KONSEP DASAR DESAIN PEMBELAJARAN PAI
A. Pendahuluan
Seiring dengan berkembangnya
pendidikan dan sistem pendidikan di Indonesia, utamanya seluruh elemen
masyarakat, yang terkait langsung dengan pendidikan dituntut untuk lebih
kreatif dan profesional untuk mengembangkan pendidikan. Selain itu, para pelaku
pendidikan juga diharapkan dalam menjalan tugas Profesionalismenya sesuai
dengan prosedur yang telah ditetapkan bersama sesuai dengan kebutuhan dan
tantangan pendidikan.
Untuk itulah perlu adanya cara atau
metode untuk menjawab tangtangan – tantangan yang muncul seiring dengan
berkembang waktu, maka munculah cara atau metode yang disebut perencanaan
desain pembelajaran dan diharapkan akan lebih memudahkan proses belajar
mengajar, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan agama islam. Maka dari itu
kajian ini akan membahas mengenai fungsi dan pentingnya sebuah perencanaan
desain pembelajaran PAI.
B. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama adalah merupakan usaha untuk
memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama
yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntunan
untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan pesatuan nasional. Sedangkan Pendidikan
agama Islam mempuyai pengertian sebagai usaha sadar untuk menyiapkan
siswa dalam menyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan
tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antara umat
beragama dalam masyarakat untuk mewujutkan persatuan nasional.
Rencana pembelajaran yang baik
menurut Gagne dan Griggs (1974) hendaknya mengandung tiga komponen yang di
sebut dengan anchor point.
1.
Tujuan pengajaran
2.
Materi pengajaran/ bahan ajar, pendekatan dan metode
mengajar, media pengajaran dan pengalaman belajar
3.
Evaluasi keberhasilan
Hal ini sesuai dengan pendapat
Kenneth D Moore; bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi beberapa
komponen di antaranya adalah sebagai berikut:
1.
Topik bahasan
2.
Tujuan pembelajaran (kompetensi dan indikator kompetensi )
3.
Materi pelajaran
4.
Kegiatan pembelajaran
5.
Alat atau media yang dibutuhkan
6.
Evaluasi hasil belajar
Dari beberapa pandangan tersebut
diatas maka Desain Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) yang
baik adalah:
1.
Menentukan tujuan pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan
secara umum, pendidikan agama Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan
keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama
Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
Swt serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa
dan bernegara. Untuk mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi
pengajaran tertentu .
2.
Menentukan materi pengajaran/ bahan ajar, bahan ajar atau
materi pengajaran di dalam pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an
dan al-hadist, keimanan, syarai’ah, Ibadah, muamalah, aklhlaq dan tareh atau
sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan
dan kebudayaan.
3.
Menentukan pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang
akan digunakan agar bisa menyesuaikan dengan keadaan peserta ajar., di dalam
pendidikan agama Islam metode yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan
metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi.
4.
Media pengajaran dan pengalaman belajar ini di lakukan untuk
mempermudah peserta ajar/murid untuk menerima pelajaran. Dalam hal ini bisa
menngunakan media bacaaan, tape recorder.
5.
Evaluasi keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah di berikan oleh pengajar
pendidikan agama Islam.
D. Manfaat Desain Pembelajaran PAI
1.
Sebagai penunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2.
Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi
setiap unsur yang terlihat dalam kegiatan.
3.
Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga
setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.
4.
Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur pengajar
maupun unsur yang diajar.
5.
Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
6.
Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.
E. Model Desain Pembelajaran PAI
a. Model ROPES. ( Review,
Overview, Presentation, Exsercise, Summary) dengan langkah-langkah
sebagai berikut.
1). Review, kegiatan ini
dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit, yakni mengukur kesiapan siswa untuk
mempelajari bahan ajar dengan melihat pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki
oleh siswa dan diperlukan sebagai prerequisite unuk memahami bahan yang
disampaikan hari itu. Dalah hal ini diperlukan guru harus yakin dan tahu betul
jika siswa sudah siap menerima pelajaran baru. Dan jika guru mengetahui siswa
belum menguasai pelajaran sebelumnya, maka guru dengan bijak memberi kesempatan
kepada siswa untuk memahami terlebih dahulu.
2). Overview, sebagai
mana review, overview dilakukan tidak terlalu lama yaitu berkisar antara 2
samapai 5 menit, guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan
pada hari itu dengan menyampaikan isi secara singkat dan strategis yang akan di
gunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan
pada siswa untuk menyampaikan pandangannya sehingga siswa merasasenang dan
merasa dihargai keberadaannya.
3). Presentation, tahap
ini adalah merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar, karena disini
guru sudah tidak memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah
masuk pada proses telling shoing dan doing. Proses
tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa
tentang pelajaran yang mereka dapatkan.
4). Exsercise, yakni
suatu proses untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang
telah mereka pahami. Hal ini di maksudkan untuk memberikan pengalaman langsung
kepada siswa sehingga hasil yang dicapai lebih bermakna.
5). Summary, dimaksudkan
untuk memperkuat apa yang telah mereka fahami dalam proses pembelajaran. Hal
ini sering tertinggal oleh guru karena mereka disibukkan dengan presentase, dan
bahkan mungkin guru tidak pernah membuat Summary ( kesimpulan) dari apa yang
telah mereka ajarkan.
b. Model satuan pelajaran adalah
merupakan istilah yang dikenal sekarang dengan rencana mengajar atau persiapan
mengajar. Secra sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan
pembelajaran adalah sebagai berikut:
1). Identitas mata pelajaran.
2). Kompetensi dasar atau indikator
yang hendak dicapai.
3). Materi pokok.
4). Media yang akan digunakan dalam
pembelajaran.
5). Strategi pembelajaran atau
tahapa-tahapan proses belajar-mengajar yaitu mengenai kegitan-kegiatan yang
dilakukan oleh guru dan siswa dalam berintraksi. Dengan materi pembelajaran dan
sumber belajar untuk menguasai kompetensi.
F. Metode Pembelajaran PAI
Dalam proses belajar mengajar adalah
merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dan peserta didik dalam suatu
pengajaran untuk mewujudkan tujuan yaang teklah di rencanakan dan ditetapkan.
Ada beberapa pendekatan yang di gunakan dalam pembelajaran agama Islam yang di
gunakan sebagai metode untuk penyampaian pembelajaran diantaranya adalah :
1. Metode ceramah adalah
merupakan metode penyampaian materi ilmu pengetahuan kepada anak didik yang melalu
proses penyampaian secara lesan.
2. Metode tanya Jawab Adalah
merupakan suatu metode mengajukan pertanyaan kepada peserta didik atau
sebaliknya. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang, berpikir, dan
membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
3. Metode tulisan Adalah
merupakan metode mendidik dengan menggunakan huruf simbol-simbol yang berbentuk
tulisan, hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan jembatan
untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak di ketahui.
4. Metode diskusi Adalah
merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masyalah yang di
hadapi, baik dilakukan oleh dua orang atau lebih yang msing-msing mengajukan
argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
5. Metode Pemecahan masalah (Problem
solving) adalah merupakan cara memberikan pengertian dengan
menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang
sesuatu masalah untuk selanjutnya menganalisa masalah tersebut sebgai usaha
untuk memcahkan masalah.
6. Metode kisah yaitu
merupakasn salah satu metode pembelajaran yang digunakan dengan cara memberi
cerita atau dongeng para tokoh-tokoh yang disesuai dengan tujuan perencanaan
pembelajaran yang diinginkan, sehingga dapat menggugah hati nurani dan berusaha
melakukan hal-hal yang baik.
7. Metode perumpamaan.
Adalah merupakan metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan
hakekat dari realitas sesuatu.
8. Metode pemahanan dan
penalaran adalah merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan
membangkitkan akal kemampuan berpikir anak secara logis hal ini dilakukan untuk
dapat membimbing anak didik untuk memahami problematikan yang dihadapi dengan
menemukan jalan keluar.
9. Metode perintah dan
berbuat baik dan saling menasehati. Dengan metode ini anak didik
diperintahkan untuk berbuat baik dan saling menasehati agar berlaku benar dan
memakan makanan yang halal dan diperintahkan untuk saling menasehati agar
meninggalkan yang salah atay yang jelek dan sejenisnya.
10. Metode Suri Tauladan.
Adalah merupakan suatu metode yang terbaik dari beberapa metode yang ada karena
dengan suri tauladan anak akan mudah meniru sehingga akhirnya akan dengan mudah
pula untuk termotivasi metode ini sangat bermanfaat sekaili terutama jika dia
berikan pembentukan sikap dan sifat anak didik.
G.
Pengertian Desain Pembelajaran
Desain
pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai
disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin,
desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta
proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya.
Sebagai
ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi
pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan
fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai
mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas.
Sebagai
sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan
sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu
belajar.
Sementara
itu desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah
pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus
teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan
tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai
dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang
digunakan.
Dengan
demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media
teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer
pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi
penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan
pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu
terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori
belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa,
dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.
H. Komponen Utama Desain
Pembelajaran
Komponen
utama dari desain pembelajaran adalah:
1.
Peserta didik (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi,
karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat.
2.
Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) Adalah penjabaran kompetensi yang akan
dikuasai oleh peserta didik.
3.
Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang
akan dipelajari
4.
Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau
mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
5.
Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada peserta didik
6.
Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang sudah
dikuasai atau belum.
I. Teori-teori Pembelajaran dalam
Desain Pembelajaran
Penelitian
terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermedia teknologi dapat
meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi dari
pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk meningkatkan
interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat
pada pelajar (student oriented). Dengan kata lain, penggunaan media
menggunakan audio visual atau komputer media dapat membantu siswa itu
memperoleh pelajaran bermanfaat.
Guru
sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan
pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran
yang tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para peserta
didik, memfasilitasi proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani
perbedaan individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya
interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual, Terdapat beberapa teori
belajar yang melandasi penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu
teori behaviorisme, kognitifisme dan konstruktivisme.
1. Teori Behaviorisme
Behaviorisme
memandang fikiran sebagai ‘kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat
diobsevasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang
terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi
dan diukur sebagai indikator belajar. Implementasi prinsip ini dalam mendesain
suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.
Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga mereka dapat
mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya telah mencapai
outcome dari pembelajaran online atau tidak.
b.
Peserta didik harus diuji apakah mereka telah mencapai outcome pembelajaran
atau tidak. Tes dilakukan untuk mencek tingkat pencapaian peserta didik dan
untuk memberi umpan balik yang tepat.
c.
Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan belajar. Urutan
dapat dimulai dari bentuk yang sederhana ke yang kompleks, dari yang diketahui
sampai yang tidak diketahui dan dari pengetahuan sampai penerapan.
d.
Peserta didik harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat mengetahui
bagaimana melakukan tindakan koreksi jika diperlukan.
2. Teori Kognitivisme
Kognitivisme
membagi tipe-tipe peserta didik, yaitu:
1)
Peserta didik tipe pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana
mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan teman-temannya, dan bukan
dengan orang-orang dalam otoritas itu;
2)
Peserta didik tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum
melakukan tindakan;
3)
Peserta didik tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu
dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori
dan melakukan analisis sistematis.
4)
Peserta didik tipe eksperimentasi aktif
lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi.
Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk
memperoleh umpan balik dan informasi. Implementasi prinsip ini dalam mendesain
suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.
Materi pembelajaran harus memasukan aktivitas gaya belajar yang berbeda,
sehingga siswa dapat memilih aktivitas yang tepat berdasarkan kecenderungan
gaya berlajarnya.
b.
Sebagai tambahan aktivitas, dukungan secukupnya harus diberikan kepada siswa
dengan perbedaan gaya belajar. Siswa dengan perbedaan gaya belajar memiliki
perbedaan pilihan terhadap dukungan, sebagai contoh, assimilator lebih suka
kehadiran instruktur yang tinggi. Sementara akomodator lebih suka kehadiran
instruktur yang rendah.
c.
Informasi harus disajikan dalam cara yang berbeda untuk mengakomodasi berbedaan
individu dalam proses dan memfasilitasi transfer ke long-term memory.
d.
Peserta didik harus dimotivasi untuk belajar, tanpa memperdulikan sebagaimana
efektif materi, jika peserta didik tidak dimotivasi mereka tidak akan belajar.
e.
Pada saat belajar, peserta didik harus diberi kesempatan untuk merefleksi apa
yang mereka pelajari. Bekerja sama dengan peserta didik lain, dan mengecek
kemajuan mereka.
f.
Psikologi kognitif menyarankan bahwa peserta didik menerima dan memproses
informasi untuk ditransfer ke long term memory untuk disimpan.
3. Teori Konstruktivisme
Penekanan
pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai
yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik
mengkontekstualisasi informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media
pembelajaran. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi
belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk
meyakinkan bahwa peserta didik pasti dapat menerapkan informasi tersebut secara
luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi
dan penemuan pengetahuan. Implementasi pada online learning adalah sebagai
berikut:
a.
Belajar harus menjadi suatu proses aktif. Menjaga peserta didik tetap aktif
melakukan aktivitas yang bermakna menghasilkan proses tingkat tinggi, yang
memfasilitasi penciptaan makna personal.
b.
Peserta didik mengkonstruksi pengetahuan
sendiri bukan hanya menerima apa yang diberi oleh instruktur. Konstruksi pengetahuan
difasilitasi oleh pembelajaran interaktif yang bagus, karena siswa harus
mengambil inisiatif untuk berinteraksi dengan peserta didik lain dan dengan
instruktur, dan karena agenda belajar dikontrol oleh peserta didik sendiri.
c.
Bekerja dengan peserta didik lain
memberi peserta didik pengalaman kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan
mereka menggunakan keterampilan metakognitif mereka.
d.
Peserta didik harus diberi control
proses belajar.
e.
Peserta didik harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi. Pada saat
belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
f.
Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa. Materi belajar harus memasukan
contoh-contoh yang berhubungan dengan peserta didik sehingga mereka dapat
menerima informasi yang diberikan.
g.
Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih tinggi dan
kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal. Peserta didik
menerima materi pelajaran melalui teknologi, memproses informasi, dan kemudian
mempersonalisasi dan mengkontekstualisasi informasi tersebut.
J. Model-Model Desain Pembelajaran
Banyak upaya yang dilakukan ilmuwan pembelajaran dalam
mengklasifikasikan variabel dalam pembelajaran, namun klasifikasi yang nampak
lebih rinci dan memadai sebagai landasan pengembangan suatu teori pembelajaran
seperti yang dikemukan Regeluth, dkk (1977). Klasifikasi variabel-variabel
pembelajaran ini dimodifikasi menjadi 3, yaitu:
(1) Kondisi
Pembelajaran
(2) Metode
Pembelajaran
(3) Hasil
Pembelajaran.
a. Kondisi
Pembelajaran
Kondisi Pembelajaran, variabel yang
termasuk ke dalam kondisi pembelajaran, yaitu variabel-variabel yang
mempengaruhi penggunaan variabel metode. Oleh karena perhatian kita adalah
untuk memdeskripsikan
metode pembelajaran, maka variabel kondisi haruslah yang berinteraksi dengan
metode dan sekaligus berada di luar kontrol perencanaan pembelajaran.
Maksud yang terpenting dari bahasan ini adalah mengidentifikasi
variabel-vriabel kondisi pembelajaran yang memiliki pengaruh utama pada ketiga
variabel metode.
Atas dasar ini,
Regeluth dan Merrill (1979) memandang perlu mengelompokkan variabel kondisi
pembelajaran menjadi 3 kelompok yaitu:
(a) Tujuan dan karakteristik bidang studi
(b) Kendala dan karakteristik bidang studi dan
(c) Karakteristik peserta didik .
Tujuan pembelajaran: pernyataan
tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan. Tujuan ini bisa sangat umum,
sangat khusus atau dimana saja dalam kontinum umum ke khusus. Karakteristik
bidang studi adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang dapat memberikan
landasan yang berguna sekali dalam memdeskripsikan strategi pembelajaran.
Tujuan dan karakteristik bidang
studi; adalah dihipotesiskan memiliki pengaruh utama pada
pemilihan strategi pengorganisasian pembelajaran, kendala dan karakteristik
bidang studi pada pemilihan strategi penyampaian, dan karakteristik siswa pada
pemilihan strategi pengelolaan pembelajaran.
Kendala adalah
keterbatasan sumber-sumber, seperti watu, media, personalia, dan uang.
Karakteristik peserta didik adalah aspek-aspek atau kualitas peserta didik,
seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang telah dimilikinya.
Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali
suatu variabel kondisi akan mempengaruhi setiap variabel metode misalnya,
karakteristik peserta didik bisa mempengaruhi pemilihan strategi
pengorganisasian dan pemilihan strategi penyampaian, di samping pengaruh
utamaya pada strategi pengelolaan pembelajaran.
b. Metode Pembelajaran
Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan lebih
lanjut menjadi 3 jenis yaitu:
(a) Strategi pengorganisasian (Organizational srategy)
(b) Strategi penyampaian (Delivery strategy)
(c) Strategi pengelolaan (management strategy).
Organizational srategy adalah metode
untuk mengorganissi isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran.
Mengorganisasi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi,
pembuatan diagram, format, dll. yang setingkat dengan itu.
Delivery strategy adalah metode
untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik dan atau menerima
serta merespon masukan yang berasal dari peserta didik. Sumber belajar
merupakan bidang kajian utama dari strategi ini.
Management strategy adalah metode
untuk menata interaksi antara peserta didik dan variabel metode pembelajaran
yang lain. Variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.
Strategi pengorganisasian pebelajaran dibedakan menjadi strategi
pengorganisasian pada tingkat makro dan mikro.
c. Hasil Pembelajaran
Pada tingkat yang amat umum sekali, hasil pembelajaran
dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
(a) Keefektifan
(effectiveneess)
(b) Efisiensi
(efficiency)
(c) daya tari
pembelajaran.
a. Keefektifan Pembelajaran, biasanya diukur dengan tingkat
pencapaian peserta
didik. Ada 4 aspek penting yang dapat dipakai untuk mempreskripsikan keefektifan
pembelajaran yaitu:
(1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari atau
sering disebut tingkat kesalahan
(2) kecepatan unjuk
kerja
(3) tingkat alih
belajar
(4) tingkat retensi
dari apa yang dipelajari.
b. Efisiensi Pembelajaran, biasanya diukur dengan rasio antara
keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai peserta didik dan/atau
jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.
c. Daya Tarik Pembelajaran, biasanya diukur dengan mengamati
kecenderungan peserta
didik untuk tetap/terus belajar. Daya tarik pembelajaran erat kaitannya dengan
daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya akan
mempengaruhi keduanya. Itulah sebabnya pengukuran kecenderungan si belajar
untuk terus dan atau tidak terus belajar dapat dikaitkan dengan proses
pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.
K.
PENUTUP
Fungsi perencanaan desain
pembelajran PAI adalah Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
Pentingnya perencanaan desain
pembelajran PAI adalah Diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan dengan
adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada
pencapaian tujuan.
Daftar Pustaka
ADDIE Instructional Design Model.
Retrived December 20 2006. From
http://itsinfo.tamu.edu/workshops/handouts/pdf_handouts/addie.pdf
Braxton, S. (2003). General
Instructional Design Phases. Retrieved on November 24th, 2006 from
http://www.futureu.com/publications/braxton/general_phases.html
Driscoll, M. (2005). Psychology of
learning for instruction (3rd ed). Boston: Allyn & Bacon.
Grabe & Grabe. (2006).
Integrating Technology for Meaningful Learning 5th Edition, Newyork: Houghton
Mifflin Company
Hannafin, M.J. & Peck, K.L.
1988. The design, development, and evaluation of instructional software. New
York: Mc Millan Publishing Company
Heinich, Molenda, Russell,
Smaldino. (2005). Instructional technology and media for learning 8th edition.
New Jersey: Pearson Merrill Prentice Hall
Newby, T. J. et al., 2006.
Educational technology for teaching and learning 3rd edition. New Jersey:
Pearson Merrill Prentice Hall
Sharp, V. 2005. Computer education
for teachers: Integrating technology into classroom teaching. New York: Mc Graw
Hill Toh Seong Chong. 2006. Designing effective interactive multimedia
courseware: Use and misuse. Retrieved on 13th December 2006 from
http://210.187.10.244/moodle/
Sagala Syaiful. 2005. Konsep dan
Makna Pembelajaran.Bandung : Alfabeta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar