METODE DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Pendahuluan
Tidaklah berlebihan jika ada sebuah
ungkapan “aththariqah ahammu minal maddah”, bahwa metode jauh lebih
penting dibanding materi, karena sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak
didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat
tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi
secara lengkap atau tidak. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus
dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga
hasil pendidikan dapat memuaskan.
Apa yang dilakukan Rasulullah SAW
saat menyampaikan wahyu Allah kepada para sahabatnya bisa kita teladani, karena
Rasul saw. sejak awal sudah mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat
terhadap para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat
akurat dalam menyampaikan ajaran Islam.
Rasulullah SAW. sangat memperhatikan
situasi, kondisi dan karakter seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat
ditransfer dengan baik. Rasulullah saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi
setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial
maupun spiritual, beliau senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah SWT
dan syari’at-Nya.
B. Pengertian Metode pembelajaran dalam
pendidikan islam
Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi,
kata metode berasal dari dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos.
Meta berarti “melalui dan hodos berrti “jalan” atau “cara”.[1] Dalam Bahasa
Arab metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah
strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.[2] Sedangkan dalam
bahasa Inggris metode disebut method yang berarti cara dalam bahasa Indonesia.[3]
Sedangkan menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan
definisi yang beragam tentang metode, terlebih jika metode itu sudah
disandingkan dengan kata pendidikan atau pengajaran diantaranya :
1.
Winarno
Surakhmad mendefinisikan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya
merupakan alat untuk mencapai tujuan.[4]
2.
Abu
Ahmadi mendefinisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara
mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur.
3.
Ramayulis
mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Dengan demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan
proses pembelajaran.[5]
4.
Omar
Mohammad mendefinisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kegiatan yang
terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata
pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam
sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar
yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.[6]
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai
pengertian metode di atas, beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah :
1. Adanya tujuan yang hendak dicapai
2. Adanya aktivitas untuk mencapai
tujuan
3. Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran
berlangsung
4. Adanya perubahan tingkah laku
setelah aktivitas itu dilakukan.
Ada istilah lain yang dalam pendidikan yang mengandung makna
berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan teknik/strategi. Pendekatan
merupakan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan[7] dapat juga
diartikan sebagai pedoman mengajar yang bersifat realistis/konseptual.
Sedangkan teknik/strategi adalah siasat atau cara penyajian yang dikuasai
pendidik dalam mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di
dalam kelas, agar bahan pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik.
Metode pengajaran yaitu suatu cara penyampaian bahan
pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, fungsinya adalah menentukan
berhasil tidaknya suatu prosess belajar-mengajar dan merupakan bagian yang
integral dalam suatu sistem pengajaran Oleh karena itu metode harus sesuai dan
selaras dengan karakteristik siswa, materi, kondisi lingkungan (setting) di
mana pengajaran berlangsung. Penggunaan atau pemilihan suatu metode mengajar di
sebabkan oleh adanya beberapa faktor yang harus dipertimbangkan antara lain:
tujuan, krakteristik siswa, situasi, kondisi, kemampuan pribadi guru, sarana
dan prasaran.
Secara garis besar metode mengajar dapat di klaifikasikan
menjadi 2 bagian:
a.
Metode mengajar konvensional, yaitu metode mengajar yang lazim dipakai
oleh guru atau disebut metode taradisional.
b.
Metode mengajar inkonvesional, yaitu suau teknik mengajar yang baru berkembang
dan belum lazim digunakan secara umum seperti mengajar dengan modul,
penngajaran berpogram, machine unit, masih merupakan metode yang baru
dikembangkan dan di terapkan sekolah tertentu yang mempunyai peralatan dan
media yang lengkap serta guru-guru yang ahli menangninya.
C. Bentuk
Metode Pendidikan Islam
Bentuk-bentuk metode pendidikan
Islam yang relevan dalam pengajaran ajaran Islam adalah.[8]
1. Metode
Diakronis
Suatu metode mengajar ajaran Islam
yang menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan adanya studi
komparatif tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
sehingga peserta didik memiliki pengetahuan yang relevan, memiliki hubungan
sebab-akibat atau kesatuan integral. Lebih lanjut peserta didik dapat menenlaah
kejadian sejarah dan mengetahui lahirnya tiap komponen, bagian, sub system,
system dan suprasistem ajaran Islam. Wilayah metode ini lebih terarah pada
aspek kognitif.
Metode diakronis disebut juga metode
sosiohistoris. Metode ini menyebabkan peserta didik ingin mengetahui,
memahami, menguraikan, dan menelusuri ajaran-ajaran Islam dari sumber-sumber
dasarnya, yakni Al-Quran dan as-Sunnah serta pengetahuan latar belakang
masyarakat, sejarah budaya di samping siroh Nabi SAW, dengan segala alam
pikirannya.
2. Metode
Sinkronis-Analitis
Suatu metode pendidikan Islam yang
member kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan
keimanan dan mental-intelek. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi
pelaksanaan atau metode praktis. Teknik pengjaran meliputi diskusi, lokakarya, seminar,
kerja kelompok, resensi buku, lomba karya ilmiah, dan sebagainya. Metode
diakronis dan metode sinkronis-analitis menggunakan asumsi dasar sebagai
berikut.
a Islam adalah wahyu Ilahi
yang berlainan dengan kebudayaan sebagai hasil daya cipta dan rasa manusia.
(QS. 53: 3-4)
b Islam adalah agama yang sempurna
di ata segala-galanya. (QS. 5: 3)
c Wajib bagi umat Islam untuk mengajak
pada kebajikan dan melarang perbuatan kejahatan. (QS. 3: 104)
d Wajib bagi Islam untuk menyampaikan
risalah Islam kepada orang lain menurut kemampuannya Sabda Nabi SAW.: “Sampaikan dariku walau
seayat saja” (HR. Bukhari, Thurmudzi, dan Ahmad)
3. Metode
Problem Solving (Hill al-Musykilat)
Metode ini merupakan pelatihan
peserta didik yang di hadapkan pada berbagai masalah suatu ilmu pengetah di
kembangapatuan dengan solusinya. Metode ini dikembangkan melalui teknik
simulasi, micro-teaching, dan critical incident (tanqibiyah). Di
dalam metode ini, cara mengasakan keterampilan lebih dominan ketimbang
pengembangan mental intelektual, sehingga terdapat kelemahan, yakni
perkembangan pemikiran peserta didik mungkin hanya sebatas kerangka yang sudah
tetap dan akhirnya bersifat mekanistik.
4. Metode
Empiris (Tajribiyah)
Suatu metode mengajar yang
memungkinkan peserta didik mempelajari pelajaran Islam melaui proses realisasi,
akulturasi, serta internalisasi norma-norma dan kaidah Islam melaui proses
aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi social. Kemudian secara deskriptif,
proses-proses interaksi dapat di rumuskan dalam oritsuatu system norma baru
(tajdid). Keuntungan dari model ini peserta didik tidak hanya memiliki
kemampuan secara teoritis akan tetapi juga adanya pengembangan deskriptif
inovasi beserta aplikasinya dalam kehidupan social yang nyata. Metode problem
solving dan metode empiris menggunakan asumsi dasar sebagai berikut:
a. Norma (ketentuan) kebajikan dan kemungkaran
selalu ada dan di terangkan dalam Islam. (QS.3: 104)
b. Ajaran Islam adalah merupakan risalah
atau pedoman hidup di dunia dan di akhirat. (QS. 42: 13)
c. Ajaran Islam sebagai sumber ilmu
pengetahuan. (QS. 2: 120, 9:122)
5. Pendekatan
Induktif
Pendekatan ini dikembangkan oleh
filosof Perancis Bacon yang menghendaki penarikan kesimpulan didasarkan atas
fakta-fakta yang kongkrit sebanyak mungkin. Semakin banyak fakta semakin
mendukung hasil simpulan. Langkah-langkah yang harus di tempuh
dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif yaitu:[9]
1) guru memilih konsep,
prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan induktif
2) guru menyajikan
contoh-contoh khusus, prinsip, atau aturan yang memungkinkan siswa
memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh,
3) guru menyajikan bukti yang berupa
contoh tambahan untuk menunjang atau mengangkat perkiraan,
4) menyimpulkan, memberi
penegasan dari beberapa contoh kemudian disimpulkan dari contoh tersebut serta
tindak lanjut.
6. Pendekatan
Dekduktif
Pendekatan deduktif merupakan
pendekatan yang mengutamakan penalaran dari umum ke khusus. Langkah-langkah
yang dapat di tempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan deduktif
dijelaskan sebagai berikut:
(1) guru memilih konsep, prinsip, Inisiasi
Pendidikan Agama Islam 1 aturan yang akan disajikan,
(2) guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat
umum, lengkap dengan definisi dan contoh-contohnya,
(3) guru menyajikan contoh-contoh khusus
agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus dengan aturan
prinsip umum yang didukung oleh media yang cocok,
(4) guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang
atau menolak kesimpulan bahwa keadaan umum itu merupakan gambaran dari keadaan
khusus,
Realisasi dari metode pendidikan Islam di atas
dapat di aplikasikan dengan cara-cara praktis yang di sebut dengan teknik
pendidikan Islam. Adapun teknik-teknik pendidikan Islam adalah subagai berikut.[10]
D. Bentuk
Teknik Pendidikan Islam
1.
Teknik Periklanan (Al-Ikhbariyah) dan Teknik Pertemuan (Al-Muhadharah)
Teknik yang di lakukan dengan cara
tatpan langsung antara peserta didik dengan pendidik. Untuk merealisasikan
metode ini, dapat di gunakan model-model sebagai berikut:
a. Teknik Ceramah
(lecturing/al-Mawidhah)
Muhammad Rasyid Ridla memberi arti al-mawidhah dengan
memberi nasihat (al-nasihah) dan peringatan (al-tadzkir) yang baik dan
benar, yang dapat menyentuh hati sanubari, aagar peserta didik terdorong untuk
beraktivitas baik. Teknik ceramah adalah teknik memberikan uraian atau
penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu dan tempat tertentu. Dengan kata
lain metode ini adalah sebuah teknik mengajar dengan menyampaikan informasi dan
pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti
secara pasif.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia teknik ceramah
adalah cara belajar atau mengajar yang menekankan pemberitahuan satu arah
dari pengajar kepada pelajar (pengajar aktif, pelajar pasif). Teknik ini
disebut juga dengan metode kuliah atau metode pidato.Penyajian teknik ceramah
dapat menggunakan alat bantu seperti benda, papan tulis, gambar-gambar, sketsa,
slide, peta, computer, LCD, dan sebagainya. Kekurangan metode ini adalah:
1.
Guru lebih aktif sedangkan murid pasif karena perhatian hanya terpusat pada
guru saja.
2. Murid seakan diharuskan
mengikuti segala apa yang disampaikan oleh guru, meskipun murid ada yang
bersifat kritis karena guru dianggap selalu benar.
Untuk bidang studi agama, teknik ceramah ini masih tepat
untuk dilaksanakan. Misalnya, untuk materi pelajaran akidah,fiqh, dan
sejarah, seperti pada Standar kompetensi 12 ( Iman Kepada Rasul Alloh), 15
(Hewan yang halal dan haram dimakan), 16 (Sejarah Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan
dalam Islam).
b.
Teknik Tulisan (Al-Kitabah)
Teknik yang dilakukan dengan cara menyebarkan informasi
kepada peserta didik melalui resume tulisan, diklat, buku modul, buku
literature, serta brosur-brosur. Teknik ini bisa di gunakan sebagai ganti dari
tatap muka bila pendidik berhalangan, dismaping untuk melengkapi ceramah
pendidik yang di sampaikan kepada peserta didik secara garis besarnya.
Teknik tulisan ini mempunyai kelebihan yaitu bisa bertahan
lama dan lebih abadi serta dapat di baca berulang-ulang bila di perlukan.
Sehingga isinay dapat di fahami lebih mendalam, serta dapat di baca
sewaktu-waktu, sesuai dengan tempat dan kesempatan yang tersedia. Kelemahannya
adalah banyak juga orang yang tidak senang membaca, tetapi lebih senang
mendengar.
2.
Teknik Dialog (Hiwar)
Teknik
yang di lakukan dengan penyajian suatu topic masalah yang di lakukan melalui
dialog antara pendidik didik.Teknik dialog dapat berfungsi dengan baik jika
terjadi komunikasi transaksi yng di dukung oleh minat yang tingi bagi pendidik
dan peserta didik untuk mengetahui jawaban dari masalah yang di hadapi. Untuk
merealisasikan teknik dialog dapat di gunakan teknik-teknik sebagai berikut:
a.
Teknik Tanya jawab (Al-as’ilah wa Ajwibah)
Yaitu penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan
pertanyaan dan murid menjawab. Atau suatu teknik didalam pendidikan dimana guru
bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.
Pengertian lain dari teknik tanya jawab adalah penyajian pelajaran dalam bentuk
pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada murid atau dapat juga
dari murid kepada guru.
Kelebihan: situasi kelas akan hidup karena anak-anak aktif
berfikir dan menyampaikan buah fikiran, melatih agar anak berani mengungkapkan
pendapatnya dengan lisan, timbulnya perbedaan pendapat diantara anak didik akan
menghangatkan proses diskusi dengan lisan secara teratur, mendorong murid lebih
aktif dan sungguh-sunngguh, merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan
daya fikir, mengembangkan keberanian dan ketrampilan siswa dalam menjawab dan
mengemukakan pendapat.
Kekurangannya: memakan waktu lama, siswa merasa takut
apabila guru kurang mampu mendorong siswanya untuk berani menciptakan suasana
yang santai dan bersahabat, tidak mudah membuat pertanyaan sesuai dengan
tingkat berfikir siswa.
b.
Teknik Diskusi (Al-Niqasy)
Teknik
diskusi adalah suatu proses yang melibatkan dua individu atau lebih,
berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan, saling tukar informasi,
saling mempertahankan pendapat dan memecahkan sebuah masalah tertentu.
Kelebihan
metode ini adalah suasana kelas lebih hidup, dapat menaikkan prestasi
kepribadian individu, kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami siswa, sisiwa
belajar untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib dalam musyawarah.
Kekurangannya : siswa ada yang tidak aktif, sulit menduga hasil yang dicapai,
siswa mengalami kesulitan mengeluarkan ide-ide atau pendapat mereka secara
ilmiah dan sistematis.
Untuk
mengatasi kelemahan dan segi negatif dari metode ini: pimpinan diskusi
diberikan kepada murid dan diatur secara bergiliran, guru mengusahakan seluruh
siswa agar berpartisipasi dalam diskusi, mengusahakan supaya semua siswa
mendapat giliran berbicara, sementara siswa yang lain belajar mendengarkan
pendapat temannya, mengoptimalkan waktu yang ada untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan.
Ada
beberapa jenis diskusi yang dilakukan oleh guru dalam membimbing belajar siswa
antara lain:
a Whole
Group yaitu : bentuk diskusi kelas dimana para pesertanya duduk setengah
lingkaran, guru bertindak sebagai pemimpin dan topiknya telah direncanakan.
b Diskusi
kelompok : diskusi yang biasanya terdiri dari kelompok kecil (4-6) orang
peserta, dan juga diskusi kelompok besar terdiri (7-15) anggota. Dalam diskusi
tersebut dibahas tentang suatu topik tertentu dipimpin oleh seorang ketua dan
seorang skretaris,
c Buzz
Group : biassanya dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari
3-4 orang peserta. Tempat duduk diatur sedemikian rupa agar para siswa dapat
bertukar pikiran dan bertatap muka dengan mudah. Diskusi ini biasanya diadakan
ditengah-tengah pelajaran atau diakhir pelajaran dengan maksud memperjelas dan
mempertajam bahan pelajaran.
d Panel
: yaitu bentuk diskusi yang terdiri dari 3-6 orang peserta untuk mendiskusikan
suatau topok tertentu dan duduk dalam bentuk seni melingkar yang dipimpin oleh
moderator.
e Syindicate
group, yaitu bentuk diskusi ini kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil
yang terdiri dari 3-4 peserta, masing-masing kelompok mengerjakan tugas-tugas
tertentu atau tugas yang bersifat komplementer.
f Symposium,
dalam diskusi ini biasanya terdiri dari pembawa makalah, moderator, dan
notulis, serta beberapa peserta symposium.
g Informal
debate, biasanya bentuk diskusi ini kelas dibagi menjadi dua tim yang agak
seimbang besarnya dan mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa
memperhatikan peraturan perdebatan formal.
h Fish
bowl, diskusi ini tempat duduk diatur setengah melingkar dengan dua atau tiga
kursi kosong menghadap peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi
kelompok diskusi yang seolah-olah melihat ikan yang berada didalam mangkok.
i Brain
storming, biasanya terdiri dari delapan sampai dua belas orang peserta, setiap
anggota kelompok diharapkan menyumbang ide dalam pemecahan masalah. Hasil yang
diinginkan adalah menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya diri
dalam upaya mengembangkan ide-ide yang ditemukan atau dianggap benar.
3. Metode Demonstrasi
Metode ini
adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan
urutan melakukan sesutau kegiatan, baik secara langsung maupun melalui
penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan yang sedang
disajikan.
Tujuan
metode ini adalah memperjelas pengertian konsep atau suatu teori.
Diantara keuntungan metode ini adalah
1. Perhatian anak dapat dipusatkan dan
titik berat yang dianggap penting dapat diamati secara tajam
2. Proses belajar anak akan semakin
terarah karena perhatiannya akan lebih terpusat kepada apa yang
didemonstrasikan
3. Apabila anak terlibat aktif, maka
mereka akan memperoleh pengalaman atau pengetahuan yang melekat pada jiwanya
dan ini berguna dalam pengembangan kecakapannya.
4. Metode Penugasan
Suatu cara
mengajar dengan cara memberikan sejumlah tugas yang diberikan guru kepada murid
dan adanya pertanggungjawaban terhadap hasilnya. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia metode pemberian tugas adalah cara belajar atau mengajar yang
menekankan pada pemberian tugas oleh pengajar kepad murid yang harus melakukan
tugas yang diberikan kepadanyaTugas tersebut dapat berupa:
1.
Mempelajari
bagian dari suatu teks buku
2.
Melaksanakan
sesuatu yang tujuannya untuk melatih kecakapannya
3.
Melaksanakan
eksperimen
4.
Mengatasi
suatu permasalahan tertentu
5.
Melaksanakan
suatu proyek
6.
Metode
ini dapat diterapkan pada semua Standar Kompetensi.
5. Metode Sosiodrama
Suatu cara
mengajar dengan cara pementasan semacam drama atau sandiwara yang diperankan
oleh sejumlah siswa dan dengan menggunakan naskah yang telah disiapkan terlebih
dahulu.
Tujuan metode ini adalah
1.
Melatih
keterapilan social
2.
Menghilangkan
perasaan-perasaan malu dan renda diri
3.
Mendidik
dan mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat
4.
Membiasakan
diri untuk sanggup menerima pendapat orang lain.
6. Metode Latihan (drill)
Suatu cara
mengajar yang digunakan dengan cara memberikan latihan yang diberikan guru
kepada murid agar pengetahuan dan kecakapan terentu dapat menjadi atau dikuasi
oleh anak.
Tujuan dari metode ini adalah
1.
Memberikan
umpan balik (feedback) kepada guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar
2.
Untuk
menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing anak didik
3.
Menempatkan
anak didik dalam situasi belajar mengajra yang tepat.
4.
Anak
dapat mempergunakan daya berfikirnya semakin baik
5.
Pengetahuan
anak didik agar semakin bertambah dari berbagai segi.
Perikasaan latihan atau ulangan dapat dilakukan dengan cara:
1.
Secara
klasikal
2.
Secara
individu
3.
Pencocokan
dengan kunci jawaban yang telah disediakan sebelumnya
7. Metode Kerja Kelompok
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode kelompok adalah metode untuk mengubah
pandangan dan sikap seseorang dengan jalan memasukkan orang itu ke dalam
kelompok.
Kerja kelompok-kelompok itu ada dua macam
1.
Kerja
kelompok jangka pendek
2.
Kelompok
ini dapat dilaksanakan dalam kelas dalam waktu yang singkat kurang lebih 20
menit.
3.
Kerja
kelompok jangka menengah
4.
Dilaksanakan
dalam beberapa hari karena adanya tugas yang cukup memakan waktu yang agak
panjang.
8. Metode Proyek
Metode
mengajar dengan cara memberikan bermacam-macam permasalahan dan anak didik
bersama-sama menghadapi masalah tersebut dan memecahkannya secara bersama-sama
dengan mengikuti langkah-langkah secara ilmiah, logis, dan sistemastis.
Metode ini disebut juga dengan metode pengajaran unit
Tujuan metode ini adalah untuk melatih anak didik agar
berfikir ilmiah, logis, dan sistematis.
9. Metode Karyawisata
Metode ini
adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat
atau objek yang bersejarah atau memiliki nilai pengetahuan untuk mempelajari
dan menelilti sesuatu.
10. Metode Eksperimen
Suatu
metode yang dilakukan dalam suatu pelajaran tertentu terutama yang bersifat objektif,
seperti ilmu pengetahuan alam, baik dilakukan di dalam/di luar kelas maupun
dalam suatu laboratorum tertentu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode
penelitian cara mencari kebenaran dan asas-asas gejala alam, masyarakat,
atau kemanusiaan berdasarkan disiplin ilmu yg bersangkutan.
11. Metode Kisah Atau Cerita
Merupakan
suatu cara mengajar dengan cara meredaksikan kisah untuk menyampaikan
pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
12. Metode Tutorial
Metode ini
adalah cara mengajar dengan memberikan bantuan tutor. Setelah siswa diberikan
bahan ajar, kemudian siswa diminta untuk mempelajari bahan ajar tersebut.
13. Metode Perumpamaan
Suatu
metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan hakikat dari realitas
sesuatu atau dengan cara menggambarkan seseuatu dengan seseuatu yang lain yang
serupa.
14. Metode Suri Tauladan
Metode
mengajar dengan cara memberikan contoh dalam ucapan, perbuatan, atau tingkah
laku yang baik dengan harapan menumbuhkan hasrat bagi anak didik untuk meniru
atau mengikutinya.
15. Metode Peringatan dan Pemberian Motivasi
Metode
mendidik dengan cara memberikan peringatan kepada anak tentang sesuatu dan
memberikan motivasi agar memiliki semangat dan keinginan untuk belajar dan
mempelajari sesuatu.
16. Metode Praktek
Metode
mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda
dengan harapan anak didik mendapatkan kejelasan dan kemudahan dalam
mempraktekan materi yang dimaksud.
17. Metode Pemberian Ampunan dan Bimbingan
Metode
mengajar dengan cara memberikan kesempatan kepada anak didik memperbaiki
tingkah lakunya dan mengembangkan dirinya.
Metode mengajar antara lain adalah:
|
1.
metode
pembiasaan
2.
metode
keteladanan
3.
metode
pemberian ganjaran
4.
metode
pemberian hukuman
5.
metode
ceramah
6.
metode
tanya jawab
7.
metode
diskusi
8.
metode
sorogan
9.
metode
bandonngan
10.
metode
mudzakarah
11.
metode
kisah
|
12.
metode
pemberian tugas
13.
metode
karya wisata
14.
metode
ekperimen
15.
metode
latihan
16.metode sosiodrama
17.metode simulasi
18.metode kerja lapangan
19.metode simulasi
20.metode kerja lapangan
21.
metode
demonstasi
22.metode kerja kelompok
|
1. Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu suatu cara penyampaian bahan secara
lisan oleh guru di muka kelas. Peran seorang murid disini sebagai penerima
pesan, mendengar memperhatikan, dan mencatat keterangan-keterangan guru.
Metode ini layak dipakai guru bila: pesan yang disampaikan
berupa informasi, jumlah siswa terlalu banyak, dan guru adalah seorang
pembicara yang baik,
Keunggulannya: penggunaan waktu yang efisien dan pesan yang
di sampaikan dapat sebanyak-banyaknya, Pengorganisasian kelas lebih sederhana,
dapat memberikan motivasi terhadap siswa dalam belajar,fleksibel dalam
penggunaan waktu dan bahan.
Kelemahannya: guru serinngkali mengalami kesulitan dalam
mengukur pemahaman siswa, siswa cenderunng bersifat pasif dan sering keliru
dalam menyimpulkan penjelasan guru, menimbulkan rasa pemaksaan pada siswa,
cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang.
2. Methode Pembiasaan
Metode ini adalah : sebuah cara yang dapat dilakukan untuk
membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan
agama islam. Contohnya ayat pengharaman khomer.
Kelebihan: tidak hanya berkaitan lahiriyah tetapi
berhubungan aspek batiniyah. Metode ini tercatat sebagai metode palinga
berhasil dalam pembentukan kepribadian anak didik.
Kelemahan
metode ini membutuhkan tenaga pendidik yang bener-benar dapat dijadikan sebagai
contoh.
3. Metode Keteladanan
Metode ini maksudnya: hal-hal yang dapat ditiru atau di
contoh oleh seseorang dari oranng lain, namun keteladanan yang dimaksud disini
adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan islam, yaitu
keteladanan yang baik, sesuai dengan pengertian uswah dalam ayat-alqur'an.
Kelebihan: memudahkan anak didik dalam menerapkan ilmu yang
dipelajarinya, memudahkan guru mengevaluasi hasil belajar, mendorong guru akan
selalu berbuat baik, tercipta situasi yang baik dalam lingkungan sekolah,
keluarga dan masyarakat.
Kelemahan:
figur guru yang kurang baik cenderung akan ditiru olah anak didiknya, jika
teori tanpa praktek akan menimbulkan verbalisme.
4. Metode Pemberi Ganjaran
Maksud metode ini adalah: pemberian ganjaran yang baik
terhadap perilaku baik anak didik. Macam-macam ganjaran: pujian yang indah,
imbalan materi/hadiah, doa, tanda penghargaan, wasiat pada orang tua.
Kelebihan:
memberikan pengaruh yang cukup besar terhdp jiwa anak didik, menjadi pendorong
bagi anak-anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang memperoleh pujian dari
gurunya.
Kelemahan:
dapat menimbulkan dampak negatif apabila guru melakukan secara berlebihan,
umumnya "ganjaran" membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya.
5. Metode Pemberian Hukuman
Metode ini keblikan dari metode pemberian ganjaran yang mana
kelebihan dan kekuragannya hampir sama. metode ini adalah jalan terakhir dalam
proses pendidikan
6. Metode Sorogan
Inti metode ini adalah berlangsungnya proses belajar
mengajar secara face to face, antara guru dan murid.
Kelebihannnya:
Guru secara pasti mengetahui secara pasti kualitas anak didiknya, bagi murid
yang IQ nya tinggi akan cepat menyelesaikan peljaran, mendapatkan penjelasan
yang pasti dari seorang guru.
Kekurangannya:
membutuhkan waktu yang sangat banyak.
7. Metode Bandongan:
Menurut zamarkhasy
dhofier yaitu sekelompok murid mendengarkan seorang guru yang membaca,
menerangkan dan sering kali mengulas buku-buu islam dalam bahasa Arab.
Kelebihan
hampir sama dengan metode ceramah: lebih cepat dan praktis, kelemahannya metode
ini dianggap lamban dan tradisional. Biasanya masih digunakan pada
pondok-pondok pesantren salaf.
8. Metode Mudzakarah:
Adalah suatu cara
yang digunakan dalam menyampaikan bahan pelajaran dengan jalan mengadaka
pertemuan ilmiah yang secara khusus membahas persoalan yang bersifat keagamaan,
nama lainnya majmaal al-buhust. Mudzakarah di bedakan menjadi2: yaitu 1.
mudzakarah yang diselenggarakan oleh sesam santri untuk membahas suatu msalh,
2. mudzakarah yang dipimpin oleh seorang kyai, dimana hasil mudzakarah diajukan
untuk dibahas dan dinilai dalam suatu seminar.
9. Metode Kisah:
Suatu cara dalam
menyampikan suatu materi pelajaran dengan menutuurkan materi pelajran dengan
menuturkan secara kronologis tentang bagaiman terjadinya sesuatu hal yang
sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan belaka. Metode kisah didunia pendidikan
yang tidak diragukan kebenaranny adalh yaitu: Qur'ani dan kisah nabi.
10. Metode Pemberian Tugas:
Dimana guru
memberikan sejumlah tugas terhadap murid muridnya untuk mempelajari sesuatu ,
kemudian mereka disuruh untuk mempertanggung jawabkannya. Tugas yang diberikan
oleh guru bisa berbentuk memperbaiki, memperdalam, mengecek, mencari informasi,
atau menghafal pelajaran. Methode ini mempunyai 3 fase yaitu: 1. fase pemberian
tugas, 2. fase pelaksanaan tugas, 3. fase pertanggungjawaban tugas.
11. Metode Karya Wisata :
Adalah suatu metode mengajar dimana siswa dan guru pergi
meninggalaan sokolah menuju suatu tempat untuk menyelidiki atau mempelajari hal
– hal tertentu.
12. Metode Eksperimen :
Menurut zakiyah
daradjat, metode percobaan yang biasanya dilakukan dalam mata pelajaran
tertentu. Sedangkan menurut Departemen Agama yaitu praktek pengajaran yang
melibatkan anak didik pada pekerjan akademis, pelatihan dan pemecahan masalah.
13. Metode Latihan :
Menurut zuhairini,
adalah suatu metode dalam pengajaran dengan jalan melatih anak didik terhadap
bahan pelajaran yang sudah di berikan. Atau biasa disebut dengan ulangan.
14. Metode Sosio-Drama :
Yaitu suatu metode
mengajar dimana guru memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan
kegiatan memainkan peran tertentu seperti yang terdapat dalam masyarakat
sosial.
Tujunnya
adalah agar siswa menghayati dan menghargai perasaan orang lain, membagi tanggung
jawab dalam kelompok, merangsang siswa berpikir dan memecahkan masalah.
15. Metode Simulasi :
Penekanan dalam
metode simulasi adalah pada kemampuan siswa untuk berimitasi sesuai dengan
objek yang diperankan. Dan pada titik finalnya siswa mampu untuk mendapatkan
kecakapn bersikap dan bertindak sesuai dengan situasi yang sebenarnya.
Sesuai
dengan sifat tiruannya simulasi terbgi dalam 5 jenis yaitu: sosiodrama,
psikodrama, permainan simulasi, permainan peranan, pre-teaching.
16. Metode Kerja Lapangan :
Yaitu merupakan suatu
cara mengajar yang bertujuan memberikan pengalaman kerja nyata bagi anak didik
diluar kelas ( dimana saja bisa). Metode ini hakekatnya merupakan penyempurnaan
dari metode kerja kelompok, karya wisata, dan eksperimen, bahkan tanya-jawab
17. Metode Demonstrasi :
Adalah metode
mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau
untuk memperlihatakan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu
kepada siswa. Dapat digunakan dalam penyampaian bahan pelajaran fikih.
Langkah-langkah penerapan metode demonstrasi: perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi.
18. Metode Kerja Kelompok :
Istilah kerja
kelompok memgandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi kedalam
beberapa kelompok besar maupun kecil yang didasarkan atas prinsip untuk
mencapai tujuan bersama. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalm pelaksanaan
metode kerja kelompok, yaitu :
a menentukan kelompok
b pemberian tugas-tugas kepada kelompok
c pengerjaan tugas pada masing-masing kelompok
d penilaian
adapun
kelebihan dari metode ini adalah
e melatih dan menumbuhkan rasa kebersamaan dan
toleransi
f adanya kerjasama yang saling menguntungkan
antara individu dalam kelompok
g menumbuhkan rasa ingin maju dan persaingan
yang sehat
sedangkan
kekurangannya :
1.
memerlukn
persiapan yang agak rumit
2.
harus
diawasi guru dengan ketat agar tidak timbul persaingna ynag tidk sehat
3.
sifat
dan kemampuan individu akn terabaikan
4.
jika
tuga tidak dibatasi waktu tertentu, maka akan cenderung terabaikan
E. Kesimpulan
1.
Metode
pengajaran yaitu suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan
yang ditetapkan, fungsinya adalah menentukan berhasil tidaknya suatu prosess
belajar-mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem
pengajaran.
2.
Secara
garis besar metode mengajar dapat di klaifikasikan menjadi 2 bagian: Metode
mengajar konvensional dan Metode mengajar inkonvesional. Metode-metode mengajar
yang ada antara lain : metode pembiasaan,
3.
metode
keteladanan, pemberian ganjaran, metode pemberian hukuman,
metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode sorogan, metode bandonngan, metode mudzakarah, metode kisah, metode pemberian tugas, metode karya wisata, metode ekperimen, metode latihan, metode sosiodrama, metode simulasi, metode kerja lapangan, metode simulasi, metode kerja lapangan, metode demonstasi, metode kerja kelompok.
metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode sorogan, metode bandonngan, metode mudzakarah, metode kisah, metode pemberian tugas, metode karya wisata, metode ekperimen, metode latihan, metode sosiodrama, metode simulasi, metode kerja lapangan, metode simulasi, metode kerja lapangan, metode demonstasi, metode kerja kelompok.
Daftar
Pustaka
Dr.
Armai Arief, M.A., Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam,
Jakarta : Ciputat Press, 2002
Basrudin
Usman M, Methodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : PT Ciputat
Press
Ramayulis
dan Samsu Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan dan
Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta : Kalam mulia, 2009
Shalih
Abd. Al Aziz, at tarbiyah wa thuriq al tadris, kairo, maarif, dalam Ramayulis,
Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2008
John
M Echol dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama, 1995
Surakhmad,
Pengantar interaksi Belajar Mengajar, Bandung : Tarsito, 1998
Abu
Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Pustaka Setia, 2005
Omar
Mohammad, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1979
[1]
Ramayulis dan Samsu Nizar, Filsafat Pendidikan
Islam Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta : Kalam
mulia, 2009, halaman 209
[2]Shalih Abd. Al Aziz, at tarbiyah wa thuriq al tadris,
kairo, maarif, 119 H, hal. 196 dalam Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama
Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2008, hal. 2-3.
[3]John M Echol dan Hasan Shadily, Kamus Inggris
Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995, hal. 379.
[4]Surakhmad, Pengantar interaksi Belajar Mengajar,
Bandung : Tarsito, 1998, hal. 96
[5]Ramayulis, Metodologi hal. 3
[7]Ramayulis dan Samsu Nizar, Filsafat Pendidikan Islam,
hal 209
[8]Tim
Depag RI, Islam untuk…, Op.cit., h.151-159
[10] Mujib Abdul dan Mudzakkir Jusuf, Ilmu Pendidikan Islam.
Fajar Interpratrama Offesett. 2008. Hal. 183-209
Tidak ada komentar:
Posting Komentar