KONSEP PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI
1. PENDAHULUAN
Bersamaan dengan
berputarnya dunia dan kemajuan modernisasi serta pengembangan ilmu pegetahuan
yang semakin hari semakin berkembang yang akhir-akhir ini, banyak kita lihat
para generasi Islam khusunya sudah kecanduan dan keracunan dengan tidak
mengenal para tokoh Islam yang sangat dan dapat memberi pengaruh terhadap
kemajuan dunia pendidikan, mereka kadang hanya bisa menghina, meremehkan bahkan
mengatakan dimana tokoh Islam?. Ini sebenarnya terjadi karena mereka sangat
tidak dan bahkan kurang kenal sama sekali terhadap beberapa tokoh Islam yang
telah berhasil mencetak generasi yang tidak kalah hebatnya dengan tokoh
pendidikan nonmuslim dalam mencetak generasi yang berakhlaq al- karimah,
disiplin dan terhormat, serta bermanfaat untuk kepentingan agama nusa dan
bangsa.
Dengan berpandangan
pada beberapa hal tersebut mengenal para tokoh pendidikan Islam adalah
merupakan salah satu langkah yang seharusnya kita lakukan dan kita miliki dan
kita hanyati serta merupakan kebanggaan kita sebagai orang Islam yang dengan
semestinya untuk selalu mengangkat dan mensosialisasikannya di kalangan umum. Sehingga
generasi penerus Islam bisa bersuara lantang bahwa kita mempuyai tokoh yang
pantas untuk dijunjung tinggi, dan salah satu tokoh pendidikan yang tidak kalah
tangkas dan metodenya serta konsep dan pemikirannya adalah Al-Ghazali.
Al- Ghazali adalah salah
satu tokoh muslim yang pemikirannya sangat luas dan mendalam dalam berbagai hal
diantaranya dalam masalah pendidikan. Pada hakekatnya usaha pendidikan menurut
Al-Ghazali adalah dengan mementingkan beberapa hal yang terkait dan
mewujudkannya secara utuh dan terpadu karena kosep pendidikan yang
dikembangkannya berawal dari kandungan ajaran islam dan tradisi islam yang
berberprinsip pada pendidikan manusia seutuhnya. Sehinga dizaman yang moderen
ini perlu kiranya untuk mengetahui konsep pendidikan dari tokoh muslim
terkemuka ini.
2. Sekilas Tentang Al-Ghazali
Banyak dari
kita mengenal Al-Ghazali hanya sebagai seorang teolog, Faqih dan sufi, padahal
ada sisi lain dari Al-Ghazali yang kurang tercover dalam perhatian para sarjana
belakangan yaitu pemikirannya tentang pendidikan. Padahal pemikirannya tentang
hal tersebut banyak berpengaruh terhadap para ulama’ sunni sesudahnya. Lalu apa
saja pemikiran Al-Ghazali dimaksud. Untuk menjawab hal ini ada beberapa hal
yang penulis rujuk, rujukan utama dan pertama adalah karya besarnya Ihya’
Ulumiddin juz I, kedua, terjemahan karyanya yang berjudul Ayyuha Al-Walad, yang
ketiga adalah pendapat-pendapat para cendekiawan yang juga penulis jadikan
sebagai bahan pertimbangan.
3. Ilmu pengetahuan
Pandangan
Al-Ghazali tentang pendidikan meliputi pandangannya akan keutamaan ilmu &
keutamaan orang yang memilikinya, pembagian ilmu, etika belajar dan mengajar.
Baiklah kita
mulai dari hal yang pertama, Al-Ghazali memulai pandangannya dengan nada
provokatif tentang keutamaan mereka yang memiliki ilmu pengetahuan dengan
mengutip al-qur’an surat al-mujadilah ayat 11 yang mempunyai arti: Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberepa derajat. Provokasi ini kemudian dilanjutkannya dengan
hadis Nabi bernada majaz metaforik yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas tentang
keutamaan ilmuwan atas orang awam, pernyataan tersebut adalah “lil ulama’I
darajat fauqa al-mu’minina bisab’imi’ati darajat ma baina al-darajataini
masiratu khamsami’ati ‘am.” yang artinya para orang-orang yang berilmu
memiliki derajat diatas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratus derajat, jarak
di antara dua derajat tersebut perjalanan lima ratus tahun. Di halaman pertama
ihya’ saja setidaknya terdapat 14 ayat yang dikutib Al-Ghazali yang dijadikan
pen-support akan keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang memilikinya.
Dan melengkapinya dengan mengutip 27 hadis yang mendukung. Sedangkan dalam
keutamaan belajar beliau memulai dengan dengan surat taubat ayat 122 kemudian
melanjutkannya dengan surat al-nahl ayat 43 dan al-anbiya’ ayat 7 yang berbunyi
“fas’alu ahla al-dikri in kuntum la ta’lamun.” dan setelah itu
setidaknya beliau menyebutkan 9 hadis yang juga bernada majaz metaforis.
Yang menarik
disamping beliau menyandarkan pendapat-pendapatnya pada dua asas islam di atas,
beliau memakai pula sandaran secara logika (aqli). Hal ini rupanya tak
luput dari background-nya sebagai guru besar Universitas Nidhamiyah yang
mengikuti madhab Syafi’iyah dan madhab kalam al-Asy’ari yang memang sering
memadukan dalil naqli dan ’aqli. Berikut
adalah ikhtisar pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan.
1. Kategorisasi pengetahuan
Setelah mendorong umat islam untuk mencari ilmu, Al-Ghazali melanjutkannya
dengan kategorisasi ilmu pengetahun. Dalam kategorisasi ilmu, Al-Ghazali
membaginya pada ilmu yang pantas untuk dipelajari (al-mahmud) dan ilmu
yang tidak pantas untuk dipelajari (al-madmum), kemudian beliau juga
membagi ilmu yang pantas dipelajari menjadi ilmu yang fardlu ‘ain untuk
dipelajari dan ilmu yang hanya fardlu kifayah untuk dipelajari.
Akan tetapi sebelum membahas hal itu, Al-Ghazali memulainya dengan
mengatakan tidak adanya diskriminasi dalam mencari ilmu dengan mengutip hadis
Nabi yang berbunyi” talabu al-‘ilmi faridah ‘ala kulli muslim” setelah
itu baru menjelaskan pada apa yang ia maksud dengan ilmu yang fadlu ‘ain,
yaitu ilmu yang meliputi ilmu teologi seperlunya hingga ia yakin tentang Allah,
kemudian ilmu syari’at hingga ia paham akan apa yang harus ditinggalkan dan apa
yang harus dilakukan . selebihnya menurutnya adalah fardlu kifayah.
Sedangkan ilmu yang tidak pantas dipelajari bagi Al-Ghazali adalah ilmu
yang dapat menyesatkan kita seperti ilmu sihir dan ilmu nujum (ramalan), dan
filsafat. Tapi beliau masih memberi toleransi dengan mengatakan seperlunya saja
demi kebaikan. Seperti imu njum untuk mengetahui letak kiblat, filsafat hanya
dalam dasar untuk keperluan kedokteran dan matematika.
2. Etika Belajar
Sedangkan dalam etika belajar, Al-Ghazali menjelaskan ada 10 hal yang harus
dilakukan oleh seorang pelajar yaitu:
Pertama, membersihkan jiwa dari kejelekan akhlak, dan keburukan sifat karena ilmu
itu adalah ibadahnya hati, shalat secara samar dan kedekatan batin dengan
Allah.
Kedua, menyedikitkan hubungannya dengan sanak keluarga dari hal keduniawian dan
menjauhi keluarga serta kampung halamannya. Hal ini menurut Al-Ghazali agar
seorang pelajar bisa konsentrasi dalam apa yang menjadi fokusnya.
Ketiga, tidak sombong terhadap ilmu dan pula menjauhi tindakan tidak terpuji
terhadap guru. Bahkan menurut Al-Ghazali seorang pelajar haruslah menyearhkan
segala urusannya pada sang guru seperti layaknya seorang pasien yang
menyerahkan segala urusannya pada dokter.
Keempat, menjaga diri dari mendengarkan perselisihan yang terjadi diantara
manusia, karena hal itu dapat menyebabkan kebingungan, dan kebingungan pada
tahap selanjutnya dapat menyebabkan pada kemalasan.
Kelima, tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga selesai dan
mengetahui hakikatnya. Karena keberuntungan melakukan sesuatu itu adalah
menyelami (tabahhur) dalam sesuatu yang dikerjakannya.
Keenam, janganlah mengkhususkan pada satu macam ilmu kecuali untuk tertib
belajar.
Ketujuh, janga terburu-buru atau tergesa-gesa kecuali kita telah menguasai ilmu
yang telah dipelajari sebelumnya. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah
sistematik, satu bagian saling terkait dengan bagian yang lainnya.
Kedelapan, harus mengetahui sebab-sebab lebih mulianya suatu disiplin ilmu dari pada
yang lainnya. Seorang murid terlebih dahulu harus mengkomparasikan akan pilihan
prioritas ilmu yang akan dipelajari.
Kesembilan, pelurusan tujuan pendidikan hanya karena Allah dan bukan karena harta dan
lain sebagainya.
Kesepuluh,harus mengetahui mana dari suatu disiplin ilmu yang lebih penting (yu’atsar
al-rafi’ al-qarib ‘ala al-ba’id)
3. Etika Mengajar
Pertama, memperlakukan para murid dengan kasih saying seperti anaknya sendiri.
Kedua, mengikuti teladan Rasul, tidak mengharap upah, balasan ataupun ucapan
terima kasih (ikhlas). Ketiga, jangan lupa menasehati murid tentang
hal-hal yang baik. Keempat, jangan lupa menasehati murid dan mencegahnya
dari akhlak tercela, tidak secara terang-terangan tapi hendaknya gunakan
sindiran. Jangan lupa untuk mengerjakannya terlebih dahulu karena pendidikan
dengan sikap dan perbuatan jauh lebih efektif daripada perkataan, Kelima,
jangan menghina disiplin ilmu lain.
Keenam, terangkanlah dengan kadar kemampuan akal murid. (Hal inilah yang dibut
dalam balaghah sebagai kefashihan). Ketujuh, hendaknya seorang guru
harus mengajar muridnya yang pemula dengan pelajaran yang simpel dan mudah
dipahami, karena jika pelajarannya terlalu muluk-muluk maka hal tersebut akan
membuat murid merasa minder dan tidak percaya diri. Kedelapan, seorang
guru harus menjadi orang yang mengamalkan ilmunya.
4. Pendidikan Dalam Perspektif
Al-Ghazali
Al-Ghazali
adalah penganut kesetaraan dalam dunia pendidikan, ia tidak membedakan kelamin
penuntut ilmu, juga tidak pula dari golongan mana ia berada, selama dia islam
maka hukumnya wajib. Tidak terkecuali siapapun. Pula ia adalah penganut konsep
pendidikan tabula rasa (kertas putih) dan pendidikan bisa mewarnainya dengan
hal-hal yang benar. Jadi kurang arif jika ada anggapan bahwa umat islam
terbelakang gara-gara al-Ghazali.
Dalam Ihya’
Ulumiddin, Al-Ghazali telah memakai kategorisasi ilmu akhirat atau ilmu agama.
dan Al-Ghazali masih memakai kata fiqh sebagai pemahaman, faqih
sebagai orang yang paham atau berilmu. Hal ini terlihat pada hadis yang
dinukilnya,” man yurid Allahu bihikhairanyufaqqihhu fi al-din”. Kata
Alim dan Ulama’ juga masih diartikan sebagai cendekiawan atau orang yang
berilmu. Hal ini bisa terlihat dari hadis yang dikutip oleh al-Ghazali” yashfa’u
yauma al-qiyamati tsalatsatun; al-anbiya’ tsumma al-ulama’ tsumma al-shuhada’”.
Dan pula “fadlu al-mu’min al-‘alim ‘ala al-mu’min al-‘abid bisab’ina
darajatan”. Sepertinya hingga masa Al-Ghazali kata Faqih dan Ulama’ belum secara
khusus merujuk pada disiplin ilmu fiqh dan Ulama’ sebagai ahli ilmu agama.
Walaupun hal-hal yang mengarah ke arah itu sudah ada.
Pembahasan
Al-Ghazali tentang pendidikan meliputi tujuan pendidikan, metode belajar,
metode mengajar, karakteristik dan kategorisasi keilmuan.
Pendidikan dalam pandangan Al-Ghazali adalah mencapai mardlatillah
(Ridha Allah) dan haruslah dihindari dari tujuan-tujuan duniawi. Karena tujuan
duniawi dapat merusak seluruh proses pendidikan. Dan dapat mendangkalkan arti
pendidikan itu sendiri.
Dalam
kategorisasi ilmu yang dilakukan, ilmu-ilmu agama menduduki peringkat pertama
dan utama dalam pemikiran al-Ghazali. Sehingga menurut Al-Ghazali selayaknya
seorang pelajar pemula mempelajari ilmu agama asasi terlebih dahulu sebelum
mempelajari ilmu furu’ . jadi dalam kategorisasi ilmu agamapun
Al-Ghazali masih membaginya pada apa yang ia sebut demi kepentingan tertib
belajar. Ilmu kedokteran, matematika dan ilmu terapan lain harus mengalah pada
ilmu agama dalam kacamata Al-Ghazali karena ilmu agama meliputi keselamatan di
akhirat, Sedangkan yang terapan hanya untuk keselamatan di dunia.
Disamping itu
ia juga menjelaskan bagaimanakah seorang pelajar harus bersikap terhadap ilmu
dan gurunya. Ia mengemukan metode belajar dan metode mengajar.Dan menurut
penulis apa yang telah dikemukakan Al-Ghazali adalah lebih moderat ketimbang
apa yang kemudian diterjemahkan ulang yang banyak penambahan sana sini oleh
pengagumnya yang bernama al-Zarnuji yang lebih beroriantasi pada etika murid
pada dunia tasawuf dan tarekat.
Penjelasan
Al-Ghazali mencakup pula pada bagaimana seorang guru harus bersikap dan
memperlakukan murid dalam pengajaran yang dilakukan, bahkan ia juga menyinggung
metode pengajaran keteladanan dan kognitifistik. Selain itu ia juga memakai pendekatan
behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan yang dijalankan.
Hal ini tampak dalam pandangannya yang menyatakan jika seorang murid
berprestasi hendaklah seorang Guru mengapresiasi Murid tersebut, dan jika
melanggar hendaklah diperingatkan. Untuk bentuk pengapresiasian gaya Al-Ghazali
tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang
memberikan reward and panisment-nya dalam bentuk kebendaan dan
simbol-simbol materi. Al-Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah
(dosa) sebagai reward and punishment-nya.
Disamping
pendekatan behavioristik diatas, Al-Ghazali juga mengelaborasi dengan
pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak
didik sebagai manusia secara holistic dan mengahargai mereka sebagai manusia.
Bahasa Al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap
lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah
anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini tentu Al-Ghazali menginginkan
sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru.
Dalam
pandangan al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata suatu proses yang dengannya
guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah prose situ
masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan. Lebih
dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara
guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena
memberikan pendidikan dan yang terakhir mengolah dirinya dengan tambahan
pengetahuan.
Tapi hal yang
paling Nampak dalam kacamata Al-Ghazali tentang pendidikan adalah bagaimana ia
membangun karakter pendidikan, ia sangat konsisten dalam masalah etika
pendidikan. Pembahasan masalah ahklak atau etika tidak saja tampak dalam Ihya’
Ulmuddin tapi juga di Ayyuha al-Walad , Mizan al-‘Amal dan Bidayah al-hidayah.
Dalam kitab yang terkhir ini persinggungan alGhazali dengan tasawuf sangat
kental sekali. Yang menarik dalam semua kitab ini Al-Ghazali menggunakan gaya
narasi untuk mengungkapkan pemikirannya. Bahkan semenjak tahfut al-falasifah,
ia tak segan menggunakan kata pengganti pertama berupa Aku atau Kita. malah
dalam Ayyuha al-Walad, Al-Ghazali menggunakan kata penggati engkau untuk
menyapa pembacanya. Gaya penyusunan seperti ini kemudian banyak diadopsi oleh
para pendidik sesudahnya termasuk oleh Umar Baradja dalam kitab Akhlaq lil
Banin dan Ahklaq lil Banat. Mungkin inilah metode yang benar menurut
Al-Ghazali tentang belajar dan mengajar (pendidikan).
5. Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali
Konsep adalah
rancangan sedang pendidikan dalam makna umum dapat diberi arti sebagai
komunikasi terorganisasi dan berkelanjutan yang disusun untuk menumbuhkan
kegiatan belajar ada juga yang mengatakan pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan , pengendalian diri , kepribadian , kecerdasan , akhlaq
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Dari beberapa pengertian tersebut konsep pendidikan yang dimaksud
adalah merupakan suatu rancangan yang dilakukan secara sadar dan terencana
untuk mewujudkan peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri , kepribadian ,
kecerdasan , akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
6. Tujuan Pendidikan Menurut Al-Ghazali
Tujuan pendidikan menurut
Al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq, dengan
titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarub kepada Allah. Dan bukan
hanya untuk mencapai kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia.
Rumusan tujuan pendidikan Al-Ghazali didasarkan pada firman Allah SWT.
” tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat:56)
” tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat:56)
Dari hasil study
tentang pemikiran alghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan ahir yang
ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah, pertama, tercapainya
kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, dan kedua,
kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan didunia dan diakhirat.
karena itu ia bercita- cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran
–sasaran pendidikan yang merupakan tujuan ahir dan maksut dari tujuan itu.
Sasaran pendidikan
menurut Al-Ghazali adalah kesempurnaan insani didunia dan diakhirat. Dan
manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai
sifat keutamaan melalui jalur ilmu, dan menguasai ilmu adalah bagian dari
tujuan pendidikan.
7. Kurikulum
Kurikulum yang dimaksudkan adalah kurikulum dalam arti yang sempit, yaitu
seperanngkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik pandangan
Al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandanganny mengenai ilmu
pengetahuan, sedang Al-Ghazali membaggi ilmu pengetahuan kepada beberapa sudut
pandang;
1. Berdasarkan pembidangan ilmu dibagi menjadi dua
bidang
a) Ilmu syri’ah sebagai ilmu yang terpuji terdiri atas;
a) Ilmu syri’ah sebagai ilmu yang terpuji terdiri atas;
(1) Ilmu usul (pokok ) ilmu Al-qur’an, hadis, pendapat sahabat, ijma’
(2) Ilmu furuk (cabang) fiqih, akhlaq
(3) Ilmu pengantar, ilmu bahasa dan gramatika
(4) Ilmu pelengkap, makhrij al khuruf wal lafads, ilmu tafsir, biografi,
dan sejarah perjuangan sahabat.
b) Ilmu bukan syari’ah terdiri atas
1 ilmu yang terpuji; ilmu
kedokteran, ilmu berhitung, ilmu perusahaan, khusus ilmu perusahaan dirinci
menjadi
(1) pokok dan utama;
pertanian,penenunan, pembangunan dan tata pemerintah.
(2) penunjang;
pertukangan besi
(3) pelengkap;
pengolahan pangan
(4) Ilmu yang
diperbolehkan; kebudayaan, sastra, puisi
(5) Ilmu yang tercela;sihir
2. Berdasarkan objek ilmu dibagi kepada tiga kelompok
2. Berdasarkan objek ilmu dibagi kepada tiga kelompok
a) Ilmu yang tercela secara mutlaq
baik sedikit maupun banyak sihir, ramalan nasib
b) Ilmu pengetahuan yang terpuji
baik sedikit maupun banyak; ilmu agama,dan ilmu tentang beribadah
3. Berdasarkan status hukum memepelajari yang dikaitkan dengan nilai
gunanya dapat digongkan kepada;
a) Fardu ain;ilmu agama dan cabangnya
b) Fardu kifayah;kedokteran, ilmu hitung,pertanian, pertenunan,politik,
jahitmenjahit.
8. Pendidik
Dalam suatu proses pendidikan adanya pendidik adalah suatu keharusan dan
pendidik sangat berjasa dan berperan dalam suatu proses pendidikan dan
pembelajaran, sehingga Al-Ghazali merumuskan sifat-sifat yaang harus dimiliki
oleh pendidik diantaranya adalah guru harus cerdas, sempurna akalnya.dan baik
akhlaqnya, dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu
pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlaq yang baik dia dapat memberi
contoh dan teladan bagi muridnya.
Selain sifat- sifat umum diatas maka pendidik kendaknya juga memiliki sifat-sifat khususu dan tugas-tugas tertentu diantaranya adalah;
Selain sifat- sifat umum diatas maka pendidik kendaknya juga memiliki sifat-sifat khususu dan tugas-tugas tertentu diantaranya adalah;
1. Sifat kasih sayang
2. Guru hendaknya mengajar dengan ikhlas dan tidak mengharapkan upah dari
muritnya
3. Guru hendaknya mengunkan bahasa yang halus ketika mengajar
4. Guru hendaknya bisa mengarahkan murid pada sesuatu yang sesuai dengan
minak, bakat, dan kemampuannya
5. Guru hendaknya bisa menghargai pendapat dan kemampuan orang lain
6. Guru harus mengetahui dan menghargai perbedaan potensi yang dimiliki
murid
9. Peserta didik
Peserta didik adalah orang yang menjalani pendidikan dan untuk mencapai
tujuan pendidikan yaitu kesempurnaan insani dengan mendekatkan diri pada allah
dan kebahagian didunia dan diakhirat maka jalan untuk mencapainya diperlukan
belajar dan belajar itu juga termasuk ibadah, juga suatu keharusan bagi peserta
didik untuk menjahui sifat-sifat dan hal-hal yang tercela, jadi peserta didik
yang baik adalah peserta didik yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut;
1. peserta didik harus memuliakan pendidik
2. peserta didik harus bersikap rendah hati dan tidak takabbur dan menjahui
sifat-sifat yang hina (bersih jiwanya )
3. peserta didik harus meras satu bangunan dengan peserta didik yang lain
dan sebagai suatu bangunan maka peserta didik harus saling menyayangi dan
menolong serta berkasih sayang sesamanya.
4. peserta didik hendaknya mempelajri ilmu secara bertahap
5. peserta didik hendaknya mendahulukan mempelajari ilmu yang wajib
6. peserta didik tidak hanya mempelajri satu ilmu yang bermamfaat melainkan
dia juga harus mempelajari ilmu yang lain dan sungguh-sunguh ketika
mempelajarinya
7. peserta didik hendaknya juga mengenal nilai setiap ilmu yang
dipelajrinya
10. Metode dan media
Metode dan media yang dipakai menurut Al-Ghazali harus dilihat secara
psikologis, sosiologis, prakmatis dalam rangka keberhasilan pembelajaran.
Metode pembelajran tidak boleh monoton, demikian pula media yang dipakai.
Beberapa metode dan media pengajaraan yang dikemukakan imam ghazali
diantaranya adalah; pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian
dalil aqli dan naqli,bimbingan dan nasehat, pujian dan hukuman, dan menciptakan
kondisi yang mendukung terwujudnya akhlaq yang mulia.
11. Aspek- aspek pendidikan dalam pandangan Al-Ghazali
Dalam pandangan Al-Ghazali aspek-aspek pendidikan tidak hanya dengan
memperhatikan aspek akhlaq saja tetapi juga harus memperhatikan aspek- aspek
yang lain dan mewujudkan aspek- aspek itu secara utuh dan terpadu. Aspek- aspek
tersebut diantanya adalah:
1. Aspek pendidikan keimanan
a. Iman menurut Al-Ghazali adalah mengucapkan dengan lidah mengakui
benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan angota badan. dari definisi ini
bisa kita fahami bahwa pendidikan keimanan meliputi tiga prinsip;
1) Ucapan lidah atau mulut karena lidah adalah penerjemah dari hati
2) Pembenaran hati, dengan cara i’tiqad dan taqlid bagi orang awam dan
manusia pada umumnya, sedang cara kasyaf (membuka hijab hati ).
3) Amal perbuatan yang dihitung dari
sebagian iman, karena ia melengkapi dan menyempurnakan iman sehingga bertambah
dan berkurangnya imam seseorang adalah dari amal perbuatan.
Dari beberapa prinsip pendidikan keimanan tersebut semuanya harus didasarkan pada pada syahadatain ( pengesaan pada eksistensi Allah dan pembenaran nabi muhammad sebagai utusan Allah). Al-Ghazali juga menegaskan bahwa pendidikan iman harus didasarkan pada empat rukun yang, pertama mengenai ma’rifat kepada dzat allah, sifat-sifat Allah, af’al Allah, syariat Allah.
Dari beberapa prinsip pendidikan keimanan tersebut semuanya harus didasarkan pada pada syahadatain ( pengesaan pada eksistensi Allah dan pembenaran nabi muhammad sebagai utusan Allah). Al-Ghazali juga menegaskan bahwa pendidikan iman harus didasarkan pada empat rukun yang, pertama mengenai ma’rifat kepada dzat allah, sifat-sifat Allah, af’al Allah, syariat Allah.
b. Pendidikan keimanan bagi anak
Al-Ghazali menganjurkan agar pendidikan keimanan mengenai aqidah harus
diberikan kepada anak sejak dia masih dini supaya dia menghafal, memahami,
beriktiqat, mempercayai, kemudian membenarkan sehingga keimanan pada anak akan
hadir secara sedikit-demi sedikit hingga sempurna, kokoh dan menjadi fundamen
dalam berbagai aspek kehidupannya dan bisa mempengaruhi segala perilakunya
mulai pola pikir, pola sikap, polabertindak, dan pandangan hidupnya.
2. Aspek pendidikan akhlaq
a. Akhlaq menurut Al
ghazali
Akhlaq adalah ibarat (sifat atau keadaan )dari perilaku yang konstan
(tetap) dan meresap dalam jiwa dari padanya tumbuh perbuatan- perbuatan dengan
wajar dan mudah tampa memerlukan pikiran dan pertimbangan. Sedang akhlaq
menurut Dr. ahmad Amin ialah ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan
manusia. Yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau
yang batil. Dan ulama’-ulama’ ahli ada yang mendefinisikan akhlaq sebagai
berikut, akhlaq adalah gambaran jiwa yang tersembunyi yang timbul pada manusia
ketika menjalankan perbuatan –perbuatan yang tidak dibuat- buat atau dipaksa-
paksakan.
Dari keterangan diatas dapat kita ketahui bahwa akhlaq adalah sumber dari segala perbuatan yang sewajarnya,tidak dibuat- buat dan perbuatan yang dapat kita lihat sebenarnya adalah merupakan gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa. Menurut pengertian diatas maka hakikat akhlaq harus mencakup dua syarat:
Dari keterangan diatas dapat kita ketahui bahwa akhlaq adalah sumber dari segala perbuatan yang sewajarnya,tidak dibuat- buat dan perbuatan yang dapat kita lihat sebenarnya adalah merupakan gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa. Menurut pengertian diatas maka hakikat akhlaq harus mencakup dua syarat:
1) Perbuatan itu harus konstan, yaitu harus dilakukan berulang kali kontinu
dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan.
2) Perbuatan konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud reflektif
dari jiwanya tampa pertimbangan dan pemikiran.
b. Pendidikan akhlaq bagi anak
Sebelum anak dapat berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta
belum sanggup menentukan mana yang baik dan yang buruk, dan mana yang salah dan
benar maka latihan-latihan dan pembiasaan, dan penanaman dasar-dasar pendidikan
akhlaq yang baik (yang sesuai dengan akal pikiran dan syariat Islam) secara
beransur-ansur hingga berkembang menuju kesempurnaan berperan sangat
penting.diantara beberapa akhlaq yang baik adalah;
a) Kesopanan dan kesederhanaan
a) Kesopanan dan kesederhanaan
(1) Kesopanan dan kesederhanaan makan
(2) Kesopanan dan kesederhanaan pakaian
(3) Kesederhanaan tidur
b) Kesopanan dan kedisiplinan
b) Kesopanan dan kedisiplinan
(1) Kesopanan dan kedisiplinan duduk
(2) Kesopanan dan kedisiplinan berludah
(3) Kesopanan dan kedisiplinan berbicara
c) Pembiasaan dan latihan bagi anak untuk menjahui perbuatan yang tercela
c) Pembiasaan dan latihan bagi anak untuk menjahui perbuatan yang tercela
(1) Suka bersumpah
(2) Suka meminta
(3) Suka membangakan diri
(4) Berbuat dengan cara sembunyi-sembunyi
(5) Menjahui segala sesuatu yang tercela
d) Latihan beribadah dan mempejari syariat islam
d) Latihan beribadah dan mempejari syariat islam
Bagi anak yang sudah tamyis dan berumur 10 tahun maka anak itu jangan
sekali-kali diberi kesempatan untuk meninggalkan bersuci secara agama, salat,
puasa dan sebagainya.dan juga Al-Ghazali menyarankan agar anak anak mepelajari
ilmu agama seperti al-qur’an hadist, hikayah dan lain sebagainya.
3. Aspek pendidikan akliyah
Al-Ghazali menjelaskan Akal adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan tempat
terbit dan sendi-sendinya. Dalam ilmu pengetahuan itu berlaku dari akal
sebagaimana berlaku buah dari pohon, sinar dari matahari penglihatan dari mata.
Akal dan kemauanlah yang memberkan karakteristik kepada manusia dengan akal
pikiran dapat memberikan kepada manusia ilmu pengetahuan yang dipakainya
sebagai pedoman dalam usaha dan aktifitas hidunya, sedang kemauan menjadi
pendorong perbuatan manusia .dengan demikian antar pendorong perbuatan dan
pedoman perbuatan (usaha dan aktivitas hidup) terdapat hubungan yang saling
mempengaruhi ‘interaksi yang erat sekali. Oleh karena itu pendidikan akliyah
sangat erat sekali untuk mengembangkan hazanah ilmu pengetahuan, mencerdaskan
pikiran, mengembangkan intelegensi manusia ,secara optima, cakap, mempergunakan
ilmu pengetahuan yang diperolehnya dan memberikan pedoman pada segala macam
perbuatan manusia.
4. Aspek pendidikan sosial
Al-Ghazali memberiakan petunjuk kepada orang tua dan para guru agar anak
dalam pergaulan memiliki sikap dan sifat yang mulia dan etika pergulan yang
baik sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.sifat-sifat itu adalah
a) Menghormati dan patuh kepada kedua orang tua dan orang dewasa lainnya
b) Merendahkan hati dan lemah lembut
c) Membentuk sikap dermawan
d) Membatasi pergaulan anak (kepada anak yang tidak sopan,sombong, dan boros.
5. Aspek pendidikan jasmaniyah
Adapun pendidikan jasmaniyah bagi anak dan orang dewasa yaitu;
a) Pendidikan kesehatan dan kebersihan
b) Membiasakan makan makanan yang baik dan tidak berlebihan
c) Bermain dan berolah raga
a) Menghormati dan patuh kepada kedua orang tua dan orang dewasa lainnya
b) Merendahkan hati dan lemah lembut
c) Membentuk sikap dermawan
d) Membatasi pergaulan anak (kepada anak yang tidak sopan,sombong, dan boros.
5. Aspek pendidikan jasmaniyah
Adapun pendidikan jasmaniyah bagi anak dan orang dewasa yaitu;
a) Pendidikan kesehatan dan kebersihan
b) Membiasakan makan makanan yang baik dan tidak berlebihan
c) Bermain dan berolah raga
12. PENUTUP
Al-Ghazali.
Imam, Ayyuha al-Walad. Beirut: Dar al-Kutb al-‘Ilmiyah, 1986
Nakosten, Mehdi.
Konstribusi Islam Atas Dunia Barat. Surabaya: Risalah Gusti, 1996
Tujuan pendidikan
menurut Al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq,
dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah.
Dan bukan hanya untuk mencapai kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan
dunia. Sehingga dengan demikian salah satu yang sangat penting untuk lebih
diutamakan dalam mendidik anak menurut al-ghozali adalah pentingnya penanaman
dasar-dasar pendidikan akhlaq yang baik yang sesuai dengan akal pikiran dan
syariat yang dilakukan secara berangsur-angsur, serta adaya latihan-latihan dan
pembiasaan sehingga berkembang menuju kesempurnaan. Dan dalam prosesnya harus
dilakukan sebelum anak dapat berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak
serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan yang buruk, dan mana yang
salah dan benar
Selain hal tersebut dalam konsep pendidikan Al-Ghazali menganjurkan agar pendidikan keimanan mengenai aqidah harus diberikan kepada anak sejak dia masih dini supaya dia dapat menghafal, memahami, mempercayai, kemudian membenarkan sehingga keimanan pada anak akan hadir secara sedikit-demi sedikit hingga sempurna, kokoh dan menjadi fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya dan bisa mempengaruhi segala perilakunya mulai pola pikir, pola sikap, polabertindak, dan pandangan hidupnya
Dari beberapa konsep dan metode tersebut kiranya tidak salah ketika Al-Ghazali merumuskan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh pendidik diantaranya adalah guru harus cerdas, sempurna akalnya.dan baik akhlaqnya, dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlaq yang baik dia dapat memberi contoh dan teladan bagi muridnya.
DAFTTAR PUSTAKA
Selain hal tersebut dalam konsep pendidikan Al-Ghazali menganjurkan agar pendidikan keimanan mengenai aqidah harus diberikan kepada anak sejak dia masih dini supaya dia dapat menghafal, memahami, mempercayai, kemudian membenarkan sehingga keimanan pada anak akan hadir secara sedikit-demi sedikit hingga sempurna, kokoh dan menjadi fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya dan bisa mempengaruhi segala perilakunya mulai pola pikir, pola sikap, polabertindak, dan pandangan hidupnya
Dari beberapa konsep dan metode tersebut kiranya tidak salah ketika Al-Ghazali merumuskan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh pendidik diantaranya adalah guru harus cerdas, sempurna akalnya.dan baik akhlaqnya, dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlaq yang baik dia dapat memberi contoh dan teladan bagi muridnya.
DAFTTAR PUSTAKA
Asa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Am
Asa Mandiri, 2006.
Ihsan,Hamdani,
Dan A.Fuad Ihsan , Filsafat Pendiddikan islam,Bandung: CV Pustaka Setia,2001
May’ari, Anwar, AKhlaq Al-qur’an, Surabaya: PT Bina
ilmu, 2007
Nata,Abuddin, Pemikiran para tokoh pendidikan islam
seri kajian filsafat pendidikan islam, Jakarta: PT raja grafindo persada, 2003
Ramayulis dan nizar, Samsul, ensinklopedi tokoh
pendidikan islam, ciputat: PT ciputata Press group,2005
Sujana S Pendidikan Non Formal, Bandung: Falah
Produktion,2004.
Zainuddin dkk.,Seluk beluk Pendidikan dari Al-ghazali,
Jakarta: Bumi Aksara,1991
Zamjani, Irsyad. Wacana Pendidikan Ghazali. Surabaya,
Jurnal Studi Agama dan Demokrasi 2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar