PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A. PENDAHULUAN
Penyusunan program memberikan arah pada suatu program itu
sendiri. Penyusunan program pembelajaran akan berujung pada persiapan mengajar yang baik sebagai produk
program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan
belajar dan proses pelaksanaan program.
Komponen program mencakup kompetensi dasar, standar
materi, metode, teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar, dan daya
dukung lainnya.
Dalam mengembangkan persiapan mengajar terlebih dahulu
harus diketahui arti dan tujuannya, serta menguasai secara teoritis dan praktis
unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar.
Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar
yang harus dimiliki oleh peserta didik, apa yang harus dilakukan, apa yang
dipelajari, bagaimana mempelajari, serta bagaimana guru mengetahui
bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu.
Fungsi persiapan pembelajaran adalah sebagai fungsi
perencanaan, dan fungsi pelaksanaan. Prinsip-prinsip pengembangan persiapan mengajar ;
1. kompetensi yang
dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas.
2. persiapan
mengajar harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaknasanakan dalam
kegiatan pembelajaran.
3. kegiatan-kegiatan
yang disusun harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar.
4. persiapan
mengajar harus utuh dan menyeluruh.
5. harus ada
koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.
B. PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN
Dalam
kegiatan mengajar, guru harus menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran karena
prinsip-prinsip belajar dapat membimbing aktivitas dalam merencanakan dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga guru dapat bertindak secara tepat.
Prinsip-prinsip
pembelajaran berkaitan dengan perhatian, motivasi, keaktifan, keterlibatan,
balikan, penguatan dan perbedaan individual (Dimyati dan Mudjiono, 1999 :
42-66)
1) Perhatian
Menurut Sumadi S. (1984), perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar, dari kajian teori belajar dan pengolahan informasi. Terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage Berliner, 1984 : 335)
Menurut Sumadi S. (1984), perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar, dari kajian teori belajar dan pengolahan informasi. Terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage Berliner, 1984 : 335)
Dengan
Perhatian Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua
rangsangan yang mengarah kearah pencapaian tujuan pembelajaran. Siswa
diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul
dalam proses pembelajaran.
Guru
sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran, diupayakan untuk
membangkitkan perhatian siswa dengan menciptakan pengalaman belajar yang
menyenangkan. Implikasi prinsip
perhatian guru tampak pada perilaku-perilaku sebagai berikut:
a.
Guru menggunakan metode secara bervariasi.
b.
Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan
materi yang diajarkan.
c.
Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
d.
Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing (direction
question).
2). Motivasi
Motivasi merupakan Implikasi dari prinsip motivasi bagi siswa dan harus disadari oleh siswa
bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan
mengembangkan secara terus-menerus. Siswa dapat melakukannya dengan menentukan
atau mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapi secara positif
pujian atau dorongan dari orang lain, menentukan target atau sasaran
penyelesaian tugas belajar dan perilaku sejenis lainnya.
Implikasi prinsip
motivasi bagi guru yang tertampak pada perilaku-perilakunya adalah:
1)
Memilih bahan ajar sesuai minat siswa.
2)
Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa.
3) Mengoreksi
sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya
kepada siswa.
4)
Memberikan pujian verbal atau non-verbal terhadap siswa yang memberikan respon
terhadap pertanyaan yang diberikan.
5)
Memberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa.
Motivasi
mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar karena motivasi berkaitan
dengan tujuan, seperti yang dikemukakan Petri (1986 : 3), motivasi dapat
merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Menurut Sardiman (1992 : 25) ada
tiga fungsi motivasi yaitu : (1) mendorong untuk berbuat (2)menentukan arah
perbuatan dan (3) menyeleksi perbuatan.
2)
Keaktifan
Belajar
adalah berbuat untuk mengubah perilaku. Tidak ada belajar kalau tidak ada
keaktifan. Menurut John Dewey (dalam Davies, 1937 : 31), belajar menyangkut apa
yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri, guru
sekedar pembimbing dan pengarah.
Dalam
hal kegiatan belajar, Rousseau (dalam Sardiman, 1992 : 96) memberikan
penjelasan bahwa segala pengetahuan harus diperoleh dengan pengamatan sendiri,
pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri dan bekerja sendiri dengan fasilitas
yang diciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis.
Keaktifan Siswa dituntut untuk selalu aktif
memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk itu pembelajar dituntut
untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional. Implikasi prinsip
keaktifan siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi
yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari reaksi
kimia, membuat karya tulis, membuat kliping dan perilaku sejenis lainnya.
Implikasi prinsip keaktifan siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan langsung
siswa dalam proses pembelajaran.
Peran
guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi siswa berarti mengubah peran
guru dari bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa
memperoleh pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada (Sten, 1998 :
224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan oleh guru akan
menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh dan mengolah perolehan
belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa, guru
dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut:
1)
Menggunakan multimetode dan multimedia.
2)
Memberikan tugas secara individual dan kelompok.
3)
Memberikan
kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil (beranggota
tidak lebih dari 3 orang).
4) Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar,
mencatat hal-hal yang kurang jelas, serta
5)
Mengadakan tanya jawab dan diskusi.
3)
Keterlibatan langsung
Dalam
belajar melalui pengamatan langsung, siswa tidak sekedar mengamati secara
langsung tetapi harus menghayati, berbuat dan bertanggung jawab terhadap
hasilnya. Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John
Dewey dengan “learning by doing”, belajar harus dilakukan oleh siswa melalui
perbuatan langsung. Keterlibatan siswa dalam belajar meliputi keterlibatan
fisik dan mental emosional.
Keterlibatan
langsung/berpengalaman adalah
merupakan Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip
keterlibatan langusng bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan
lapangan bola voli, siswa melakukan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk
membuat laporan, siswa membaca puisi di depan kelas dan perilaku sejenis
lainnya. Perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar
pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa.
Untuk
dapat melibatkan siswa secara fisik, mental emosional dan intelektual dalam
kegiatan pembelajaran, maka guru hendaknya merancang dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dan karakteristik isi
pelajaran.
Perilaku
siswa sebagai implikasi prinsip keterlibatan
langusng/berpengalaman diantaranya adalah:
1)
Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual
dan kelompok kecil.
2)
Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi.
3)
Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.
4)
Memberikan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakan psikomotorik yang dicontohkan.
5)
Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi di luar kelas
atau luar sekolah.
6) Melibatkan siswa dalam merangkum atau
menyimpulkan informasi pesan pembelajaran.
Implikasi
lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah
kemampuan guru untuk bertindak sebagai manajer/pengelola kegiatan pembelajaran
yang mampu mengarahkan, membimbing dan mendorong siswa ke arah tujuan
pengajaran yang ditetapkan.
4)
Pengulangan
Pengulangan; pembelajaran adalah merupakan Implikasi
adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia
mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam
permasalahan.Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi
prinsip pengulangan diantaranya adalah mennghapal unsur-unsur kimia setiap
valensi, mengerjakan soal-soal latihan, menghapal nama-nama latin tumbuhan,
atau menghapal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.
Implikasi
prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan
pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang tidak
membutuhkan pengulangan karena tidak semua pesan pembelajaran membutuhkan
pengulangan. Pengulangan terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan pembelajaran yang
harus dihapalkan secara tetap tanpa ada kesalahan sedikit pun. Pengulangan juga
diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang membutuhkan latihan. Perilaku
guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan adalah:
1)
Merancang pelaksanaan pengulangan.
2)
Mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan.
3)
Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang.
4)
Mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan, dan
5)
Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.
Menurut
teori psikologi, daya belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada diri
seseorang. Daya-daya tersebut terdiri dari daya mengamati, menanggapi, merasa,
berpikir dan sebagainya. Dengan pengulangan-pengulangan maka daya tersebut
menjadi berkembang.
5). Tantangan
Tantangan ; merupakan Implikasi dari prinsip tantangan bagi siswa
adalah tuntunan yang dimilikinya
kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh,
memproses dan mengolah pesan. Siswa juga harus memiliki keingintahuan yang
besar terhadap segala permasalahan yang dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku
siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah
melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau
mencari tahu pemecahan suatu masalah. Apabila
guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus
memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Tantangan dalam
kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan
dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku guru
yang merupakan implikasi prinsip tantangan adalah:
1)
Implikasi dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3-4
orang)
2)
Memberikan tugas kepada siswa untuk memecahkan masalah yang membutuhkan
informasi dari orang lain di luar sekolah sebagai sumber informasi.
3)
Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai
disajikan.
4)
Mengembangkan bahan pembelajaran (teks, hand out, modul dan lainnya) yang
memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapatkan tantangan di dalamnya, sehingga
tidak harus semua pesan pembelajaran disajikan secara detail tanpa memberikan
kesempatan siswa mencari dari sumber lain.
5)
Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip dan generalisasi
sendiri.
6)
Guru merancang dan mengelola kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan
masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi.
Dalam
situasi belajar, siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi
kadang-kadang terdapat hambatan. Agar para siswa timbul motif untuk mengatasi
hambatan dengan baik, maka bahan ajar haruslah menantang, misalnya: bahan
pelajaran yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa
tertantang untuk mempelajarinya, selain itu siswa diberi kesempatan untuk
menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi.
6). Balikan dan penguatan
1. Balikan
dan penguatan: Untuk memperoleh balikan penguatan
bentuk-bentuk perilaku siswa di antaranya adalah dengan segera mencocokkan
jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang
dicapai, atau menerima teguran dari guru/orang tua karena hasil belajar yang
jelek.
2. Guru
sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara
serta kapan balikan dan penguatan diberikan.Agar balikan dan penguatan bermakna
bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi prinsip
balikan dan penguatan bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang diantaranya
adalah:
1)
Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah
dijawab siswa secara benar ataupun salah.
2)
Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu
yang telah ditentukan.
3)
Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan,
klipping pekerjaan rumah), berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja
pembelajaran.
4)
Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru,
disertai skor dan catatan-catatan bagi pebelajar.
5)
Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa
berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
6)
Memberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang
menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7)
Memberikan hadiah/ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.
Berdasarkan
teori belajar yang dikemukakan Thorndike dengan teorinya “Law of effect” dalam
hal ini siswa akan lebih bersemangat belajar apabila mengetahui dan mendapat
hasil yang baik. Hasil yang baik akan menjadikan balikan yang menyenangkan dan
berpengaruh baik pada usaha belajar selanjutnya. Namun, dorongan belajar itu
menurut Skinner tidak oleh penguatan yang menyenangkan, tetapi juga yang tidak
menyenangkan. Siswa yang belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang
baik dalam ulangan, nilai yang baik itu mendorong siswa untuk belajar lebih
giat lagi (penguatan positif). Sebaliknya, siswa yang mendapatkan nilai yang
jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, sehingga
mendorongnya untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang jelek dan takut tidak
naik kelas bias juga mendorong siswa untuk belajar lebih giat lagi (penguatan
negatif).
7). Perbedaan individual
Perbedaan
individu merupakan implikasi
dari setiap siswa karena memiliki
karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Kesadaran
bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain akan membantu siswa menentukan cara
belajar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri.
Perbedaan
individual berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Perbedaan tersebut
terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya. Umumnya pembelajaran yang bersifat
klasikal mengabaikan perbedaan individual siswa karena pada pembelajaran secara
klasikal, siswa dilihat sebagai individu dengan kemampuan rata-rata. Untuk itu
pembelajaran secara klasikal diupayakan menggunakan metode dan media secara
bervariasi sehingga dapat memenuhi karakteristik siswa. Selain itu, tugas-tugas
hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa, sehingga siswa yang
pandai, sedang dan kurang akan merasakan berhasil di dalam belajar.
Guru
sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran dituntut untuk memberikan perhatian
kepada semua keunikan yang melekat pada tiap siswa. Guru harus mampu melayani
setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang. Implikasi prinsip
perbedaan individual bagu guru berwujud perilaku-perilaku yang diantaranya
adalah:
1)
Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan
siswa sesuai karakteristiknya.
2)
Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran.
3)
Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan
pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan, dan
4)
Memberikan remediasi ataupun penanyaan kepada siswa yang membutuhkan,
5)
Mengembangkan prinsip
pembelajaran terpadu.
Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran
terpadu yaitu meliputi :
1) prinsip
penggalian tema,
2) prinsip
pelaksanaan pembelajaran terpadu,
3) prinsip evaluasi
dan
4) prinsip reaksi.
1. Prinsip penggalian tema antara lain :
1).
Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan
banyak bidang studi,
2).
Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus
memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya
3).
Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.
4).
Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak,
5).
Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang
terjadi dalam rentang waktu belajar,
6)
Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta
harapan dari masyarakat,
7).
Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
2. Prinsip pelaksanaan terpadu di
antaranya :
1)
guru hendaknya jangan menjadi “single
actor “ yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar,
2) pemberian tanggung jawab individu dan kelompok
harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasarna kelompok,
3)
guru perlu akomodatif terhadap ide-ide
yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam poses perencanaan.
3. Prinsip evaluatif adalah :
1). memberi
kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk
evaluasi lainnya,
2)
guru
perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai
berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam
kontrak.
4. Prinsip
reaksi adalah:
Dampak pengiring yang penting bagi perilaku siswa
secara sadar belum tersentuh sepenuhnya oleh guru dalam kegiatan
belajar mengajar. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan
dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan
pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua “event “
yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan
bermakna.
Waktu pembelajaran
terpadu bisa bermacam-macam yaitu :
1)
pembelajaran
terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu apabila materi yang
dijalankan cocok sekali diajarkan secara terpadu;
2)
Pembelajaran
terpadu bersifat temporer, tanpa kepastian waktu dan bersifat situasional,
dimana pelaksanaannya tidak mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan
pembalajaran terpadu secara spontan memiliki karakteristik dengan kegiatan
belajar sesuai kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan mata
pelajaran. Walaupun demikian guru
tetap harus merencanakan keterkaitan konseptual atau antar pelajaran, dan model
jaring laba-laba memungkinkan dilaksanakan dengan pembelajaran terpadu secara
spontan (tim pengembang PGSD, 1996);
3)
Ada
pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu secara periodik, misalnya setiap
akhir minggu, atau akhir catur wulan. Waktu-waktunya telah dirancang secara
pasti;
4) Ada
pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu sehari penuh. Selama satu hari
tidak ada pembelajaran yang lain, yang ada siswa belajar dengan yang
diinginkan. Siswa sibuk dengan urusannya masing-masing.
Pembelajaran
ini dikenal dengan istilah “integrated day “ atau hari terpadu. Diawali dengan
kegiatan pengelolaan kelas yang meliputi penyiapan aspek-aspek kegiatan
belajar, alat-alat, media dan peralatan lainnya yang dapat menunjang
terlaksananya pembelajaran terpadu. Dalam tahap perencanaan guru memberikan
arahan kepada murid tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, cara pelaksanaan
kegiatan, dan cara siswa memperoleh bantuan guru.
Implikasi
dari pembelajaran terpadu, bentuk hari terpadu, guru harus menentukan waktu
maupun jumlah hari untuk pelaksanaan kegiatan tersebut dan dapat diisi dengan
kegiatan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba; Pembelajaran terpadu yang
terbentuk dari tema sentral.
Implementasinya
menuntut dilakukannya pengorganisasian kegiatan yang telah terstruktur.
Pengorganisasian pada awal kegiatan mencakup penentuan tema dengan
mempertimbangkan alat, bahan, dan sumber yang tersedia, jenis kegiatan serta
cara guru membantu siswa. Untuk pelaksanaanya guru bekerjasama dengan guru
kelas lainnya dalam merancang kegiatan belajar mengajar dengan memilih tema sentral
transportasi dalam kehidupan Dalam tulisan ini, bentuk pembelajaran terpadu
dilaksanakan secara periodik.
C. PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Tugas guru mengelola pembelajaran agar lebih baik,
efektif, dinamis, efisien, ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara
aktif, mengalami, serta memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Ada
beberapa prinsip Pengelolaan Pembelajaran diantaranya
adalah:
1. Prinsip
Aktivitas
Pengalaman belajar yang baik hanya bisa didapat bila
peserta didik mau mengaktifkan dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap
lingkungan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik
aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik
giat dan aktif dengan anggota badan.
2. Prinsip
Motivasi
Motivasi berasal kata motive–motivation yang
berarti dorongan atau keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik)
maupun dorongan dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga
disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri
individu atau siswa, yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu
tujuan.
3. Prinsip
Individualitas (Perbedaan Individu)
Setiap manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian
dan kejiwaan yang khas. Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas
sangat penting diperhatikan karena:
a. Setiap anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang
berbeda
b. Setiap individu berbeda cara belajarnya
c. Setiap individu mempunyai minat khusus yang berbeda
d. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda
e. Setiap individu membutuhkan bimbingan khusus dalam
menerima pelajaran yang diajarkan guru sesuai dengan perbedaan individual
f. Setiap individu mempunyai irama pertumbuhan dan
perkembangan yang berbeda
Maksud dari
irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda adalah bahwa siswa belajar
dalam kelas dalam usia perkembangan. Masing-masing siswa tidak sama
perkembangannya, ada yang cepat ada yang lambat maka guru harus bersabar dalam
tugas pelayanan belajar pada anak didiknya.
4. Prinsip
Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu hal yang berada di luar diri
individu. Lingkungan pengajaran adalah segala hal yang mendukung pengajaran itu
sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pengajaran atau sumber belajar.
Diantaranya; guru, buku, dan bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar.
5. Prinsip
Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan secara penuh terhadap
sesuatu yang sedang dikerjakan atau berlangsungnya suatu peristiwa. Konsentrasi
sangat penting dalam segala aktivitas, terutama aktivitas belajar mengajar.
6. Prinsip
Kebebasan
Prinsip kebebasan dalam pengajaran yang dimaksud adalah
kebebasan yang demokratis, yaitu kebebasan yang diberikan kepada peserta didik
dalam aturan dan disiplin tertentu. Dan disiplin
merupakan suatu dimensi kebebasan dalam proses penciptaan situasi pengajaran. Seorang guru dituntut berusaha bagaimana
menerapkan suatu metode mengajar yang dapat mengembangkan dimensi-dimensi
kebebasan self direction, self discipline,dan self control.
7. Prinsip
Peragaan
Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Peragaan
adalah menggunakan alat indera untuk mengamati, meneliti, dan memahami sesuatu.
Pemahaman yang mendalam akan lahir dari analisa yang komprehensif sehingga
menghasilkan gambaran yang lengkap tentang sesuatu.
Agar siswa dapat mengingat, menceritakan, dan
melaksanakan suatu pelajaran yang pernah diamati, diterima, atau dialami di
kelas, maka perlu didukung dengan peragaan-peragaan (media pengajaran) yang
bisa mengkonkritkan yang abstrak.
8. Prinsip
Kerjasama Dan Persaingan
Kerjasama dan persaingan adalah dua hal berbeda. Namun
dalam dunia pendidikan (prinsip pengajaran) keduanya bisa bernilai positif
selama dikelola dengan baik. Persaingan yang dimaksud bukan persaingan untuk
saling menjatuhkan dan yang lain direndahkan, tetapi persaingan yang dimaksud
adalah persaingan dalam kelompok belajar agar mencapai hasil yang lebih tinggi
tanpa menjatuhkan orang atau siswa lain.
9. Prinsip
Apersepsi
Apersepsi berasal dari kata ”Apperception” berarti
menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang
telah dimiliki. Atau kesadaran seseorang untuk berasosiasi dengan kesan-kesan
lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan
yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi.
Apersepsi dalam pengajaran adalah menghubungan pelajaran
lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik
mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru.
10. Prinsip
Korelasi
Korelasi yaitu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan
anak atau dengan pelajaran lain sehingga pelajaran itu bermakna baginya. Korelasi akan
melahirkan asosiasi dan apersepsi sehingga dapat membangkitkan minat siswa pada
pelajaran yang disampaikan.
11. Prinsip
Efisiensi dan Efektifitas
Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah
bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi
waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak
bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya. Jadi semua aspek pengajaran (guru
dan peserta didik) menyadari bahwa pengajaran yang ada dalam kurikulum
mempunyai manfaat bagi siswa pada masa mendatang.
12. Prinsip
Globalitas
Prinsip global atau integritas adalah keseluruhan yang
menjadi titik awal pengajaran. Memulai materi pelajaran dari umum ke yang
khusus. Dari pengenalan sistem kepada elemen-elemen sistem. Pendapat ini
terkenal dengan Psikologi Gestalt bahwa totalitas lebih memberikan sumbangan
berharga dalam pengajaran.
13. Prinsip
Permainan dan Hiburan
Setiap individu atau peserta didik sangat membutuhkan
permainan dan hiburan apalagi setelah terjadi proses belajar mengajar. Bila
selama dalam kelas siswa diliputi suasana hening, sepi, dan serius, akan
membuat peserta didik cepat lelah, bosan, butuh istirahat, rekreasi, dan
semacamnya. Maka guru disarankan agar memberikan kesempatan kepada anak didik
bermain, menghibur diri, bergerak, berlari-lari, dan sejenisnya untuk
mengendorkan otaknya.
D. PRINSIP PEMBELAJARAN
BERDASARKAN CARA BERFIKIR ANAK
Beberapa
prinsip pembelajaran berdasarkan cara berfikir anak, khususnya yang terkait
dengan hubungan sebab-akibat.
1.
Konktret dan dapat dilihat langsung
Anak
dapat dilatih untuk membuat hubungan sebab-akibat jika dapat dilihat secara
langsung. Misalnya dengan menggunakan neraca atau timbangan, anak dapat melihat
dengan percobaan air mengalir dalam pipa, anak dapat melihat kenaikan pipa dan
arah aliran air. dalam proses belajar hendaknya anak dapat berinteraksi dengan
benda-benda, bermain, dan melakukan eksplorasi agar mereka memperoleh
pengalaman langsung.
2.
Bersifat bengalaman
Pembelajaran
hendaknya menekankan pada proses mengenalkan anak dengan berbagai benda,
fenomena alam, dan fenomena sosial. Fenomena tersebut akan mendorong anak
tertarik terhadap berbagai persoalan, sehingga ia ingin belajar lebih lanjut.
Guru hendaknya tidak memaksa anak untuk dapat berfikir logis dan rasional
sebagaimana orang dewasa untuk mengambil kesimpulan dari fenomena tersebut.
3.
Seimbang antara kegiatan fisik dan mental
Dalam
pembelajaran sains kegiatan anak berinteraksi dengan benda dikenal dengan hans
on science. Anak dapat menggunakan kelima indranya untuk melakukan observasi
terhadap berbagai benda, gejala benda dan gejala peristiwa. Selanjutnya guru
dapat memberikan pertanyaan untuk menstimulasi anak agar dapat berfikir lebih
jauh berdasarkan hasil pengindraanya. Proses berfikir tersebut dikenal dengan
minds-on. Oleh karena itu sebaiknya guru mendesain kegiatan pembelajaran sedemikian
rupa agar kegiatan hands-on dan minds-on dapat seimbang.
4.
Berhati-hati dengan pertanyaan “mengapa”
Pada
orang dewasa, pertanyaan mengapa biasanya harus dijawab dengan suatu konsep
atau hubungan sebab akibat yang masuk akal atau “ilmiah”. Bagi anak usia dini,
kemampuan menjawab dengan hubungan sebab-akibat belum berkembang, pertanyaan
“mengapa” sering di artikan “untuk apa” sehingga jawabannya bukan hubungan
sebab-akibat, melainkan hubungan fungsional.
Pertanyaan “mengapa
air sungai mengalir ke laut?” mungkin akan dijawab anak dengan jawaban “agar
laut tidak kering”.
5.
Sesuai tingkat perkembangan anak
Pembelajaran
untuk anak usia dini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, baik
usia maupun dengan kebutuhan individual anak. Pada umumnya, anak normal pada
usia yang sama memiliki tingkat perkembangan yang sama. Oleh karena itu,
pembelajaran anak usia dini harus disesuaikan baik lingkup maupun tingkat
kesulitannya dengan kelompok usia anak.
6.
Sesuai kebutuhan individual
Selain
disesuaikan dengan kelompok usia anak, pembelajaran anak usia dini perlu
memperhatikan kebutuhan individual. Disadari sepenuhnya bahwa anak pada
dasarnya unik, ia memiliki karakteristik, bakat, minat sendiri yang berbeda
dengan anak yang lain. Oleh karena itu, pembelajaran, selain memperhatikan
kelompok usia juga harus memperhatikan kebutuhan individual, seperti bakat,
minat, dan tingkat kecerdasan anak.
7.
Mengembangkan kecerdasan
Pembelajaran
anak usia dini hendaknya tidak menjejali anak dengan hafalan, tetapi
mengembangkan kecerdasaanya. Penelitian di bidang neuroscience (ilmu tentang
saraf) menemukan bahwakecerdasan sangat dipengaruhi oleh banyaknya sel saraf
otak, hubungan antar sel saraf otak, dan keseimbangan kinerja otak kanan dan
otak kiri. Pada saat lahir sel otak sudah terbentuk semua yang jumlahnya
mencapai 100-200 miliar, dimana setiap sel dapat membuat hubungan dengan 20.000
sel saraf otak lainnya, atau dengan kata lain dapat membentuk kombinasi 100
miliar x 20.000. Oleh karena itu, anak usia (0-8 Tahun) merupakan usia yang
sangat kritis bagi pengembangan kecerdasan anak. Sayangnya, banyak guru, orang
tua, dan pendidik anak usia dini yang “mengunci mati” sel otak tersebut untuk
menjalankan fungsi kapasitasnya yang tak terhingga (unlimited capacity to
learn) (Semiawan, 4004). Oleh karena itu guru dan orang tua perlu memahami
teknik stimulasi otak yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan anak, bukan
sekedar menjejali anak dengan informasi hafalan.
8.
Sesuai keragaman belajar
anak
Tipe
kecerdasan dan modalitas belajar yang berbeda menyebabkan anak-anak belajar
dengan cara yang berbeda. Selain tipe kecerdasan, cara anak belajar juga
dipengaruhi oleh modalitas belajarnya. Bagi anak yang memiliki kecerdasan
kinestetik dan memiliki indera peraba yang baik, ia lebih baik belajar dengan
cara membongkar pasang, mengamati, dan menyentuh objek yang dipelajari.
Sebaliknya bagi anak yang memiliki kemampuan pendengaran baik, ia belajar
secara auditif. Sedangkan anak yang memiliki modalitas penglihatan, ia akan
belajar secara visual, seperti membaca dan mengamati gambar.
9.
Kontekstual dan multikonteks
Pembelajaran
anak usia dini harus kontekstual dan menggunakan banyak konteks. Apa yang
dipelajari anak adalah persoalan nyata sesuai dengan kondisi dimana siswa
berada. Berbagai objek yang ada disekitar siswa, kejadian, dan isu-isu yang
menarik dapat diangkat sebagai tema persoalan belajar.
10.
Terpadu
Pembelajaran
anak usia dini sebaiknya bersifat terpadu atau terintegrasi. Anak tidak belajar
mata pelajaran tertentu, seperti IPA, Matematika, Bahasa secara terpisah,
tetapi fenomena dan kejadian yang ada disekitarnya. Melalui bermain dengan air
anak dapat belajar berhitung (matematika), mengenal sifat-sifat air (IPA),
menggambar air mancur (seni), dan fungsi air untuk kehidupan (IPS).
11.
Menggunakan esensi bermain
Pembelajaran
anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi.
Pembelajaran disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan dan demokratis,
sehingga anak tertarik untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Esensi bermain meliputi perasaan yang menyenangkan, merdeka, bebas memilih, dan
merangsang anak terlibat aktif. Jadi prinsip bermain sambil belajar mengandung
arti bahwa setiap kegiatan pembelajaran harus menyenangkan, gembira, aktif dan
demokratis.
12.
Belajar kecakapan hidup
Pendidikan
anak usia dini mengembangkan diri anak secara menyeluruh (the whole child).
Berbagai kecakapan dilatihkan agar anak kelak menjadi manusia seutuhnya. Bagian
dari diri anak yang dikembangkan meliputi bidang fisik-motorik, intelektual,
moral, sosial, emosi, kreativitas, dan bahasa. Tujuannya ialah agar kelak anak
berkembang menjadi manusia yang utuh yang memiliki kepribadian dan akhlak yang
mulia, cerdas dan terampil, mampu bekerja sama dengan orang lain, mampu hidup
berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
13.
Belajar dari benda konkret
Mengajarkan
angka 1, 2, dan 3 akan lebih baik jika berkoresponden dengan benda, misalnya 1
dengan 1 biji, 2 dengan 2 biji dan 3 dengan 3 biji. Perkembangan indranya yang
pesat dan tenaganya yang tak pernah habis memungkinkan anak-anak pada tahap ini
untuk selalu bergerak, membongkar pasang sesuatu, dan menyelidiki sesuatu.
E. PRINSIP- PRINSIP GURU DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN
1. Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah
dimiliki siswa.
Tingkat
kemampuan/pengalaman siswa itu berbeda antara siswa yang satu dengan siswa
lainnya. Maka dari itu, seorang guru harus mengetahui tingkat
kemampuan/pengalaman siswa sebelum dia melakukan pembelajaran. Untuk mengetahui
pengalaman siswa, guru dapat melakukan pre-test. Agar proses
pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
2. Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan harus
bersifat praktis.
Dengan
mengaitkan setiap materi pembelajaran dengan situasi kehidupan yang bersifat
praktis, dapat memunculkan arti materi pembelajaran tersebut bagi diri siswa
sendiri. Dengan merasakan bahwa materi pembelajaran itu berarti atau bermakna,
muncul rasa ingin mengetahui atau memiliki.
3. Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual
setiap siswa.
Setiap
individu mempunyai kemampuan potensial yang berbeda antara siswa yang satu
dengan siswa lainnya. Apa yang dapat dipelajari seseorang secara cepat, mungkin
tidak dapat dilakukan oleh yang lain dengan cara yang sama. Oleh karena itu,
mengajar harus memperhatikan perbedaan tingkat kemampuan masing-masing siswa.
4. Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan
landasan dalam mengajar.
Kesiapan
adalah kapasiti (kemampuan potensial) baik bersifat fisik maupun mental untuk
melakukan sesuatu perbuatan, khususnya melakukan proses belajar disertai
harapan ketrampilan yang dimiliki dan latar belakang untuk mengerjakan sesuatu.
Jika siswa siap untuk melakukan proses belajar, hasil belajar dapat diperoleh
dengan baik. Sebaliknya, jika tidak siap, tidak akan diperoleh hasil yang baik.
5. Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa.
Tujuan
pelajaran merupakan rumusan tentang perubahan perilaku yang akan diperoleh
setelah proses pembelajaran. Jika tujuan diketahui, siswa mempunyai motivasi
untuk belajar. Agar tujuan pembelajaran mudah diketahui, maka harus dirumuskan
secara khusus.
6. Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang
belajar.
Belajar
itu harus bertahap dan meningkat. Mengajar harus mempersiapkan materi
pembelajaran yang bersifat gradual, yaitu dari sederhana kepada yang kompleks
(rumit), konkrit kepada yang abstrak, umum (general) kepada yang kompleks, dari
yang sudah diketahui kepada yang tidak diketahui (konsep yang bersifat
abstrak), induksi kepada deduksi atau sebaliknya, dan sering menggukana reinforcement
(penguatan).
Prinsip guru dalam menghadapi pelaksanaan pembelajaran siswa sebenarnya, prinsip-prinsip yang dimaksud dapat kita jumpai dalam
berbagai sumber kepustakaan psikologi. Namun untuk mudahnya, dalam pembahasan
ini akan dikemukakan prinsip-prinsip belajar yang diintisarikan oleh Rothwal
(1961) sebagai berikut:
1.
Prinsip Kesiapan (Readiness)
Proses
belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan atau readiness
ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal
itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus.
Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar
akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah
kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil
belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan
seseorang dapat belajar.
Berdasarkan
dengan prinsip kesiapan ini dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
1. Seorang individu
akan dapat belajar dengan sebaik-baiknya bila tugas-tugas yang diberikan
kepadanya erat hubungannya dengan kemampuan, minat dan latar belakangnya.
2. Kesiapan untuk belajar
harus dikaji bahkan diduga. Hal ini mengandung arti bila seseorang guru ingin
mendapat gambaran kesiapan muridnya untuk mempelajari sesuatu, ia harus
melakukan pengetesan kesiapan.
3. Jika seseorang
individu kurang memiliki kesiapan untuk sesuatu tugas, kemudian tugas itu
seyogianya ditunda sampai dapat dikembangkannya kesiapan itu atau guru sengaja
menata tugas itu sesuai dengan kesiapan siswa.
4. Kesiapan untuk
belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan, misalnya dua orang siswa yang
memiliki kecerdasan yang sama mungkin amat berbeda dalam pola kemampuan
mentalnya.
5. Bahan-bahan,
kegiatan dan tugas seyogianya divariasikan sesuai dengan faktor kesiapan
kognitif, afektif dan psikomotor dari berbagai individu.
2.
Prinsip Motivasi (Motivation)
Tujuan
dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu
kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu
dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan
melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini
seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk
semua anak.
Berkenaan
dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang seyogianya kita perhatikan.
- Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan biologi, soaial dan emosional. Tetapi disamping itu ia dapat diberi dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini.
- Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha. Pengalaman tentang kegagalan yang tidak merusak citra diri siswa dapat memperkuat kemampuan memelihara kesungguhannya dalam belajar.
- Dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi para siswa. Contohnya seorang murid yang mengharapkan bantuan dari gurunya bisa berubah lebih dari itu, karena kebutuhan emosi terpenuhi daripada karena keinginan untuk mencapai seauatu.
- Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah.
- Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Kegagalan dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi tergantung pada berbagai faktor. Tidak bisa setiap siswa diberi dorongan yang sama untuk melakukan sesuatu.
- Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
- Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku.
- Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar.
- Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan.
- Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan.
- Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi.
3.
Prinsip Persepsi
“ Seseorang
cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaimana ia memahami situasi”. Persepsi
adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia
dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi
perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami murid-muridnya lebih baik
bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu.
Berkenaan
dengan persepsi ini ada beberapa hal-hal penting yang harus kita perhatikan:
1. Setiap pelajar
melihat dunia berbeda satu dari yang lainnya karena setiap pelajar memiliki
lingkungan yang berbeda. Semua siswa tidak dapat melihat lingkungan yang sama
dengan cara yang sama.
2. Seseorang
menafsirkan lingkungan sesuai dengan tujuan, sikap, alasan, pengalaman,
kesehatan, perasaan dan kemampuannya.
3. Cara bagaimana
seseorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya. Dalam sesuatu
situais seorang pelajar cenderung bertindak sesuai dengan cara ia melihat
dirinya sendiri..
4. Para pelajar
dapat dibantu dengan cara memberi kesempatan menilai dirinya sendiri. Guru
dapat menjadi contoh hidup. Perilaku yang baik bergantung pada persepsi yang
cermat dan nyata mengenai suatu situasi. Guru dan pihak lain dapat membantu
pelajar menilai persepsinya.
5. Persepsi dapat
berlanjut dengan memberi para pelajar pandangan bagaimana hal itu dapat dilihat
.
6. Kecermatan
persepsi harus sering dicek. Diskusi kelompok dapat dijadikan sarana untuk
mengklasifikasi persepsi mereka.
7. Tingkat
perkembangan dan pertumbuhan para pelajar akan mempengaruhi pandangannya
terhadap dirinya.
4. Prinsip Tujuan
“ Tujuan
harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh para pelajar pada saat
proses belajar terjadi”. Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh
seseorang dan mengenai tujuan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Tujuan
seyogianya mewadahi kemampuan yang harus dicapai.
2. Dalam menetapkan
tujuan seyogianya mempertimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat
3. Pelajar akan
dapat menerima tujuan yang dirasakan akan dapat memenuhi kebutuhannya.
4. Tujuan guru dan
murid seyogianya sesuai
5. Aturan-aturan
atau ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat dan pemerintah biasanya akan
mempengaruhi perilaku.
6. Tingkat
keterlibatan pelajar secara aktif mempengaruhi tujuan yang dicanangkannya dan
yang dapat ia capai.
7. Perasaan pelajar
mengenai manfaat dan kemampuannya dapat mempengaruhi perilaku. Jika ia gagal
mencapai tujuan ia akan merasa rendah diri atau prestasinya menurun.
8. Tujuan harus
ditetapkan dalam rangka memenuhi tujuan yang nampak untuk para pelajar. Karena
guru harus dapat merumuskan tujuan dengan jelas dan dapat diterima para
pelajar.
5.
Prinsip Perbedaan Individual
“Proses belajar bercorak ragam bagi setiap orang”
Proses pengajaran seyogianya memperhatikan perbedaan
indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan
belajar yang setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan
sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru
perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan
menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek
tersebut.
Berkenaan dengan perbedaan individual ada beberapa hal yang perlu diingat:
- Para pelajar harus dapat dibantu dalam memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan kegiatan, tugas belajar dan pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda.
- Para pelajar perlu mengenal potensinya dan seyogianya dibantu untuk merenncanakan dan melaksanakan kegiatannya sendiri.
- Para pelajar membutuhkan variasi tugas, bahan dan metode yang sesuai dengan tujuan , minat dan latarbelakangnya.
- Pelajar cenderung memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan pengalamannya masa lampau yang ia rasakan bermakna untuknya. Setiap pelajar biasanya memberi respon yang berbeda-beda karena memang setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai pengalamannya.
- Kesempatan-kesempatan yang tersedia untuk belajar lebih diperkuat bila individu tidak merasa terancam lingkungannya, sehingga ia merasa merdeka untuk turut ambil bagian secara aktif dalam kegiatan belajar. Manakala para pelajar memiliki kemerdekaan untuk berpikir dan berbuat sebagai individu, upaya untuk memecahkan masalah motivasi dan kreativitas akan lebih meningkat.
- Pelajar yang didorong untuk mengembangkan kekuatannya akan mau belajar lebih giat dan sungguh-sungguh. Tetapi sebaliknya bila kelemahannya yang lebih ditekankan maka ia akan menunjukkan ketidakpuasannya terhadap belajar.
6.
Prinsip Transfer dan Retensi
“Belajar
dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar
dalam situasi baru”.
Apa pun yang
dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang
lain. Prosesa tersebut dikenal dengan proses transfer, kemampuan
seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.
Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam
situasi baru.
Berkenaan
dengan proses transfer dan retensi ada beberapa prinsip yang harus kita ingat.
- Tujuan belajar dan daya ingat dapat memperkuat retensi. Usaha yang aktif untuk mengingat atau menugaskan sesuatu latuhan untuk dipelajari dapat meningkatkan retensi.
- Bahan yang bermakna bagi pelajar dapat diserap lebih baik.
- Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis dimana proses belajar itu terjadi. Karena itu latihan seyogianya dilakukan dalam suasana yang nyata.
- Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang baik. Suasana belajar yang dibagi ke dalam unit-unit kecil waktu dapat menghasilkan proses belajar dengan retensi yang lebih baik daripada proses belajar yang berkepanjangan. Waktu belajar dapat ditentukan oleh struktur-struktur logis dari materi dan kebutuhan para pelajar.
- Penelaahan bahan-bahan yang faktual, keterampilan dan konsep dapat meningkatkan retensi dan nilai transfer.
- Proses belajar cenderung terjadi bila kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang memuaskan.
- Sikap pribadi, perasaan atau suasana emosi para pelajar dapat menghasilkan proses pelupaan hal-hal tertentu. Karena itu bahan-bahan yang tidak disepakati tidak akan dapat diserap sebaik bahan-bahan yang menyenangkan.
- Proses saling mempengaruhi dalam belajar akan terjadi bila bahan baru yang sama dipelajari mengikuti bahan yang lalu. Kemungkinan lupa terhadap bahan yang lama dapat terjadi bila bahan baru yang sama yang dituntut.
- Pengetahuan tentang konsep, prinsip dan generalisasi dapat diserap dengan baik dan dapat diterapkan lebih berhasil dengan cara menghubung-hubungkan penerapan prinsip yang dipelajari dan dengan memberikan illustrasi unsur-unsur yang serupa.
- Transfer hasil belajar dalam situasi baru dapat lebih mendapat kemudahan bila hubungan-hubungan yang bermanfaat dalam situasi yang khas dan dalam situasi yang agak sama dibuat.
- Tahap akhir proses seyogyanya memasukkan usaha untuk menarik generalisasi, yang pada gilirannya nanti dapat lebih memperkuat retensi dan transfer.
7.
Prinsip Belajar Kognitif
“Belajar kognitif
melibatkan proses pengenalan dan atau penemuan”. Belajar kognitif mencakup
asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan
memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar,
menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan
proses belajar kognitif. Proses belajar itu dapat terjadi pada berbagai tingkat
kesukaran dan menuntut berbagai aktivitas mental.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar kognitif.
1. Perhatian harus dipusatkan kepada aspek-aspek lingkungan yang relevan
sebelum proses-proses belajar kognitif terjadi. Dalam hubungan ini pelajar
perlu mengarahkan perhatian yang penuh agar proses belajar kognitif benar-benar
terjadi.
2. Hasil belajar kognitif akan bercariasi sesuai dengan taraf dan jenis
perbedaan individual yang ada.
3. Bentuk-bentuk kesiapan perbendaharaan kata, kemampuan membaca, kecakapan
dan pengalaman berpengaruh langsung terhadap proses belajar kognitif.
4. Pengalaman belajar harus diorganisasikan ke dalam satuan-satauan atau
unit-unit yang sesuai.
5. Bila menyajikan konsep, kebermaknaan dari konsep amatlah penting . Perilaku
mencari, penerapan, pendefinisian resmi dan penilaian sangat diperlukan untuk
menguji bahwa suatu konsep benar-benar bermakna.
6. Dalam pemecahan masalah para pelajar harus dibantu untuk mendefinisikan dan
membatasi lingkup masalah, menemukan informasi yang sesuai, menafsirkan dan
menganalisis masalah dan memungkinkan berpikir menyebar (divergent thinking).
7. Perhatian terhadap proses mental yang lebih daripada terhadap hasil
kognitif dan afektif akan lebih memungkinkan terjadimya proses pemecahan
masalah, analisis, sintesis dan penalaran.
8. Prinsip
Belajar Afektif
“
Proses belajar afektif seseorang menentukn bagaimana ia menghubungkan dirinya
dengan pengalaman baru”.
Belajar
afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam banyak hal
pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses belajar
afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari sikap, emosi
dorongan, minat dan sikap individu.
Berkenaan dengan
hal-hal tersebut diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses
belajar afektif.
- Hampir semua aspek kehidupan mengandung aspek afektif.
- Hal bagaimana para pelajar menyesuaikan diri dan memberi reaksi terhadap situasi akan memberi dampak dan pengaruh terhadap proses belajar afektif.
- Suatu waktu, nilai-nilai yang penting yang diperoleh pada masa kanak-kanak akan melekat sepanjang hayat. Nilai, sikap dan perasaan yang tidak berubah akan tetap melekat pada keseluruhan proses perkembangan.
- Sikap dan nilai sering diperoleh melalui proses identifikasi dari orang lain dan bukan hasil dari belajar langsung.
- Sikap lebih mudah dibentuk karena pengalaman yang menyenangkan.
- Nilai-nilai yang ada pada diri individu dipengaruhi oleh standar perilaku kelompok.
- Proses belajar di sekolah dan kesehatan mental memiliki hubungan yang erat. Pelajar yang memiliki kesehatan mental yang baik akan dapat belajar lebih mudah daripada yang memiliki masalah.
- Belajar afektif dapat dikembangkan atau diubah melalui interaksi guru dengan kelas.
- Pelajar dapat dibantu agar lebih matang dengan cara membantu mereka mengenal dan memahami sikap, peranan dan emosi. Penghargaan terhadap sikap, perasaan dan frustasi sangat perlu untuk membantu pelajar memperoleh pengertian diri dan kematangannya.
9.
Proses Belajar Psikomotor
Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana
ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya.
Belajar
psikomotor mengandung aspek mental dan fisik. Berkenaan dengan hal itu ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan.
- Didalam tugas suatu kelompok akan menunjukkan variasi dalam kemampuan dasar psikomotor.
- Perkembangan psikomotor anak tertentu terjadi tidak beraturan.
- Struktur ragawi dan sistem syaraf individu membantu menentukan taraf penampilan psikomotor.
- Melalui bermain dan aktivitas nonformal para pelajar akan memperoleh kemampuan mengontrol gerakannya lebih baik.
- Dengan kematangan fisik dan mental kemampuan pelajar untuk memadukan dan memperhalus gerakannya akan lebih dapat diperkuat.
- Faktor lingkungan memberi pengaruh terhadap bentuk dan cdakupan penampilan psikomotor individu.
- Penjelasan yang baik, demonstrasi dan partisipasi aktif pelajar dapat menambah efisiensi belajar psikomotor.
- Latihan yang cukup yang diberi dalam rentan waktu tertentu dapat membantu proses belajar psikomotor. Latihan yang bermakna seyogianya mencakup semua urutan lengkap aktivitas psikomotor dan tempo tidak bisa hanya didasarkan pada faktor waktu semata-mata.
- Tugas-tugas psikomotor yang terlalu sukar bagi pelajar dapat menimbulkan frustasi (keputusasaan) dan kelelahan yang lebih cepat.
10.
Prinsip Evaluasi
Jenis
cakupan dan validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan
selanjutnya.
Pelaksanaan
latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam
pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya dipengaruhi
oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu mengenai
penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang
berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya
dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai
pengalamannya.
Berkenaan
dengan evaluasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
- Evaluasi memberi arti pada proses belajar dan memberi arah baru pada pelajar.
- Bila tujuan dikaitkan dengan evaluasi maka peran evaluasi begitu penting bagi pelajar.
- Latihan penilaian guru dapat mempengaruhi bagaimana pelajar terlibat dalam evaluasi dan belajar.
- Evaluasi terhadap kemajuan pencapaian tujuan akan lebih mantap bila guru dan murid saling bertukar dan menerima pikiran, perasaan dan pengamatan.
- Kekurangan atau ketidaklengkapan evaluasi dapat mengurangi kemampuan guru dalam melayani muridnya. Sebaliknya evaluasi yang menyeluruh dapat memperkuat kemampuan pelajar untuk menilai dirinya.
- Jika tekanan evaluasi guru diberikan terus menerus terhadap penampilan siswa, pola ketergantungan penghindaran dan kekerasan akan berkembang.
- Kelompok teman sebaya berguna dalam evaluasi.
Setelah
anda membaca dan memahami prinsip-prinsip yang berkenaan dengan proses belajar
dan pengajaran, cobalah anda kerjakan latihandibawah ini. Denga demikian anda
akan dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip itu lebih jauh.
Bagaimana anda menerapkan prinsip-prinsip:
1. Kesiapan
2. Motivasi
3. Persepsi
4. Tujuan
5. Perbedaan
Individual
6. Transfer dan
Retensi
7. Belajar Kognitif
8. Belajar Afektif
9. Belajar
Psikomotor
10. Evaluasi
Untuk
memeriksa lebih jauh hasil anda bagian ini tidak disediakan kunci jawaban. Oleh
karena itu hasil latihan Anda sebaiknya Anda bandingkan dengan hasil latihan
anda. Diskusikanlah dengan kelompok untuk hal-hal berbeda dalam hasil latihan
itu. Dengan mengkaji hasil latihan itu, anda seyogianya selalu melihat rincian
prinsip-prinsip belajar dan pengajaran yang diuraikan sebelumnya. Jika terdapat
hal-hal yang tidak dapat diatasi dalam kelompok, bawalah persoalan tersebut ke
dalam pertemuan tutorial. Yakinlah dalam pertemuan tersebut anda akan dapat
memecahkan persoalan tersebut.
F. PENUTUP
Beberapa prinsip pembelajaran
dikemukakan oleh Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran Fillbeck (1974),
sebagai berikut :
1.
Respon-respon baru (new responses) diulang sebagai akibat dari respon yang
terjadi sebelumnya.
2.
Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga di bawah
pengaruh kondisi atau tanda-tanda dilingkungan siswa.
3.
Perilaku yang timbul oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang
frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan.
4. Belajar
yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada
situasi lain yang terbatas pula.
5. Belajar
menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang
kompleks seperti yang berkenaan dengan pemecahan masalah.
6. Situasi
mental siswa untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan
ketekunan siswa selama proses siswa belajar.
7.
Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan
balik menyelesaikan tiap langkah, akan membantu siswa.
8.
Kebutuhan memecah materi kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil dapat
dikurangi dengan mewujudkan dalam suatu model.
9.
Keterampilan tingkat tinggi (kompleks) terbentuk dari keterampilan dasar yang
lebih sederhana.
10.
Belajar akan lebih cepat, efisien, dan menyenangkan bila siswa diberi informasi
tentang kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya.
11.
Perkembangan dan kecepatan belajar siswa sangat bervariasi, ada yang maju
dengan cepat ada yang lebih lambat.
12. Dengan
persiapan, siswa dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan
belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat
respon yang benar.
Dalam buku
Condition of Learning, Gagne (1997) mengemukakan sembilan prinsip yang dapat
dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran, sebagai berikut:
1. Menarik
perhatian (gaining attention) : hal yang menimbulkan minat siswa dengan
mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi, atau kompleks.
2.
Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learner of the objectives) :
memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah selesai mengikuti
pelajaran.
3.
Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari (stimulating recall or
prior learning) : merangsang ingatan tentang pengetahuan yang telah
dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru.
4.
Menyampaikan materi pelajaran (presenting the stimulus) : menyampaikan
materi-materi pembelajaran yang telah direncanakan.
5.
Memberikan bimbingan belajar (providing learner guidance) : memberikan
pertanyaan-pertanyaan yamng membimbing proses/alur berpikir siswa agar memiliki
pemahaman yang lebih baik.
6.
memperoleh kinerja/penampilan siswa (eliciting performance) ; siswa
diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari atau penguasaannya terhadap
materi.
7.
memberikan balikan (providing feedback) : memberitahu seberapa jauh
ketepatan performance siswa.
8. Menilai
hasil belajar (assessing performance) :memberiytahukan tes/tugas untuk
mengetahui seberapa jauh siswa menguasai tujuan pembelajaran.
9.
Memperkuat retensi dan transfer belajar (enhancing retention and transfer):
merangsang kamampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan
rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan apa yang telah dipelajari.
DAFTAR
PUSTAKA
Hermawan, A.H dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Winataputra, Udin.S. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Lussy. 28 September 2009. Model dan Evaluasi Pembelajaran. www.lussy.blogspot.
Sudrajat, akhmad. 28 September 2009. Pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran. http://www.psb-psma.org.
Mustikasari, Ardiani. 28 September 2009. Evaluasi-proses-pembelajaran. http://eduarticles.com.
Haryanto. 28 September 2009. Komponen-komponen Pembelajaran. http://one.indoskripsi.com.
Kiranawati. 28 September 2009. Komponen Pembelajaran. wijianta@gmail.com
Hermawan, A.H dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Winataputra, Udin.S. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Lussy. 28 September 2009. Model dan Evaluasi Pembelajaran. www.lussy.blogspot.
Sudrajat, akhmad. 28 September 2009. Pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran. http://www.psb-psma.org.
Mustikasari, Ardiani. 28 September 2009. Evaluasi-proses-pembelajaran. http://eduarticles.com.
Haryanto. 28 September 2009. Komponen-komponen Pembelajaran. http://one.indoskripsi.com.
Kiranawati. 28 September 2009. Komponen Pembelajaran. wijianta@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar