Rabu, 06 Maret 2013



PEMBELAJARAN KONTEKTUAL
( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING / CTL )


A.   PENDAHULUAN
Pembelajaran Kontektual adalah merupakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik dapat mengaitkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan serta keterampilan mereka dalam berbagai macam ruang lingkup kehidupan di sekolah dan di luar sekolah, sehingga dapat memecahkan masalah-masalah tersebut dan masalah-masalah yang disimulasikan berdasarkan kenyataan dan pengalaman yang dirasakan.
Dari proses pemikiran  dan kenyataan dewasa ini pendekatan model pembelajaran untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual
Dengan pembelajaran kontektual ini, hasil pembelajaran diharapkan akan lebih menyenangkan dan bermakna oleh peserta didik, dan tugas guru mengelola kelas, mendorong dan memfasilitasi peserta didik untuk menemukan sesuatu bagi anggota kelas. Dalam pembelajaran peserta didik lebih banyak aktif dan lebih bebas berkreasi mengemukan ide dan pendapat sehingga diperoleh pengetahuan dan keterampilan dan menemukan.
B.  PEMBAHASAN
1.   Pengertian Belajar Konteksual
Belajar kontekstual (contextual teaching and learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Paparan pengertian pembelajaran kontekstual diatas dapat diperjelas sebagai berikut: pertama, pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar beroeantasikan pada proses pengalaman secara langsung. Yang mana dalam pembelajaran tersebut tidak hanya mengharapkan agar siswa menerima pelajaran akan tetapi juga proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, pembelajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Hal ini memperkuat dugaan bahwa materi yang telah dipelajari akan tetap tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Ketiga, pembelajaran kompetensi mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran kompetensi tidak hanya mengharap siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai prilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pengertian kontekstual, terdapat lima karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran kontekstual, yaitu:
a)     Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
b)     Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru yang diperoleh dengan cara deduktif. Artinya pembelajaran dimulai dengan cara memepelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
c)     Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini. Misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tenggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
d)     Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku siswa.
e)     Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
2.  Pemikiran Tentang Teori Belajar.
Berbagai pemikiran tentang belajar telah dikemukakan oleh para pemikir dan ahli pembelajaran dari masa lalu sampai hari ini, kesemuanya mencari jalan bagai mana pembelajaran itu lebih bermakna. Ada beberapa konsep pembelajaran yang sudah sangat dikenal oleh pendidik dan pakar pendidikan seperti :
         1.       Teori Belajar Jerome Bruner.
Teori belajar J. Bruner dikenal dengan teori belajar penemuan. Belajar penemuan merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, sehingga mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya. ( Psikologi Pendidikan Wasty Soemanto : 123 ).
         2.       Teori Belajar Ausubel
Belajar menurut Ausubel adalah belajar bermakna. Belajar bermakna adalah proses pengaitan informasi baru dengan konsep-konsep relevan yang telah dimiliki peserta didik yang tersimpan dalam memori mereka.
         3.       Teori Belajar Piaget.
Menurut Piaget ada tiga bentuk pengetahuan pada seseorang, yaitu pengetahuan fisik, logika-matematika, dan pengetahuan social. Pengetahuan social dapat ditransfer dari pendidik ke peserta didik, sedangkan pengetahuan fisik dan logika-matematik harus dibangun sendiri oleh peserta didik tersebut. ( Psikologi Pendidikan, Wasty Soemanto : 123 ).
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tiga konsep pembelajaran di atas bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning ( CTL ), bukanlah konsep baru melainkan merupakan Re-invention ( modifikasi ) dari berbagai teori belajar yang sudah ada. Teori belajar ini dapat diterapkan berdasarkan penemuan yang bermakna baik dari transfer orang lain atau yang dibangun oleh peserta didik sendiri.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut :
1). Proses Belajar .
a)     Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruk pengetahuannya sendiri.
b)     Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, bukan diberi begitu saja oleh guru.
c)      Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan.
d)     Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisah menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
e)     Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
f)       Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
g)     Proses belajar dapat merubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.
2). Transfer Belajar.
a)     Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
b)     Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dalam kontek yang terbatas (sedikit demi sedikit).
c)      Penting bagi peserta didik tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
3). Peserta Didik Sebagai Pebelajar.
a)     Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
b)     Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
c)      Peran orang dewasa ( pendidik ) membantu menghubungkan yang baru dengan yang sudah diketahui.
d)     Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan dan menerapkan strategi mereka sendiri.
4). Pentingnya Lingkungan Belajar.
a)      Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Pendidik memfasilitasi dan mengarahkan peserta didik bekerja dan menemukan.
b)      Pembelajaran diarahkan pada bagaimana cara peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah ada untuk menemukan pengetahuan baru. Stategi pembelajaran ini memberikan penilaian yang sama tentang proses penemuan pengetahuan baru dangan hasil temuan itu sendiri.
c)      Umpan balik amat penting bagi peserta didik, dari proses penilaian yang benar dan menyeluruh.
d)      Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
3.  Hakekat Pembelajaran Kontektual
Menurut Branford ( 1999 :127 ) pembelajaran kontektual adalah: pembelajaran yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman yang sesungguhnya. Pembelajaran kontektual menekankan berfikir pada tingkat yang lebih tinggi, tranfer pengetahuan lintas disiplin, serta mengumpulkan, menganalisis, dan pensistesissan informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang.
Pembelajaran kontektual adalah sebuah konsep pembelajaran yang mengaitkan atau menselaraskan antara content ( materi ajar ) dengan situasi dunia nyata peserta didik ( pengalaman awal, kehidupan sehari-hari, harapan dan cita-cita ) dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dengan penerapan dalam hidup keseharian.
Departemen Pendidikan Nasional menjelaskan konsep pembelajaran seperti ini hanya dapat direalisasikan dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran efektif yakni :
  1. Constructivism ( konstruktivisme ).
  2. Quetioning ( bertanya )
  3. Inquery ( menemukan ).
  4. Learning Community ( masyarakat belajar ).
  5. Modelling ( pemodelan ).
  6. Reflection ( refleksi ).
  7. Autentics Asessments ( penilaian sebenarnya ).
a.   Constructivism ( konstruktivisme ).
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir ( filosofi ) pendekatan Contextual Teaching and Learning. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sedikit demi sedikit, lalu hasilnya diperluas melalui kontek yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep ataupun kaedah yang siap untuk diambil dan ditrasfer. Peserta didik harus mengkonstruk sendiri pengetahuannya dan dimaknai melalui pengalaman nyata.
Pandangan Behavioristic dan objektivistic penekananya lebih pada hasil belajar, sedangkan constructivistic memandang proses dan strategi memperoleh pengetahuan dan keteampilan lebih diutamankan dari banyaknya peserta didik mengingat dan memperoleh pengetahuan jadi. Oleh karena itu peran pendidik lebih diutamakan untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada peserta didik guna menemukan dan mengkonstruk pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
b.   Questioning ( bertanya ).
Bertanya merupakan strategi utama dari pembelajaran yang berbasiskan CTL. Bertanya dalam proses pembelajaran dipandang sebagai kegiatan pendidik untuk mendorong, membimbing, mengarahkan dan menilai kemampuan berfikir peserta didik. Bagi peserta didik bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan proses pembelajaran disaat mengekplorasi dan mengeloborasi materi ajar yang sedang dibahas.
Demikian juga dengan pembelajaran yang berbasis inquery bertanya memegang peran yang sangat penting dalam menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek-aspek yang belum diketahui.
c.   Inquery ( menemukan )
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik bukan merupakan hasil mengingat seperangkat konsep dan fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri konsep dan fakta tersebut. Pendidik harus merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan dan mengkonstruk pengetahuan baru.
Temuan itu mereka peroleh dari pengalaman belajar yang dirancang pendidik dengan menggunakan siklus inquery, yakni :
1.      Observation ( observasi ).
2.      Questioning ( bertanya ).
3.      Hipotesis ( mengajukan dugaan ).
4.      Data Gethering ( mengumpulkan data ).
5.      Conclussion ( penyimpulan ).

d.   Learning Community ( masyarakat belajar ).
Dalam konsep Learning Commonity, hasil belajar akan lebih bermakna apabila diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharring dengan teman, antara kelompok, dan antra yang tahu dengan yang belum tahu, baik diruang kelas maupun diluar kelas.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar antara dua orang atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran, saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam masyarakat belajar memberikan informasi yang dibutuhkan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang ia perlukan dari teman belajarnya.
e.   Modelling ( pemodelan ).
Konsep pemodelan dalam pembelajaran adalah adanya model yang bisa ditiru dalam memahami pengetahuan dan keterampilan tertentu. Model dibutuhkan dalam mengoperasikan sesuatu, dalam mengerjakan sesuatu, dalam melafazkan ucapan atau bacaan tertentu. Guru bukanlah satu-satunya model, siswa atau tenaga dari luar dapat dijadikan model dalam proses pembelajaran.
Jika menggunakan model dari laur perlu menjadikan perhatian kemahiran, populeritas dan aspek-aspek lainnya yang menjadi perhatian peserta didik, karena model tersebut akan dijadikan standar kompetensi yang harus dikuasai peserta didik .
f.    Reflection ( refleksi )
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru ( skemata baru ) yang merupakan pengayaan atau revisi atau menganti sama sekali pengetahuan sebelumnya.
Refleksi merupan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang diterima. Misalnya : ketika proses pembelajaran berakhir Amir salah seorang peserta didik merenung, ”kalau begitu cara bapak saya mengeluarkan zakat selama ini kurang tepat, mestinya apa bila bapak saya mengeluarkan zakat dengan cara yang baru saya diskusikan dalam proses pembelajaran ini, tentu jumlah fkir-miskin di kampung saya sudah jauh berkurang”.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh melalui proses pembelajaran apa bila peserta didik mengalami lansung kejadian yang sebenarnya, atau situasi yang disimulasi oleh pendidik seperti keadaan yang sesungguhnya. Pengetahuan itu yang dimiliki akan diperluas oleh peserta didik sedikit-demi sedikit sesuai dengan kontek. Guru membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu peserta didik merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya dari apa yang baru ia pelajari.
g.   Authentics Assesment ( penilai yang sebenarnya )
Assesment adalah proses pengumpulan data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Data dan informasi yang dikumpulkan tersebut diperoleh dari kegiatan nyata yang dilkukan peserta didik dalam proses pembelajaran baik di dalam ataupun diluar kelas. Inilah yang disebut data authentics.
Pendekatan kontektual penekanan penilaiannya ada pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh akhir kegiatan pembelajaran. Pendekatan kontektual penekanan penilaiannya pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh pada akhir priode pembelajaran. Pendekatan kontektual adalah upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari ( learning how to learn), dan juga bukan dimaknai bahwa hasil belajar tidak perlu, tetapi proses memperoleh hasil, berbanding sejajar dengan hasil yang diperoleh.
4.   Sejarah dan Tokoh Dalam Belajaran Kontektual
Pembelajaran Berbasis Kontekstual (Contextual teaching and Learning) telah lama sekali diusulkan oleh John Dewey pada tahun 1916 yang menyarankan agar kurikulum dan metodologi pembelajaran dikaitkan langsung dengan minat dan pengalaman siswa. Dewey tidak menyetujui konsentrasi pembelajaran pada pengembangan intelektual terpisah dari pengembangan aspek kepribadian. Dewey juga tidak menyetujui dijauhkannya kegiatan pembelajaran di sekolah dengan kegiatan di dunia kerja dan di dunia nyata sehari-hari.
Oleh karena itu model pembelajaran kontekstual atau CTL telah jauh dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan dan bukan barang baru, salah satunya adalah John Dewey, seperti dikatakan Dewey bahwa model pembelajaran ini dikembangkannya pada tahun 1916, yang ia sebut dengan Learning by doing ini era tahun 1916, kemudian tahun 1970-an konsep model pembelajaran kontekstual ini lebih dikenal dengan experiential learning, kemudian pada era tahun 1970-1980 lebih dikenal dengan applied learning, pada tahun 1990-an model kontekstual ini dikenal dengan school to work. Kemudian pada era tahun 2000-an, model kontekstual ini lebih efektif digunakan.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok. Dengan demikian, guru dituntut untuk menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dan memberikan kegiatan yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, responsif, serta rumah dan lingkungan masyarakat. Pada akhirnya siswa memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pendekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).
Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunai pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat SLTP Depdiknas
Pendekatan model Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk meggapinya.
Oleh sebab itulah kalau kita fahami filosofis model pembelajaran kontekstual ini, ada dua yang disebut : Pertama, Filosofi pendidikan: berasumsi bahwa pendidik mempunyai peranan penting membantu siswa menemukan makna di dalam pendidikannya dengan mengaitkan apa yang mereka pelajari di kelas dengan bagaimana penerapan pengetahuan itu dunia nyata. Kedua, Strategi pedagogik, CTL berisi teknik-teknik yang dapat membantu siswa menjadi lebih aktif dan reflektif terhadap pengalaman-pengalamannya.
5.   Prinsip-Prinsip Utama Teori Belajar Kontektual
Elaine B. Jhonshon (2002) mengklaim bahwa dalam pembelajaran kontektual, minimal ada tiga prinsip utama yang sering di gunakan, yaitu: saling ketergantungan (interdependence),diferensiasi(differetiation) dan pengorganisasian (self organization).
Pertama, prinsip saling ketergantungan(interdependence), menurut hasil kajian para ilmuan segala yang ada di dunia ini adalah saling berhubungan dan tergantung, segala yang ada baik manusia maupun makhluk hidup lainnya saling berhubungan satu sama lainnya membentuk pola dan jaring sistem hubungan yang kokoh dan teratur.
Begitu pula dalam pendidikan dan pembelajaran, sekolah merupakan suatu sistem kehidupan, yang terkait dalam kehidupan di rumah, di tempat kerja, di masyarakat. Dalam kehidupan di sekolah siswa saling berhubungan dan tergantung dengan guru, kepala sekolah, tata usaha, orang tua siswa, dan nara sumber yang ada di sekitarnya. Dalam pembelajaran siswa berhubungan dengan bahan ajar, sumber belajar, media, sarana prasarana belajar, iklim sekolah dan lingkungan.
Saling berhubungan ini bukan hanya sebatas pada memberikan dukungan, kemudahan, akan tetapi juga memberi makna tersendiri, sebab makna ada jika ada hubungan yang berarti. Pembelajaran kontektual merupakan pembelajaran yang menekankan hubungan antara bahan pelajaran dengan bahan lainnya, antara teori dengan praktik, antara bahan yang bersifat konsep dengan penerapan dalam kehidupan nyata.
Kedua, diferensiasi (differetiation) yang menunjukkan kepada sifat alam yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keseragaman, keunikan. Alam tidak pernah mengulang dirinya tetapi keberadaannya selalu berbeda. Prinsip diferensiasi menunjukkan kreativitas yang luar biasa dari alam semesta. Jika dari pandangan agama, kretivitas yang luar biasa tersebut bukan alam semestanya tetapi penciptaNya. Diferensiasi bukan hanya menunjukan perubahan dan kemajuan tanpa batas, akan tetapi juga kesatuan-kesatuan yang berbeda tersebut berhubungan, saling tergantung dalam keterpaduan yang bersifat simbiosis atau saling menguntungkan.
Apabila para pendidik memiliki keyakinan yang sama dengan para ilmuan modern bahwa prinsip diferensiasi yang dinamis ini bukan hanya berlaku dan berpengaruh pada alam semesta, tetapi juga pada sistem pendidikan. Para pendidik juga dituntut untuk mendidik, mengajar, melatih, membimbing sejalan dengan prinsip diferensiasi dan harmoni alam semesta ini. Proses pendidikan dan pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan menekankan kreativitas, keunikan, variasi dan kolaborasi. Konsep-konsep tersebut bisa dilaksanakan dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontektual berpusat pada siswa, menekankan aktivitas dan kretivitas siswa. Siswa berkolaborasi dengan teman-temannya untuk melakukan pengamatan, menghimpun, dan mencatat fakta dan informasi, menemukan prinsip-prinsip dan pemecahan masalah.
Ketiga, Pengorganisasian diri (self organization). Setiap individu atau kesatuan dalam alam semesta mempunyai potensi yang melekat, yaitu kesadaran sebagai kesatuan utuh yang berbeda dari yang lain. Tiap hal memiliki organiasi diri, keteraturan diri, kesadaran diri, pemeliharaan diri sendiri, suatu energi atau keuatan hidup, yang memungkinkan mempertahankan dirinya secara khas, berbeda dengan yang lainnya.
Prinsip organisasi diri, menuntut para pendidik dan pengajar di sekolah agar mendorong tiap siswanya untuk memahami dan merealisasikan semua potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Pembelajaran kontektual diarahkan untuk membantu para siswa mencapai keunggulan akademik, penguasaan keterampilan standar, pengembangan sikap dan moral sesuai dengan harapan masyarakat.
6.    Penerapan Teori Dalam Belajar Dan Pembelajaran
Sesuai dengan pengertian konteks maupun kontekstual tersebut, pembelajaran kontekstual (contextual learning) merupakan sebuah pembelajaran yang dapat memberikan dukungan dan penguatan pemahaman siswa dalam menyerap sejumlah materi pembelajaran serta mampu memperoleh makna dari apa yang mereka pelajari dan mampu menghubungkannya dengan kenyataan hidup sehari hari. Hal ini juga sejalan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual yang berasumsi sebagai berikut.
Secara alamiah proses berpikir dalam menemukan makna sesuatu itu bersifat kontekstual dalam arti ada kaitannya dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki (siswa) memiliki (ingatan), pengalaman, respon ), oleh karenanya berpikir itu merupakan proses mencari hubungan untuk menemukan makna dan manfaat pengetahuan tersebut “.
Menurut kerangka berpikir atau asumsi di atas pembelajaran kontekstual merupakan proses belajar yang menghubungkan alam pikiran (pengetahuan dan pengalaman) dengan keadaan yang sebenarnya dalam kehidupan. Jika siswa mampu menghubungkan kedua hal tersebut, pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki dari hasil belajar akan lebih bermakna dan dapat dirasakan manfaatnya. Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran kontekstual pada prinsipnya sebuah pembelajaran yang berorientasi pada penekanan makna pengetahuan dan pengalaman melalui hubungan pemanfaatan dalam kehidupan yang nyata.
Pembelajaran kontekstual dalam pelaksanakannya didasarkan pada lima prinsip yaitu “keterkaitan atau relevansi (relating), pengalaman langsung (experiencing), penerapan atau aplikasi (applying), kerjasama (cooperating), alih pengetahuan (transferring)” (Gafur, 2003 : 3). Kelima prinsip tersebut, masing-masing memiliki teknik yang berbeda. Oleh sebab itu, pembelajaran akan berlangsung secara veriatif, kreatif, aktif dan rekreatif. Uraian masing-masing prinsip dan teknik tersebut sebagai berikut.
1). Prinsip Keterkaitan, Relevansi (Relating)
Pembelajaran kontekstual hendaknya senantiasa memperhatikan adanya keterkaitan atau kesesuaian antara pengetahuan, keterampilan bakat, dan minat yang telah dimiliki siswa dengan unsur-unsur pembelajaran yang dipersiapkan oleh guru (media, materi, alat bantu dll). Di samping itu, keterkaitan kedua hal tersebut di atas harus pula memiliki keterkaitan dengan konteks sosial dalam kehidupan nyata . hal ini sejalan dengan prinsip
Keterkaitan relevansi (relating) sebagai berikut:
Pembelajaran hendaknya ada keterkaitan (relevansi) dengan bekal pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri siswa , relevansi antar internal seperti bekal pengetahuan, keterampilan, bakat, minat, dengan faktor eksternal seperti ekspose media dan pembelajaran oleh guru dan lingkungan luar), dan dengan konteks pengalaman dalam kehidupan dunia nyata seperti manfaat untuk bekal bekerja di kemudian hari dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan konsep di atas, ada tiga faktor yang harus dikaitkan dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual yaitu factor internal, eksternal, dan lingkungan kehidupan nyata.
Contoh : Pelajaran pengubinan pada pelajaran matematika sangat berguna jika seorang siswa ingin menjadi pengusaha tegel atau interior designer. Pelajaran sosiologi sosiatri, hokum adat, antropologi budaya berguna bagi siswa yang akan bekerja sebagai polisi, hakim, jaksa, dan LSM.
2).   Prinsip Pengalaman Langsung (Experiencing)
Untuk memberikan dan menambahkan penguatan pemahaman serta pemaknaan siswa terhadap materi pembelajaran, dalam pembelajaran konstekstual, guru harus memperhatikan, memahami, dan melaksanakan prinsip pengalaman langsung. Bahkan pengalaman langsung atau experiencing merupakan“ jantung pembelajaran kontekstual“ (Gafur, 2003: 2 ). Pemberian pengalaman langsung kepada siswa dapat melalui kegiatan “eksplorasi (perluasan), discovary ( penemuan ), inventory (pendaftaran), investigasi ( penyelidikan ), penelitian dll“ (Gafur, 2003:2). Kecepatan, ketepatan, dan kecermatan dalam memperoleh hasil belajar akan tercapai, manakala siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk memanipuali peralatan, memanfaatkan sumber dan media belajar, serta melakukan dan mengembangkan bentuk-bentuk kegiatan penelitian yang lain secara aktif.
Contoh: anak langsung terjun untuk penelitian sebuah fenomena atau suatu masalah.
3)    Prinsip Aplikasi (Applying)
Salah satu indikator empiris bahwa siswa telah memahami sejumlah pengetahuan, di antaranya siswa mampu menerapkan, mengkomunikasikan serta mampu memanfaatkan dalam situasi yang berbeda (dari situasi pembelajaran ke situasi kehidupan nyata). Penerapan prinsip aplikasi merupakan salah satu pembelajaran tingkat tinggi. Dalam hal ini, siswa tidak hanya memiliki pengetahuan secara abstrak di alam pikiran namun mereka juga memiliki pengetahuan secara konkrit di alam nyata. Melalui pembelajaran aplikasi (penerapan), kepercayaan diri siswa akan tumbuh sehingga mereka terdorong untuk memikirkan karir dan profesi yang diminati. Dalam asumsi yang sama prinsip aplikasi (applying) yaitu :
Kemampuan suntuk menerapkan materi yang telah dipelajari untuk diterapkan atau digunakan pada situasi lain yang berbeda merupakan penggunaan (use) fakta, konsep, prinsip atau prosedur atau pencapaian tujuan pembelajaran dalam bentuk penggunaan (use) ( Merrill & Reigeluth dalam Gafur, 2003:3).
Dalam pembelajaran kontekstual, penerapan prinsip ini lebih berorientasi pada dunia kerja. Pada tataran yang lebih luas, pembelajaran dapat pula diarahkan pada situasi-situasi sosial yang ada dalam kehidupan di masyarakat. Dalam pembelajaran di kelas, guru dapat menggunakan berbagi media belajar seperti : buku teks, kliping, video, laboratorium. Pembelajaran akan lebih bermakna dengan dilengkapi dengan pengalaman langsung dalam kehidupan nyata. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran prinsip ini antara lain observasi, karyawisata, dan eksperimen. Teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan misalnya mengamati dan mencatat prinsip-prinsip kerja dan berbagai pesawat kerja dalam sebuah perusahaan, praktek kerja lapangan, magang (internship).
4).   Prinsip Kerjasama (Cooperating)
Penerapan prinsip kerjasama dalam pembelajaran kontekstual, tidak hanya membantu para siswa dalam upaya menguasai materi pembelajaran tetapi juga memberikan wawasan kepada mereka bahwa penyelesaian suatu masalah atau tugas diperlukan kerjasama dalam bentuk tim kerja. Hal ini akan menggiring pemikiran siswa bahwa dalam penyelesaian suatu masalah atau tugas dalam kehidupan yang nyata, diperlukan pula kerjasama dalam bentuk tim sehingga hasil yang dicapai akan lebih baik. Pemikiran ini akan tumbuh pada diri para siswa, apabila mereka dibekali pengalaman langsung tentang ketrjasama baik dalam proses belajar di kelas maupun di luar kelas.
Contoh: dalam eksperimen, diskusi, bermain peran, simulasi, problem solping. Teknik pembelajaran yang dapat digunakan misalnya Tanya jawab, komunikasi interaktif, dan menyusun laporan.
5).   Prinsip Alih Pengetahuan ( Transferring)
Prinsip alih pengetahuan dalam pembelajaran kontekstual merupakan pengembangan dari prinsip aplikasi. Selain siswa mampu menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam situasi yang berbeda,bahkan diharapkan mampu mengembangkan dan menemukan konsep baru. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran kontekstual antara lain “ siswa mampu menerapkan materi yang telah dipelajarai untuk memecahkan masalh-masalah baru merupakan penguasaan strategi kognitif atau pencapaian tujuan pembelajaran dalam bentuk menemukan (finding)” .
Metode yang dapat digunakan dalam penerapan prinsip ini di antaranya metode inquiri, metode proyek, dan metode problem solping. Teknik pembelajaran yang dapat digunakan misalnya pengamatan, eksperimen, menggolongkan, menerapkan, menarik simpulan, dan mengkomunikasikan. Metode dan teknik pemebelajran yang lain dapat dikembangkan sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan.
Contoh: Penerapan prinsip ini, siswa dapat membuat pembangkit listrik penerapan setelah mereka mengetahui dan memahami sifat-sifat air, dan mengetahui prinsip-prinsip kerja dynamo serta baling-baling. Dari sini siswa dapat saling berbagi atau transfer ilmu yang mereka miliki.
7.  Penerapan Dalam Belajar Dan Pembelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam di sekolah atau di madrasah, dalam pelaksanaannya masih menunjukkan berbagai permasalahan. Seperti halnya proses pembelajaran PendidikanAgama Islam di sekolah saat ini masih sebatas sebagai proses penyampaian “pengetahuan tentang Agama Islam.” Mayoritas metode pembelajaran agama Islam yang selama ini lebih ditekankan pada hafalan, akibatnya siswa kurang memahami kegunaan dan manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam materi PAI yang menyebabkan tidak adanya motivasi siswa untuk belajar materi PAI. Melihat kenyataan yang ada di lapangan, sebagian besar teknik dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru kita cenderung monoton dan membosankan. Sehingga menurunkan motivasi belajar siswa. Kondisi ini pada gilirannya berdampak pada prestasi belajar. 
Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut perlu diterapkan suatu cara alternatif mempelajari PAI yang kondusif dengan suasana yang cenderung rekreatif sehingga memotivasi siswa untuk mengembangkan potensi kreativitasnya. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik Learning Community.
Dengan penggunaan teknik ini diharapkan agar materi pelajaran PAI dapat mudah dipahami dan dapat meningkatkan motivasi serta prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI. pembelajaran kontekstual dengan teknik Learning Community perlu diterapkan pada bidang studi PAI, agar guru senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dalam tindakan pengajarannya guna meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
C.  PENUTUP
Pembelajaran konstektual merupakan pendekatan model belajar yang mendekatkan materi yang dipelajari oleh siswa dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Jika dilaksanakan dengan baik pembelajaran konstektual dapat meningkatkan makna hasil pembelajaran ini pada gilirannya menimbulkan pencapaian belajar siswa sesuai yang di inginkan, baik hasil belajar yang berupa kemampuan dasar maupun kemampuan fungsional. Pendekatan pembelajaran konstektual memerlukan guru yang memiliki keluasan pengetahuan dan  gemar mempelajari konteks bahan ajar untuk dapat dikaitkan dengan materi pelajaran yang diajarkan.
Dalam pembelajaran konstekstual diperlukan kesiapan guru yang memiliki kemampuan sehingga dapat mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan sehari-hari serta materi pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa. Strategi guru dalam proses pembelajaran kontekstual sangat menetukan keberhasilan siswanya. Guru melakukan perubahan kebiasaan dalam proses belajar mengajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian hasil.
Akan tetapi persoalan kedepan yang paling serius dan yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi guru, rendahnya tingkat profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru meng-upgrade dirinya, dan belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bagai ditelan waktu.
Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak profesional tidak akan bermakna apa-apa.
Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.
Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.
Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari










DAFTAR PUSTAKA
Saefudin Sa’ud Udin, 2008, inovasi pendidikan, Bandung: Alfabeta
Sugandi, Achmad. 2005. Teori Pembelajaran. Semarang : UNNES Press.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar