METODE DALAM PENDIDIKAN ISLAM
A.
Pendahuluan
Sistem Pendidikan Nasional dan
semangat dalam menerapkan nilai-nilai Islam terhadap pendidikan yang
diselenggarakan, maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran yang
terencana, dalam usaha pendidikan guna menjadikan peserta didik yang memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan. Maka dibutuhkan seperangkat metode
pemebelajaran dalam pendidikan, terlebih lagi sesuai dengan nilai-nilai ajaran
Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Walaupun sumber hukum Islam
tersebut tidak dikemukakan secara eksplisit tentang metode pemebelajaran, akan
tetapi sebagian ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits menyinggung dan memberikan perhatian
terhadap metode pembelajaran, dengan adanya sebagian ayat Al-Qur’an ada yang
dihubungkan dengan metode pemebelajaran. Dengan demikian, penulis membuat
rumusan dari konsep metode pembelajaran dalam pendidikan Islam dengan poin-poin
sebagai berikut:
1.
Beberapa
hal yang harus ada dalam metode, yaitu: Pertama, Adanya tujuan yang
hendak dicapai; Kedua, Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan; Ketiga,
Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung; Keempat,
Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
2.
Dalam
menggunakan metode, seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum
metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan
menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik
haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode
pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan
sosiologis.
3.
Metode
mengajar dalam pendidikan Islam harus sesuai dengan prinsip dasarnya, yaitu Al-
Qur’an dan Al-Hadits. Di antara metode-metode tersebut adalah: (a) Metode
Ceramah/ cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh
pendidik kepada peserta didik; (b) Metode Tanya jawab/ suatu cara mengajar
dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan
pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca; (c) Metode
Diskusi/ adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana
pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan
menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau
menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah; (d) Metode
Pemberian Tugas/ suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas
tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan
murid harus mempertanggung jawabkannya; (e) Metode Demontrasi/ suatu cara
mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan
sesuatu sedangkan murid memperhatikannya; (f) Metode Eksperimen/ Suatu cara
mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan
setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru
memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan; (g) Metode
Amtsal/ Perumpamaan/ cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran
melalui contoh atau perumpamaan; (h) Metode Targhib dan Tarhib/ cara mengajar
dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap
kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan
dan menjauhi keburukan; (i) Metode Pengulangan (Tikror)/ cara mengajar dimana
guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut
dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003
(2009: 2) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditemukan
3 (tiga) pokok pikiran utama yang terkandung di dalamnya tentang
pendidikan, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi
dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif
dalam mengembangkan potensi, maka dibutuhkan seperangkat metode pemebelajaran
yang terencana, dalam usaha pendidikan guna memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Terkait dengan seperangkat metode pembelajaran dalam
pendidikan Islam, maka dalam Al-Qur’an tidak dikemukakan penjelasan tentang
metode pemebelajaran, kecuali metode pemebelajaran yang terdapat dalam praktek
sejarah yang diselenggarakan di masjid, rumah, sanggar para sastrawan,
madrasah, dan universitas dengan menggunakan metode hafalan, tanya
jawab dan ceramah. Meskipun metode seperti itu tidak disinggung secara
langsung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber hukum Islam, akan tetapi
sebagian ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits menyinggung dan memberikan perhatian
terhadap metode pemebelajaran, dengan adanya sebagian ayat Al-Qur’an ada yang
dihubungkan dengan metode pemebelajaran di antaranya, tentang metode ceramah
(QS. Yunus: 23), metode tanya jawab (HR. Muslim/I: 462-463), metode diskusi
(QS. Ash-Shaffat: 20-23), metode pemberian tugas (QS. Al-Muddatsir: 1-5),
metode amtsal/ perumpamaan (QS. Al-Baqarah: 17), dan lain sebagainya.
Semua ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran dalam
pendidikan Islam berperan penting sebagai suatu upaya dan cata dalam proses
pendidikan umat Islam. Dari uraian tersebut, maka penulis akan menjabarkan apa
dan bagaimana metode pembelajaran dalam pendidikan Islam dan hal-hal yang
terkait dengan itu, sehingga menambah pemahaman dan wawasan keilmuan dalam
bidang pendidikan bagi manusia yang bergelut dalam dunia pendidikan Islam.
B. Pengertian Metode dalam Pendidikan
Metode menurut Djamaluddin dan Abdullah Aly dalam Kapita
Selekta Pendidikan Islam, (1999:114) berasal dari kata meta berarti
melalui, dan hodos jalan. Jadi metode adalah jalan yang harus dilalui
untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan menurut Depag RI dalam buku Metodologi
Pendidikan Agama Islam (2001:19) Metode berarti cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang
ditentukan. Menurut WJS. Poerwadarminta dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (1999:767) Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir
baik-baik untuk mencapai suatu maksud.Berdasarkan definisi di atas, penulis
dapat mengambil kesimpulan bahwa metode merupakan jalan atau cara yang ditempuh
seseorang untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Metode
mengajar banyak macam-macam dan jenisnya, setiap jenis metode mengajar
mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, tidak menggunakan satu macam
metode saja, mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang sampai saat ini
masih banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Menurut Nana
Sudjana(dalam buku Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, 1989:78 – 86),
terdapat bermacam-macam metode dalam mengajar, yaitu Metode ceramah, Metode
Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode
Demonstrasi dan Eksperimen, Metode sosiodrama (role-playing), Metode problem
solving, Metode sistem regu (team teaching), Metode latihan (drill),
Metode karyawisata (Field-trip), Metode survai masyarakat, dan Metode
simulasi.
C. Macam-macam Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan Islam
Sebagai umat yang telah dianugerahi Allah dengan kitab
Al-Quran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan
bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam
yang prinsip dasarnya dari Al- Qur’an dan dan sesuai dengan Al-Hadits. Di
antara metode-metode tersebut (Ramayulis. 2008: 194) adalah sebagai berikut:
1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian informasi melalui
penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode
ini terdapat di dalam Al- Qur’an dalam QS. Ali –Imran, 110, yaitu sebagai
berikut:
öNçGZä. uöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ cöqyg÷Ys?ur Ç`tã Ìx6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur ÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #Zöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB cqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
110. kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
4. Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang
guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang
telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini
terdapat dalam hadits, Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad
tentang iman, islam, dan ihsan. Selain itu ada juga hadits yang
lainnya seperti hadits berikut ini:
Hadits
Qutaibah ibn Sa’id, hadits Lâis kata Qutaibah hadits Bakr yaitu ibn Mudhar dari
ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu
Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya
ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima
kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya?
Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda;
Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa (Muslim, I: 462-463).
5. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian
bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/
membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat,
membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas
sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi (Ramayulis, 2009: 194) menyebut metode
ini dengan sebutan hiwar (dialog). Prinsip dasar metode ini terdapat
dalam QS. Ash-Shaffat ayat 20-23 yang berbunyi:
(#qä9$s%ur $uZn=÷uq»t #x»yd ãPöqt ÈûïÏd9$# ÇËÉÈ #x»yd ãPöqt È@óÁxÿø9$# Ï%©!$# OçGYä. ¾ÏmÎ/ cqç/Éjs3è? ÇËÊÈ (#rçà³ôm$# tûïÏ%©!$# (#qçHs>sß öNßgy_ºurør&ur $tBur (#qçR%x. tbrßç7÷èt ÇËËÈ `ÏB Èbrß «!$# öNèdrß÷d$$sù 4n<Î) ÅÞºuÅÀ ËLìÅspgø:$# ÇËÌÈ
Dan
mereka berkata:"Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan.
Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya. (kepada Malaikat
diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat
mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, Selain Allah;
Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.
Selain
itu terdapat juga dalam hadits yang berbunyi:
Hadits Qutaibah ibn Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya hadits
Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’ dari ayahnya dari Abu Hurairah ra.
bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang yang muflis
(bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta.Rasul
bersabda; Sesungguhnya orang yang muflis dari ummatku adalah orang
yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan
zakat,. Dia datang tapi telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta orang
ini, menumpahkan darah (membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu
diberi pahala miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus
kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian
ia dicampakkan ke neraka (Muslim,
t.t, IV: 1997).
6. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana
seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan
hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
Prinsip dasar metode ini terdapat dalam QS. Al-Muddatsir ayat 1-7 yang
berbunyi:
$pkr'¯»t ãÏoO£ßJø9$# ÇÊÈ óOè% öÉRr'sù ÇËÈ y7/uur ÷Éi9s3sù ÇÌÈ y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ tô_9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ wur `ãYôJs? çÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ Îh/tÏ9ur ÷É9ô¹$$sù ÇÐÈ
Hai
orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan
Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa
tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan)
yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila
ditiup sangkakala,
7. Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru
mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid
memperhatikannya. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang berbunyi:
Hadits dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadits dari Abdul
Wahhâb katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah katanya hadits dari Mâlik. Kami mendatangi
Rasulullah saw. dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama
(dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang
dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu
pada keluarga, beliau menanyakantentang orang-orang yang kami tinggalkan dan
kami memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan
tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau
menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah
sebagaimana kalian melihat aku salat (Al-Bukhari, I: 226).
8. Metode Eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan
suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati
oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid
sambil memberikan arahan. Prinsip dasar metode ini ada dalam hadits yaitu:
Hadits Adam, katanya hadits Syu’bah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ
dari ayahnya, katanya seorang laki-laki datang kepada Umar ibn Khattâb, maka
katanya saya sedang janabat dan tidak menemukan air, kata Ammar ibn Yasir
kepada Umar ibn Khattâb, tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah
perjalanan, ketika itu anda belum salat, sedangkan saya berguling-guling di
tanah, kemudian saya salat. Saya menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian
Rasulullah saw. bersabda: ”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan
kedua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya
pada wajah (Al-Bukhari,
I: 129)
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut.
Menurut al-Asqalani, hadits ini mengajarkan sahabat tentang tata cara tayammum
dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah saw. melakukan upaya
pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka tidak menemukan air
untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw. memperbaiki ekperimen mereka
dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu.
9. Metode Amtsal/ Perumpamaan
Metode Amtsal yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan
materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan. Prinsip metode ini
terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 17, yaitu:
öNßgè=sVtB È@sVyJx. Ï%©!$# ys%öqtGó$# #Y$tR !$£Jn=sù ôNuä!$|Êr& $tB ¼ã&s!öqym |=yds ª!$# öNÏdÍqãZÎ/ öNßgx.ts?ur Îû ;M»yJè=àß w tbrçÅÇö6ã ÇÊÐÈ
Perumpamaan
mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan
mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Selain
itu terdapat pula dalam hadits yang berbunyi:
Hadits dari Muhammad ibn Mutsanna dan lafaz darinya, hadits
dari Abdul Wahhâb yakni As-Śaqafi, hadits Abdullah dari Nâfi’ dari ibn Umar,
Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang munafik dalam keraguan mereka adalah
seperti kambing yang kebingungan di tengah kambing-kambing yang lain. Ia bolak
balik ke sana ke sini.
(Muslim, IV: 2146)
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong tşiqah dan tşiqah tsubut,
tsiqah hâfiz, sedangkan Ibn Umar adalah sahabat Rasulullah Saw. Menurut
Ath-Thîby (1417H, XI: 2634), orang-orang munafik, karena mengikut hawa nafsu
untuk memenuhi syahwatnya, diumpamakan seperti kambing jantan yang berada di
antara dua kambing betina. Tidak tetap pada satu betina, tetapi berbolak balik
pada ke duanya. Hal tersebut diumpamakan seperti orang munafik yang tidak
konsisten dengan satu komitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul Saw. sebagai satu metode
pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi
pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak
dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah Saw.
sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga
benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau
menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat
jelas.
10. Metode Targhib dan Tarhib
Metode Targhib dan Tarhib yaitu cara mengajar
dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap
kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan
dan menjauhi keburukan. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut ini:
Hadits Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku
Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu
Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat
syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka,
wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadits ini seorangpun
yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadits. Orang yang
paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan
”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya (Al-Bukhari, t.t, I:
49)
Selain
hadits juga hadits berikut ini :
Hadits Ahmad ibn Shalih, hadits Abdullah ibn Wahhab, Umar
memberitakan padaku dari Bakr ibn Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari
Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw.
bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia
meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat
Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian”… (Sijistani, t.t, I: 183).
Hadits di atas tergolong syarîf marfū’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong tsiqah hâfiz, tsiqah dan tsiqah
azaly. Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi
imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran imam
yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw.
memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam
beribadah dan dalam lingkungan social.
Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan
yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai
keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut,
dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk
menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik
hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul
sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.
11. Metode Pengulangan (Tikror)
Metode pengulangan (tikror) yaitu cara mengajar
dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi
tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang
disampaikan. Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits berikut:
Hadits Musaddad ibn Musarhad hadits Yahya dari Bahzâ ibn
Hâkim, katanya hadits dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw
bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dan berdusta agar orang-orang
tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. (As-Sijistani, t.t, II: 716).
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong tsiqah dan tsiqah hafiz,
tsiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali perkataan ”celakalah”,
ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan benar,
sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak tergolong pada orang yang
merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah
pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana
seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan
motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu
ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk
membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya
bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga
dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah
laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual
mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah Saw. ketika
menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
D.
Penutup
Dari uraian pembahasan di atas, maka penulis akan menjawab
permasalahan yang sesuai dengan permasalahan yang termuat dalam pendahuluan
makalah ini, yaitu apa dan bagaimana metode pembelajaran dalam pendidikan Islam
dan hal-hal yang terkait dengan itu? Sesuai dengan semangat UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan semangat dalam menerapkan
nilai-nilai Islam terhadap pendidikan yang diselenggarakan, maka dibutuhkan
seperangkat metode pemebelajaran yang terencana, dalam usaha pendidikan guna
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan. Maka dibutuhkan seperangkat
metode pemebelajaran dalam pendidikan, terlebih lagi sesuai dengan nilai-nilai
ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Walaupun sumber hukum Islam tersebut tidak dikemukakan secara
eksplisit tentang metode pembelajaran, akan tetapi sebagian ayat Al-Qur’an dan
Al-Hadits menyinggung dan memberikan perhatian terhadap metode pemebelajaran,
dengan adanya sebagian ayat Al-Qur’an ada yang dihubungkan dengan metode
pemebelajaran. Dengan demikian, penulis membuat rumusan kesimpulan dengan
poin-poin sebagai berikut:
Beberapa
hal yang harus ada dalam metode, yaitu: Pertama, Adanya tujuan yang
hendak dicapai; Kedua, Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan; Ketiga,
Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung; Keempat, Adanya
perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
Dalam menggunakan metode, seorang pendidik harus
memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan
merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan
yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode
pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar
agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
Metode mengajar dalam pendidikan Islam harus sesuai dengan
prinsip dasarnya, yaitu Al- Qur’an dan Al-Hadits. Di antara metode-metode
tersebut adalah: (a) Metode Ceramah/ cara penyampaian informasi melalui
penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik; (b) Metode Tanya
jawab/ suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan
kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang
telah mereka baca; (c) Metode Diskusi/ adalah suatu cara penyajian/ penyampaian
bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/
membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat,
membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas
sesuatu masalah; (d) Metode Pemberian Tugas/ suatu cara mengajar dimana seorang
guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil
tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya; (e)
Metode Demontrasi/ suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang
proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya; (f)
Metode Eksperimen/ Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu
percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid,
sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan
arahan; (g) Metode Amtsal/ Perumpamaan/ cara mengajar dimana guru menyampaikan
materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan; (h) Metode Targhib
dan Tarhib/ cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran
dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan
agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan; (i) Metode
Pengulangan (Tikror)/ cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar
dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa
mengingat lebih lama materi yang disampaikan.
Daftar Pustaka
Ramayulis
dan Samsu Nizar. (2009). Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan
dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta : Kalam Mulia.
Shalih
Abd. Al Aziz. (119 H). At-Tarbiyah Wa Thuriq Al Tadris. Kairo:
Maarif. dalam
Ramayulis.
(2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
John
M Echol dan Hasan Shadily. (1995). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Surakhmad.
(1998). Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito.
Abu
Ahmadi. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Bandung Pustaka Setia.
Omar
Mohammad. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar