HADITS
TENTANG METODE PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A.
Pendahuluan
Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan
ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor
dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik
dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi
pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam pendidikan Islam,
perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh
terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah),
walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai
tujuan dengan semua keadaan. Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak
didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat
tercapai dengan baik.
Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu
informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode
kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan
metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai
faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. (Anwar, 2003: 42)
Rasulullah Muhammad saw. sejak awal sudah mencontohkan dalam
mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya.
Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan
ajaran Islam. Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter
seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah
saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau
mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau
senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah swt. dan syari’at-Nya. Makalah
ini akan menyajikan hadis-hadis Nabi saw. tentang metode pendidikan dalam
lingkup makro dan mikro, yang dilaksanakan Rasulullah.
Hadis-hadis yang berimplikasikan pada metode pendidikan
dalam lingkup makro, meliputi; metode keteladanan, metode lemah lembut/kasih
sayang, metode deduktif, metode perumpamaan, metode kiasan, metode memberi
kemudahan, metode perbandingan. Metode pendidikan dalam lingkup mikro terdiri
dari; metode tanya jawab, metode pengulangan, metode demonstrasi, metode
eksperimen, metode pemecahan masalah, metode diskusi, metode pujian/memberi
kegembiraan, metode pemberian hukuman.
B.
Metode Pendidikan
1.
Pengertian Metode Pendidikan.
Satu dari berbagai komponen penting untuk mencapai tujuan
pendidikan adalah ketepatan menentukan metode. Sebab dengan metode yang tepat,
materi pendidikan dapat diterima dengan baik. Metode diibaratkan sebagai alat
yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan. Tanpa metode, suatu
materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam
kegiatan pembelajaran menuju tujuan pendidikan. Secara etimologi kata metode
berasal dari bahasa Yunani yaitu meta yang berarti ”yang dilalui” dan hodos
yang berarti ”jalan”, yakni jalan yang harus dilalui. Jadi secara harfiah
metode adalah cara yang tepat untuk melakukan sesuatu.(Poerwakatja, 1982: 56).
Sedangkan dalam bahasa Inggris, disebut dengan method yang
mengandung makna metode dalam bahasa Indonesia.(Wojowasito, 1980:113). Dalam
bahasa Arab, metode disebut dengan tharīqah yang berarti jalan atau
cara.(Louwis, t.t.: 465). Demikian pula menurut Yunus, tharīqah adalah
perjalanan hidup, hal, mazhab dan metode.(Munawwir, 1997: 849). Secara
terminologi, para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, di
antaranya pengertian yang dikemukakan Surakhmad (1998: 96), bahwa metode adalah
cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut
Yusuf (1995: 2), metodologi adalah ilmu yang mengkaji atau membahas tentang
bermacam-macam metode mengajar, keunggulannya, kelemahannya, kesesuaian dengan
bahan pelajaran dan bagaimana penggunaannya. Poerwakatja (1982: 386),
mengemukakan; metode pembelajaran berarti jalan ke arah suatu tujuan yang
mengatur secara praktis bahan pelajaran, cara mengajarkannya dan cara
mengelolanya.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai
pengertian metode pendidikan, beberapa hal yang mesti ada dalam metode yaitu:
a.
Melaksanakan aktivitas pembelajaran dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab;
b.
Aktivitas tersebut memiliki cara yang baik dan tujuan tertentu;
c. Tujuan
harus dicapai secara efektif.
Ada istilah lain dalam pendidikan yang mengandung makna
berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan strategi / teknik, sebagai
berikut:
a. Pendekatan (al-madkhal/approach).
Pendekatan yaitu sekumpulan
pemahaman mengenai bahan pelajaran yang mengandung prinsip-prinsip filosofis.
Jadi pendekatan merupakan kebenaran umum yang bersifat mutlak. Misalkan asumsi
yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa, bahwa aspek menyimak dan percakapan
harus diajarkan terlebih dahulu sebelum aspek membaca dan menulis atau
sebaliknya, sehingga dari asumsi tersebut pendidik dapat menentukan metode yang
tepat.(Sumardi, t.t: 91-94).
b. Strategi / Teknik
Strategi / Teknik penyajian bahan
pelajaran adalah penyajian yang dikuasai pendidik dalam mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas, agar bahan
pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik. Teknik adalah pelaksanaan
pengajaran di dalam kelas, yaitu penggunaan metode yang didasarkan atas
pendekatan terhadap materi pelajaran. Jadi teknik harus sejalan dengan metode
dan pendekatan. Misalkan dalam mengatasi masalah peserta didik yang tidak dapat
menyebutkan bunyi suatu huruf dengan tepat, pendidik memintakan peserta didik
untuk menirukan ucapannya.
c. Metode.
Metode adalah rencana menyeluruh
yang berkenaan dengan penyajian bahan/materi pelajaran secara sistematis dan
metodologis serta didasarkan atas suatu pendekatan, sehingga perbedaan
pendekatan mengakibatkan perbedaan penggunaan metode. Jika metode tersebut
dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan
pembinaan pengetahuan, sikap dan tingkah laku sehingga terlihat dalam pribadi
subjek dan obyek pendidikan, yaitu pribadi Islami. Selain itu, metode dapat
membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali dan mengembangkan ajaran
Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.(Nata, 2001:
91).
Metode, merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai
tujuan pendidikan. Alat ini mempunyai dua fungsi ganda, yaitu polipragmatis dan
monopragmatis. Polipragmatis, bilamana metode mengandung kegunaan yang serba
ganda, misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu dapat
digunakan membangun dan memperbaiki. Kegunaannya dapat tergantung pada si
pemakai atau pada corak, bentuk dan kemampuan dari metode sebagai alat.
Sebaliknya monopragmatis, bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk
satu macam tujuan. Penggunaannya mengandung implikasi bersifat konsisten,
sistematis dan kebermaknaan menurut kondisi sasarannya. Mengingat sasaran
metode adalah manusia, maka pendidik dituntut untuk berhati-hati dalam
penerapannya.
Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi
penghalang kelancaran jalannya proses pembelajaran, sehingga banyak tenaga dan
waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang diterapkan oleh seorang
guru baru berdaya guna dan berhasil guna, jika mampu dipergunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Dalam pendidikan Islam, metode yang
tepat guna adalah metode yang mengandung nilai nilai instrinsik dan ekstrinsik,
sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk
merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam.
(Arifin, 1996: 197). Nahlawi (1996: 204), mengatakan metode pendidikan Islam
adalah metode dialog, metode kisah Qur’ani dan Nabawi, metode perumpamaan
Qur’ani dan Nabawi, metode keteladanan, metode aplikasi dan pengamalan, metode
ibrah dan nasihat serta metode tarģîb dan tarhîb. Berdasarkan rumusan-rumusan
di atas, dapat dipahami bahwa metode pendidikan Islam adalah berbagai cara yang
digunakan oleh pendidik muslim, sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan
tingkah laku, sehingga nilai-nilai Islami dapat terlihat dalam pribadi peserta
didik (subjek dan obyek pendidikan).
2.
Hadis-hadis Tentang Metode Pendidikan dalam Lingkup Makro
a.
Metode Keteladanan.
Hadis dari Abdullah ibn Yusuf, katanya Malik memberitakan
pada kami dari Amir ibn Abdullah ibn Zabair dari ‘Amar ibn Sulmi az-Zarâqi dari
Abi Qatadah al-Anshâri, bahwa Rasulullah saw. salat sambil membawa Umâmah binti
Zainab binti Rasulullah saw. dari (pernikahannya) dengan Abu al-Ash ibn Rabi’ah
ibn Abdu Syams. Bila sujud, beliau menaruhnya dan bila berdiri beliau
menggendongnya. (al-Bukhari, 1987, I: 193) Hadis di atas tergolong syarîf
marfû’ dengan kualitas perawi yang sebagian terdiri dari şiqah mutqinũn, ra’su
mutqinũn, şiqah dan perawi bernama Qatadah adalah sahabat Rasulullah saw. (CD
Room, Kutub at-Tis’ah).
Menurut al-Asqalâni, ketika itu orang-orang Arab sangat
membenci anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukan pada mereka tentang
kemuliaan kedudukan anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukannya dengan
tindakan, yaitu dengan menggendong Umamah (cucu Rasulullah saw.) di pundaknya
ketika salat. Makna yang dapat dipahami bahwa perilaku tersebut dilakukan
Rasulullah saw. untuk menentang kebiasaan orang Arab yang membenci anak
perempuan. Rasulullah saw. menyelisihi kebiasaan mereka, bahkan dalam salat
sekalipun. (Al-Asqalani, 1379H: 591-592).
al-Hamd, mengatakan bahwa pendidik itu besar di mata anak
didiknya, apa yang dilihat dari gurunya akan ditirunya, karena anak didik akan
meniru dan meneladani apa yang dilihat dari gurunya, maka wajiblah guru
memberikan teladan yang baik. (al-Hamd, 2002: 27).
Memperhatikan kutipan di atas dapat dipahami bahwa
keteladanan mempunyai arti penting dalam mendidik, keteladanan menjadi titik
sentral dalam mendidik, kalau pendidiknya baik, ada kemungkinan anak didiknya
juga baik, karena murid meniru gurunya. Sebaliknya jika guru berperangai buruk,
ada kemungkinan anak didiknya juga berperangai buruk. Rasulullah saw.
merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui
tindakannya dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata.
Bagaimana memuja Allah swt., bagaimana bersikap sederhana, bagaimana duduk
dalam salat dan do’a, bagaimana makan, bagaimana tertawa, dan lain sebagainya,
menjadi acuan bagi para sahabat, sekaligus merupakan materi pendidikan yang
tidak langsung.
Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah satu metode
pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw. dalam kehidupannya, merupakan cerminan kandungan Alquran secara
utuh, sebagaimana firman Allah swt. berikut:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Al-Baidhawi (Juz 5: 9), memberi makna uswatun hasanah pada
ayat di atas adalah perbuatan baik yang dapat dicontoh. Dengan demikian,
keteladanan menjadi penting dalam pendidikan, keteladanan akan menjadi metode
yang ampuh dalam membina perkembangan anak didik. Keteladanan sempurna, adalah
keteladanan Rasulullah saw., yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai
teladan utama, sehingga diharapkan anak didik mempunyai figur pendidik yang
dapat dijadikan panutan. Dengan demikian, keteladanan menjadi penting dalam
pendidikan, keteladanan akan menjadi metode yang ampuh dalam membina
perkembangan anak didik. Keteladanan sempurna, adalah keteladanan Rasulullah
saw., yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, sehingga
diharapkan anak didik mempunyai figur pendidik yang dapat dijadikan panutan.
b.
Metode lemah lembut/kasih sayang.
Hadis dari Abu Ja’far Muhammad ibn Shabah dan Abu Bakr ibn
Abi Syaibah, hadis Ismail ibn Ibrahim dari Hajjâj as-Shawwâf dari Yahya ibn Abi
Kaşir dari Hilâl ibn Abi Maimũnah dari ‘Atha’ ibn Yasâr dari Mu’awiyah ibn
Hakam as-Silmiy, Katanya: Ketika saya salat bersama Rasulullah saw., seorang
dari jama’ah bersin maka aku katakan yarhamukallâh. Orang-orang mencela saya
dengan pandangan mereka, saya berkata: Celaka, kenapa kalian memandangiku?
Mereka memukul paha dengan tangan mereka, ketika saya memandang mereka, mereka
menyuruh saya diam dan saya diam. Setelah Rasul saw. selesai salat (aku
bersumpah) demi Ayah dan Ibuku (sebagai tebusannya), saya tidak pernah melihat
guru sebelumnya dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau.
Demi Allah beliau tidak membentak, memukul dan mencela saya. Rasulullah saw.
(hanya) bersabda: Sesungguhnya salat ini tidak boleh di dalamnya sesuatu dari
pembicaraan manusia. Ia hanya tasbîh, takbîr dan membaca Alquran. (Muslim, t.t,
I: 381). Hadis di atas tergolong syarîf marfũ’ dengan kualitas perawi yang
sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut. An-Nawâwi, dalam syarahnya mengatakan
hadis ini menunjukkan keagungan perangai Rasulullah saw., dengan memiliki sikap
lemah lembut dan mengasihi orang yang bodoh (belum mengetahui tata cara salat).
Ini juga perintah agar pendidik berperilaku sebagaimana Rasulullah saw. dalam
mendidik.(an-Nawawi, 1401H, V: 20-21).
Pentingnya metode lemah lembut dalam pendidikan, karena
materi pelajaran yang disampaikan pendidik dapat membentuk kepribadian peserta
didik. Dengan sikap lemah lembut yang ditampilkan pendidik, peserta didik akan
terdorong untuk akrab dengan pendidik dalam upaya pembentukan kepribadian.
c.
Metode deduktif.
Hadis Muhammad ibn Basysyar ibn Dar, katanya hadis Yahya
dari Abdullah katanya hadis dari Khubâib ibn Abdurrahman dari Hafs ibn ‘Aśim
dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw.bersabda: Tujuh orang yang akan dinaungi
oleh Allah di naungan-Nya yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah;
pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam keadaan taat kepada Allah; seorang
yang hatinya terikat dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena
Allah (mereka bertemu dan berpisah karena Allah), seorang yang diajak oleh
wanita terpandang dan cantik namun ia berkata ’saya takut kepada Allah’,
seorang yang menyembunyikan sadekahnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui
apa yang diberikan oleh tangan kanannya dan orang yang mengingat Allah dalam
kesendirian hingga air matanya mengalir. (al-Bukhari, t.t, I: 234).
Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi
yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah mutqin, sedangkan Abu Hurairah adalah
sahabat Rasulullah saw. Menurut Abi Jamrah, metode deduktif (memberitahukan
secara global) suatu materi pelajaran, akan memunculkan keingintahuan pelajar
tentang isi materi pelajaran, sehingga lebih mengena di hati dan memberi
manfaat yang lebih besar. (an-Andalusi, 1979, I: 97).
d.
Metode perumpamaan
Hadis dari Muhammad ibn Mutsanna dan lafaz darinya, hadis
dari Abdul Wahhâb yakni as- Śaqafi, hadis Abdullah dari Nâfi’ dari ibn Umar,
Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang munafik dalam keraguan mereka adalah
seperti kambing yang kebingungan di tengah kambing-kambing yang lain. Ia bolak
balik ke sana ke sini. (Muslim, IV: 2146) Hadis di atas tergolong syarîf marfu’
dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut, şiqah
hâfiz, sedangkan ibn Umar adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut ath-Thîby
(1417H, XI: 2634), orang-orang munafik, karena mengikut hawa nafsu untuk
memenuhi syahwatnya, diumpamakan seperti kambing jantan yang berada di antara
dua kambing betina. Tidak tetap pada satu betina, tetapi berbolak balik pada ke
duanya. Hal tersebut diumpamakan seperti orang munafik yang tidak konsisten
dengan satu komitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw. sebagai satu metode
pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi
pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak
dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw.
sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar
dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu
yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
e.
Metode kiasan.
Hadis Yahya, katanya hadis ‘Uyainah dari Mansyur ibn
Shafiyyah dari Ibunya dari Aisyah, seorang wanita bertanya pada Nabi saw.
tentang bersuci dari haid. Aisyah menyebutkan bahwa Rasul saw. mengajarkannya
bagaimana cara mandi. Kemudian kamu mengambil secarik kain dan memberinya
minyak wangi dan bersuci dengannya. Ia bertanya, bagaimana aku bersuci
dengannya? Sabda Rasul saw. Kamu bersuci dengannya. Subhânallah, beliau menutup
wajahnya. Aisyah mengatakan telusurilah bekas darah (haid) dengan kain itu.
(al-Bukhari, I: 119) Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas
perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hâfiz, sedangkan Aisyah adalah
istri Rasulullah saw. Ibn Hajar, memberi komentar terhadap hadis ini dengan
mengatakan ini adalah dalil tentang disunnahkannya menggunkan kiasan/sindiran
pada hal-hal yang berkenaan dengan aurat dan bimbingan untuk masalah-masalah
yang dianggap aib. (al-Asqalani, I: 415-416).
Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, mengatakan cara mempergunakan
kiasan dalam pembelajaran, yaitu: 1) Rayuan dalam nasehat, seperti memuji
kebaikan anak didik, dengan tujuan agar lebih meningkatkan kualitas akhlaknya,
dengan mengabaikan membicarakan keburukannya. 2) Menyebutkan tokoh-tokoh agung
umat Islam masa lalu, sehingga membangkitkan semangat mereka untuk mengikuti
jejak mereka. 3) Membangkitkan semangat dan kehormatan anak didik. 4) Sengaja
menyampaikan nasehat di tengah anak didik. 5) Menyampaikan nasehat secara tidak
langsung/ melalui kiasan. 6) Memuji di hadapan orang yang berbuat kesalahan,
orang yang mengatakan sesuatu yang berbeda dengan perbuatannya. Merupakan cara
mendorong seseorang untuk berbuat kebajikan dan meninggalkan keburukan.
f.
Metode memberi kemudahan
Hadis Muhammad ibn Basysyar katanya hadis Yahya ibn Sâ’id
katanya hadis Syu’bah katanya hadis Abu Tayyâh dari Anas ibn Malik dari Nabi
saw. Rasulullah saw. bersabda: Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Rasulullah
saw. suka memberikan keringanan kepada manusia.(al-Bukhari, I: 38) Hadis di
atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong
şiqah dan şiqah hâfiz, Anas adalah sahabat Rasul saw. Ibnu Hajar al-Asqalâni
mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan pentingnya memberikan kemudahan
bagi pelajar yang memiliki kesungguhan dalam belajar, (al-Asqalani, I: 62)
dalam arti mengajarkan ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan kemampuan si
pelajar. Sebagai pendidik, Rasulullah saw. tidak pernah mempersulit, dengan harapan
para sahabat memiliki motivasi yang kuat untuk tetap meningkatkan aktivitas
belajar .
g.
Metode perbandingan.
Hadis Abu Bakr ibn Abi Syaibah, hadis Abdullah ibn Idris,
Hadis ibn Numair, hadis Abi Muhammad ibn Bisyr, hadis Yahya ibn Yahya, khabar
dari Musa ibn A’yân, hadis Muhammad ibn Rafi’, hadis Abu Usamah dari Ismail ibn
Abi Khalid, hadis Muhammad ibn Hatim dan lafaz darinya, hadis Yahya ibn Sa’id,
hadis Ismâil, hadis Qâis katanya aku mendengar Mustaurid saudara dari bani
Fihrin katanya, Rasul saw. bersabda: Demi Allah tidaklah dunia dibandingkan
dengan akhirat kecuali seperti seorang yang menaruh jarinya ini, beliau
menunjuk kepada telunjuknya di laut, kemudian perhatikan apa yang tersisa di
telunjuknya. (Muslim, IV: 3193) Hadis di atas tergolong syarif marfu’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut dan
śaduq. Imam an-Nawâwi memberi komentar pada hadis ini, dengan ungkapan” akhirat
dibandingkan dengan dunia, dalam hal waktunya dunia itu singkat dan
kenikmatannya yang sirna, sedangkan akhirat serba abadi, sebagaimana
perbandingan antara air yang lengket pada jari dibanding dengan sisanya di
lautan. (an-Nawawi, XVII: 192-193) Makna hadis di atas yaitu pentingnya metode
perbandingan dalam pendidikan, sehingga potensi jasmaniah dan rohaniah si
pembelajar dapat memahami hal-hal yang memiliki perbedaan antara suatu
permasalahan dengan lainnya.
3.
Hadis-hadis Tentang Metode Pendidikan dalam Lingkup Mikro
a.
Metode tanya
Hadis Qutaibah ibn Sa’id, hadis Lâis kata Qutaibah hadis
Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah
ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana
pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara
kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah
masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya
sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya
Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I: 462-463) Hadis di atas tergolong syarîf
marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut,
sedangkan Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah saw. Metode bertanya ini untuk
mengajak si pendengar agar fokus dengan pembahasan. Misalnya kata; ”bagaimana
pendapat kalian?” adalah pertanyaan yang diajukan untuk meminta informasi.
Maksudnya beritahukan padaku, apakah masih tersisa?. Menurut at-Thiiby,
sebagaimana dikutip al-Asqalâni, menjelaskan lafaz ”لو” dalam hadis tersebut
memberi makna perumpamaan. (al-Asqalani, I: 462). Metode tanya jawab, apakah
pembicaraan antara dua orang atau lebih, dalam pembicaraan tersebut mempunyai
tujuan dan topik tertentu. Metode dialog berusaha menghubungkan pemikiran
seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan
pendengarnya.(an-Nahlawi, 1996: 205). Uraian tersebut memberi makna bahwa
dialog dilakukan oleh seseorang dengan orang lain, baik mendengar langsung atau
melalui bacaan. Nahlawi, mengatakan pembaca dialog akan mendapat keuntungan
berdasarkan karakteristik dialog, yaitu topik dialog disajikan dengan pola
dinamis sehingga materi tidak membosankan, pembaca tertuntun untuk mengikuti
dialog hingga selesai. Melalui dialog, perasaan dan emosi akan terbangkitkan,
topik pembicaraan disajikan bersifat realistik dan manusiawi. Dalam Alquran
banyak memberi informasi tentang dialog, di antara bentuk-bentuk dialog
tersebut adalah dialog khitâbi, ta’abbudi, deskritif, naratif, argumentatif
serta dialog nabawiyah. Metode tanya jawab, sering dilakukan oleh Rasul saw.
dalam mendidik akhlak para sahabat. Dialog akan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak mereka pahami. Pada
dasarnya metode tanya jawab adalah tindak lanjut dari penyajian ceramah yang
disampaikan pendidik. Dalam hal penggunaan metode ini, Rasulullah saw.
menanyakan kepada para sahabat tentang penguasaan terhadap suatu masalah.
b.
Metode Pengulangan
Hadis Musaddad ibn Musarhad hadis Yahya dari Bahzâ ibn
Hâkim, katanya hadis dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda:
Celakalah bagi orang yang berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa.
Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. (As-Sijistani, t.t, II: 716). Hadis di
atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong
şiqah dan şiqah hafiz, şiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali
perkataan ”celakalah”, ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan
dengan baik dan benar, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak
tergolong pada orang yang merugi. Satu proses yang penting dalam pembelajaran
adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental
dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun
latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat
bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk
membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya
bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga
dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah
laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual
mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah saw. ketika
menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
c.
Metode demonstrasi
Hadis dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadis dari Abdul Wahhâb
katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah katanya hadis dari Mâlik. Kami mendatangi
Rasulullah saw. dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama
(dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang dan
memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada
keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami
memberitahukannya. Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan
tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau
menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah
sebagaimana kalian melihat aku salat. (al-Bukhari, I: 226) Hadis di atas
tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah
dan şiqah kaşir, şiqah şubut. Hadis ini sangat jelas menunjukkan tata cara
salat Rasulullah saw. kepada sahabat, sehingga para sahabat dipesankan oleh
Rasulullah saw. agar salat seperti yang dicontohkan olehnya. Menurut teori
belajar sosial, hal yang amat penting dalam pembelajaran ialah kemampuan
individu untuk mengambil intisari informasi dari tingkah laku orang lain,
memutuskan tingkah laku mana yang akan diambil untuk dilaksanakan.
Dalam pandangan paham belajar sosial, sebagaimana
dikemukakan Grendler (1991: 369), orang tidak dominan didorong oleh tenaga dari
dalam dan tidak oleh stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Tetapi
sebagai interaksi timbal balik yang terus-menerus yang terjadi antara
faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungannya. Metode demonstrasi dimaksudkan
sebagai suatu kegiatan memperlihatkan suatu gerakan atau proses kerja sesuatu.
Pekerjaannya dapat saja dilakukan oleh pendidik atau orang lain yang diminta
mempraktekkan sesuatu pekerjaan. Metode demonstrasi dilakukan bertujuan agar pesan
yang disampaikan dapat dikerjakan dengan baik dan benar. Metode demonstrasi
dapat dipergunakan dalam organisasi pelajaran yang bertujuan memudahkan
informasi dari model (model hidup, model simbolik, deskripsi verbal) kepada
anak didik sebagai pengamat. Sebagai contoh dipakai mata pelajaran Pikih kelas
II pada madrasah Tsanawiyah yang membahas pelaksanaan shalat Zuhur. Kompetensi
Dasar (KD) dari pokok bahasan tersebut adalah: “Siswa dapat melaksanaan ibadah
shalat Zuhur setelah mengamati dan mempraktekkan berdasarkan model yang
ditentukan”.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, dibutuhkan beberapa
kemampuan yang harus dikuasai anak didik dalam indikator pencapaian, yaitu : 1)
Kemampuan gerakan (melakukan posisi berdiri tegak menghadap kiblat, mengangkat
tangan sejajar dengan telinga ketika takbiratul ihram, membungkuk dengan
memegang lutut ketika ruku’, melakukan i’tidal, melakukan sujud dengan kening
menempel di sajadah, melakukan duduk di antara dua sujud, melakukan duduk
tahyat akhir yang agak berbeda dengan duduk di antara dua sujud, melakukan
salam dengan menoleh ke kanan dan kiri. 2) Kemampuan membaca bacaan salat
(bacaan surat al-Fatihah, bacaan ayat Alquran, bacaan ruku’, bacaan berdiri
i’tidâl, bacaan sujud, bacaan duduk antara dua sujud, bacaan tahyat awal dan
akhir. 3) Menganalisis tingkah laku yang dimodelkan. Tingkah laku yang
dimodelkan sesuai dengan bahan pelajaran adalah ‘motorik” meliputi keterampilan
dalam gerakan salat dan kemampuan membaca bacaan shalat. 4) Menunjukkan model.
Gerakan dalam salat dilakukan berdasarkan urut-urutannya (prosedural) dan
bacaan dalam salat diucapkan dengan baik dan benar berdasarkan tata cara
membaca Alquran (ilmu tajwid). 5) Memberikan kesempatan pada siswa untuk
mempraktekkan dengan umpan balik yang dapat dilihat, tiap anak didik
mempraktekkan kembali gerakan shalat Zuhur yang ditunjukkan oleh model seiring
dengan aba-aba prosedur yang diberikan guru. Demikian pula dengan bacaan salat
dapat dipraktekkan anak didik. 6) Memberikan reinforcement dan motivasi. Guru memberikan
penguatan pada anak didik yang telah berhasil melakukan gerakan dengan baik dan
benar dan mengarahkan serta memperbaiki gerakan dan bacaan anak didik yang
belum sesuai.
d.
Metode eksperimen
Hadis Adam, katanya hadis Syu’bah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ
dari ayahnya, katanya seorang laki-laki datang kepada Umar ibn Khattâb, maka
katanya saya sedang janabat dan tidak menemukan air, kata Ammar ibn Yasir
kepada Umar ibn Khattâb, tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah
perjalanan, ketika itu anda belum salat, sedangkan saya berguling-guling di
tanah, kemudian saya salat. Saya menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian
Rasulullah saw. bersabda: ”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan
kedua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya
pada wajah.(al-Bukhari, I: 129) Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah şubut.
Menurut al-Asqalani, hadis ini mengajarkan sahabat tentang tata cara tayammum dengan
perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah saw. melakukan upaya
pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka tidak menemukan air
untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw. memperbaiki ekperimen mereka
dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu.
e.
Metode pemecahan masalah
Hadis Quthaibah ibn Sâ’id, hadis Ismâil ibn Ja’far dari
Abdullah ibn Dinar dari Umar, sabda Rasulullah saw. Sesungguhnya di antara
pepohonan itu ada sebuah pohon yang tidak akan gugur daunnya dan pohon dapat
diumpamakan sebagai seorang muslim, karena keseluruhan dari pohon itu dapat
dimanfaatkan oleh manusia. Cobalah kalian beritahukan kepadaku, pohon apakah
itu? Orang-orang mengatakan pohon Bawâdi. Abdullah berkata; Dalam hati saya ia
adalah pohon kurma, tapi saya malu (mengungkapkannya). Para sahabat berkata;
beritahukan kami wahai Rasulullah!. Sabda Rasul saw; itulah pohon
kurma.(al-Bukhari, I: 34). Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan
kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah şubut, dan şiqah, sedangkan ibn
Umar ra. adalah sahabat Rasulullah saw. Al-Asqalâni (I:147), menyebutkan dengan
metode perumpamaan tersebut dapat menambah pemahaman, menggambarkannya agar
melekat dalam ingatan serta mengasah pemikiran untuk memandang permasalahan
yang terjadi. (al-Asqalani, I: 147). Metode tanya jawab berusaha menghubungkan
pemikiran seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan
pendengarnya, melalui dialog, perasaan dan emosi pembaca akan terbangkitkan,
jika topik pembicaraan disajikan bersifat realistik dan manusiawi. (an-Nahlawi,
t.t.: 205) Uraian tersebut memberi makna bahwa dialog dilakukan oleh seseorang
dengan orang lain, baik mendengar langsung atau melalui bacaan.
f.
Metode diskusi
Hadis Qutaibah ibn Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya hadis
Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’ dari ayahnya dari Abu Hurairah ra.
bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang yang muflis
(bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta. Rasul bersabda;
Sesungguhnya orang yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari
kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat,. Dia datang tapi telah mencaci
ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah (membunuh) ini dan
memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala miliknya. Jika kebaikannya
telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil
dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka.(Muslim, t.t, IV:
1997) Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang
sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut, şiqah hâfiz, sedangkan Abu Hurairah
ra. adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut an-Nawâwi, Penjelasan hadis di atas
yaitu Rasulullah saw. memulai pembelajaran dengan bertanya dan jawaban sahabat
ternyata salah, maka Rasulullah saw. menjelaskan bahwa bangkrut dimaksud
bukanlah menurut bahasa. Tetapi bangkrut yang dimaksudkan adalah peristiwa di
akhirat tentang pertukaran amal kebaikan dengan kesalahan. (an-Nawawi, t.t,
XVI: 136).
g.
Metode pujian/memberi kegembiraan.
Hadis Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku
Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu
Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat
syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka,
wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadis ini seorangpun
yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadis. Orang yang
paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan
”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya.(al-Bukhari,
t.t, I: 49) Hadis di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang
sebagian tergolong şiqah dan şiqah şubut. sedangkan Abu Hurairah adalah sahabat
Rasul saw. Ibn Abi Jamrah mengatakan hadis ini menjadi dalil bahwa sunnah
hukumnya memberikan kegembiraan kepada anak didik sebelum pembelajaran dimulai.
Sebagaimana Rasulullah saw. mendahulukan sabdanya; ’saya telah menyangka’,
selain itu ‘karena saya telah melihat semangatmu untuk hadis’. Oleh sebab itu
perlu memberikan suasana kegembiraan dalam pembelajaran. (Andalusi, t.t
:133-134) Hadits Tentang Metode Pendidikan
h.
Metode pemberian hukuman.
Hadis Ahmad ibn Shalih, hadis Abdullah ibn Wahhab, Umar
memberitakan padaku dari Bakr ibn Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari
Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw.
bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia
meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat
Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian”…
(Sijistani, t.t, I: 183). Hadis di atas tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas
perawi yang sebagian tergolong şiqah hâfiz, şiqah dan şiqah azaly. memberikan
hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam. Seakan-akan
larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran imam yang meludah ke arah
kiblat ketika salat. (Abadi, t.t, II: 105-106). Dengan demikian Rasulullah saw.
memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam
beribadah dan dalam lingkungan sosial. Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti
penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin
dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan
tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir
dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam
menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari
memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas
dendam.
Alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan adalah; 1)
Memberi nasehat dan petunjuk. 2) Ekspresi cemberut. 3) Pembentakan. 4) Tidak
menghiraukan murid. 5) Pencelaan disesuaikan dengan tempat dan waktu yang
sesuai. 6) Jongkok. 7) Memberi pekerjaan rumah/tugas. 8) Menggantungkan cambuk
sebagai simbol pertakut. 9) Alternatif terakhir adalah pukulan ringan.
(al-Syalhub, Terj. Abu Haekal, 2005: 59-60).
Hal yang menjadi prinsip dalam memberikan sanksi adalah
tahapan dari yang paling ringan, sebab tujuannya adalah pengembangan potensi
baik yang ada dalam diri anak didik.
C.
Penutup
Metode pendidikan adalah cara yang dipergunakan pendidik
dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada peserta didik, sehingga dengan metode
yang tepat dan sesuai, bahan pelajaran dapat dikuasai dengan baik oleh peserta
didik. Beberapa metode pendidikan yang dikemukakan dalam makalah ini (masih
banyak yang belum), terdiri dari metode keteladanan, metode lemah lembut/kasih
sayang, metode deduktif, metode perumpamaan, metode kiasan, metode memberi
kemudahan, metode perbandingan, metode tanya jawab, metode pengulangan, metode
demonstrasi, metode eksperimen, metode pemecahan masalah, metode diskusi,
metode pujian/memberi kegembiraan, metode pemberian hukuman dapat dilaksanakan
pendidik dalam penanaman nilai-nilai pada ranah afektif dan pengembangan pola
pikir pada ranah kognitif serta latihan berperilaku terpuji pada ranah
psikomotorik. .
Daftar
Pustaka
Andalūsi,
Imâm Ibn Abi Jamrah. Bahjât an-Nufūs wa Tahallihâ Bima’rifati mâ Lahâ wa mâ
Alaihi (Syârah Mukhtasar Shahih al-Bukhâri) Jam’u an Nihâyah fi bad’i al-Khairi
wa an-Nihâyah. Beirut: Dârul Jiil, 1979.
Anwar,
Qomari. Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa. Jakarta: UHAMKA Press, 2003.
Arifin, M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996. Asqalâni, Ahmad
ibn Ali ibn Hajar Abu al-Fâdhil. Fâthul Bâri Syarah Shahih al-Bukhâri. Beirut:
Dâr al-Ma’rifah, 1379 H. Bukhâri, Abu Abdullah bin Muhammad Ismâil. Al-Jâmi’
al-Shahĩh al-Mukhtasar, Juz 1. Beirut: Dâr Ibnu Kaşir al-Yamâmah, 198.
Grendler,
Bell E. Margaret. Belajar dan Membelajarkan, terj. Munandir. Jakarta: Rajawali,
1991. Hamd, Ibrahim, Muhammad. Maal Muallimîn, terj. Ahmad Syaikhu. Jakarta:
Dârul Haq, 2002. Lathîb, Muhammad Syamsy al-Hâq al-’Azhîm ‘Abadi. ‘Aunu
al-Ma’būd Syarh Sunan Abi Dâud. Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyah, cet 1, 1401
H. Munawwir,
Warson
Ahmad. Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Nahlawi, Abdurrahman. Ushulut Tarbiyyah Islamiyyah Wa Asâlibiha fî Baiti wal
Madrasati wal Mujtama’ terj. Shihabuddin. Jakarta: Gema Insani Press:1996.
Naisabūri,
Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi. Shahih Muslim, Juz 1. Saudi
Arabia : Idâratul Buhūş Ilmiah wa Ifta’ wa ad-Dakwah wa al-Irsyâd, 1400 H.
Nata,
Abudin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Nawâwi,
Abu Zakaria Yahya ibn Syaraf ibn Maria. Syarah an-Nawāwi ‘ala Shahih Muslim.
Beirut: Dâr al-Fikri, 1401 H.
Poerwakatja,
Soegarda. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung, 1982.
Sijistâni,
Abu Dâud Sulaiman ibn al-Asy’aş. Sunan Abu Dâud. Beirut: Dâr al-Kutub
al-’Ilmiyah, cet 1, 1401
H.
Sumardi, Muljanto. Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama
Islam/IAIN. Jakarta:
Departemen
Agama RI, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama, t.t.
Surakhmad,Winarno.
Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito, 1998. Syalhub,
Fuad
bin Abdul Azizi. Al-Muallim al-Awwal shalallaahu alaihi Wa Sallam Qudwah
Likulli
Muallim
wa Muallimah, terj. Abu Haekal. Jakarta: Zikrul Hakim, 2005.
Thîby,
Syarafuddin. Syaharh ath-Thîby alâ Misykat al-Mashâbih, juz 11. Makkah:
Maktabah Nizar Musthafa al-Bâz, 1417 H.
Wojowasito,
S. W. Wasito Tito. Kamus Lengkap Inggeris-Indonesia, Indonesia-Inggeris.
Bandung: Hasta, 1980.
Yasū‘iy,
Ma‘lūf, Louwis. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A‘lam, Cetakan XXVI. Beirut: al-
Masyriq, t.t.
Yusuf,
Tayar Anwar, Syaiful. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar