1.
Pendahuluan
Sekolah atau lembaga pendidikan pada umumnya
adalah sarana bagi proses pewarisan maupun transformasi pengetahuan dan
nilai-nilai antar generasi. Dari sini dapat terpahami bahwa pendidikan
senantiasa memiliki muatan ideologis tertentu yang antara lain terekam melalui
konstruk filosofis yang mendasarinya. Kata Roem Topatimasang, sekolah memang
bukanlah sesuatu yang netral atau bebas nilai. Sebab tak jarang dan seringkali
demikian, pendidikan dianggap sebagai wahana terbaik bagi pewarisan dan
pelestarian nilai-nilai yang nyatanya sekedar yang resmi, sedang berlaku dan
direstui bahkan wajib diajarkan di semua sekolah dengan satu penafsiran resmi
yang seragam pula. Dinamika sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia
dalam berbagai era kesejarahan akan menguatkan pandangan ini, betapa dunia
pendidikan memiliki keterkaitan sangat erat dengan kondisi sosial-politik yang
tengah dominan.
Sebuah
bagan skematik dari William F. O’neil berikut ini kiranya dapat menunjukkan
bagaimana nalar relasional antara filsafat dengan dunia pendidikan:
Ontologi
(Apa yang tertinggi yang bisa diketahui, dan
bagaimana kita bisa mengetahuinya [epistemologi, ny.]?)
Aksiologi
(Apakah kebaikan tertinggi itu?)
Teori Moral
(Apakah perilaku antarmanusia yang baik itu?)
Filosofi Politik
(Apakah organisasi sosial yang baik itu?)
Filosofi Pendidikan
(Pengetahuan macam apa yang diperlukan dan bagaimana semestinya ia ditanamkan?)
(Apa yang tertinggi yang bisa diketahui, dan
bagaimana kita bisa mengetahuinya [epistemologi, ny.]?)
Aksiologi
(Apakah kebaikan tertinggi itu?)
Teori Moral
(Apakah perilaku antarmanusia yang baik itu?)
Filosofi Politik
(Apakah organisasi sosial yang baik itu?)
Filosofi Pendidikan
(Pengetahuan macam apa yang diperlukan dan bagaimana semestinya ia ditanamkan?)
Lebih
menarik kiranya jika perspektif O’neil yang menurunkan filsafat pendidikan dari
filsafat politik ini dibaca dengan mencermati telaah H.A.R. Tilaar yang
memandang titik tolak pedagogik dari tindakan pemanusiaan. Sehingga pendidikan
tidak bisa dilepaskan dari filsafat manusia. Jadi, justru perbedaan persepsi
tentang manusia inilah yang kemudian melahirkan berbagai aliran dalam dunia
pendidikan.
2. Pengertian
Filsafat
Filsafat adalah
pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar
mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu
sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara
mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala
hubungan.
Istilah filsafat dapat ditinjau dari
dua segi, yaitu:
- Segi logat / sematik: perkataan filsafat adalah bentuk kata Arab “ falsafah” yang berasal dari bahasa Yunani “philosophia”, philos = cinta, suka (loving) Sophia = pengetahuan, hikmah (wisdom).
Jadi
pilosohia berarti cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Maksudnya
orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana.
- Segi praktis: dilihat dari pengertian praktisnya filsafat berarti “alam pikiran” atau “alam berfikir” . Berfilsafat artinya berfikir, namun tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.
Karena luasnya lingkungan pembahasan
maka tidak mustahil kalau para ahli memberikan definisi secara berbeda-beda.
Diantaranya:
- Plato (427-347 SM.) mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada.
- Aristoteles (384-322 SM) mengatakan: Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
- Marcus Tullius Cicero (106-43 SM.) merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
- Al-Faraby (870-956 M.) mengatakan: filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
- Immanuel Kant (1724-1804 M.) mengatakan: filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
-
Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
-
Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
-
Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh
antropologi)
- Prof. Dr. Fuad Hasan Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan.
- Drs. H. Hasbullah Bakry merumuskan: Ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Setelah mempelajari rumusan-rumusan
tadidapat ditarik kesimpulan bahwa:
- Filsafat adalah “ilmu istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
- Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada.
Ciri-ciri
berfikir filosofi :
1.
Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir
yang tinggi.
2.
Berfikir secara sistematis.
3.
Menyusun suatu skema konsepsi, dan
4.
Menyeluruh.
Empat
persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :
1. Apakah sebenarnya
hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
2. Apakah yang dapat
saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
3. Apakah manusia
itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.
Beberapa
ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu
adalah:
1. Materialisme,
yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah.
Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme
memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
2. Idealisme yang
berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau
intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme
objektif.
3. Realisme. Aliran
ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat
yang asli dan abadi.
4. Pragmatisme
merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut)
tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan manusia.
Manfaat
filsafat dalam kehidupan adalah :
1. Sebagai dasar
dalam bertindak.
2. Sebagai dasar
dalam mengambil keputusan.
3. Untuk mengurangi
salah paham dan konflik.
4. Untuk bersiap
siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
Pendidikan adalah
upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik
potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat
berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita
kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam
keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup
kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi
mengenai masalah-masalah pendidikan.
Beberapa
aliran filsafat pendidikan;
1. Filsafat
pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
2. Filsafat
pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
3. Filsafat
pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori
realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan
temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta
pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya
pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan
dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial
yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang
eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.
3.
Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan
Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan
pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat
yang melandasinya. Dari berbagai filsafat yang ada, terdapat tiga aliran paham
yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yang secara kebetulan
ketiganya lahir pada jaman abad pencerahan menejelang zaman modern.
1. Aliran Nativisme
atau Naturalisme, dengan tokohnya antara lain. J.J.
Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian
bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi
insaniyah yang dapat berkembang secara alamiah. Karena itu, pendidikan pada
dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak
berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan
sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.
2. Aliran Empirisme atau Environmentalisme, dengan tokohnya antara lain John
Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa
manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk
apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa,
Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu,
pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian
pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan
masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang
cenderung optimistik.
3. Aliran Konvergensionisme atau Interaksionisme,
dengan tokohnya antara lain William Stern (1871-1939). Pandangan ini pada
dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan terdahulu. Menurut pandangan
ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang
determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh
karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa
interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan
terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan
tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang
cenderung rasional.
4. Aliran
Progresivisme
Cara Pandang dalam aliran
progresivisme yakni : (a) Suka melihat manusia sebagai pemecah
persoalan (problem-solver) yang baik. (b) Oposisi bagi setiap upaya pencarian
kebenaran absolut. (c) Lebih tertarik kepada perilaku pragmatis yang dapat
berfungsi dan berguna dalam hidup. (d) Pendidikan dipandang sebagai suatu
proses. (e) Mencoba menyiapkan orang untuk mampu menghadapi persoalan aktual
atau potensial dengan keterampilan yang memadai. (f) Mempromosikan pendekatan
sinoptik dengan menghasilkan sekolah dan masyarakat bagi humanisasi. (g)
Bercorak student-centered. (h) Pendidik adalah motivator dalam iklim
demoktratis dan menyenangkan. (i) Bergerak sebagai eksperimentasi alamiah dan
promosi perubahan yang berguna untuk pribadi atau masyarakat.
Aliran progresivisme mengakui dan
berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan, agar
manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme,
karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat
untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadiaan manusia.
Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan
mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan
dinamakan environmentalisme, Karena aliran ini menganggap lingkungan
hidup itu memengaruhi pembinaan kepribadiaan
Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini,
antara lain, adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant
Schiller, dan Georges Santayana.
Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan
yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan
dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan
kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan
kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang
dibuat oleh orang lain (Ali, 1990: 146). Oleh karena itu, filsafat progesivisme
tidak menyetujui pendidikan yang otoriter.
John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai
proses dan Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil
kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding
pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik
tidak cukup di sekolah saja.
Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah
sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Karena
sekolah adalah bagian dari masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harus dapat
mengupyakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar
atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini,
sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan
kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah
itu. Untuk itulah, fisafat progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan
bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing
Dengan
kata lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu
diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan
pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai
pemindahan nilai-nilai (transfer of value), sehingga anak menjadi
terampildan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat
antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.
5. Aliran Esensialisme
5. Aliran Esensialisme
Cara Pandang dalam Aliran Esensialisme (a) Berkaitan dengan
hal-hal esensial atau mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari
sepenuhnya tentang dunia dimana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan
hidupnya. (b) Menekankan data fakta dengan kurikulum yang tampak bercorak
vokasional. (c) Konsentrasi studi pada materi-materi dasar tradisional seperti:
membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan
musik. (d) Pola orientasinya bergerak dari skill dasar menuju skill yang
bersifat semakin kompleks. (e) Perhatian pada pendidikan yang bersifat menarik
dan efisien. (f) Yakin pada nilai pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu
sendiri. (g) Disiplin mental diperlukan untuk mengkaji informasi mendasar
tentang dunia yang didiami serta tertarik pada kemajuan masyarakat teknis.
Aliran esensialisme merupakan aliran
pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak
awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan
ciri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih
fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan
dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak
pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan
kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai
tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut
idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri,
kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju ke
makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia
melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman
lebih dahulu.
Bila orang berhadapan dengan benda-benda,
bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu.
Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman
atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah buikanlah budi pada benda, tetapi
benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang
dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat
didefinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri
sendiri
Roose L. finney, seorang ahli sosiologi
dan filosof , menerangkan tentang hakikat social dari hidup mental. Dikatakan
bahwa mental adalah keadaan ruhani yang pasif, hal ini berarti bahwa manusia
pada umumnya menerima apa saja Yng telah ditentukan dan diatur oleh alam
social. Jadi, belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh
nilai-nilai social angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan
diteruskan pada angkatan berikutnya.
Esensialisme berpendapat bahwa dunia
ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya
dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang
mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia
berada.
Esensialisme
juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu
pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada
dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada
apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek
tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.
Menurut
idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang
apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan
diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai
pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang
mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat
bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan
menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil
dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu
pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya
sepanjang masa.
6. Aliran
Perenialisme
Cara Pandang dalam aliran
Perennialisme
(a) Berhubungan dengan perihal sesuatu yang terakhir. Cenderung menekankan seni
dan sains dengan dimensi perennial yang bersifat integral dengan sejarah
manusia. (b) Pertama yang harus diajarkan adalah tentang manusia, bukan mesin
atau teknik. Sehingga tegas aspek manusiawinya dalam sains dan nalar dalam
setiap tindakan. (c) Mengajarkan prinsip-prinsip dan penalaran ilmiah, bukan
fakta. (d) Mencari hukum atau ide yang terbukti bernilai bagi dunia yang kita
diami. (e) Fungsi pendidikan adalah untuk belajar hal-hal tersebut dan mencari
kebenaran baru yang mungkin. (f) Orientasi bersifat philosophically-minded.
Jadi, fokus pada perkembangan personal. (g) Memiliki dua corak:
(1) Perennial Religius: Membimbing individu kepada kebenaran utama (doktrin, etika dan penyelamatan religius). Memakai metode trial and error untuk memperoleh pengetahuan proposisional. (2) Perennial Sekuler: Promosikan pendekatan literari dalam belajar serta pemakaian seminar dan diskusi sebagai cara yang tepat untuk mengkaji hal-hal yang terbaik bagi dunia (Socratic method). Disini, individu dibimbing untuk membaca materi pengetahuan secara langsung dari buku-buku sumber yang asli sekaligus teks modern. Pembimbing berfungsi memformulasikan masalah yang kemudian didiskusikan dan disimpulkan oleh kelas. Sehingga, dengan iklim kritis dan demokratis yang dibangun dalam kultur ini, individu dapat mengetahui pendapatnya sendiri sekaligus menghargai perbedaan pemikiran yang ada.
(1) Perennial Religius: Membimbing individu kepada kebenaran utama (doktrin, etika dan penyelamatan religius). Memakai metode trial and error untuk memperoleh pengetahuan proposisional. (2) Perennial Sekuler: Promosikan pendekatan literari dalam belajar serta pemakaian seminar dan diskusi sebagai cara yang tepat untuk mengkaji hal-hal yang terbaik bagi dunia (Socratic method). Disini, individu dibimbing untuk membaca materi pengetahuan secara langsung dari buku-buku sumber yang asli sekaligus teks modern. Pembimbing berfungsi memformulasikan masalah yang kemudian didiskusikan dan disimpulkan oleh kelas. Sehingga, dengan iklim kritis dan demokratis yang dibangun dalam kultur ini, individu dapat mengetahui pendapatnya sendiri sekaligus menghargai perbedaan pemikiran yang ada.
Perenialisme memandang pendidikan
sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme
memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan
dan pendidikan zaman sekarang (Muhammad Noor Syam, 1986: 154). Dari pendapat
ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan
kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah,
perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas
merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan.
Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan
merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang
dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka kebenaran itu akan
dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama
adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan
pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan
memahami factor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha
mengadakan penyelesaian masalahnya.
Diharapkan anak didik mampu mengenal dan
mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental.
Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah
pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra,
sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan
lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan kepadaperkembangan zaman
dulu.
Tugas utama pendidikan
adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan. Matang dalam arti hiodup
akalnya. Jadi, akl inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah kematangan
tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar.
Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung,
anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah, sebagai tempat utama dalam
pendidikan, mempesiapkan anak didik ke arah kematangan akal dengan memberikan
pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan
pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain, keberhasilan anak
dalam bidang akalnya sangat tergantung kepada guru,
dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk
mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus
ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut.
perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya.
Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual,
sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat
dipandang baik.
Beberapa
pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan
yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi
merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk
mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah
menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata.
(Thomas Aquinas)
Adapun
norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran,
cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap
eksistensi serta cinta kerjasama.
7. Aliran
Rekonstruksionisme
Cara Pandang dalam aliran Rekonstruksionisme (a) Promosi
pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan penyelesaian
problema sosial yang signifikan. (b) Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan
tambal-sulam) para Progresivist. (c) Pendidikan perlu berfikir tentang
tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun
menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu
diciptakan. (d) Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada
penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur
kehidupan. (e) Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia
adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya. (f) Learn by
doing! (Belajar sambil bertindak).
Kata Rekonstruksionisme bersal dari
bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks
filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha
merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran
rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu
berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985: 340),
kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang
mempumyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan
kesimpangsiuran.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa
tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya,
pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan
yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula
demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan
umat manusia.
Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi
bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah
oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan
tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti
diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan,
kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna
kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Bakry, Hasbullah, Sitematik Filsafat
(Widjaya, Yogyakarta, 1970).
Idris, H. Sahara dan Jamal, H
Lisman, Pengantar Pendidikan (Grasindo, 1992)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)
Sumitro, Dkk, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP Yogyakarta
Murtiningsih, Siti, Pendidikan Alat Perlawanan, Resist Book, 2004
Sadullah, Uyah. Drs, Pengantar Filsafat Pendidikan (Alfabet, Yogyakarta 2004)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar