-unsur dalam transformasi yang
menjadi objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan
antara lain:
a. Kurikulum/materi pelajaran,
b. Metode pengajaran dan cara
penilaian,
c. Sarana pendidikan/media
pendidikan,
d. Sistem administrasi,
e. Guru dan personal lainnya dalam
proses pendidikan.
3. Output
Sasaran
evaluasi dari segi output adalah tingkat pencapaian atau prestasi belajar yang
berhasil diraih peserta didik setelah mereka terlibat dalam proses pendidikan
selama jangka waktu yang telah ditentukan. Ranah yang biasa digunakan adalah
tiga trikhotomik Benyamin Bloom, yaitu
kognitif, Afektif dan psikomotor.
Sasaran di
atas, merupakan obyek dari evaluasi pendidikan, evaluasi pengajaran dan
evaluasi kurikulum. Akan tetapi untuk
evaluasi kebijakan, sasarannya adalah kebijakan yang telah diputuskan
dan diimplementasikan. Evaluasi ini meliputi dasar kebijakan, desain,
implementasi, dan hasilnya. Sedangkan evaluasi sasarannya adalah proses
atau kegiatan evaluasi itu sendiri.
D. PENUTUP
Evaluasi
dalam rangkaian proses pendidikan merupakan hal yang sangat urgen. Hal ini
mengingat evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan sebagai
bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Evaluasi ini dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan
program pendidikan. (Depag RI, 2006:67).
Pendidikan
sebagai upaya mengembangkan kemampuan dan potensi individu baik sebagai pribadi
maupun sebagai anggota masyarakat merupakan usaha sadar yang bertujuan
mendewasakan anak mencakup kedewasaan fisik, intelektual, sosial dan moral.
(Nana Sudjana, 1996:2)
Operasionalisasi
pendidikan tersebut dalam lingkup yang lebih kecil ditempuh melalui proses
belajar mengajar atau pengajaran. Pengajaran adalah interaksi siswa dengan
lingkungan belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan
pengajaran, yakni kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah
menyelesaikan pengalaman belajarnya. Tujuan pengajaran pada dasarnya adalah
diperolehnya bentuk perubahan tingkah laku baru pada siswa, sebagai akibat dari
proses belajar mengajar.
Perubahan
tingkah laku dalam pengertian luas seperti dikemukakan Kingsley mencakup
keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan, pengertian serta sikap dan cita-cita.
Sedangkan menurut Gagne mencakup keterampilan intelektual, strategi kognitif,
informasi verbal, sikap dan keterampilan. Adapun menurut Benyamin S Bloom
dibedakan dalam tiga ranah, yakni ranah kognitif (aspek intelektual), ranah
afektif (sikap) dan ranah psikomotor (keterampilan). (Nana Sudjana, 1996:6)
DAFTAR
PUSTAKA
Abudin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta:Logos, 2005)
Anas Sudijono, Pengantar
Evaluasi Pendidikan, (Raja Grafindo: Jakarta, 2006),
Baharuddin Psikologi Pendidikan Ar Ruz Media 2007
Jamaludin Ancok, Psikologi Islami, (Yogjakarta:
Pustaka Pelajar, 1994)
Jemari Mardapi, Teknik
Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes, (Yogjakarta: Mitra Cendekia
Press, 2008),
Janan Asifuddin, Mengungkit
Pilar-pilar Pendidikan, Tinjauan Filosofis, (Yogjakarta: Suka-Press,
2009),
Muhibbins Syah. Psikologi Pendidikan : Pendekatan Baru.
Bandung : Remaja Rosdakarya. 1995
M. Utsman Najati. Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa. Bandung
: Pustaka 1997
Mustaqim, Abdul
Wahib, Psikologi Pendidikan Rineka Cipta 2003
M. Dalyono Psikologi
Pendidikan Rineka Cipta 2005
Sumadi Suryabrata Psikologi Pendidikan Rrajagrapindo Persada 1993
Suharsimi
Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2008),
Wasty Sumanto Psikologi Pendidikan Rineka Cipta 2005
Whitheringotn, Psikologi Pendidikan. Jakarta :
Aksara Baru 1985
Tidak ada komentar:
Posting Komentar