A. Pendahuluan
Proses
belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses
penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui
saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa/pebelajar atau mungkin juga
guru). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi
berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan
oleh penerima pesan (Criticos, 1996).
Oleh
karena itu dalam menyampaikan pesan (isi atau materi ajar) agar lebih dapat
diterima oleh peserta didik atau siswa hendaknya menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa
media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar
berlangsung lebih efektif (Gagne, 1985) dan efisien.
Pengertian media
masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan adalah
perangkat lunak berisi pesan atau informasi pendidikan biasanya disajikan dengan
menggunakan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras sendiri
merupakan sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.
Peran guru adalah menyediakan dan menuangkan
informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Guru mempersepsi diri sebagai pribadi yang berhasil dalam
pekerjaannnya apabila dia dapat menuangkan pengetahuan sebanyak banyaknya kepada siswa dan siswapun dipersepsi sebagai pribadi yang
berhasil apabila mereka tunduk menerima pengetahuan yang dituangkan guru kepada
mereka.
Praktek
pendidikan yang berorientasi pada persepsi semacam itu adalah bersifat indoktrinasi, sehingga akan berdampak pada
penjinakan kognitif para siswa, menghalangi perkembangan kreativitas siswa, dan
memenggal peluang siswa untuk mencapai higher order thinking.
Akhir-akhir ini, konsep belajar didekati menurut paradigma konstruktivisme.
Menurut paham konstruktivistik, belajar merupakan hasil konstruksi sendiri (peserta
didik) sebagai hasil interaksinya terhadap lingkungan belajar.
Pengkonstruksian
pemahaman dalam kerangka belajar dapat
melalui proses asimilasi atau akomodasi. Secara hakiki, asimilasi dan akomodasi
terjadi sebagai usaha peserta didik untuk menyempurnakan atau merubah
pengetahuan yang telah ada di benaknya. Pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta
didik sering pula diistilahkan sebagai prakonsepsi. Proses asimilasi terjadi
apabila terdapat kesesuaian antara pengalaman baru dengan prakonsepsi yang
dimiliki peserta didik.
Sedangkan
proses akomodasi adalah suatu proses adaptasi, evolusi, atau perubahan yang
terjadi sebagai akibat pengalaman baru peserta didik yang tidak sesuai dengan
prakonsepsinya. Tinjauan filosofis, psikologi kognitif, psikologi sosial, dan
teori sains sepakat menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan.
Siswa sendiri yang melakukan perubahan tentang pengetahuannya.
Peran
guru dalam pembelajaran
adalah sebagai fasilitator, mediator, dan pembimbing. Jadi guru hanya dapat
membantu proses perubahan pengetahuan di kepala siswa melalui perannya
menyiapkan scaffolding dan guiding, sehingga siswa dapat mencapai
tingkatan pemahaman yang lebih sempurna dibandingkan dengan pengetahuan
sebelumnya. Guru menyiapkan tanggga yang efektif, tetapi siswa sendiri yang
memanjat melalui tangga tersebut untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.
Berdasarkan
perkembangan Iptek tentang belajar tersebut, maka prinsip media mediated
instruction menempati posisi cukup strategis dalam rangka mewujudkan ivent
belajar secara optimal. Ivent belajar yang optimal merupakan salah
satu indikator untuk mewujudkan hasil belajar peserta didik yang optimal pula.
Hasil belajar yang optimal juga merupakan salah satu cerminan hasil pendidikan
yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas memerlukan sumber daya guru yang
mampu dan siap berperan secara profesional dalam lingkungan sekolah dan
masyarakat.
Dalam
era perkembangan Iptek yang begitu pesat dewasa ini, profesionalisme guru tidak
cukup hanya dengan kemampuan membelajarkan siswa, tetapi juga harus mampu
mengelola informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa
(Ibrahim, et.al., 2001). Konsep lingkungan meliputi tempat belajar,
metode, media, sistem penilaian, serta sarana dan prasarana yang diperlukan
untuk mengemas pembelajaran dan mengatur bimbingan belajar sehingga memudahkan
siswa belajar.
Dampak
perkembangan Iptek terhadap proses pembelajaran adalah diperkayanya sumber dan
media pembelajaran, seperti buku teks, modul, overhead transparansi, film,
video, televisi, slide, hypertext, web, dan sebagainya. Guru profesional
dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang
ada di sekitarnya.
Kajian ini menyajikan mengenai arti, posisi, dan
fungsi media pembelajaran; landasan penggunaan media pembelajaran; perangkat
dan klasifikasi media pembelajaran; dan karakteristik media pembelajaran, ini diharapkan dapat berperan sebagai
salah satu pendukung bagi para guru untuk menuju pemenuhan tuntutan
profesionalisme. yang
disajikan dengan media.
Landasan
teknologis. Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek
perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan
sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan
terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk
menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan
mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu
mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan
masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran
yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan
serta dikombinasikan sehingga menjadi sistem pembelajaran yang lengkap.
Komponen-omponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik,
dan latar.
Landasan
empiris. Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa
terdapat interaksi yang bersifat
korelatif antara penggunaan media pembelajaran dan
karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya,
siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan
menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya.
Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila
pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau
film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka
belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru.
Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika
menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut,
maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru,
tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik peserta didik,
karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
B. Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk
jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar”
yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. dalam
proses belajar mengajar di kelas, media berarti sebagai sarana yang berfungsi
menyalurkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. kelancaran
aplikasi model pembelajaran sedikit banyak ditentukan pula oleh
media pembelajaran yang digunakan. beberapa ahli
memberikan definisi tentang media pembelajaran. penggunaan media pembelajaran
dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif juga menjadi ukuran penting dalam
proses pembuktian hipotesa. schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang
dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Sementara itu, briggs (1977) berpendapat bahwa media
pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran
seperti : buku, film, video dan sebagainya. sedangkan, national education
associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana
komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi
perangkat keras. dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta
didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta
didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. pada
mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk
mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. sekitar pertengahan abad ke
–20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio,
sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini
penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan
interaktif, seperti adanya komputer dan internet. media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
- media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
- media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
- media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
- media menghasilkan keseragaman pengamatan
- media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
- media membangkitkan keinginan dan minat baru.
- media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
- media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya:
- media visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
- media audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
- projected still media : slide; over head projektor (ohp), lcd proyektor dan sejenisnya
- projected motion media : film, televisi, video (vcd, dvd, vtr), komputer dan sejenisnya.
- study tour media : pembelajaran langsung ke obyek atau tempat study seperti museum, candi, dll.
sejalan
dengan perkembangan iptek penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected
still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara
bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut multi media. contoh : dewasa
ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media,
namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa
media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin
dicapai. contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat
menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. jika
tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media
cetak yang lebih tepat digunakan. kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik
(gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. di samping
itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer),
seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu
teknis.
C. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Media
pembelajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses kegiatan
belajar mengajar. Oleh karena ituharus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya
yang antara lain :
a.
Penggunaan media pengajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari suatu sistem
pengajaran dan bukan hanya sebagaialat bantu yang berfungsi sebagai tambahan
yang digunakan biladianggap perlu dan hanya dimanfaatkan sewaktu-waktu
dibutuhkan.
b.
Media pengajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah
yang dihadapi dalamproses belajar mengajar.
c.
Guru hendaknya benar-benar menguasai teknik-teknik dari suatumedia pengajaran
yang digunakan.
d.
Guru seharusnya memperhitungkan untung-ruginya pemanfaatan suatumedia
pembelajaran.
e.
Penggunaan media pembelajaran harus diorganisir secara sistematisbukan
sembarang menggunakannya.
f.
Jika
sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari macammedia, maka guru dapat
memanfaatkan multimedia yang menguntungkan
dan memperlancar proses belajar mengajar dan jugadapat merangsang siswa dalam
belajar.
Adapun
beberapa syarat umum yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan
media pembelajaran dalam proses belajar mengajar yaitu
:
a.
Media
pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
b.
Media
pembelajaran tersebut merupakan media yang dapat dilihat atau didengar.
c.
Media
pengajaran yang digunakan dapat merespon siswa belajar.
d.
Media pengajaran juga harus sesuai dengan kondisi individu siswa.
e.
Media
pengajaran tersebut merupakan perantara (medium) dalamproses pembelajaran siswa.
Dalam Penggunaan media pembelajaran
seharusnya mempertimbangkanbeberapa hal berikut ini :
a.
Guru harus berusaha dapat memperagakan atau merupakan model dari suatu pesan (isi pelajaran) yang disampaikan.
b.
Jika obyek yang akan diperagakan tidak mungkin dibawa ke dalam kelas, maka kelaslah yang diajak ke lokasi
obyek tersebut.
c.
Jika kelas tidak memungkinkan dibawa ke lokasi obyek tersebut,usahakan model
dan tiruannya.
d.
Bilamana model atau maket juga tidak didapatkan, usahakan gambaratau foto-foto
dari obyek yang berkenaan dengan materi (pesan)pelajaran tersebut.
e.
Jika gambar atau foto juga tidak didapatkan, maka guru berusaha membuat sendiri media sederhana yang menarik
perhatian belajarsiswa.
f.
Bilamana media sederhana tidak dapat dibuat oleh guru, gunakan papan tulis untuk mengilustrasikan obyek
atau pesan tersebut melalui gambar
sederhana dengan garis lingkaran.
D. Macam-Macam Klasifikasi Media Pembelajaran
Berbagai
cara dapat dilakukan untuk mengklasifikasi dan mengidentifikasi
media. Menurut bentuk informasi yang digunakan, anda dapat memisahkan dan
mengklasifikasi media penyaji dalam lima kelompok besar, yaitu media visual
diam, media visual gerak, media audio, media audio visual diam, dan media audio
visual gerak. Klasifikasi
media
ini dapat menjadi landasan untuk membedakan proses yang dipakai untuk
menyajikan pesan, bagaimana suara dan atau gambar itu diterima, apakah melalui penglihatan
langsung, proyeksi optik, proyeksi elektronik atau telekomunikasi.
Sementara
Edgar Dale mengadakan klasifikasi
media pembelajarn
menurut tingkat dari yang paling konkrit sampai yang paling abstrak.
Klasifikasi
Media Pembelajaran Edgar Dale
Klasifikasi
tersebut kemudian dikenal dengan nama “kerucut pengalaman” dari Edgar Dale dan
dianut secara luas dalam menentukan media, alat bantu serta alat peraga
yang paling sesuai untuk pengalaman belajar.
Klasifikasi media pembelajaran
menurut pakar :
1. Klasifikasi media pembelajaran
menurut Azhar Arshad
Klasifikasi
sumber belajar tidak jauh berbeda dengan bentuknya. Klasifikasi sumber
belajar menurut Degeng dalam Azhar Arshad (2006) adalah sebagai berikut:
- Pesan (Siapa /Apa informasi )
- Orang (Siapa/ informasi Apakah yang akan disampaikan)
- Bahan (Siapa/ Bahan Apakah yang disiapkan untuk informasi?)
- (Siapa/ Alat Apakah yang digunakan untuk menyampaikan informasi?)
- Teknik (Bagaimana Teknik informasi itu ditransmisikan?)
- Lingkungan/Latar (Di mana informasi ditransmisikan?)
2. Klasifikasi media pembelajaran
menurut Rudy Bretz
Rudy Bretz, mengklasifikasikan media
berdasarkan unsur pokoknya yaitu suara, visual (berupa gambar, garis, dan
simbol), dan gerak. Di samping itu juga, Bretz membedakan antara media
siar (telecommunication) dan media rekam (recording).
Dengan demikian, media menurut taksonomi Bretz dikelompokkan menjasi 8
kategori: 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3)
media audio semi gerak, 4) media visual gerak, 5) media visual diam, 6) media
semi gerak, 7) media audio, dan 8) media cetak.
3. Klasifikasi media pembelajaran
menurut Sudjana dan Ahmad Rifa’i
Sudjana dan Ahmad Rifa’i membedakan
atau mengklasifikasikan media ke dalam empat kelompok, yaitu media grafis
(dua dimensi), misalnya gambar, foto, dan grafik. Media tiga dimensi,
misalnya model susun dan model kerja. Media proyeksi, misalnya OHP
dan media lingkungan (alam).
4. Klasifikasi media pembelajaran
menurut R. Murry Thomas
Menurut R. Murry Thomas media
diklasifikasikan berdasarkan jenjang pengalaman , yaitu: (1) Pengalaman dari
benda asli (reliefe experience), misalnya bola. (2) Pengalaman dari
benda tiruan (sudstitude of reliefe experience) misalnya gambar dan foto. (3)
Pengalaman dari kata-kata (word only), misalnya buku dan program radio.
5. Klasifikasi media pembelajaran
menurut Soeparno
- Klasifikasi media berdasarkan karakteristiknya, dibedakan menjadi: (a) media yang memiliki karakteristik tunggal, misalnya radio. (b) media yang memiliki karakteristik ganda, misalnya film dan TV.
- Klasifikasi media berdasarkan dimensi presentasi, yang dibedakan menjadi: (a) Lama presentasi yaitu presentasi sekilas, misalnya TV, dan presentasi tak sekilas, misalnya OHP. (b) sifat presentasi yaitu presentasi kontinyu, misalnya TV, dan presentasi tak kontinyu, misalnya OHP.
- Klasifikasi media berdasarkan pemakainya, dapatdibedakan menjadi (a) berdasarkan jumlah pemakai, yaitu media untuk kelas besar, kelas kecil, dan belajar individual, (b) berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pemakai, yaitu media untuk TK, SD, SMP, SMU, dan PT.
E. Penutup
Tidak
diragukan lagi bahwa semua guru sepakat bahwa media itu perlu dalam
pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan
media, itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih media,
perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan
perkataan lain, media yang terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru
bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat dilihat dari isi, penjelasan
pesan dan karakteristik siswa.
Daftar Pustaka
Ibrahim, H., Sihkabuden, Suprijanta, & Kustiawan, U.
2001. Media pembelajaran: Bahan sajian program pendidikan akta
mengajar. FIP. UM.
Moedjiono. 1981. Media pendidikan III: Cara pembukaan
media pendidikan. Jakarta: P3G. Depdikbud.
Sadiman, A.S. 1990. Media pendidikan: pengeratian,
pengembangan, dan pemanfaatannya Jakarta: Cv. Rajawali.
Sihkabuden. 1994. Klasifikasi dan karakteristik media
instruksional sederhana. Malang : FIP IKIP Malang.
Wallington, C.J. 1996. Media production: production of
still media. Plomp, T., & Ely, D.P. (Eds.): International Encyclopedia
of Educational Technology, 2nd edition. New York: Elsevier Science, Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar