PENDEKATAN
SISTEM PEMBELAJARAN PAI
A.
PENDAHULUAN
Istilah system merupakan konsep
yang abstrak , rnaka bersifat abstrak banyak para ahli dan lembaga yang
memberikan definisi tentang system dengan sudut pandang masing-masing misalnya
: Johnson kast Rosenzweig dalam salamoen yang mendefinisikan “ system adalah
suatu keseluruhan yang terorganisasi atau komplek suatu gabungan atau kombinasi
dari berbagai hal atau bagian membentuk satu kesatuan.
Dalam cakupan pengertian sistem termuat adanya berbagai komponen
(unsur), berbagai kegiatan (menunjuk fungsi dari setiap komponen), adanya
saling hubungan yang ketergantungan antar komponen, adanya keterpaduan
(kesatuan organis atau integrasi) antar komponen, adanya keluasan sistem (ada
kawasan di dalam sistem dan di luar sistem), dan gerak dinamis semua fungsi
dari semua komponen tersebut mengarah (berorientasi atau berkiblat) ke
pencapaian tujuan system yang telah ditetapkan lebih dahulu.
Dari sini dapat diambil sebuah pengertian bahwasanya sistem
secara umum diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dalam usahanya
mencapai sebuah tujuan. Sehingga sistem tidak hanya mencakup aspek materi,
melainkan juga masuk di dalamnya berupa prosedur, fasilitas, media dll
B.
PENGERTIAN PENDEKATAN SISTEM
Sistem adalah gabungan dari komponen-komponen yang
terorganisir sebagai satu kesatuan dengan maksud untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan. Komponen adalah semua variabel (unsur-unsur yang mempengaruhi
proses tercapainya tujuan yang ditetapkan)
Supra-sistem adalah sistem yang kompleks, yang mencakup
lebih dari satu sistem sebagai komponennya. Sub-sistem adalah kesatuan atau
kumpulan kesatuan yang merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar. Sistem
terbuka adalah sistem yang bisa menerima input dari luar. Sistem tertutup
adalah sistem yang tidak menerima input dari luar. Proses adalah penerapan
suatu cara atau metode dan sarana untuk mencapai hasil yang ditetapkan.
Menurut Hayanto, “pendekatan system adalah merupakan jumlah
keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil
yang diharapkan berdasarkan atas kebutuhan tertentu.” Menurut Lembaga
Administrasi Negara: “system pada hakikatnya adalah seperangkat komponen,
elemen, yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh-mempengaruhi dan saling
tergantung, sehingga keseluruhannya merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi
atau suatu totalitas, serta “mempunyai peranan atau tujuan tertentu.”
System juga diartikan sebagai suatu kesatuan komponen yang
sama, satu sama lain saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Dari berbagai pengertian yang didefinisikan
oleh beberapa pakar pendidikan, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa
sistem adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi,
saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka
mencapai tujuan tertentu.
Dari konsep ini, ada empat ciri utama suatu system. Pertama,
suatu system memiliki tujuan tertentu. Kedua, ada komponen sistem ; ketiga,
untuk menggerakkan fungsi, adanya fungsi yang menjamin dinamika dan kesatuan
kerja sistem. Dan keempat, adanya interaksi antar berbagai Komponen. Berikut
penjelasan dari berbagai permasalahan di atas:
1. Adanya Tujuan
Setiap rakitan sistem pasti
bertujuan, tujuan sistem telah ditentukan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok
ukur pemilihan komponen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen,
fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem mengarah ke
pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam mencapai
suatu tujuan.
2. Adanya komponen sistem (selain
tujuan)
Jika suatu sistem itu adalah sebuah
mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin (sistemnya);
demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem, maka semua
unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan
lain yang terjadi di dalamnya adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap
sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.
3. Adanya fungsi yang menjamin dinamika
(gerak) dan kesatuan kerja sistem
Tubuh kita merupakan suatu sistem,
setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang
keseluruhannya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak,
agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia berjalan secara sehat dan
semestinya.
4. Adanya Interaksi antar Komponen
Antar komponen dalam suatu sistem
terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan.
Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia
untuk dididiknya; siswa yang responsif, kritis, dan koordinatif banyak membantu
guru dalam mengembangkan kariernya.
Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik. Fungsi dari setiap komponen merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi sistem.
Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik. Fungsi dari setiap komponen merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi sistem.
Dalam sistem pengajaran yang berinti
pada interaksi personal, peran dari komponen-komponen (selain guru dan siswa)
adalah untuk meningkatkan nilai interaksi personal tersebut demi keberhasilan
belajar siswa. Transformasi yang terjadi dalam interaksi guru-siswa secara lebih
teknis merupakan transaksi pesan-pesan (pemahaman pengintegrasian pengembangan diri).
Keempat ciri diatas merupakan satu
kesatuan yang kemudian dinamakan dengan sistem. Keempatnya merupakan bagian
yang saling berintegrasi sebagai satu kesatuan (totalitas) yang satu sama lain
tidak bisa berdiri sendiri, saling mengisi dan menguatkan dalam mencapai
tujuan.
C.
PENDEKATAN SISTEM PEMBELAJARAN PAI
1. Pendekatan sistem
pembelajaran PAI
Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari
sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara
kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi
yang beriman dan bertakwa.
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Allah swt, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Menurut Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam
pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia
tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam
lembaga pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam, kompetensi iman dan takwa
(imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan
oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Jadi, dalam pandangan Islam, peran kekhalifahan manusia
dapat direalisasikan melalui tiga hal, yaitu:
1. landasan yang kuat berupa iman dan takwa
2. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
3. akhlak mulia
Dari beberapa pendapat diatas, maka Pendekatan sistem
pembelajaran PAI adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling
berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam
rangka mewujudkan generasi-genarasi yang berwawasan luas, beriman dan bertakwa
serta memiliki akhlak yang mulia.
2.
Aplikasi Pendekatan sistem Pembelajaran PAI
Atwi Suparman mengatakan bahwa sistem pengajaran adalah
suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar.
Oemar Hamalik, mengatakan; “sistem pengajaran merupakan suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan Prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Oemar Hamalik, mengatakan; “sistem pengajaran merupakan suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan Prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Oemar Hamalik, terdapat tiga ciri khas yang ada
dalam sistem pengajaran, yaitu:
a. Rencana, penataan intensional orang, material dan
prosedur yang merupakan unsur sistem pengajaran sesuai dengan suatu rencana khusus,
sehingga tidak mengambang.
b. Saling ketergantungan (interdependent), unsur-unsur suatu
sistem merupakan bagian yang koheren dalam keseluruhan, masing-masing bagian
bersifat esensial, satu sama lain saling memeberikan sumbangan tertentu.
c. Tujuan, setiap sistem pengajaran memiliki tujuan
tertentu. The goal is the purpose for which the system is design.
Perencanaan pengajaran adalah suatu pengambilan keputusan
hasil berfikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran
tertentu, serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya
pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber
belajar yang ada. Perencanaan pembelajaran mengarah pada proses penerjemahan
kurikulum yang berlaku. Sedangkan desain pembelajaran menekankan pada merancang
program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Hal inilah yang
membedakan keduanya. Perencanaan berorientasi pada kurikulum, sedangkan desain
berorientasi pada proses pembelajaran.
Namun demikian, perencanaan dan desain, keduanya disusun
berdasarkan pendakatan sistem. Karenanya di dalamnya terdapat berbagai komponen
yang menyusun sistem tersebut, yaitu:
a.
Siswa
Proses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk
membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sehingga dalam
proses pengembangan desain dan perencanaan, siswa harus dijadikan pusat
pertimbangan. Artinya, keputusan-keputusan yang diambil harus disesuaikan
dengan kondisi siswa, baik kemampuan dasar, minat, bakat, motivasi belajar,
gaya belajar dan sebagainya.
b.
Tujuan
tujuan adalah komponen terpenting dalam pembelajaran setelah
komponen siswa. Tujuan sebenarnya merupakan arah yang harus dijadikan rujukan
dalam pembuatan desain dan perencanaan serta pembelajaran di kelas. Adapun
tujuan khusus yang direncakan oleh guru adalah:
a. Pengetahuan, informasi serta pemahaman sebagai bidang
kognitif
b. Sikap dan apresiasi sebagai tujuan dari bidang avektif
c. Berbagai kemampuan sebagai bidang psikomotorik.
Adapun dalam Pembelajaran PAI adalah mewujudkan
generasi-genarasi yang berwawasan luas, beriman dan bertakwa serta memiliki
akhlak yang mulia ditentukan oleh :
1.
Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang diharapkan
akan ada pada diri siswa, agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti
yang telah dirumuskan. Pengalaman ini harus dapat membuat siswa aktif belajar,
baik secara fisik maupun non-fisik.
Merencanakan belajar salah satunya adalah memberikan
kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai kecenderungan gaya belajarnya.
Demikian juga desain pembelajaran, ia harus dapat membuat siswa belajar dengan
penuh motivasi dan gairah.
2.
Sumber belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang
memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar. Di dalamnya meliputi
lingkungan fisik, seperti tempat belajar; alat yang digunakan, guru petugas
perpustakaan, ahli media, dan sebagainnya.
3.
Hasil Belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh
kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Dengan demikian tugas
utama guru adalah merancang instrument yang dapat menghasilkan data tentang
keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam literature lain disebutkan; dari sudut pandang
teknologi intruksional, komponen sistem pengajaran diuraikan dengan lebih luas
lagi sebagai berikut:
1. Spesifikasi isi pokok bahan
2. Spesifikasi tujuan pengajaran
3. pengumpulan dan penyaringan data
siswa
4. Penentuan cara pendekatan, metode,
teknik mengajar
5. Pengelompokkan siswa
6. Penyediaan waktu
7. Pengaturan ruang
8. Pemilihan media
9. Evaluasi
Unsur minimal yang harus ada dalam sistem pengajaran adalah
suatu tujuan, siswa serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan. Dalam konteks
ini, guru tidak termasuk sebagai unsur sistem dan hanya merupakan salah satu
sumber belajar. Dalam keadaan lain fungsinya dapat digantikan dengan sumber
balajar lain yang mempunyai fungsi yang sama, seperti; buku, film, slide show,
teks yang telah diprogram, dan sebagainya.
Fungsi guru dalam sistem pengajaran PAI adalah sebagai
desainer, sekaligus sebgai pelaksana pengajaran. Sebagai seorang perancang,
guru berfungsi menyusun suatu sistem pengajaran. Sedangkan sebagai pelaksana
sistem pengajaran, guru berfungsi dalam tranformasi ilmu yang dilakukanya di
kelas. Dalam hal ini guru harus memiliki; kompetensi mengajar, sikap
professional, penguasan materi pelajaran, prinsip-prinsip dan teknik pengajaran
serta keterampilan-keterampilan dasar mengajar lainnya. Dan yang terpenting
adalah seorang guru harus memiliki keteladanan yang bisa ditiru oleh
murid-muridnya. Dalam hal ini guru harus menjadi sosok desain hasil
pembelajaran yang diharapkan muncul pada diri masing-masing siswa.
Adapun fungsi yang lain adalah guru sebagai evaluator.
Kegiatan pengajaran yang telah dijalankan, kemudian diadakan evaluasi. Hasil
evaluasi yang di dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat
keberhasilan yang telah dicapai dengan menggunakan pedoman perencanaan. Dari
sini, akan ditemukan titik-titik mana saja yang kemudian harus diperbaiki.
Beberapa komponen pendekatan sistem diatas bekerja secara
kooperatif. Artinya kesemuanya itu saling berkerja sama untuk mencapai sebuah
tujuan. Sehingga satu sama lain saling menguatkan dan saling mempengaruhi satu
dengan yang lainnnya.
3. Manfaat pendekatan
sistem
Manfaat pendekatan sistem adalah sebagai berikut:
a. Melalui pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran
dapat direncanakan dengan jelas. Perumusan tujuan merupakan salah satu
karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada
dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, segala usaha baik
yang dilakukan guru maupun siswa pada dasarnya adalah mengarahkan tercapainya
tujuan.
b. Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang
sistematis. Berfikir secara sistem adalah berfikir runtut, sehingga melalui
langkah-lagkah yang jelas dan pasti, memungkinkan hasil yang diperoleh akan
maksimal. Sebab malalui langkah yang sistematis, kita dituntun oleh melakukan
proses pembelajaran setahap demi setahap dari seluruh rangkaian kegiatan.
Sehingga kemungkinan kegagalan dapat diminimalisir.
c. Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan
mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia. Sistem dirancang
agar tujuan pembelajaran dapat diraih dengan optimal. Dalam hal ini berfikir
sistematis, berarti berfikir bagaimana agar tujuan yang telah ditetapkan, dapat
dicapai oleh siswa
d. Pendekatan sistem dapat memberikan umpan balik. Melalui
proses umpan balik dalam Pendekatan sistem dapat diketahui, apakah tujuan itu
telah berhasil dicapai atau belum. Hal ini sangat penting, sebab mencapai
tujuan merupakan tujuan utama dalam berfikir sistematis
4.
Faktor yang menentukan keberhasilan melalui pendekatan sistem
Namun,
dalam pelaksanaannya, ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi pencapaian
tujuan itu, diantaranya:
a. Faktor Guru
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan. Hal itu,
disebabkan karena guru adalah orang yang berhadapan langsung dengan siswa.
Dalam sistem pembelajaran, guru bias berfungsi sebagai desainer pembelajaran,
implementator atau keduanya. Sebagai perencana, guru dituntut untuk memahami
secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber
daya yang ada, sehingga semuanya dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana
dan desain pembelajaran.
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai implementator dan
perancang pembelajaran, guru dituntut berperan sebagai model dari rancangan
yang telah dibuatnya (suri teladan).
b. Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai
dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh
aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing
anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi
oleh perkembangan anak yang tidak sama itu, disamping arak karakteristik lain
yang melekat pada diri anak.
c. Faktor sarana dan
Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung pembelajaran
secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media
pembelajaran, alat-alat pekajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya;
sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat
mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Misalnya, jarak menuju sekolah,
penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya. Kelengkapan sarana dan
prasarana akan membantu guru dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Dengan
demikian, sarana dan prasana merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi
proses pembelajaran.
Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki
kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelangkapan sarana dan prasarana
dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Kedua, kelangkapan sarana
dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan kepada siswa untuk belajar.
d. Faktor Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan, ada dua faktor yang dapat
mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu factor organisasi kelas dan faktor
iklim sosial Psikologis.
Faktor organisasi kelas yang di dalamnya meliputi jumlah
siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang dapat mempengaruhi proses
pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas
berkecenderungan:
a. Sumber daya kelompok akan bertambah
luas sesuai dengan jumlah siswa. Sehingga waktu yang tersedia akan semakin
sempit juga.
b. Kelompok belajar akan kurang mampu
memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya dalam
penggunaan waktu diskusi; semua siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu
yang banyak pula, sehingga sumbanga pikiran akan sulit didapatkan dari setiap
siswa
c. Kepuasan belajar setiap siswa akan
cenderung menurun. Hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan
mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian
guru akan semakin terpecah.
d. Perbedaan individu antar anggota
akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. Kelompok
yang terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang
saling bertentangan.
e. Anggota kelompok yang terlalu banyak
berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk
sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
f. Anggota kelompok yang terlalu banyak
akan cenderung semakin banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam
setiap kegiatan kelompok itu.
Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi
proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial psikologis. Maksudnya adalah
keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal maupun eksternal.
Secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat
dalam lingkungan sekolah. Misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa;
antara guru dengan guru bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah.
Adapun yang dimaksud secara eksternal adalah keharmonisan hubungan antara antara pihak sekolah dengan dunia luar. Misalnya; hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.
Adapun yang dimaksud secara eksternal adalah keharmonisan hubungan antara antara pihak sekolah dengan dunia luar. Misalnya; hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.
Dari semua penjelasan diatas, sebenarnya aplikasi pendekatan
sistem pembelajaran PAI terdiri tiga bagian, memiliki ciri-ciri adanya
perencanaan, kesalingtergantungan dan tujuan yang hendak dicapai.
Dalam perencanaan itu terdapat beberapa komponen yang saling mempengaruhi, dan bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga dalam pendekatan sistem pembelajaran PAI, semua komponen memiliki makna dalam pencapaian sebuah tujuan. Artinya, pencapaian tujuan itu akan terhambat manakala ada beberapa komponen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dalam perencanaan itu terdapat beberapa komponen yang saling mempengaruhi, dan bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga dalam pendekatan sistem pembelajaran PAI, semua komponen memiliki makna dalam pencapaian sebuah tujuan. Artinya, pencapaian tujuan itu akan terhambat manakala ada beberapa komponen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
E. PENUTUP
1. Sistem adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang
saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling
mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
2. Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari
sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara
kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi
yang beriman dan bertakwa.
3. Aplikasi pendekatan sistem pembelajaran PAI terdiri tiga
bagian, memiliki ciri-ciri adanya perencanaan, saling ketergantungan dan tujuan
yang hendak dicapai.
4. Dalam perencanaan itu terdapat beberapa komponen yang
saling mempengaruhi, dan bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga
dalam pendekatan sistem pembelajaran PAI, semua komponen memiliki makna dalam
pencapaian sebuah tujuan. Artinya, pencapaian tujuan itu akan terhambat
manakala ada beberapa komponen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
F. Daftar Pustaka
Hamalik, Oemar, Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. (Jakarta: Bumi Aksara, 2005)
Harjanto, Perencanaan Pengajaran,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2000Syah,. Darwyn, dkk., Perencanaan Sistem Pengajaran
PAI, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007).
http://Suplirahim.multiply.com/jurnal/item/46/
Lembaga Administrasi Negara RI,
1997. Sistem Administrasi Negara REpublik Indonesia, (Jakarta: PT. Toko Gunung
Agung).
Muhaimin, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung :
PT. Remaja Rosda Karya
Sanjaya, Wina, Perencanaan dan
Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2008).
Suparman, Atwi, Desain Instruksional, (Jakarta: Pusat Antar universitas untuk peningkatan dan pengembangan aktivitas intruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)
Suparman, Atwi, Desain Instruksional, (Jakarta: Pusat Antar universitas untuk peningkatan dan pengembangan aktivitas intruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)
Slameto, 1991, Proses Belajar
Mengajar dalam Sistem Kredit Semester, Jakarta : Bumi Aksara
Wina Sanjaya, 2008, Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta : Prenada Media Group
Tidak ada komentar:
Posting Komentar