Rabu, 06 Maret 2013



METODE  DALAM PENDIDIKAN ISLAM


A.  Pendahuluan
Sistem Pendidikan Nasional dan semangat dalam menerapkan nilai-nilai Islam terhadap pendidikan yang diselenggarakan, maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran yang terencana, dalam usaha pendidikan guna menjadikan peserta didik yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan. Maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran dalam pendidikan, terlebih lagi sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Walaupun sumber hukum Islam tersebut tidak dikemukakan secara eksplisit tentang metode pemebelajaran, akan tetapi sebagian ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits menyinggung dan memberikan perhatian terhadap metode pembelajaran, dengan adanya sebagian ayat Al-Qur’an ada yang dihubungkan dengan metode pemebelajaran. Dengan demikian, penulis membuat rumusan dari konsep metode pembelajaran dalam pendidikan Islam dengan poin-poin sebagai berikut:
1.      Beberapa hal yang harus ada dalam metode, yaitu: Pertama, Adanya tujuan yang hendak dicapai; Kedua, Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan; Ketiga, Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung; Keempat, Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
2.      Dalam menggunakan metode, seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
3.      Metode mengajar dalam pendidikan Islam harus sesuai dengan prinsip dasarnya, yaitu Al- Qur’an dan Al-Hadits. Di antara metode-metode tersebut adalah: (a) Metode Ceramah/ cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik; (b) Metode Tanya jawab/ suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca; (c) Metode Diskusi/ adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun  berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah; (d) Metode Pemberian Tugas/ suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya; (e) Metode Demontrasi/ suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya; (f) Metode Eksperimen/ Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu   percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan; (g) Metode Amtsal/ Perumpamaan/ cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan; (h) Metode Targhib dan Tarhib/ cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan; (i) Metode Pengulangan (Tikror)/ cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 (2009: 2) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditemukan 3 (tiga) pokok pikiran  utama yang terkandung di dalamnya tentang pendidikan, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif dalam mengembangkan potensi, maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran yang terencana, dalam usaha pendidikan guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Terkait dengan seperangkat metode pembelajaran dalam pendidikan Islam, maka dalam Al-Qur’an tidak dikemukakan penjelasan tentang metode pemebelajaran, kecuali metode pemebelajaran yang terdapat dalam praktek sejarah yang diselenggarakan di masjid, rumah, sanggar para sastrawan, madrasah, dan universitas dengan menggunakan metode hafalan, tanya jawab dan ceramah. Meskipun metode seperti itu tidak disinggung secara langsung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber hukum Islam, akan tetapi sebagian ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits menyinggung dan memberikan perhatian terhadap metode pemebelajaran, dengan adanya sebagian ayat Al-Qur’an ada yang dihubungkan dengan metode pemebelajaran di antaranya, tentang metode ceramah (QS. Yunus: 23), metode tanya jawab (HR. Muslim/I: 462-463), metode diskusi (QS. Ash-Shaffat: 20-23), metode pemberian tugas (QS. Al-Muddatsir: 1-5), metode amtsal/ perumpamaan (QS. Al-Baqarah: 17), dan lain sebagainya.           
Semua ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran dalam pendidikan Islam berperan penting sebagai suatu upaya dan cata dalam proses pendidikan umat Islam. Dari uraian tersebut, maka penulis akan menjabarkan apa dan bagaimana metode pembelajaran dalam pendidikan Islam dan hal-hal yang terkait dengan itu, sehingga menambah pemahaman dan wawasan keilmuan dalam bidang pendidikan bagi manusia yang bergelut dalam dunia pendidikan Islam.
B.    Pengertian Metode dalam Pendidikan
Metode menurut Djamaluddin dan Abdullah Aly dalam  Kapita Selekta Pendidikan Islam, (1999:114) berasal dari kata meta berarti melalui, dan hodos jalan. Jadi metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan menurut Depag RI dalam buku Metodologi Pendidikan Agama Islam (2001:19)  Metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Menurut  WJS. Poerwadarminta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1999:767) Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa metode merupakan jalan atau cara yang ditempuh seseorang untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Metode mengajar banyak macam-macam dan jenisnya, setiap jenis metode mengajar mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, tidak menggunakan satu macam metode saja, mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang sampai saat ini masih banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Menurut Nana Sudjana(dalam buku Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, 1989:78 – 86), terdapat bermacam-macam metode dalam mengajar, yaitu Metode ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode Demonstrasi dan Eksperimen, Metode sosiodrama (role-playing), Metode problem solving, Metode sistem regu (team teaching), Metode latihan (drill), Metode karyawisata (Field-trip), Metode survai masyarakat, dan Metode simulasi.
C.    Macam-macam Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan Islam
Sebagai umat yang telah dianugerahi Allah dengan kitab Al-Quran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al- Qur’an dan dan sesuai dengan Al-Hadits. Di antara metode-metode tersebut (Ramayulis. 2008: 194) adalah sebagai berikut:
1.      Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini terdapat di dalam Al- Qur’an dalam QS. Ali –Imran, 110, yaitu sebagai berikut:

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ  
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
4.      Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits, Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan. Selain itu ada juga hadits yang lainnya seperti hadits berikut ini:
Hadits Qutaibah ibn Sa’id, hadits Lâis kata Qutaibah hadits Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa (Muslim, I: 462-463).
5.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun  berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi (Ramayulis, 2009: 194) menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog). Prinsip dasar metode ini terdapat dalam QS. Ash-Shaffat ayat 20-23 yang berbunyi:
(#qä9$s%ur $uZn=÷ƒutƒ #x»yd ãPöqtƒ ÈûïÏd9$# ÇËÉÈ   #x»yd ãPöqtƒ È@óÁxÿø9$# Ï%©!$# OçGYä. ¾ÏmÎ/ šcqç/Éjs3è? ÇËÊÈ    (#rçŽà³ôm$# tûïÏ%©!$# (#qçHs>sß öNßgy_ºurør&ur $tBur (#qçR%x. tbrßç7÷ètƒ ÇËËÈ   `ÏB Èbrߊ «!$# öNèdrß÷d$$sù 4n<Î) ÅÞºuŽÅÀ ËÅspgø:$# ÇËÌÈ  
Dan mereka berkata:"Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan.  Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.  (kepada Malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,  Selain Allah; Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.
Selain itu terdapat juga dalam hadits yang berbunyi:
Hadits Qutaibah ibn Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya hadits Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’ dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang yang muflis (bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta.Rasul bersabda; Sesungguhnya orang   yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat   dengan (pahala) salat, puasa dan zakat,. Dia datang tapi telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah (membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka (Muslim, t.t, IV: 1997).
6.      Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam QS. Al-Muddatsir ayat 1-7 yang berbunyi:
$pkšr'¯»tƒ ãÏoO£ßJø9$# ÇÊÈ   óOè% öÉRr'sù ÇËÈ   y7­/uur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ   y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ   tô_9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ   Ÿwur `ãYôJs? çŽÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ   šÎh/tÏ9ur ÷ŽÉ9ô¹$$sù ÇÐÈ  
Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah!  Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila ditiup sangkakala,
7.      Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang berbunyi:
Hadits dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadits dari Abdul Wahhâb katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah katanya hadits dari Mâlik. Kami mendatangi Rasulullah saw. dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah saw  adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau menanyakantentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat (Al-Bukhari, I: 226).
8.      Metode Eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu   percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. Prinsip dasar metode ini ada dalam hadits yaitu:
Hadits Adam, katanya hadits Syu’bah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ dari ayahnya, katanya seorang laki-laki datang kepada Umar ibn Khattâb, maka katanya saya sedang janabat dan tidak menemukan air, kata Ammar ibn Yasir kepada Umar ibn Khattâb, tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah perjalanan, ketika itu anda belum salat, sedangkan saya berguling-guling di tanah, kemudian saya salat. Saya menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian Rasulullah saw. bersabda: ”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya pada wajah (Al-Bukhari, I: 129)
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut. Menurut al-Asqalani, hadits ini mengajarkan sahabat tentang tata cara tayammum dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah saw. melakukan upaya pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw. memperbaiki ekperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu.
9.      Metode Amtsal/ Perumpamaan
Metode Amtsal yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan. Prinsip metode ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 17, yaitu:
öNßgè=sVtB È@sVyJx. Ï%©!$# ys%öqtGó$# #Y‘$tR !$£Jn=sù ôNuä!$|Êr& $tB ¼ã&s!öqym |=ydsŒ ª!$# öNÏdÍqãZÎ/ öNßgx.ts?ur Îû ;M»yJè=àß žw tbrçŽÅÇö6ムÇÊÐÈ  
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Selain itu terdapat pula dalam hadits yang berbunyi:
Hadits dari Muhammad ibn Mutsanna dan lafaz darinya, hadits dari Abdul Wahhâb yakni As-Śaqafi, hadits Abdullah dari Nâfi’ dari ibn Umar, Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang munafik dalam keraguan mereka adalah seperti kambing yang kebingungan di tengah kambing-kambing yang lain. Ia bolak balik ke sana ke sini. (Muslim, IV: 2146)
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong tşiqah dan tşiqah tsubut, tsiqah hâfiz, sedangkan Ibn Umar adalah sahabat Rasulullah Saw. Menurut Ath-Thîby (1417H, XI: 2634), orang-orang munafik, karena mengikut hawa nafsu untuk memenuhi syahwatnya, diumpamakan seperti kambing jantan yang berada di antara dua kambing betina. Tidak tetap pada satu betina, tetapi berbolak balik pada ke duanya. Hal tersebut diumpamakan seperti orang munafik yang tidak konsisten dengan satu komitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul Saw. sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah Saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.


10.  Metode Targhib dan Tarhib
Metode Targhib dan Tarhib yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut ini:
Hadits Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadits ini seorangpun yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya (Al-Bukhari, t.t, I: 49)
Selain hadits juga hadits berikut ini :
Hadits Ahmad ibn Shalih, hadits Abdullah ibn Wahhab, Umar memberitakan padaku dari Bakr ibn Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw. bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian”… (Sijistani, t.t, I: 183).
Hadits di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong tsiqah hâfiz, tsiqah dan tsiqah azaly. Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw. memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam beribadah dan dalam lingkungan social.
Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.
11.  Metode Pengulangan (Tikror)
Metode pengulangan (tikror) yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut:
Hadits Musaddad ibn Musarhad hadits Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadits dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. (As-Sijistani, t.t, II: 716).
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong tsiqah dan tsiqah hafiz, tsiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali perkataan ”celakalah”, ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak tergolong pada orang yang merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah Saw. ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
D.  Penutup
Dari uraian pembahasan di atas, maka penulis akan menjawab permasalahan yang sesuai dengan permasalahan yang termuat dalam pendahuluan makalah ini, yaitu apa dan bagaimana metode pembelajaran dalam pendidikan Islam dan hal-hal yang terkait dengan itu? Sesuai dengan semangat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan semangat dalam menerapkan nilai-nilai Islam terhadap pendidikan yang diselenggarakan, maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran yang terencana, dalam usaha pendidikan guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan. Maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran dalam pendidikan, terlebih lagi sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Walaupun sumber hukum Islam tersebut tidak dikemukakan secara eksplisit tentang metode pembelajaran, akan tetapi sebagian ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits menyinggung dan memberikan perhatian terhadap metode pemebelajaran, dengan adanya sebagian ayat Al-Qur’an ada yang dihubungkan dengan metode pemebelajaran. Dengan demikian, penulis membuat rumusan kesimpulan dengan poin-poin sebagai berikut:
Beberapa hal yang harus ada dalam metode, yaitu: Pertama, Adanya tujuan yang hendak dicapai; Kedua, Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan; Ketiga, Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung; Keempat, Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
Dalam menggunakan metode, seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
Metode mengajar dalam pendidikan Islam harus sesuai dengan prinsip dasarnya, yaitu Al- Qur’an dan Al-Hadits. Di antara metode-metode tersebut adalah: (a) Metode Ceramah/ cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik; (b) Metode Tanya jawab/ suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca; (c) Metode Diskusi/ adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun  berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah; (d) Metode Pemberian Tugas/ suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya; (e) Metode Demontrasi/ suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya; (f) Metode Eksperimen/ Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu   percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan; (g) Metode Amtsal/ Perumpamaan/ cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan; (h) Metode Targhib dan Tarhib/ cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan; (i) Metode Pengulangan (Tikror)/ cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.

















Daftar  Pustaka
Ramayulis dan Samsu Nizar. (2009). Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta : Kalam Mulia.
Shalih Abd. Al Aziz. (119 H).  At-Tarbiyah Wa Thuriq Al Tadris. Kairo: Maarif. dalam
Ramayulis. (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
John M Echol dan Hasan Shadily. (1995). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Surakhmad. (1998). Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito.
Abu Ahmadi. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Bandung  Pustaka Setia.
Omar Mohammad. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar