PEMBELAJARAN KONTEKTUAL
( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING / CTL )
A.
PENDAHULUAN
Pembelajaran
Kontektual adalah
merupakan model
pembelajaran yang mendorong peserta didik dapat mengaitkan, memperluas dan
menerapkan pengetahuan serta keterampilan mereka dalam berbagai macam ruang lingkup kehidupan di sekolah dan di luar
sekolah, sehingga dapat
memecahkan masalah-masalah tersebut
dan masalah-masalah yang disimulasikan berdasarkan kenyataan dan pengalaman
yang dirasakan.
Dari proses pemikiran
dan kenyataan dewasa ini pendekatan model pembelajaran untuk kembali
pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang
dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and
Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep
itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa
mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi
daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang
bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata
guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual
Dengan
pembelajaran kontektual ini, hasil pembelajaran diharapkan akan lebih
menyenangkan dan bermakna oleh peserta didik, dan tugas guru mengelola kelas,
mendorong dan memfasilitasi peserta didik untuk menemukan sesuatu bagi anggota
kelas. Dalam pembelajaran peserta didik lebih banyak aktif dan lebih bebas
berkreasi mengemukan ide dan pendapat sehingga diperoleh pengetahuan dan
keterampilan dan
menemukan.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Belajar Konteksual
Belajar kontekstual (contextual teaching and learning)
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk
dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Paparan pengertian pembelajaran kontekstual diatas dapat
diperjelas sebagai berikut: pertama, pembelajaran kontekstual menekankan
kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar
beroeantasikan pada proses pengalaman secara langsung. Yang mana dalam pembelajaran
tersebut tidak hanya mengharapkan agar siswa menerima pelajaran akan tetapi
juga proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, pembelajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman
belajar disekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Hal ini memperkuat
dugaan bahwa materi yang telah dipelajari akan tetap tertanam erat dalam memori
siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Ketiga, pembelajaran kompetensi mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran kompetensi tidak hanya
mengharap siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana
materi pelajaran itu dapat mewarnai prilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pengertian kontekstual, terdapat lima
karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran kontekstual, yaitu:
a) Dalam CTL
pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya
apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
b) Pembelajaran
kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan
baru yang diperoleh dengan cara deduktif. Artinya pembelajaran dimulai dengan
cara memepelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
c) Pemahaman
pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk
dipahami dan diyakini. Misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain
tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tenggapan tersebut baru
pengetahuan itu dikembangkan.
d) Mempraktikan
pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang
diperolehnya harus diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak
perubahan prilaku siswa.
e) Melakukan
refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai
umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
2. Pemikiran
Tentang Teori Belajar.
Berbagai
pemikiran tentang belajar telah dikemukakan oleh para pemikir dan ahli
pembelajaran dari masa lalu sampai hari ini, kesemuanya mencari jalan bagai
mana pembelajaran itu lebih bermakna. Ada beberapa konsep pembelajaran yang
sudah sangat dikenal oleh pendidik dan pakar pendidikan seperti :
1.
Teori
Belajar Jerome Bruner.
Teori belajar J. Bruner dikenal
dengan teori belajar penemuan. Belajar penemuan merupakan usaha sendiri untuk
mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, sehingga
mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya. ( Psikologi
Pendidikan Wasty Soemanto : 123 ).
2.
Teori
Belajar Ausubel
Belajar menurut Ausubel adalah
belajar bermakna. Belajar bermakna adalah proses pengaitan informasi baru
dengan konsep-konsep relevan yang telah dimiliki peserta didik yang tersimpan
dalam memori mereka.
3.
Teori
Belajar Piaget.
Menurut Piaget
ada tiga bentuk pengetahuan pada seseorang, yaitu pengetahuan fisik,
logika-matematika, dan pengetahuan social. Pengetahuan social dapat ditransfer
dari pendidik ke peserta didik, sedangkan pengetahuan fisik dan
logika-matematik harus dibangun sendiri oleh peserta didik tersebut. (
Psikologi Pendidikan, Wasty Soemanto : 123 ).
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tiga konsep
pembelajaran di atas bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning ( CTL ),
bukanlah konsep baru melainkan merupakan Re-invention ( modifikasi )
dari berbagai teori belajar yang sudah ada. Teori belajar ini dapat diterapkan
berdasarkan penemuan yang bermakna baik dari transfer orang lain atau yang
dibangun oleh peserta didik sendiri.
Pendekatan
Contextual Teaching and Learning mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran
tentang belajar sebagai berikut :
1). Proses Belajar .
a)
Belajar
tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruk pengetahuannya
sendiri.
b)
Anak
belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, bukan diberi begitu saja oleh guru.
c)
Para
ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan
mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan.
d)
Pengetahuan
tidak dapat dipisah-pisah menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah,
tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
e)
Manusia
mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
f)
Peserta
didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
g)
Proses
belajar dapat merubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan
terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan
seseorang.
2). Transfer
Belajar.
a)
Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari
pemberian orang lain.
b)
Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dalam kontek
yang terbatas (sedikit demi sedikit).
c)
Penting bagi peserta didik tahu untuk apa dia belajar dan
bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
3). Peserta
Didik Sebagai Pebelajar.
a)
Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam
bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan
cepat hal-hal baru.
b)
Strategi
belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan
tetapi untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
c)
Peran
orang dewasa ( pendidik ) membantu menghubungkan yang baru dengan yang sudah
diketahui.
d)
Tugas
guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk menemukan dan menerapkan strategi mereka sendiri.
4). Pentingnya Lingkungan Belajar.
a) Belajar efektif itu dimulai dari
lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Pendidik memfasilitasi dan
mengarahkan peserta didik bekerja dan menemukan.
b) Pembelajaran diarahkan pada
bagaimana cara peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah ada untuk
menemukan pengetahuan baru. Stategi pembelajaran ini memberikan penilaian yang
sama tentang proses penemuan pengetahuan baru dangan hasil temuan itu sendiri.
c) Umpan balik amat penting bagi
peserta didik, dari proses penilaian yang benar dan menyeluruh.
d) Menumbuhkan
komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
3.
Hakekat
Pembelajaran Kontektual
Menurut Branford ( 1999 :127 ) pembelajaran kontektual
adalah: pembelajaran yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman yang
sesungguhnya. Pembelajaran kontektual menekankan berfikir pada tingkat yang
lebih tinggi, tranfer pengetahuan lintas disiplin, serta mengumpulkan, menganalisis,
dan pensistesissan informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang.
Pembelajaran kontektual adalah sebuah konsep pembelajaran
yang mengaitkan atau menselaraskan antara content ( materi ajar ) dengan
situasi dunia nyata peserta didik ( pengalaman awal, kehidupan sehari-hari,
harapan dan cita-cita ) dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dengan penerapan dalam hidup
keseharian.
Departemen Pendidikan Nasional menjelaskan konsep
pembelajaran seperti ini hanya dapat direalisasikan dengan melibatkan 7
komponen utama pembelajaran efektif yakni :
- Constructivism ( konstruktivisme ).
- Quetioning ( bertanya )
- Inquery ( menemukan ).
- Learning Community ( masyarakat belajar ).
- Modelling ( pemodelan ).
- Reflection ( refleksi ).
- Autentics Asessments ( penilaian sebenarnya ).
a. Constructivism
( konstruktivisme ).
Konstruktivisme
merupakan landasan berfikir ( filosofi ) pendekatan Contextual Teaching and
Learning. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sedikit demi sedikit, lalu
hasilnya diperluas melalui kontek yang terbatas. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta, konsep ataupun kaedah yang siap untuk diambil dan ditrasfer.
Peserta didik
harus mengkonstruk sendiri pengetahuannya dan dimaknai melalui pengalaman
nyata.
Pandangan Behavioristic dan objektivistic penekananya
lebih pada hasil belajar, sedangkan constructivistic memandang proses dan
strategi memperoleh pengetahuan dan keteampilan lebih diutamankan dari
banyaknya peserta didik mengingat dan memperoleh pengetahuan jadi. Oleh
karena itu peran pendidik lebih diutamakan untuk memfasilitasi dan memberikan
kesempatan kepada peserta didik guna menemukan dan mengkonstruk pengetahuan dan
memberi makna melalui pengalaman nyata.
b. Questioning (
bertanya ).
Bertanya merupakan strategi utama dari pembelajaran yang
berbasiskan CTL. Bertanya dalam proses pembelajaran dipandang sebagai kegiatan
pendidik untuk mendorong, membimbing, mengarahkan dan menilai kemampuan
berfikir peserta didik. Bagi peserta didik bertanya merupakan bagian penting
dalam melaksanakan proses pembelajaran disaat mengekplorasi dan mengeloborasi materi
ajar yang sedang dibahas.
Demikian juga dengan pembelajaran yang berbasis inquery
bertanya memegang peran yang sangat penting dalam menggali informasi,
mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada
aspek-aspek yang belum diketahui.
c. Inquery (
menemukan )
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berbasis kontektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
peserta didik bukan merupakan hasil mengingat seperangkat konsep dan fakta,
tetapi hasil dari menemukan sendiri konsep dan fakta tersebut. Pendidik harus
merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan dan
mengkonstruk pengetahuan baru.
Temuan itu mereka peroleh dari pengalaman belajar yang
dirancang pendidik dengan menggunakan siklus inquery, yakni :
1.
Observation ( observasi ).
2.
Questioning ( bertanya ).
3.
Hipotesis ( mengajukan dugaan ).
4.
Data Gethering ( mengumpulkan data ).
5.
Conclussion ( penyimpulan ).
d. Learning
Community ( masyarakat belajar ).
Dalam konsep Learning Commonity, hasil belajar akan lebih
bermakna apabila diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar
diperoleh dari sharring dengan teman, antara kelompok, dan antra yang
tahu dengan yang belum tahu, baik diruang kelas maupun diluar kelas.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi
dua arah. Dalam masyarakat belajar antara dua orang atau lebih yang terlibat
dalam komunikasi pembelajaran, saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam
masyarakat belajar memberikan informasi yang dibutuhkan oleh teman bicaranya
dan sekaligus juga meminta informasi yang ia perlukan dari teman belajarnya.
e. Modelling (
pemodelan ).
Konsep pemodelan dalam pembelajaran adalah adanya model
yang bisa ditiru dalam memahami pengetahuan dan keterampilan tertentu. Model
dibutuhkan dalam mengoperasikan sesuatu, dalam mengerjakan sesuatu, dalam
melafazkan ucapan atau bacaan tertentu. Guru bukanlah satu-satunya model, siswa
atau tenaga dari luar dapat dijadikan model dalam proses pembelajaran.
Jika menggunakan model dari laur perlu menjadikan
perhatian kemahiran, populeritas dan aspek-aspek lainnya yang menjadi perhatian
peserta didik, karena model tersebut akan dijadikan standar kompetensi yang
harus dikuasai peserta didik .
f. Reflection (
refleksi )
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru
dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan
dimasa yang lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya
sebagai struktur pengetahuan yang baru ( skemata baru ) yang merupakan
pengayaan atau revisi atau menganti sama sekali pengetahuan sebelumnya.
Refleksi merupan respon terhadap kejadian, aktivitas,
atau pengetahuan yang diterima. Misalnya : ketika proses pembelajaran berakhir Amir
salah seorang peserta didik merenung, ”kalau begitu cara bapak saya
mengeluarkan zakat selama ini kurang tepat, mestinya apa bila bapak saya
mengeluarkan zakat dengan cara yang baru saya diskusikan dalam proses
pembelajaran ini, tentu jumlah fkir-miskin di kampung saya sudah jauh
berkurang”.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh melalui proses
pembelajaran apa bila peserta didik mengalami lansung kejadian yang sebenarnya,
atau situasi yang disimulasi oleh pendidik seperti keadaan yang sesungguhnya.
Pengetahuan itu yang dimiliki akan diperluas oleh peserta didik sedikit-demi
sedikit sesuai dengan kontek. Guru membantu peserta didik membuat hubungan
antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru.
Dengan begitu peserta didik merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya
dari apa yang baru ia pelajari.
g. Authentics Assesment ( penilai yang
sebenarnya )
Assesment
adalah proses pengumpulan data dan informasi yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar peserta didik. Data dan informasi yang dikumpulkan
tersebut diperoleh dari kegiatan nyata yang dilkukan peserta didik dalam proses
pembelajaran baik di dalam ataupun diluar kelas. Inilah yang disebut data
authentics.
Pendekatan
kontektual penekanan penilaiannya ada pada proses bukan banyaknya hasil yang
diperoleh akhir kegiatan pembelajaran. Pendekatan kontektual penekanan
penilaiannya pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh pada akhir priode
pembelajaran. Pendekatan kontektual adalah upaya membantu peserta didik agar
mampu mempelajari ( learning how to learn), dan juga bukan dimaknai
bahwa hasil belajar tidak perlu, tetapi proses memperoleh hasil, berbanding
sejajar dengan hasil yang diperoleh.
4. Sejarah dan Tokoh Dalam Belajaran Kontektual
Pembelajaran Berbasis Kontekstual (Contextual teaching
and Learning) telah lama sekali diusulkan oleh John Dewey pada tahun 1916 yang
menyarankan agar kurikulum dan metodologi pembelajaran dikaitkan langsung
dengan minat dan pengalaman siswa. Dewey tidak menyetujui konsentrasi
pembelajaran pada pengembangan intelektual terpisah dari pengembangan aspek
kepribadian. Dewey juga tidak menyetujui dijauhkannya kegiatan pembelajaran di
sekolah dengan kegiatan di dunia kerja dan di dunia nyata sehari-hari.
Oleh karena itu model pembelajaran kontekstual atau CTL
telah jauh dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan dan bukan barang baru, salah
satunya adalah John Dewey, seperti dikatakan Dewey bahwa model pembelajaran ini
dikembangkannya pada tahun 1916, yang ia sebut dengan Learning by doing ini era
tahun 1916, kemudian tahun 1970-an konsep model pembelajaran kontekstual ini
lebih dikenal dengan experiential learning, kemudian pada era tahun 1970-1980
lebih dikenal dengan applied learning, pada tahun 1990-an model kontekstual ini
dikenal dengan school to work. Kemudian pada era tahun 2000-an, model
kontekstual ini lebih efektif digunakan.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian
John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika
apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan
yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini
menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan
dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu
maupun kelompok. Dengan demikian, guru dituntut untuk menggunakan strategi
pembelajaran kontekstual dan memberikan kegiatan yang bervariasi, sehingga
dapat melayani perbedaan individual siswa, mengaktifkan siswa dan guru,
mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di
sekolah, responsif, serta rumah dan lingkungan masyarakat. Pada akhirnya siswa
memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi
oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah
akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering
mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pendekatan
belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan
siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).
Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) dikembangkan oleh
The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang
melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga yang bergerak
dalam dunai pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah
melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia
untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat
SLTP Depdiknas
Pendekatan model Kontekstual atau Contextual Teaching and
Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of
Education, 2001).
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar,
manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa
akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti.
Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan
suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk
meggapinya.
Oleh sebab itulah kalau kita fahami filosofis model
pembelajaran kontekstual ini, ada dua yang disebut : Pertama, Filosofi
pendidikan: berasumsi bahwa pendidik mempunyai peranan penting membantu siswa
menemukan makna di dalam pendidikannya dengan mengaitkan apa yang mereka
pelajari di kelas dengan bagaimana penerapan pengetahuan itu dunia nyata. Kedua,
Strategi pedagogik, CTL berisi teknik-teknik yang dapat membantu siswa menjadi
lebih aktif dan reflektif terhadap pengalaman-pengalamannya.
5. Prinsip-Prinsip Utama Teori Belajar Kontektual
Elaine B. Jhonshon (2002) mengklaim bahwa dalam
pembelajaran kontektual, minimal ada tiga prinsip utama yang sering di gunakan,
yaitu: saling ketergantungan (interdependence),diferensiasi(differetiation) dan
pengorganisasian (self organization).
Pertama, prinsip saling ketergantungan(interdependence), menurut
hasil kajian para ilmuan segala yang ada di dunia ini adalah saling berhubungan
dan tergantung, segala yang ada baik manusia maupun makhluk hidup lainnya
saling berhubungan satu sama lainnya membentuk pola dan jaring sistem hubungan
yang kokoh dan teratur.
Begitu pula dalam pendidikan dan pembelajaran, sekolah
merupakan suatu sistem kehidupan, yang terkait dalam kehidupan di rumah, di
tempat kerja, di masyarakat. Dalam kehidupan di sekolah siswa saling
berhubungan dan tergantung dengan guru, kepala sekolah, tata usaha, orang tua
siswa, dan nara sumber yang ada di sekitarnya. Dalam pembelajaran siswa
berhubungan dengan bahan ajar, sumber belajar, media, sarana prasarana belajar,
iklim sekolah dan lingkungan.
Saling berhubungan ini bukan hanya sebatas pada
memberikan dukungan, kemudahan, akan tetapi juga memberi makna tersendiri,
sebab makna ada jika ada hubungan yang berarti. Pembelajaran kontektual
merupakan pembelajaran yang menekankan hubungan antara bahan pelajaran dengan
bahan lainnya, antara teori dengan praktik, antara bahan yang bersifat konsep
dengan penerapan dalam kehidupan nyata.
Kedua, diferensiasi (differetiation) yang menunjukkan kepada
sifat alam yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keseragaman,
keunikan. Alam tidak pernah mengulang dirinya tetapi keberadaannya selalu
berbeda. Prinsip diferensiasi menunjukkan kreativitas yang luar biasa dari alam
semesta. Jika dari pandangan agama, kretivitas yang luar biasa tersebut bukan
alam semestanya tetapi penciptaNya. Diferensiasi bukan hanya menunjukan
perubahan dan kemajuan tanpa batas, akan tetapi juga kesatuan-kesatuan yang
berbeda tersebut berhubungan, saling tergantung dalam keterpaduan yang bersifat
simbiosis atau saling menguntungkan.
Apabila para pendidik memiliki keyakinan yang sama dengan
para ilmuan modern bahwa prinsip diferensiasi yang dinamis ini bukan hanya
berlaku dan berpengaruh pada alam semesta, tetapi juga pada sistem pendidikan.
Para pendidik juga dituntut untuk mendidik, mengajar, melatih, membimbing
sejalan dengan prinsip diferensiasi dan harmoni alam semesta ini. Proses
pendidikan dan pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan menekankan
kreativitas, keunikan, variasi dan kolaborasi. Konsep-konsep tersebut bisa
dilaksanakan dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontektual berpusat
pada siswa, menekankan aktivitas dan kretivitas siswa. Siswa berkolaborasi
dengan teman-temannya untuk melakukan pengamatan, menghimpun, dan mencatat
fakta dan informasi, menemukan prinsip-prinsip dan pemecahan masalah.
Ketiga, Pengorganisasian diri (self organization). Setiap
individu atau kesatuan dalam alam semesta mempunyai potensi yang melekat, yaitu
kesadaran sebagai kesatuan utuh yang berbeda dari yang lain. Tiap hal memiliki
organiasi diri, keteraturan diri, kesadaran diri, pemeliharaan diri sendiri,
suatu energi atau keuatan hidup, yang memungkinkan mempertahankan dirinya
secara khas, berbeda dengan yang lainnya.
Prinsip organisasi diri, menuntut para pendidik dan
pengajar di sekolah agar mendorong tiap siswanya untuk memahami dan
merealisasikan semua potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Pembelajaran
kontektual diarahkan untuk membantu para siswa mencapai keunggulan akademik,
penguasaan keterampilan standar, pengembangan sikap dan moral sesuai dengan
harapan masyarakat.
6. Penerapan Teori Dalam Belajar Dan
Pembelajaran
Sesuai dengan pengertian konteks maupun kontekstual
tersebut, pembelajaran kontekstual (contextual learning) merupakan sebuah
pembelajaran yang dapat memberikan dukungan dan penguatan pemahaman siswa dalam
menyerap sejumlah materi pembelajaran serta mampu memperoleh makna dari apa
yang mereka pelajari dan mampu menghubungkannya dengan kenyataan hidup sehari
hari. Hal ini juga sejalan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual yang
berasumsi sebagai berikut.
Secara alamiah proses berpikir dalam menemukan makna
sesuatu itu bersifat kontekstual dalam arti ada kaitannya dengan pengetahuan
dan pengalaman yang telah mereka miliki (siswa) memiliki (ingatan), pengalaman,
respon ), oleh karenanya berpikir itu merupakan proses mencari hubungan untuk
menemukan makna dan manfaat pengetahuan tersebut “.
Menurut kerangka berpikir atau asumsi di atas
pembelajaran kontekstual merupakan proses belajar yang menghubungkan alam pikiran
(pengetahuan dan pengalaman) dengan keadaan yang sebenarnya dalam kehidupan.
Jika siswa mampu menghubungkan kedua hal tersebut, pengetahuan dan pengalaman
yang mereka miliki dari hasil belajar akan lebih bermakna dan dapat dirasakan
manfaatnya. Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran kontekstual pada
prinsipnya sebuah pembelajaran yang berorientasi pada penekanan makna
pengetahuan dan pengalaman melalui hubungan pemanfaatan dalam kehidupan yang
nyata.
Pembelajaran kontekstual dalam pelaksanakannya didasarkan
pada lima prinsip yaitu “keterkaitan atau relevansi (relating), pengalaman
langsung (experiencing), penerapan atau aplikasi (applying), kerjasama
(cooperating), alih pengetahuan (transferring)” (Gafur, 2003 : 3). Kelima
prinsip tersebut, masing-masing memiliki teknik yang berbeda. Oleh sebab itu,
pembelajaran akan berlangsung secara veriatif, kreatif, aktif dan rekreatif.
Uraian masing-masing prinsip dan teknik tersebut sebagai berikut.
1). Prinsip Keterkaitan, Relevansi (Relating)
Pembelajaran kontekstual hendaknya senantiasa
memperhatikan adanya keterkaitan atau kesesuaian antara pengetahuan,
keterampilan bakat, dan minat yang telah dimiliki siswa dengan unsur-unsur
pembelajaran yang dipersiapkan oleh guru (media, materi, alat bantu dll). Di samping
itu, keterkaitan kedua hal tersebut di atas harus pula memiliki keterkaitan
dengan konteks sosial dalam kehidupan nyata . hal ini sejalan dengan prinsip
Keterkaitan
relevansi (relating) sebagai berikut:
Pembelajaran
hendaknya ada keterkaitan (relevansi) dengan bekal pengetahuan (prerequisite
knowledge) yang telah ada pada diri siswa , relevansi antar internal seperti
bekal pengetahuan, keterampilan, bakat, minat, dengan faktor eksternal seperti
ekspose media dan pembelajaran oleh guru dan lingkungan luar), dan dengan
konteks pengalaman dalam kehidupan dunia nyata seperti manfaat untuk bekal
bekerja di kemudian hari dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan konsep di atas, ada tiga faktor yang harus
dikaitkan dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual yaitu factor internal,
eksternal, dan lingkungan kehidupan nyata.
Contoh : Pelajaran pengubinan pada pelajaran matematika
sangat berguna jika seorang siswa ingin menjadi pengusaha tegel atau interior
designer. Pelajaran sosiologi sosiatri, hokum adat, antropologi budaya berguna
bagi siswa yang akan bekerja sebagai polisi, hakim, jaksa, dan LSM.
2). Prinsip Pengalaman Langsung
(Experiencing)
Untuk memberikan dan menambahkan penguatan pemahaman
serta pemaknaan siswa terhadap materi pembelajaran, dalam pembelajaran
konstekstual, guru harus memperhatikan, memahami, dan melaksanakan prinsip
pengalaman langsung. Bahkan pengalaman langsung atau experiencing merupakan“
jantung pembelajaran kontekstual“ (Gafur, 2003: 2 ). Pemberian pengalaman
langsung kepada siswa dapat melalui kegiatan “eksplorasi (perluasan), discovary
( penemuan ), inventory (pendaftaran), investigasi ( penyelidikan ), penelitian
dll“ (Gafur, 2003:2). Kecepatan, ketepatan, dan kecermatan dalam memperoleh
hasil belajar akan tercapai, manakala siswa diberi kesempatan yang
seluas-luasnya untuk memanipuali peralatan, memanfaatkan sumber dan media
belajar, serta melakukan dan mengembangkan bentuk-bentuk kegiatan penelitian
yang lain secara aktif.
Contoh: anak langsung terjun untuk penelitian sebuah
fenomena atau suatu masalah.
3) Prinsip Aplikasi (Applying)
Salah satu indikator empiris bahwa siswa telah memahami
sejumlah pengetahuan, di antaranya siswa mampu menerapkan, mengkomunikasikan
serta mampu memanfaatkan dalam situasi yang berbeda (dari situasi pembelajaran
ke situasi kehidupan nyata). Penerapan prinsip aplikasi merupakan salah satu
pembelajaran tingkat tinggi. Dalam hal ini, siswa tidak hanya memiliki
pengetahuan secara abstrak di alam pikiran namun mereka juga memiliki
pengetahuan secara konkrit di alam nyata. Melalui pembelajaran aplikasi
(penerapan), kepercayaan diri siswa akan tumbuh sehingga mereka terdorong untuk
memikirkan karir dan profesi yang diminati. Dalam asumsi yang sama prinsip
aplikasi (applying) yaitu :
Kemampuan suntuk menerapkan materi yang telah dipelajari
untuk diterapkan atau digunakan pada situasi lain yang berbeda merupakan
penggunaan (use) fakta, konsep, prinsip atau prosedur atau pencapaian tujuan
pembelajaran dalam bentuk penggunaan (use) ( Merrill & Reigeluth dalam
Gafur, 2003:3).
Dalam pembelajaran kontekstual, penerapan prinsip ini
lebih berorientasi pada dunia kerja. Pada tataran yang lebih luas, pembelajaran
dapat pula diarahkan pada situasi-situasi sosial yang ada dalam kehidupan di
masyarakat. Dalam pembelajaran di kelas, guru dapat menggunakan berbagi media
belajar seperti : buku teks, kliping, video, laboratorium. Pembelajaran akan
lebih bermakna dengan dilengkapi dengan pengalaman langsung dalam kehidupan
nyata. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran prinsip ini
antara lain observasi, karyawisata, dan eksperimen. Teknik-teknik pembelajaran
yang dapat digunakan misalnya mengamati dan mencatat prinsip-prinsip kerja dan
berbagai pesawat kerja dalam sebuah perusahaan, praktek kerja lapangan, magang
(internship).
4). Prinsip Kerjasama (Cooperating)
Penerapan prinsip kerjasama dalam pembelajaran
kontekstual, tidak hanya membantu para siswa dalam upaya menguasai materi
pembelajaran tetapi juga memberikan wawasan kepada mereka bahwa penyelesaian
suatu masalah atau tugas diperlukan kerjasama dalam bentuk tim kerja. Hal ini
akan menggiring pemikiran siswa bahwa dalam penyelesaian suatu masalah atau
tugas dalam kehidupan yang nyata, diperlukan pula kerjasama dalam bentuk tim
sehingga hasil yang dicapai akan lebih baik. Pemikiran ini akan tumbuh pada
diri para siswa, apabila mereka dibekali pengalaman langsung tentang ketrjasama
baik dalam proses belajar di kelas maupun di luar kelas.
Contoh: dalam eksperimen, diskusi, bermain peran,
simulasi, problem solping. Teknik pembelajaran yang dapat digunakan misalnya
Tanya jawab, komunikasi interaktif, dan menyusun laporan.
5). Prinsip Alih Pengetahuan (
Transferring)
Prinsip alih pengetahuan dalam pembelajaran kontekstual
merupakan pengembangan dari prinsip aplikasi. Selain siswa mampu menerapkan
pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam situasi yang berbeda,bahkan
diharapkan mampu mengembangkan dan menemukan konsep baru. Hal ini sejalan
dengan tujuan pembelajaran kontekstual antara lain “ siswa mampu menerapkan
materi yang telah dipelajarai untuk memecahkan masalh-masalah baru merupakan
penguasaan strategi kognitif atau pencapaian tujuan pembelajaran dalam bentuk
menemukan (finding)” .
Metode yang dapat digunakan dalam penerapan prinsip ini
di antaranya metode inquiri, metode proyek, dan metode problem solping. Teknik
pembelajaran yang dapat digunakan misalnya pengamatan, eksperimen, menggolongkan,
menerapkan, menarik simpulan, dan mengkomunikasikan. Metode dan teknik
pemebelajran yang lain dapat dikembangkan sendiri oleh guru sesuai dengan
kebutuhan.
Contoh: Penerapan prinsip ini, siswa dapat membuat
pembangkit listrik penerapan setelah mereka mengetahui dan memahami sifat-sifat
air, dan mengetahui prinsip-prinsip kerja dynamo serta baling-baling. Dari sini
siswa dapat saling berbagi atau transfer ilmu yang mereka miliki.
7. Penerapan Dalam Belajar Dan
Pembelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam di sekolah atau di madrasah, dalam
pelaksanaannya masih menunjukkan berbagai permasalahan. Seperti halnya proses
pembelajaran PendidikanAgama Islam di sekolah saat ini masih sebatas sebagai
proses penyampaian “pengetahuan tentang Agama Islam.” Mayoritas metode
pembelajaran agama Islam yang selama ini lebih ditekankan pada hafalan,
akibatnya siswa kurang memahami kegunaan dan manfaat dari apa yang telah
dipelajari dalam materi PAI yang menyebabkan tidak adanya motivasi siswa untuk
belajar materi PAI. Melihat kenyataan yang ada di lapangan, sebagian besar
teknik dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru kita
cenderung monoton dan membosankan. Sehingga menurunkan motivasi belajar siswa.
Kondisi ini pada gilirannya berdampak pada prestasi belajar.
Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut perlu
diterapkan suatu cara alternatif mempelajari PAI yang kondusif dengan suasana
yang cenderung rekreatif sehingga memotivasi siswa untuk mengembangkan potensi
kreativitasnya. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan
penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik Learning Community.
Dengan penggunaan teknik ini diharapkan agar materi
pelajaran PAI dapat mudah dipahami dan dapat meningkatkan motivasi serta
prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI. pembelajaran
kontekstual dengan teknik Learning Community perlu diterapkan pada bidang studi
PAI, agar guru senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dalam tindakan
pengajarannya guna meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
C.
PENUTUP
Pembelajaran konstektual merupakan pendekatan model belajar
yang mendekatkan materi yang dipelajari oleh siswa dengan konteks kehidupan
sehari-hari siswa. Jika dilaksanakan dengan baik pembelajaran konstektual dapat
meningkatkan makna hasil pembelajaran ini pada gilirannya menimbulkan
pencapaian belajar siswa sesuai yang di inginkan, baik hasil belajar yang
berupa kemampuan dasar maupun kemampuan fungsional. Pendekatan pembelajaran
konstektual memerlukan guru yang memiliki keluasan pengetahuan dan gemar mempelajari konteks bahan ajar untuk dapat
dikaitkan dengan materi pelajaran yang diajarkan.
Dalam pembelajaran konstekstual diperlukan kesiapan guru
yang memiliki kemampuan sehingga dapat mengaitkan mata pelajaran dengan
kehidupan sehari-hari serta materi pembelajaran dikaitkan dengan konteks
kehidupan siswa. Strategi guru dalam proses pembelajaran kontekstual sangat
menetukan keberhasilan siswanya. Guru melakukan perubahan kebiasaan dalam
proses belajar mengajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian
hasil.
Akan tetapi persoalan kedepan yang paling serius dan yang dihadapi
oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan
tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi guru, rendahnya tingkat
profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru meng-upgrade dirinya, dan
belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah
dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan
melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bagai ditelan waktu.
Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini
terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun
kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak
profesional tidak akan bermakna apa-apa.
Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan
tanggapan terdapat sebuah ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan
kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan
dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan
dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena
kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.
Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah
masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa
yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui.
Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita
ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai
kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan
perbuatan kita.
Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan
dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan
angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa
mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat
dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari
DAFTAR PUSTAKA
Saefudin Sa’ud Udin, 2008, inovasi
pendidikan, Bandung: Alfabeta
Sugandi, Achmad. 2005. Teori
Pembelajaran. Semarang : UNNES Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar