TEORI PEMBELAJARAN
A. PEMBELAJARAN
MENURUT ALIRAN BEHAVIORISTIK
Dalam pengertian yang luas teori
adalah interpretasi sistematis atas sebuah bidang pengetahuan. Dalam konteks
ini kita membahas teori pembelajaran. Dari pengertian secara umum tentang teori
diatas maka teori pembelajaran adalah interpretasi sistematis terhadap suatu
proses pembelajaran. Dimana teori tersebut kemudian menjadi dasar pembenaran (justification)
bagi para pelaku pendidikan dalam proses pembelajaran. Dalam teori pembelajaran
paling tidak ada tiga fungsi teori yang berbeda namun memiliki keterkaitan yang
erat antara yang satu dengan yang lain:
Fungsi tersebut adalah; Pertama, merupakan pendekatan terhadap suatu
bidang pengetahuan; yakni melalui disusunnya teori pembelajaran yaitu suatu
cara menganalisis, membicarakan dan meneliti masalah pembelajaran. Teori
pembelajaran menggambarkan sudut pandang peneliti mengenai aspek-aspek
pembelajaran yang paling bernilai untuk dipelajari. Kedua, Teori
pembelajaran berupaya untuk meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai
hukum-hukum pembelajaran kedalam ruang lingkup yang cukup teliti. Ketiga, Teori
pembelajaran secara kreatif berupaya menjelaskan apa itu pembelajaran dan
mengapa pembelajaran berlangsung.
Teori pembelajaran akan menentukan
bagaimana proses pembelajaran itu terjadi, disini dibahas tentang teori
pembelajaran yang sering dibicarakan oleh para ahli pendidikan yaitu teori
behavioristik yang memandang bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku,
yang bisa di amati, di ukur dan dinilai secara konkrit, karena adanya interaksi
antara stimulus dan respon
Menurut aliran ini, pembelajaran
adalah upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan
lingkungan, agar terjadi hubungan dengan lingkungan dengan tingkah laku
pelajar. Oleh karena itu disebut juga pembelajaran perilaku.
Teori
pembelajaran perilaku:
a.
Perlu diberikan penguatan untuk
meningkatkan motivasi belajar.
b.
Pemberian penguatan bisa berupa
penguat sosial (pujian), aktivitas (mainan) dan simbolik (uang, nilai).
c.
Hukuman dapat digunakan sebagai alat
pembelajaran tapi perlu hati-hati.
d.
Perilaku belajar yang segera diikuti
konsekuensi akan lebih berpengaruh.
e.
Pendidik dikatakan telah melakukan
pembentukan pembelajaran bila memberikan penguatan dalam pengajarannya.
Pandangan Aliran
Behavioristik Terhadap Pembelajaran
Teori behavioristik adalah teori
beraliran behaviorisme yang merupakan salah satu aliran psikologi. Teori ini
memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniyah, dan mengabaikan
aspek-aspek mental. Sehingga dengan kata lain behaviorisme tidak mengakui
adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.
Peristiwa belajar semata-mata hanya untuk melatih refleks-refleks sedemikian
rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Seperti yang telah disampaikan di
atas bahwa teori behavioristik memandang bahwa belajar merupakan perubahan
tingkah laku, yang bisa di amati, di ukur dan di nilai secara konkrit, karena
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan terjadi melalui
rangsangan (stimulus) yang menimbulkan perilaku reaktif (respon) berdasarkan
hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak,
baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan
respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar
berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan S-R.
Menurut teori ini yang terpenting
adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang
berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak bisa diamati. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi
atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Misalnya; siswa
belum dapat dikatakan berhasil dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial jika dia
belum bisa/tidak mau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti;
kerja bakti, ronda dll.
B. TOKOH
BEHAVIRISTIK DAN PEMIKIRANYA.
a.
Thorndike : koneksionisme.
Thorndike adalah seorang pendidik
dan sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika. Menurutnya, belajar merupakan
peristiwa terbentuknya asosiasi (koneksi) antara peristiwa yang disebut dengan
Stimulus (S) dengan Respon (R). Stimulus adalah perubahan dari lingkungan
exsternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk
beraksi/berbuat. Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang
dimunculkan karena adanya perangsang.
Dari percobaannya yang terkenal
(puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan
respon, perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang tepat serta melalui
usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trial) dan kegagalan-kegagalan (Error)
terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “Trial and Error
learning atau selecting and conecting learning” dan berlangsung menurut
hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh
thorndike ini sering disebut teori belajar koneksionisme atau asosiasi. Prinsip
pertama teori koneksionisme adalah belajar merupakan kegiatan membentuk
asosiasi (conection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.
Dari exsperimen puzzle box-nya
thorndike menemukan tiga hukum belajar yaitu; Hukum kesiapan (Law of
readiness) dimana semakin siap suatu organisme memperoleh perubahan tingkah
laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu
sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Hukum Latihan (Law of excercise)
yaitu semakin sering tingkah laku di ulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi
tersebut akan semakin kuat. Yang terakhir adalah hukum akibat (law of effect)
yaitu hubungan stimulus respon akan cenderung di perkuat bila akibatnya
menyenangkan dan sebaliknya cenderung melemah jika akibatnya tidak memuaskan.
b.
Watson : Conditioning
Watson mendefinisikan belajar
sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon
yang dimaksud harus dapat di amati (observable) dan dapat di ukur. Jadi
meskipun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang
selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang
tidak perlu di perhitungkan karena tidak dapat diamati.
Watson adalah seorang behaviorist
murni, karena kajianya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain
seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik
semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. Hanya dengan asumsi seperti
itulah – menurut watson - kita dapat meramalkan perubahan apa yang bakal
terjadi pada siswa.
c.
Guthrie : Conditioning.
Azas belajar guthrie yang utama
adalah hukum kontinguity. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu
gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang
sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus respon untuk
menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir
yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang
dapat terjadi. Penguatan hanya sekedar melindungi hasil belajar yang baru agar
tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru.
Teori guthrie ini mengatakan bahwa
hubungan stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karenanya dalam kegiatan
belajar, peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan
stumulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya
bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses
belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang.
d.
Skinner : Operant conditioning
Skinner adalah seorang yang
berkebangsaan Amerika yang dikenal sebagai seorang tokoh behavioris yang
meyakini bahwa perilaku individu dikontrol melalui proses operant conditioning
dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian
reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif besar.
Menagement kelas menurut skinner
adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses
penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak
memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant Conditioning adalah
suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat
mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai
dengan keinginan.
Menurut skinner – berdasarkan
percobaanya terhadap tikus dan burung merpati – unsur terpenting dalam belajar
adalah penguatan. Maksudnya adalah penguatan yang terbentuk melalui ikatan
stimulus respond akan semakin kuat bila diberi penguatan ( penguatan positif
dan penguatan negatif). Bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau
penghargaan. Sedangkan bentuk penguatan negatif adalah antara lain menunda atau
tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan, atau menunjukkan perilaku
tidak senang.
Skinner tidak percaya pada asumsi
yang dikemukakan guthrie bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses
pelajar. Hal tersebut dikarenakan –menurut skinner
(1) pengaruh hukuman terhadap
perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara,
(2) dampak psikologis yang buruk
mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama,
(3) hukuman mendorong si terhukum
mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman,
(4) hukuman dapat mendorong si
terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk dari pada kesalahan
pertama yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya dengan apa yang disebut
penguatan baik negatif maupun positif.
e.
Pavlov : Classic Conditioning
Dalam pemikiranya Pavlov berasumsi
bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat
berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Berangkat dari asumsi tersebut
Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia
menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan
segala kelebihanya secara hakiki, manusia berbeda dengan binatang.
Pavlov mengadakan percobaan dengan
cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga keluar kelenjar air
liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluar air
liur anjing tersebut. Kemudian dalam percobaan berikutya sebelum makanan
diperlihatkan, diperlihatkanlah sinar merah terlebih dahulu, kemudian baru
makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan
demikian di lakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya
memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar
pula.
Makanan adalah rangsangan wajar,
sedangkan merah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian
dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat
(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Dari eksperimen
tersebut, setelah pengkondisian atau pembiasaan, dapat di ketahui bahwa daging
yang menjadi stimulus alami dapat di gantikan oleh sinar merah sebagai stimulus
yang dikondisikan (conditioned stimulus). Ketika sinar merah di nyalakan
ternyata air liur anjing keluar sebagai respon-nya. Pavlov berpendapat bahwa
kelenjar-kelenjar yang lainpun dapat dilatih sebagaimana tersebut.
Apakah situasi ini bisa diterapkan
pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama pada
anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es creem Walls yang berkeliking
dari rumah kerumah. Awalnya mingkin suara itu asing, tetapi setelah si penjual
es creem sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur. Dari
contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi pavlov
ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami
dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang
diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya.
C. PEMBELAJARAN
MENURUT ALIRAN KOGNITIF
Teori pembelajaran merupakan
penyedia panduan bagi pengajar untuk membantu siswa didik dalam mengembangkan
kognitif, emosional, sosial, fisik, dan spiritual. Panduan-panduan tersebut
adalah kejelasan informasi yang mendeskripsikan tujuan, pengetahuan yang
diperlukan, dan unjuk kerjaan itu penting. Hal ini adalah untuk mengantisipasi
perubahan yang terjadi di dunia pendidikan. Ada dua perubahan yang perlu
diantisipasi, yaitu perubahan yang sifatnya sedikit demi sedikit (piecemeal)
dan yang bersifat sistemik (systemic). Jadi teori pembelajaran itu
penting sebagai suatu dasar pengetahuan yang memandu praktek pendidikan:
“bagaimana memfasilitasi belajar” dalam dunia pendidikan yang senantiasa
berubah, terlebih dalam cakupan yang sistemik.
Praktek pembelajaran adalah suatu
subsistem yang merupakan bagian dari sebuah sistem. Jika dalam sebuah
perjalanan, sistemnya berubah, maka subsistemmnya pasti berubah, oleh karena
masing-masing kebutuhan subsistem harus memiliki titik temu dengan sistemnya
supaya sistem tersebut dapat mendukung subsistem secara berkelanjutan. Jadi
perubahan sistemik yang terjadi pada sistem pembelajaran mesti diikuti oleh
perubahan sistemik pada subsistem teori pembelajaran. Perubahan teori
pembelajaran harus diikuti oleh perubahan paradigma pembelajaran.
Alur berpikir diatas terbangun dari
sejarah perkembangan teori pembelajaran. Sebelum para tokoh psikologi membangun
dan menemukan teori belajar kognitif, terlebih dahulu sudah terdapat beberapa
teori pembelajaran yang telah muncul dan berkembang. Namun teori pembelajaran
yang ada saat itu mereka anggap masih kurang sempurna, hingga akhirnya
menginspirasikan beberapa tokoh psikologi untuk menyikapi kekurangan-kekurangan
dari beberapa teori belajar yang lebih awal yang dianggap masih ada beberapa
celah kekurangan, yang diantaranya adalah teori behavioristik. hal ini juga berlaku
untuk teori pembelajaran kognitif itu sendiri. Seiring berkembangnya zaman
selanjutnya pasti akan ditemukan kekurangan-kekurangan dari teori kognitif ini
dalam menjawab tuntutan zaman. Hal tersebut sekaligus memberikan inspirasi bagi
tokoh psikologi (di era selanjutnya) untuk mengkonstruksi teori baru yang lebih
mampu untuk menjawab tuntutan zaman.
D. TOKOH-TOKOH
ALIRAN KOGNITIF DAN PEMIKIRANYA
1.
Teori Belajar Cognitive Developmental Dari Piaget
Dalam teorinya, Piaget memandang
bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari
konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena
penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur
yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan
kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak
ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif.
Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan
berbeda pula secara kualitatif.
Jean
Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap :
- Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.
- Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
- Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
- Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi
seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk
proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang
diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang
tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang
telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / di kode ulang disesuaikan
dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif
ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar
seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga
stabilitas mentalnya.Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan
antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman
luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan
dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi
Piaget
mengemukakan 3 prinsip pembelajaran yaitu:
·
Belajar aktif, adalah proses
menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa belajar sendiri.
·
Belajar lewat interaksi social adalah proses menciptakan suasana yang
memungkinkan adanya interaksi antar siswa.
·
Belajar lewat pengalaman
sendiri adalah proses pembelajaran
didasarkan pada pengalaman nyata.
2.
Jerome Bruner Dengan Discovery Learningnya
Bruner menekankanbahwa proses
belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman
melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan. Bruner meyakini bahwa
pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk, yaitu: enactive,
iconic dan simbolic.
Pembelajaran enaktif mengandung
sebuah kesamaan dengan kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan
enaktif adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek –
melakukan pengatahuan tersebut daripada hanya memahaminya. Anak-anak didik
sangat mungkin paham bagaimana cara melakukan lompat tali (‘melakukan’
kecakapan tersebut), namun tidak terlalu paham bagaimana menggambarkan
aktifitas tersebut dalam kata-kata, bahkan ketika mereka harus menggambarkan
dalam pikiran.
Pembelajaran ikonik
merupakan pembelajaran yang melalui gambaran; dalam bentuk ini, anak-anak
mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka.
Anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran tentang pohon mangga
dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk menjelaskan
dalam kata-kata.
Pembelajaran simbolik,
ini merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui representasi pengalaman
abstrak (seperti bahasa) yang sama sekali tidak memiliki kesamaan fisik dengan
pengalaman tersebut. Sebagaimana namanya, membutuhkan pengetahuan yang abstrak,
dan karena simbolik pembelajaran yang satu ini serupa dengan operasional formal
dalam proses berpikir dalam teori Piaget.
Jika dikorelasikan dengan aplikasi
pembelajaran, Discoveri learningnya Bruner dapar dikemukakan sebagai berikut:
- Belajar merupakan kecenderungan dalam diri manusia, yaitu Self-curiousity (keingintahuan) untuk mengadakan petualangan pengalaman.
- Belajar penemuan terjadi karena sifat mental manusia mengubah struktur yang ada. Sifat mental tersebut selalu mengalir untuk mengisi berbagai kemungkinan pengenalan.
- Kualitas belajar penemuan diwarnai modus imperatif kesiapan dan kemampuan secara enaktif, ekonik, dan simbolik.
- Penerapan belajar penemuan hanya merupakan garis besar tujuan instruksional sebagai arah informatif.
- Kreatifitas metaforik dan creative conditioning yang bebas dan bertanggung jawab memungkinkan kemajuan.
Menurut
Brunner dalam pengajaran di sekolah hendaknya mencakup:
a.
Pengalaman-pengalaman optimal untuk
mau dan dapat belajar.
Pendidik
memberi kesempatan kepada peserta didik agar memperoleh pengalaman optimal
dalam proses belajar dan meningkatkan kemauan belajar.
b.
Penstrukturan pengetahuan untuk
pemahaman optimal.
Pembelajaran
hendaknya dapat memberikan struktur yang jelas dari suatu pengetahuan yang
dipelajari anak-anak.
c.
Perincian urutan penyajian materi
pelajaran.
Pendekatan
pembelajaran dilakukan dengan peserta didik dibimbing melalui urutan masalah,
sekumpulan materi pelajaran yang logis dan sistematis untuk meningkatkan
kemampuan dalam menerima, mengubah, dan menstranfer apa yang telah dipelajari.
d.
Cara pemberian penguatan
Pujian
atau hukuman perlu dipikirkan cara penggunaannya dalam proses belajar mengajar.
3.
Teori Belajar Bermakna Ausubel.
Psikologi pendidikan yang diterapkan
oleh Ausubel adalah bekerja untuk mencari hukum belajar yang bermakna, berikut
ini konsep belajar bermakna David Ausubel.
Pengertian
belajar bermakna
Menurut
Ausubel ada dua jenis belajar :
(1)
Belajar bermakna (meaningful learning) dan
(2)
belajar menghafal (rote learning).
Belajar bermakna adalah suatu proses
belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah
dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal adalah
siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang
dibaca tanpa makna.
Sebagai ahli psikologi pendidikan
Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa di sekolah, dengan
memperhatikan/memberikan tekanan-tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar
melalui bahasa (meaningful verbal learning). Kebermaknaan diartikan
sebagai kombinasi dari informasi verbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila
ditinjau bersama-sama. Oleh karena itu belajar dengan prestasi hafalan saja
tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka, menurut Ausubel supaya proses
belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus siswa menemukan
sendiri semuanya. Malah, ada bahaya bahwa siswa yang kurang mahir dalam hal ini
akan banyak menebak dan mencoba-coba saja, tanpa menemukan sesuatu yang sungguh
berarti baginya. Seandainya siswa sudah seorang ahli dalam mengadakan
penelitian demi untuk menemukan kebenaran baru, bahaya itu tidak ada; tetapi
jika siswa tersebut belum ahli, maka bahaya itu ada.
Ia juga berpendapat bahwa
pemerolehan informasi merupakan tujuan pembelajaran yang penting dan dalam
hal-hal tertentu dapat mengarahkan guru untuk menyampaikan informasi kepada
siswa. Dalam hal ini guru bertanggung jawab untuk mengorganisasikan dan
mempresentasikan apa yang perlu dipelajari oleh siswa, sedangkan peran siswa di
sini adalah menguasai yang disampaikan gurunya.
Belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful
learning) yang dikemukakan oleh Ausubel adalah bila informasi yang akan
dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki
peserta didik itu sehingga peserta didik itu mampu mengaitkan informasi barunya
dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
Belajar seharusnya merupakan apa
yang disebut asimilasi bermakna, materi yang dipelajari di asimilasikan dan
dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dipunyai sebelumnya.
Untuk itu diperlukan dua persyaratan :
a. Materi yang secara potensial
bermakna dan dipilih oleh guru dan harus sesuai dengan
tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu
peserta didik.
b. Diberikan dalam situasi belajar
yang bermakna, faktor motivasional memegang peranan penting dalam
hal ini, sebab peserta didik tidak akan mengasimilasikan materi baru tersebut
apabila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan bagaimana
melakukannya. Sehingga hal ini perlu diatur oleh guru, agar materi tidak
dipelajari secara hafalan.
Berdasarkan uraian di atas maka,
belajar bermakna menurut Ausubel adalah suatu proses belajar di mana peserta
didik dapat menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah
dimilikinya dan agar pembelajaran bermakna, diperlukan 2 hal yakni pilihan
materi yang bermakna sesuai tingkat pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki
siswa dan situasi belajar yang bermakna yang dipengaruhi oleh motivasi.
Dengan demikian kunci keberhasilan
belajar terletak pada kebermaknaan bahan ajar yang diterima atau yang
dipelajari oleh siswa. Ausubel tidak setuju dengan pendapat bahwa kegiatan
belajar penemuan (discovery learning) lebih bermakna daripada kegiatan
belajar penerimaan (reception learning). Sehingga dengan ceramahpun,
asalkan informasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi penyajiannya
sistematis, akan dihasilkan belajar yang baik.
Ausubel
mengajukan empat prinsip pembelajaran, yaitu:
a.
Kerangka cantolan adalah pendidik
berusaha menggunakan bahan pengait untuk mengkaitkan konsep lama dengan konsep
baru.
b.
Diferensiasi progresif adalah proses pembelajaran dimulai dari hal
umum ke hal khusus.
c.
Belajar superordinat adalah proses
struktur kognitif yang mengalami pertumbuhan ke arah deferensiasi.
d.
Penyesuaian integrative adalah
Materi pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga pendidik dapat menggunakan
hierarki-hierarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.
4.
Beberapa teori dan tokoh lain
Selain tiga tokoh diatas berikut
kami sampaikan secara singkat beberapa tokoh lain yang juga menjadikan
teori kognitif sebagai pijakan dalam mengembangkan teori yang mereka kemukakan.
Salah satu teori kognitif yang juga
sering dijadikan acuan adalah teori gestalt. Peletak dasar teori gestalt
adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem
solving. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan
secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler
(1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpase. Kaum gestaltis
berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan.
Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman
terhadap hubungan hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan.
Intinya, menurut mereka, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang
diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar
seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran.
Selanjutnya tokoh dari teori
kognitif adalah Kurt Lewin (1892-1947). Mengembangkan suatu teori belajar
kognitif-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi
social. Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan
kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana individu bereaksi disebut life
space. Life space mencankup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi,
misalnya ; orang – orang yang dijumpainya, objek material yang ia hadapi serta
fungsi kejiwaan yang ia miliki. Jadi menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai
akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan sruktur kognitif itu
adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari stuktur medan kognisi itu
sendiri, yang lainya dari kebutuhan motivasi internal individu. Lewin
memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari reward.
Seiring perkembangan teknologi,
teori kognitif ini juga dikorelasikan dengan kecerdasan yang ada pada teknologi
mutahir, khususnya komputer, yang diistilahkan dengan kecerdasan buatan (artificial
intelegence). Kecerdasan ini didefinisikan dengan, sebuah studi tentang
bagaimana membuat komputer mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan manusia
(Rich, 1991). Tokoh lain mengatakan, Suatu perilaku sebuah mesin yang jika
dikerjakan oleh manusia akan disebut cerdas (Turing, et. al, 1996). Program
komputer untuk permainan catur, yang sekarang dapat mengalahkan banyak manusia
adalah salah satu contoh dari kecerdasan buatan.
Kebanyakan ahli setuju bahwa
Kecerdasan Buatan berhubungan dengan 2 ide dasar. Pertama, menyangkut studi
proses berfikir manusia, dan kedua, berhubungan dengan merepresentasikan proses
tersebut melalui mesin (komputer, robot, dll)
Menurut
Winston dan Prendergast (1984), tujuan dari Kecerdasan Buatan adalah:
a.
Membuat mesin menjadi lebih pintar (tujuan utama).
b.
Memahami apakah kecerdasan (intelligence) itu (tujuan ilmiah).
c.
Membuat mesin menjadi lebih berguna (tujuan enterprenerial).
E. BELAJAR SEBAGAI PROSES KOGNITIF
Teori kognitif adalah teori yang
umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau
mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan,
menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang
pengenalan. Teori belajar kognitiv lebih mementingkan proses belajar daripada
hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara
stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan
persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa
diamati.
Dari beberapa teori belajar kognitif
diatas (khusunya tiga di penjelasan awal) dapat pemakalah ambil sebuah sintesis
bahwa masing masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan
dalam dunia pendidikan juga pembelajaran. Jika keseluruhan teori diatas
memiliki kesamaan yang sama-sama dalam ranah psikologi kognitif, maka disisi
lain juga memiliki perbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan.
Sebagai misal, Teori bermakna
ausubel dan discovery Learningnya bruner memiliki sisi pembeda. Dari sudut
pandang Teori belajar Bermakna Ausubel memandang bahwa justeru ada bahaya jika
siswa yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat penanganan dengan teori
belajar discoveri, karena siswa cenderung diberi kebebasan untuk mengkonstruksi
sendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh karenanya menurut teori belajar
Bermakna guru tetap berfungsi sentral sebatas membantu mengkoor dinasikan pengalaman-pengalaman yang
hendak diterima oleh siswa namun tetap dengan koridor pembelajaran yang
bermakna.
Dari poin diatas dapat pemakalah
ambil garis tengah bahwa beberapa teori belajar kognitif diatas, meskipun
sama-sama mengedepankan proses berpikir, tidak serta merta dapat diaplikasikan
pada konteks pembelajaran secara menyeluruh. Terlebih untuk menyesuaikan teori
belajar kognitif ini dengan kompleksitas proses dan sistem pembelajaran
sekarang maka harus benar-benar diperhatikan antara karakter masing-masing
teori dan kemudian disesuakan dengan tingkatan pendidikan maupun karakteristik
peserta didiknya.
Kognitif
dalam konteks pendidikan.
- Kognisi umumnya bersifat adaptif, namun tidak semua kasus. Perkembangan ilmu pengetahuan telah membantu kita dengan baik dalam membentuk perkembang perangkat kognitif yang sanggup menangkap secara kuat rangsangan dari lingkungan. Perangkat kognitif ini membuat kita mampu untuk memahami rangsangan internal yang membuat sebagian besar informasi bisa tersedia bagi kita. Kita bisa memahami, belajar, mengingat, menalar dan memecahkan masalah dengan keakuratan tinggi. Rangsangan apapun dapat memecahkan perhatian kita dengan mudah dari memproses informasi dengan benar. Namun begitu, proses-proses sama yang membawa kita kepada pemahaman, pengingatan, dan penalaran akurat dikebanyakan situasi bisa juga membawa kita pada situasi kebingunan. Proses memori dan penalaran kita, rentan terhadap kekeliruan sistematik tertentu yang dikenal dengan baik. Contoh, kita cenderung menilai secara berlebihan informasi yang mudah kita terima, bahkan kita melakukan kekeliruan ini ketika informasi tersebut sama sekali tidak relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi.
- Proses kognitif berinteraksi satu sama lain termasuk denga proses-proses non-kognitif. Meskipun para psikolog kognitif sering kali mengisolasi fungsi dari proses-proses kognitif tertentu. Contoh proses-proses memori bergantung pada proses-proses persepsi. Apa yang anda ingat , sebagian bergantung kepada yang anda pahami. Dengan cara yang sama, proses berfikir bergantung sebagian kepad proses memori, contoh Anda tidak bisa merefleksikan apa yang anda ingat. Proses-proses kognitif juga berinteraksi dengan proses-proses non-kognitif, contohnya anada bisa belajar lebih baik ketika termotivasiuntuk belajar. Walaupun demikian pembelajaran anda tampaknya akan melemah jika merasa anda merasa jengkel terhadap sesuatu dan tidak bis berkonsentrasi pad atugas pembelajaran yang sedang dihadapi.
Salah satu wilayah psikologi
kognitif yang paling menarik dewasa ini adalah saling berkaitan antara analisis
yang kognitif dan biologis. Contohnya menjadi mungkin untuk menentukan tempat
aktifitas didalam otak yang berkaitan dengan jenis-jenis proses kognitf. Akan
tetapi kita tidak boleh langsung mengasumsikan kalau aktifitas biologis adalah
penyebabutama aktifitas kognitif. Riset justru menunjukkan bahwa proses
pembelajaranlah yang menyebabkan perubahan-perubahan di dalam otak. Dengan kata
lain proses-proses kognitif dapat mempengaruhi struktur-struktur biologis sama
seperti struktur biologis mempengaruhi proses kognitif. Sistem kognitif tidak
bekerja secara terisolasi, namun bekerja dengan sistem lain.
3. Kognisi perlu
dipelajari lewat beragam metode ilmiah.
Semua proses kognitif perlu
dipelajari lewat beragam operasi yang saling melengkapi. Artinya beragam metode
studi untuk mencari suatu pemahaman umum. Semakin banyak perbedaan jenis teknik
yang mengarah kepada kesimpulan yang sama, semakin tinggi keyakinan yang bisa
kita miliki mengenai kesimpulan tersebut. Contohnya, studi-studi tentang waktu
reaksi, tingkat kekeliruan dan pola perbedaan individual, semua mengarah pada
kesimpulan yang sama.
F. PANDANGAN TEORI HUMANISTIK DAN PEMIKIRANNYA
Pendidikan humanistik sangat
mementingkan adanya rasa kemerdekaan dan tanggung jawab. Aliran ini mempunyai
tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia agar manusia mampu mengaktualisasi
diri sebaik-baiknya. Aliran humanistik tidak mempunyai teori belajar khusus,
tetapi hanya bersifat ekletik, dalam arti mengambil teori yang sesuai
(kognitif) asal tujuan pembelajaran tercapai. Peran pendidik dalam pendekatan
humanistik adalah sebagai fasilitator belajar, yang tugasnya:
a.
Menciptakan iklim belajar.
b.
Memenui kebutuhan belajar peserta
didik.
c.
Membantu mengungkapkan emosi peserta
didik.
d.
Membantu belajar peserta didik.
Bentuk pembelajaran melalui
pendekatan humanistik adalah bahwa peserta didik dituntut untuk selalu
memotivasi diri. Untuk mencapai ke arah kegiatan belajar, pendidik hendaknya mendorong peserta didik untuk
memahami cara-cara belajar dan menilai belajarnya sendiri. Program pembelajaran
yang diterapkan dalam pendekatan humanistik umumnya menggunakan kegiatan
terbuka di mana peserta didik harus menemukan informasi, membuat keputusan,
memecahkan masalah dan membuat produk sendiri. Dalam pendidikan humanistik,
peserta didik tidak memiliki tempat duduk yang tetap seperti halnya pendidikan
konvensional. Peserta didik dapat belajar mandiri atau belajar dengan kelompok.
Menurut teori humanistik belajar
harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Teori
belajar humanistik sifatnya abstrak dan lebih mendekaji kajian filsafat. Teori
ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep. Dalam teori pembelajaran
humanistik, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk
kepentingan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, yakni untuk mencapai
aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara
optimal. Dal hal ini, maka teori humanistik ini bersifat eklektik (memanfaatkan
/ merangkum semua teori apapun dengan tujuan untuk memanusiakan manusia).
Salah satu ide penting dalam teori
belajar humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan untuk mengarahkan
sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning), apa yang akan
dipelajari dan sampai tingkatan mana, kapan dan bagaimana mereka akan belajar.
Siswa belajar mengarahkan sekaligus memotivasi diri sendiri dalam belajar
daripada sekedar menjadi penerima pasif dalam proses belajar. Siswa juga
belajar menilai kegunaan belajar itu bagi dirinya sendiri.
Aliran humanistik memandang belajar
sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang melibatkan seluruh
bagian atau domain yang ada yang meliputi domain kognitif, afektif dan
psikomotorik. Dengan kata lain, pendekatan humanistik menekankan pentingnya
emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh
setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya
untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Guru, oleh karenanya, disarankan
untuk menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan,
kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
G.
BEBERAPA
TOKOH DAN PANDANGAN ALIRAN HUMANISTIK
1.
PANDANGAN KOLB (EXPERIENTIAL LEARNING THEORY)
Teori ini dikembangkan oleh David
Kolb pada sekitar awal tahun 1980-an. Dalam teorinya, Kolb mendefinisikan
belajar sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi
pengalaman. Pengetahuan dianggap sebagai perpaduan antara memahami dan
mentransformasi pengalaman.
Experiential Learninng Theory
kemudian menjadi dasar model pembelajaran experiential learning yang menekankan
pada sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Pengalaman
kemudian mempunyai peran sentral dalam proses belajar.
Lebih
lanjut, Kolb membagi belajar menjadi 4 tahap :
1) Tahap pengamalan konkrit
(Concrete Experience)
Merupakan tahap paling awal, yakni seseorang mengalami
sesuatu peristiwa sebagaimana adanya (hanya merasakan, melihat, dan
menceritakan kembali peristiwa itu).Dalam tahap ini seseorang belum memiliki
kesadaran tentang hakikat peristiwa tersebut, apa yang sesungguhnya terjadi,
dan mengapa hal itu terjadi.
2) Tahap Pengalaman Aktif dan Reflektif
(Reflection Observation)
Pada tahap ini sudah ada observasi terhadap peristiwa yang
dialami, mencari jawaban, melaksanakan refleksi, mengembangkan pertanyaan-
pertanyaan bagaimana peristiwa terjadi, dan mengapa terjadi.
3) Tahap Konseptualisasi (Abstract
Conseptualization)
Pada tahap ini seseorang sudah berupaya membuat sebuah
abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, prosedur tentang sesuatu yang sedang
menjadi objek perhatian.
4) Tahap Eksperimentasi Aktif (Active
Experimentation)
Pada tahap ini sudah ada upaya melakukan eksperimen secara
aktif, dan mampu mengaplikasikan konsep, teori ke dalam situasi nyata.
Pada dasarnya, tahap-tahap tersebut
berlangsung diluar kesadaran orang yang belajar, (begitu saja terjadi).
Experiential Learning merupakan
model pembelajaran yang sangat memperhatikan perbedaan atau keunikan yang
dimiliki siswa, karenanya model ini memiliki tujuan untuk mengakomodasi
perbedaan dan keunikan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dengan
mengamati inventori gaya belajar (learning style inventory) yang dikembangkan
masing-masing siswa, David Kolb mengklasifikasikan gaya belajar seseorang
menjadi empat kategori sebagai berikut:
a. Converger
Tipe ini lebih suka belajar jika menghadapi soal yang
mempunyai jawaban tertentu. Orang dengan tipe ini tidak emosional dan lebih
suka menghadapi benda daripada manusia. Mereka tertarik pada ilmu pengetahuan
alam dan teknik.
b. Diverger
Tipe ini memandang sesuatu dari berbagai segi dan kemudian menghubungkannya
menjadi suatu kesatuan yang utuh. Orang dengan tipe ini lebih suka berhubungan
dengan manusia. mereka lebih suka mendalami bahasa, kesusastraan, sejarah dan
ilmu-ilmu sosial lainnya.
c. Assimilation
Tipe ini lebih tertarik pada konsep-konsep yang abstrak.
Orang dengan tipe ini tidak terlalu memperhatikan penerapan praksis dari
ide-ide mereka. Bidang studi yang diminati adalah bidang keilmuan(science) dan
matematika.
d. Accomodator
Tipe ini berminat pada penngembangan konse-konsep. Orang
dengan tipe ini berminat pada hal-hal yang konkret dan eksperimen. Bidang studi
yang sesuai untuk tipe ini adalah lapangan usaha dan teknik sedangkan pekerjaan
yang sesuai antara lain penjualan dan pemasaran.
Dari keempat gaya tersebut, tidak berarti
manusia harus digolongkan secara permanen dalam masing-masing kategori. Menurut
Kolb, belajar merupakan suatu perkembangan yang melalui tiga fase yaitu,
pengumpulan pengetahuan (acquisition), pemusatan perhatian pada bidang tertentu
(specialization) dan menaruh minat pada bidang yang kurang diminati sehingga
muncul minat dan tujuan hidup baru. Sehingga, walaupun pada tahap awal individu
lebih dominan pada gaya belajar tertentu, namun pada proses perkembangannya
diharapkan mereka dapat mengintegrasikan semua kategori belajar.
2. PANDANGAN HONEY DAN MUMFORD
Pandangan tentang belajar Honey dan
Mumford banyak dipengaruhi oleh Kolb. Mereka kemudian menggolong-golongkan
orang belajar menjadi empat macam golongan yaitu:
1)
Kelompok aktivis
Karakteristik :
a.
Senang melibatkan diri dan
berpartisipasi dalam suatu kegiatan untuk meperoleh pengalaman yang baru
b.
Mudah diajak berdialog
c.
Mempunyai pemikiran yang terbuka
d.
Menghargai pendapat orang lain
e.
Mudah percaya pada orang lain
f. Kurang
pertimbangan yang matang dalam melangkah.
2)
Kelompok
reflector
Karakteristik :
a.
Sangat berhati-hati dan penuh
pertimbangan dalam mengambil keputusan
b.
Tidak mudah dipengaruhi orang lain
c.
Cenderung bersifat konservatif
3) Kelompok teoritis:
Karakteristik :
a.
Sangat kritis
b.
Suka menganalisis
c.
Selalu berpikir rasional dengan
menggunakan penalaran
d.
Segala sesuatu dikembalikan pada
teori dan konsep
e.
Tidak menyukai pendapat / penilaian
yang subyektif
f.
Tidak menyukai hal-hal yang
spekulatif
g.
Mempunyai pendirian yang kuat
h.
Tidak mudah dipengaruhi orang lain
4)
Kelompok pragmatis
Karakteristik :
a.
Praktis, tidak suka bertele-tele
dengan suatu teori/konsep
b.
Sesuatu berguna apabla dapat
dilaksakanan/ dipraktekkan bagi kehidupan manusia
3. PANDANGAN HABERMAS
Menurut Habermas, proses belajar
terjadi apabila terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya, baik
lingkungan alam maupun sosial.
Ada 3 tipe belajar :
Ada 3 tipe belajar :
1) Belajar Teknik ( Tehnical Learning )
Yaitu belajar bagaimana seseorang
dapat berinteraksi dengan lingkungan alam secara benar. Seseorang harus
menguasai pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menguasai dan mengelola
lingkungan dengan benar.Dal hal ini ilmu alam sangat diperlukan.
2) Belajar Praktis ( Practical Learning )
Yaitu belajar bagaimana seseorang
dapat berinteraksi dengan lingkungan social ( orang-orang yang ada disekeliling
) secara baik. Bidang ilmu sosiologi, komunikasi, psikologi, antropologi dan
seenisnya sangtlah dibutuhkan dalam belajar praktis. Namun demikian tidak berarti
lingkungan alam diabaikan.
3) Belajar Emansipatoris ( Emancipatory Learning)
Belajar emansipatoris menekankan
pada upaya seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan
terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya.
Ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasa dan budaya sangat dibutuhkan. Tahap
ini oleh Habermas dianggap tahap belajar yang paling tinggi, karena
transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang tertinggi.
4. PANDANGAN BLOOM DAN KRATHWOHL
Pandangan ini menekankan pada apa
yang harus dikuasai oleh individu ( sebagai tujuan belajar ) setelah melalui
peristiwa belajar. Tujuan belajar telah dirangkum dalam tiga kawasan yang disebut
Taksonomi Bloom, yakni :
1) Domain Kognitif, terdiri atas 6 tingkatan , yaitu :
a. Pengetahuan ( mengingat, menghafal )
b. Pemahaman ( menginterprestasikan )
c. Aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan masalah )
d. Analisis ( menjabarkan suatu konsep )
e. Sintesis (menggabungkan
bagian-bagian konsep menjadi sebuah konsep yang utuh).
f. Evaluasi ( membandingkan nilai –
nilai, ide, metode , dll )
2) Domain Psikomotor, terdiri dari 5 tingkatan, yaitu :
a. Peniruan ( menirukan gerak )
b. Penggunaan ( menggunakan konsep
untuk melakukan gerak )
c. Ketepatan ( melakukan gerak
dengan benar )
d. Perangkaian ( melakukan beberapa
gerakan sekaligus dengan benar )
e. Naturalisasi ( melakukan gerak
secara wajar )
3) Domain afektif , terdiri dari 5 tingkatan, yaitu :
a. Pengenalan ( ingin menerima,
sadar akan adanya sesuatu )
b. Merespon ( aktif berpartisipasi )
c. Penghargaan ( menerima
nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu )
d. Pengorganisasian ( menghubungkan
nilai yang dipercayainya )
e. Pengamalan (menjadikan
nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupnya)
5.
Pendekatan Pembelajaran Humanistik
Pendekatan pembelajaran humanistik
memandang manusia sebagai subyek yang bebas merdeka untuk menentukan arah
hidupnya. Manusia bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas
hidup orang lain. Pendekatan yang lebih tepat digunakan dalam pembelajaran yang
humanistik adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan
dialogis mengajak peserta didik untuk berpikir bersama secara kritis dan
kreatif. Pendidik tidak bertindak sebagai guru melainkan fasilitator dan
partner dialog; pendekatan reflektif mengajak peserta didik untuk berdialog
dengan dirinya sendiri; sedangkan pendekatan ekspresif mengajak peserta didik
untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya (realisasi dan aktulisasi
diri). Dengan demikian pendidik tidak mengambil alih tangungjawab, melainkan
sekedar membantu dan mendampingi peserta didik dalam proses perkembangan diri,
penentuan sikap dan pemilahan nilai-nilai yang akan diperjuangkannya.
Pendidikan yang humanistik menekankan
bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin
komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan
kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan
menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka.
Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika
berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh
pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal
relationship).Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri
sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling).
Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan
verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik
dapat menumbuh kembangkan dirinya secaraoptimal.
Mendidik yang efektif pada dasarnya
merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik
memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka
mampu menumbuh kembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan
yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan BAGI siswa. Dasar
pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan
peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan
dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the
learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa
adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana
adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model
pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan
komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya,
mengembangkan dirinya dan kemudian mem- “fungsi” -kan dirinya di dalam
masyarakat secara optimal.
Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya
adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga
mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai
masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai
maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanistik serta
mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income
generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan
berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh
kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun
keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada
hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan
hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi
pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna
dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat
proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal
dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak
atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun
tetap humanis.
6. Model - Model Pembelajaran Humanistik
Dari beberapa literatur pendidikan,
ditemukan beberapa model pembelajaran yang humanistik ini yakni: humanizing
of the classroom, active learning, quantum learning, quantum
teaching, dan the accelerated learning.
·
Humanizing of the classroom ini
dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah yang otoriter, tidak manusiawi, sehingga
banyak menyebabkan peserta didik putus asa, yang akhirnya mengakhiri hidupnya
alias bunuh diri. Kasus ini banyak terjadi di Amerika Serikat dan Jepang.
Humanizing of the classroom ini dicetuskan oleh John P. Miller yang terfokus
pada pengembangan model “pendidikan afektif”. Pendidikan model ini bertumpu
pada tiga hal: menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan yang sedang dan
akan terus berubah, mengenali konsep dan identitas diri, dan menyatupadukan
kesadaran hati dan pikiran. Perubahan yang dilakukan tidak terbatas pada
substansi materi saja, tetapi yang lebih penting pada aspek metodologis yang
dipandang sangat manusiawi.
·
Active learning
dicetuskan oleh Melvin L. Silberman. Asumsi dasar yang dibangun dari model
pembelajaran ini adalah bahwa belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari
penyampaian informasi kepada siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan
tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan
sebagian besar pekerjaan belajar. Mereka mempelajari gagasan-gagasan,
memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.Dalam
active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan cepat lupa, dengan
cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara mendengarkan,
melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar,
melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan,
dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbagus adalah dengan mengajarkan.
Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, dan menarik. Active
learning menyajikan 101 strategi pembelajaran aktif yang dapat diterapkan
hampir untuk semua materi pembelajaran.
·
Quantum learning merupakan cara
pengubahan bermacam-macam interaksi, hubungan dan inspirasi yang ada di dalam
dan di sekitar momen belajar. Dalam prakteknya, quantum learning menggabungkan
sugestologi, teknik pemercepatan belajar dan neurolinguistik dengan teori,
keyakinan, dan metode tertentu. Quantum learning mengasumsikan bahwa jika siswa
mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secara jitu akan mampu membuat
loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya. Dengan metode belajar
yang tepat siswa bisa meraih prestasi belajar secara berlipat-ganda. Salah satu
konsep dasar dari metode ini adalah belajar itu harus mengasyikkan dan
berlangsung dalam suasana gembira, sehingga pintu masuk untuk informasi baru
akan lebih besar dan terekam dengan baik.
Sedang quantum teaching berusaha
mengubah suasana belajar yang monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar
yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa
menjadi suatu kesatuan kekuatan yang integral. Quantum teaching berisi
prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan
progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang
mengagumkan dengan waktu yang sedikit. Dalam prakteknya, model pembelajaran ini
bersandar pada asas utama bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkanlah
dunia kita ke dunia mereka. Pembelajaran, dengan demikian merupakan kegiatan
full content yang melibatkan semua aspek kepribadian siswa (pikiran, perasaan,
dan bahasa tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya,
serta persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola sebaik-baiknya,
diselaraskan hingga mencapai harmoni (diorkestrasi).
·
The accelerated learning merupakan
pembelajaran yang dipercepat. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa
pembelajaran itu berlangsung secara cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Pemilik
konsep ini, Dave Meier menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas
menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual, dan Intellectual (SAVI).
Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing (belajar dengan
bergerak dan berbuat). Auditory adalalah learning by talking and hearing
(belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visual diartikan learning by
observing and picturing (belajar dengan mengamati dan mengambarkan).
Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting
(belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi).
Bobbi DePorter menganggap accelerated
learning dapat memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang
mengesankan, dengan upaya yang normal dan dibarengi kegembiraan. Cara ini
menyatukan unsur-unsur yang sekilas tampak tidak mempunyai persamaan, tampak
tidak mempunyai persamaan, misalnya hiburan, permainan, warna, cara berpikir
positif, kebugaran fisik dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja
sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.
7. Aspek-Aspek Kemanusiaan Pembelajaran
Humanistik
Manusia adalah makhluk multidimensional
yang dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang. Eduart Spranger (1950),
melihat manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Yang membedakan manusia
dengan makhluk lain adalah aspek kerohaniannya.Manusia akan menjadi sungguh-sungguh
manusia kalau ia mengembangkan nilai-nilai rohani (nilai-nilai budaya), yang
meliputi: nilai pengetahuan, keagamaan, kesenian, ekonomi, kemasyarakatan dan
politik.Howard Gardner (1983) menelaah manusia dari sudut kehidupan mentalnya
khususnya aktivitas inteligensia (kecerdasan). Menurutnya, manusia memiliki 7
macam kecerdasan yaitu:
1. Kecerdasan
matematis/logis: yaitu kemampuan penalaran ilmiah, penalaran induktif/deduktif,
berhitung/angka dan pola-pola abstrak.
2. Kecerdasan
verbal/bahasa: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kata/bahasa tertulis
maupun lisan. (sebagian materi pelajaran di sekolah berhubungan dengan
kecerdasan ini)
3. Kecerdasan
interpersonal: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan berelasi
dengan orang lain, berkomunikasi antar pribadi
4. Kecerdasan
fisik/gerak/badan: yaitu kemampuan mengatur gerakan badan, memahami sesuatu
berdasar gerakan
5. Kecerdasan
musikal/ritme: yaitu kemampuan penalaran berdasarkan pola nada atau ritme.
Kepekaan akan suatu nada atau ritme
6. Kecerdasan
visual/ruang/spasial: yaitu kemampuan yang mengandalkan penglihatan dan
kemampuan membayangkan obyek. Kemampuan menciptakan gambaran mental.
7. Kecerdasan
intrapersonal: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran kebatinannya
seperti refleksi diri, kesadaran akan hal-hal rohani.
H.
PEMBELAJARAN
MENURUT TEORI KONTEMPORER
Pembelajaran teori kontemporer yang
dimaksudkan di sini adalah pembelajaran berdasarkan teori belajar
kontruktivisme. Peserta didik harus aktif dalam mengkontruksi pengetahuan
berdasarkan interaksinya dalam pengalaman belajar yang diperoleh. Dalam
pembelajaran model ini pendidik dan peserta didik sama-sama aktif.
Strategi pembejaran tersebut dinamakan student centered learning strategies,
yang wujudnya bisa berupa belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif
& kolaboratif, generative learning dan problem based learning.
Model pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan teori kontrukivisme yang terkenal samapi sekarang adalah
pembelajaran kuantum (Quantum learning) yaitu pembelajaran yang
mengorkestrasikan (mengubah, menyelaraskan, memberdayakan) berbagai interaksi
yang berada di dalam dan di sekitar momen belajar dengan cara menyingkirkan
hambatan belajar melalui cara dan alat yang tepat sehingga kemampuan dan bakat
alamiah peserta didik menjadi kemampuan aktual.
I. PENUTUP
Dalam proses pembelajaran, baik
formal, non-formal maupun informal, Teori pembelajaran memiliki peran yang
penting. Teori pembelajaran akan menentukan bagaimana proses pembelajaran itu
terjadi, teori behavioristik yang memandang bahwa belajar merupakan perubahan
tingkah laku, yang bisa di amati, di ukur dan dinilai secara konkrit, karena
adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Belajar
emansipatoris menekankan pada upaya seseorang mencapai suatu pemahaman dan
kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam
lingkungan sosialnya. Ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasa dan budaya
sangat dibutuhkan. Tahap ini oleh Habermas dianggap tahap belajar yang paling
tinggi, karena transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang tertinggi
Sebagai konsekuensi dari teori ini
adalah para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan
pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus
dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi
ceramah tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan
sendiri maupun melalui simulasi.
Teori
humanistik sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar. Pendidik
harus memperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam
mengaktualisasikan diri. Pengalaman emosional, dan karakteristik individu harus
dipehatikan dalam rangka perencanaan pembelajaran. Menurut teori ini, agar belajar
bermakna bagi siswa, perlu inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendri.
Daftar Pustaka
Amstrong, Thomas. 2002. Setiap
Anak Cerdas: Panduan membantu anak belajar dengan memanfaatkan multiple
intelligence-nya. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.
Budiningsih, C., Asri , Belajar
dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005.
F. Hill, Winfred. 1990. Theories Of
Learning; Teori- Teori Pembelajaran, Alih Bahasa M. Khozim Bandung: Nusa Media
Hall S. Calvin & Lindzey,
Gardner, Psikology kebribadian 3, Teori-Teori sifat dan
behavioristik(diterjemahkan dari bukuTheories of personality, New york,
Santa barbara Toronto, 1978) , yogyakarta: Kanisius 1993.
Hill, F., Winfred, Theories of
learning (diterjemahkan oleh M.khozin dari karya aslinya, Learning:A
survey of Psycological Interpretations, Harper Collins Publisher, 1990),
Bandung:Nusa Dua, 2009.
Seivert, Kelvin. 2008. Manajemen
Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan. Yogyakarta: IRCiSoD
Stenberg, Robert J. 2008. Psikologi
Kognitif Edisi Keempat. Yogyakarta. Pustaka pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar