FITRAH PENCIPTAAN
A. Pendahuluan
Keunikan manusia yang diangkat oleh Allah
sebagai khalifahNYA harus menjalankan ujian dan percobaan. Pengangkatan ini terlimpah pada
keistimewaan dan keunggulan martabat manusia.Keistimewaan manusia menjadi bukti
nyata menurut ayat-ayat al qur’an,yang telah menuntut tunduk sujud menghormati
khalifah pertama.Hal ini menunjukkan kelebihan dan kemuliaan manusia.Di mana
manusia diberi kelebihan dan keistimewaan untuk melaksanakan tugas dan tanggung
jawab yang tidak di pikul oleh makhluk lain kecuali manusia.
Khalifah
adalah wakil Allah
dimuka bumi yang harus bertanggung jawab di hadapan Allah atas tingkah laku dan perbuatan
yang di lakukannya. Karakteristik ini adalah fitrah
yang baik merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dengan ruh dan badan beserta
jasad dan kehendak manusia dan Implikasi-implikasinya berhubungan dengan
pendidikan,
telah di jelaskan dalam al qur’an .Selama manusia sebagai khalifah Allah maka
pendidikan harus di kaitkan dengan perkembangan manusia secara harmonis maka
manusia yang seimbang hanyalah yang mampu mengatasi. Keistimewaan manusia adalah aql yang
merupakan
atribut keunggulan dan keistimewaan manusia yang unik. Aql dapat membantu
memilih alternative yang baik dan benar.
B.
Pengertian Manusia
dan Fitrahnya
Manusia
diciptakan Allah dalam struktur yang paling baik diantara makhluk Allah yang
lain. Struktur manusia terdiri dari unsur jasmaniah dan rohaniah atau unsur
fisiologis. Dalam unsur ini Allah memberikan seperangkat
kemampuan dasar yang memilki kecenderungan berkarya yang disebut potensialitas.
Yang menurut pandangan Islam dinamakan “Fitrah”.
Dalam pengertian lain dijelaskan secara rinci:
1. Kata fitrah berasal dari kata (fi’il) fathara
yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan, sifat semula jadi,
potensi dasar, dan kesucian.
2. Menurut ibn al-Qayyim dan ibn al-Katsir, karena
fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari
penciptaannya itu.
3. Menurut hadist yang diriwayatkan oleh ibnu
Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak
pernah dikemukakan oleh al-Qur’an dalam konteksnya selain dengan manusia.
4. Dalam kamus susunan Mahmud Yunus, fitrah
diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.
5. Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan
dengan agama, sunnah, kejadian, tabiat.
6. Menurut Syahminan Zain (1986 : 5), bahwa
fitrah adalah potensi laten atau kekuatan yang terpendam yang ada dalam diri
manusia, yang dibawanya sejak lahir.
Apabila
makna fitrah dirujuk pada manusia maka makna fitrah memiliki
berbagai pengertian. Seperti dalam surat Ar-Rum ayat 30, yang bermakna bahwa fitrah
manusia yaitu potensi manusia untuk beragama atau bertauhid kepada Allah.
Bahkan iman bawaan telah diberikan kepada manusia semenjak lahir.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
30.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui[1168],
[1168] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Selain itu
juga terdapat dalam sabda nabi saw, yaitu yang artinya “Tiap-tiap anak dilahirkan di atas
fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, Majusi.”
Bila di
interpretasikan lebih lanjut dari istilah “Fitrah” sebagaimana tersebut dalam
ayat al-Qur’an dan Hadist, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Fitrah yang disebutkan dalam ayat
tersebut mengandung implikasi pendidikan.Oleh karena itu, kata fitrah
mengandung makna “kejadian” yang didalamnya berisi potensi dasar beragama yang
benar dan lurus yaitu islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapa
pun. Karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami
perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.
2. Fitrah berarti agama, kejadian.
Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena
manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal in dikuatkan oleh
firman Allah dalam surat adz-Dzariyat(51):56
3. Fitrah Allah berarti ciptaan Allah,
Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama Tauhid; maka
hal itu tidak wajar kalau manusia tidak beragama tauhid. Mereka tidak beragama
tauhid itu hanya lantaran pengaruh lingkungan. Tegasnya manusia menurut fitrah
beragama tauhid.
4. Fitrah berarti ciptaan, kodrat jiwa,
budi nurani. Maksudnya bahwa rasa keagamaan, rasa pengabdian kepada Tuhan Yang
Maha Esa itu adalah serasi dengan budi nurani manusia. Adapun manusia yang
bertuhankan kepada yang lain-lain adalah menyalahi kodrat kejiwaannya sendiri.
5. Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya
manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian
(keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada
hadist yaitu: “ Tiga perkara yang
menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia
diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan”
(HR. abu Hamid dari Muadz)
6. Fitrah berarti potensi dasar
manusia. Maksudnya potensi dasar manusia ini sebagai alat untuk mengabdi dan
ma’rifatullah.Para filosof yang beraliran empirisme memandang aktivitas fitrah
sebagai tolok ukur pemaknaannya.
Manusia
merupakan makhluk yang istimewa. Hal ini dikarenakan manusia dikaruniai akal
sebagai keistimewaan dibandingkan makhluk lainnya. Manusia merupakan makhluk
mulia dari segenap makhluk yang ada di alam raya ini. Allah telah
membekali manusia dengan berbegai keutamaan sebagai siri khas yang membedakan
dengan makhluk yang lain. Untuk mengetahui komponen yang ada dalam manusia, hal
ini bisa dilihat pengertian manusia dari tinjauan al qur’an.
Keistimewaan
manusia juga dikarenakan manusia memiliki potensi yang dikenal dengan istilah fitrah.
Banyak persepsi mengenai makna fitrah. Sehingga kadang melenceng dari konsep
fitrah yang sesuai dengan yang dimaksudkan dalam al Qurr’an dan
hadis nabi. Selain itu bagaimana fitrah manusia dikaitkan dengan konsep
pendidkan islam.
1)
Keistimewaan Manusia
Bentuk dan pola peran seseorang, secara garis besar dapat kita lihat dari
kedudukan yang ditempatinya. Sedangkan untuk mengetahui hal itu, kita perlu
tahu akan penamaan yang disandangnya. Begitu pula tentang peran manusia dapat
dirujuk antara lain melalui berbagai sebutan yang diberikan pada manusia.
Dalam Alqur’an manusia disebut dengan berbagai nama antara lain : al-
Basyr, al- Insan, an- Nas.[1] Adapun
pemahaman tentang peran manusia erat kaitannya dengan sebutan yang
disandangnya. Manusia
disitilahkan dalam al qur’an dalam tiga hal, yaitu al-basyir, al-
insan, dan an-nas. Al-basyar dapat dipahami bahwa manusia
merupakan makhluk biologis yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan
keterbatasan, seperti makan, minum, kebutuhan berketurunan, kebahagiaan, dan lainnya.
Adapun
kata al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak ,
atau pelupa. Secara istilah al-insan berarti adanya totalitas
manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani. Harmonisasi kedua aspek tersebut
mengantarkan manusia sebagai mahluk Allah yang unik dan istimewa. Hal ini akan
terintegrasi dalam iman dan amalnya. An-Nas
menunjukkan pada eksistenti manusia sebagai makhluk social secara
keseluruhan Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk struktur yang sempurna.
Hal ini bisa dilihat dari ciptaan Allah yang lainnya.
Penciptaan
selain manusia hanya terdiri dari struktur jasmani (fisiologi) saja. Kalaupun
ada stuktur rohani seperti yang terdapat pada hewan dan tumbuhan, tetapi tidak
dikarunia akal sebagai sentral aktivitas manusia. Manusia memiliki kedua
struktur tersebut, jasmani dan rohani. Dengan kedua struktur tersebut,
maka manusia memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Dalam
dunia psikologi disebut dengan potensialitas atau disposisi atau prepotence
reflexes.[2]
a. Konsep Al- Basyr
Manusia dalam konsep al- Basyr, (Qs. 18: 110)
ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ×|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqã ¥n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) ÓÏnºur ( `yJsù tb%x. (#qã_öt uä!$s)Ï9 ¾ÏmÎn/u ö@yJ÷èuù=sù WxuKtã $[sÎ=»|¹ wur õ8Îô³ç Íoy$t7ÏèÎ/ ÿ¾ÏmÎn/u #Jtnr& ÇÊÊÉÈ
110.
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya".
Dan dipandang dari pendekatannya
biologis. Sebagai mahluk biologis berarti manusia terdiri atas unsur materi,
sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik material, yaitu berupa tubuh
kasar (ragawi).
Berdasarkan konsep al- Basyr, manusia tak jauh berbeda dengan
makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada
kaidah-kaidah prinsip kehidupan biologis lain seperti berkembang biak,
mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan
serta kedewasaan. Manusia memerlukan makan, minum dengan kreteria halal serta
bergizi (QS. 16 : 69)
69. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan
tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke
luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat
yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Untuk hidup dan ia juga butuh akan
pasangan hidup melalui jalur pernikahan untuk menjaga, melanjutkan proses
keturunanya (QS. 2 : 187)
b. Konsep Al- Insan
Manusia dalam konsep Al- Insan terbentuk dari akar kata Nasiya, Nisyu
yang berati lupa, dari kata Insu artinya senang, jinak,harmonis, dan
ada juga dari akar kata Naus yang mengandung arti “pergerakan atau
dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa manusia
pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh serta berkembang
secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga dibekali
dengan sejumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong ia ke arah
tindakan, sikap, serta prilaku negatif dan merugikan.
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ ¢OèO @yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B crãà6ô±n@ ÇÒÈ
7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
8. kemudian
Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.
9. kemudian Dia menyempurnakan
dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
$¯RÎ) $oYôÊttã sptR$tBF{$# n?tã ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ÉA$t6Éfø9$#ur ú÷üt/r'sù br& $pks]ù=ÏJøts z`ø)xÿô©r&ur $pk÷]ÏB $ygn=uHxqur ß`»|¡RM}$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. $YBqè=sß Zwqßgy_ ÇÐËÈ
72.
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,
[1233] Yang dimaksud
dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
c. Konsep An- Nas
Kata An- Nas dalam Al- Qur’an (QS. 2
: 21).
$pkr'¯»t â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇËÊÈ
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Dan umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk social.
Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan
laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling
kenal mengenal “berinterksi” (QS. 49 : 13).
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ×Î7yz ÇÊÌÈ
13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Hal ini sejalan dengan teori “strukturalisme” Giddens yang
mengatakan bahwa manusia merupakan individu yang mempunyai karakter serta
prinsip berbeda antara yang lainnya tetapi manusia juga merupakan agen
social yang bisa mempengaruhi atau bahkan di bentuk oleh masyarakat dan
kebudayaan di mana ia berada dalam konteks sosial.
Al Qur’an
menegaskan bahwa manusia mempunyai karakteristik yang unik. Atribut pertama
yang dimiliki oleh manusia adalah manusia dilengkapi fitrah yang di
miliki oleh manusia. Manusia tidak memiliki dosa waris turun-temurun karna
pengusiran Adam dari surga. Manusia di berikan amanat sebagai khalifah di muka
bumi. Manusia khalifah Allah tidak dibenarkan menyatakan kebenaran absolute
yang bersifat lahiriah. Manusia harus tunduk pada perintah Allah dan tidak di
benarkan menggantian yang selain itu yang bertentangan dengan perintah Allah
tersebut. Apabila manusia bertentangan dengan hal tersebut
2)
Fitrah Manusia
Dalam
pandangan Islam kemampuan dasar dan keunggulan manusia dibandingkan dengan
makhluk lainnya atau pembawaan disebut dengan fitrah, yang berasal
dari kata فطر yang dalam pengertian etimologi mengandung etimologi kejadian.
Kata tersebut berasal dari kata الفا طر yang berarti pecahan atau belahan.
Secara umum pemaknaan fitrah dalam al Qur’an dapat dikelompokkan
setidaknya dalam empat makna:
- Proses penciptaan langit dan bumi
- Proses penciptaan manusia
- Pengaturan alam semesta dan isinya secara serasi dan seimbang
- Pemaknaan pada agama Allah sebagai acuan dasa dan pedoman bagi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya.[3]
Makna fitrah
harus mencakup tentang manusia yang membutuhkan interaksi terhadap
lingkungannya. Hal ini dikarenakan tugas pokok manusia sebagai khalifah di muka
bumi ini. Hal ini dikarenakan, dalam pelaksanaan kekhalifahannya, manusia
senantiasa memerlukan interaksi denga orang lain atau makhluk lainnya. Untuk
itu, menurut Hasan Langgulung fitrah berarti, potensi-potensi yang
dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut meruakan keterpaduan yang tersimpul
dalam al asma’ul al husnah (sifat-sifat Allah).
Tentu saja
potensi manusia yang tersimpan dalam sifat Allah tidak sempurna. Tetapi
memiliki keterbatasan yang dimilikinya. Sehingga manusia selalu membutuhkan
bantuan dan pertolong dari Tuhannya dalam upaya pemenuhan semua kebutuhannya.
Keadaan ini menyadarkan manusia akan keterbatasannya dan ke-Mahakuasa-an Allah.
Potensi yang telah diberikan Allah kepada manusia menjadikan manusia berfirir
dan mampu mengemban amanat yang dibebankan oleh Allah kepadanya.
Dari kedua
dalil diatas yang memuat kata fitrah, maka fitrah dapat diambil
pengertian sebagai berikut.
- Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
- Fitrah yang berarti potensi. Potensi, mengacu kepada dua hal, yang baik dan buruk. Sehingga perlu dikembangkan, diarahkan, dan dididik. Disinilah fungsi pendidikan yaitu agar potensi manusia bisa terahkan dan berkembang dengan baik.
- Fitrah yang mengandung kecenderungan yang yang netral.[4] Dengan demikian, manusia harus melakukan usaha pendidikan aspek eksternal.
C.
Hubugan Fitrah Dengan Ruh
Kata ruh
digunakan dalam al Qur’an untuk mengartikan rahmad (belas kasihan) atau
al Qur’an, malaikat, khususnya malaikat Jibril atau nabi Isa atau hakikat
rohani yang bersatu dengan badan.[5]
Dalam al Qur’an kata ruh tidak dipergunakan untuk arti rohani atau jiwa (soul
atau pribadi).
Kata nafs mempunyai beberapa makna yang berbeda dalam
al Qur’an, seperti dalam QS. Al An’am: 93
3 öqs9ur #ts? ÏÎ) cqßJÎ=»©à9$# Îû ÏNºtyJxî ÏNöqpRùQ$# èps3Í´¯»n=yJø9$#ur (#þqäÜÅ$t/ óOÎgÏ÷r& (#þqã_Ì÷zr& ãNà6|¡àÿRr& ( ÇÒÌÈ
Alangkah dahsyatnya
Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan
sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):
"Keluarkanlah nyawamu"
Secara
eksplinsit, al Qur’an telah menjelaskan bahwa manusia tergantung kepada jiwanya
yang ada pada badan. Dengan demikian ruh merupakan salah satu penciptaan
Allah yang mempunyai kualitas unggul, namun adanya tidak lebih dari satu.
Manusia
memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Pada sisi lain, pemenuhan
kebutuhan biologis tidak menempatkan diri pada keterpisahannya pada ruh.
Dalam pemenuhan kebutuhan, manusia tidak boleh bersebrangan antara keinginan
lahiriah dengan fitrahnya.
Abstraknya
aspek ruhaniyah membuktikan adanya Zat Yang maha Agung yang telah
menciptakannya sehingga manusia tidak mampu meralisasikannya. Untuk melihat
esensi ruhani pada diri manusia, beberapa ulama mencoba memahaami dan
mendefinisikan roh sesuai dengan pandangan masing-masing.
Imam al-Ghazali membagi ke dalam 2 bentuk:
- al-Ruh yaitu daya manusia untuk mengenali dirinya sendiri mengenla Tuhannya dan mencapai ilmu pengetahuan sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian, berakhlak mulia serta mmenjadi motivator sekaligus penggerak bagi manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
- Al-Nafs (jiwa) yang berarti panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf manusia. Al-nafs dalam konteks ini diistilahkan dengan jiwa yang membedakan manusia dengan benda mati tetapi tidak membedakannya dengan makhluk lainnya sseperti hewan dan tumbuhan. Yang membedakannya yaitu tingkat esensinya.
Ibnu Sina membagi al-nafs pada tiga bagian:[6]
a)
Jiwa vegatatif yang memiliki 3 daya yaitu daya makan, daya tumbuh dan daya
berkembang biak.
b)
Al-Nafs al-Hayawwiyat yang memiliki 2 daya yaitu daya gerak dan daya
menyerap atau menangkap. Daya menangkap dari luar menggunakan panca indra
sedaneksgakan daya menangkap dari dalam menggunakan indra-indra dari dalam
yaitu indra bersama yang berfungsi menangkap segala apa yang di terima panca
indra, indr hayal, indra imajinasi, dan indra pemelihara.
c)
Al-Nafs Al Insaniyat memiliki dua macam daya yaitu daya praktis yang
berhubungan dengan jasmani manusia dan daya teoritis yang berhubngan dengan
hal-hal yang abstrak.
Hal ini
dapat di ambil kesimpulan al-nafs adalah daya yang membarikan
kesempurnaan pada tubuh organic untuk beraktifitas. Jiwa merupakan
penggerak namun ia tidak berfungsi bila tidak ada jasmani.
Meskipun
sifatnya abstrak nanum eksisensinya merupakan motor penggerak. Dalam konteks
ini, al Farabi membedakan ilmu pengetahuan sebagai hasil ilmu pengetahuan,
sebagai hasil dari keseluruhan kekuatan tersebut diatas. Yaitu kekuatan
menerima ilmu pengetahuan dari ruh al quds, dan juga mencari ilmu pengetahuan,
baik secara teoritis maupun praktis dan sekaligusikut mewarnai seluruh
aktivitas serta kepribadian manusia. Untuk itu, Al Farabi membagi kekuatan
mausia pada lima tahapan, yaitu:
1)
Kekuatan indera vegetative
2)
Melalui kekuatan tersebut, emudian muncul pulla kekuatan penginderaan lainnya,
seperti mendengar, melihat, merasa bahagia, dan lainnya.
3) Kekuatan
daya khayal yang mampu mengabungkan dan memilah kesan-kesan inderawi kepada
berbagai konsep abstrak lainnya.
4) Kekuatan
daya berkehendak (iradah) sebagai penstimulasi yang mampu merespon
munculnya berbagai bentuk aktivitas manusia.
5) Kekuatan
daya berfikir, yaitu kekuatan untuk manusia mampu memahami berbagai pengertian dan membedakan
yang benar dan yang salah, serata mampu menguasai berbagai seni dan ilmu
pengetahuan lainnya. Kekuata daya ini mampu memahami dan menyelami berbagai
fenomena baik yang dilukiskan oleh kekuatan daya inderawi eksternal maupun
internal.
6.
intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham tuhan. Intuisi
menggerakkan hati nurani manusia yang membimbingnya kearah perbuatan dalam
situasi khusus diluar kesadaran akal pikirannya. Namun mengandung makna yang
bersifat konstruktif bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan tuhan kepada
orang yang bersih jiwanya. Intuisi lebih banyak dirasakan sebagai getaran hati
nurani yang untuk berbuat sesuatu yang amat khusus.
Dengan
demikian dapat dipahami, bahwa baik atau buruknya sikap dan kepribadian
manusia, bukan ditentukan oleh aspek jasmaniyah akan tetapi lebih banyak
ditentukan dalam aspek rohaniah. Namun demikian, meskipun aspek jasmaniah tidak
menetukan dimensi personalitas manusia, namun eksistensinya sangat diperlukan
oleh aspek rohaniah bagi pendukung teraplikasikannya seluruh potensi rohaninya
dalam bentuk yang lebih konkrit.
D.
Komponen Psikologi Dalam Fitrah
Fitrah merupakan kondisi jiwa yang suci,
bersih yang reseptif terbuka kepada pengaruh eksternal termasuk pendidikan.
Kemampuan untuk mengadakan reaksi atau response terhadap pengaruh dari luar tidak
terdapat di dalam fitrah pendapat ini di kemukakan oleh ahli sunnah wal
jamaah.
Fitrah adalah factor kemampuan dasar
perkembangan manusia yang dibawa sejak lahir dan berpusat pada potensi dasar
untuk berkembang. Potensi dasar tersebut sacara menyeluruh (integral) yang
menggerakkan seluruh aspek-aspeknya secara mekanistik yang mana satu sama lain
saling mempengaruhi menuju kearah tujuan tertentu.
Aspek-aspek
fitrah merupakan komponen dasar bersifat dinamis, responsive terhadap
pengaruh linkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan. Komponen- komponen
dasar tersebut meliputi :
- Bakat, merupakan suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profesionla) dalam berbagai bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan kopmisi (daya cipta), konasi (kehendak), dan emosi yang disebut dengan tri kotomi (tiga kekuatan kemampuan rohani manusia). Masing-masing kekuatan rohani berperan.
- Insting (ghorizah), adalah kemampuan berbuat atau bertingkah tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting tersebut merupakan pembawaan sejak lahir juga. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan melalui proses belajar. Jenis-jenis tingkah laku manusia :
a.
melarikan
diri karena perasaan takut
b.
menolak
Karena jijik
c.
ingin
tahu karena takjub sesuatu
d.
melawan
karena kemarahan
e.
menonjolkan
diri karena adanya harga diri.
3. Nafsu dan dorongan-dorongannya.
Nafsu dalam kajian tasawuf dibagi menjadi 4 poin :
a.
nafsu
mutmainnah yang mendorong kepada taat kepada allah
b.
nafsu
lawwamah yang mendorog kearah perbuatan mencela atau merendahkan orang lain
c.
nafsu
amarah yang mendorong kearah perbuatan yang merusak
d.
nafsu
birahi yang mendorong kearah perbuatan seksual
4. Karakter atau tabiat manusia
merupakan kemampuan psikologi yang dibawa sejak kelahirannya. Karakter ini berkaitan
dengan tingkah laku moral dan social serta etis seseorang. Karakter terbentuk
kekuatan dalam diri manusia, bukan terbentuk dari dunia luar. Karakter erat
hubungannya degan personalits (kepriadian seseorang). Oleh karena itu tidak
bisa dibedakan dengan jelas.
5. Hereditas atau keturunan merupakan
factor kemampuan dasar yang mengandung cirri-ciri psikologis dan fisiologis
yang diturunkan atau diwariskan oleh orang tua baik dalam garis yang telah
jauh.
E.
Macam-Macam Potensi Manusia
Sebagai
mana telah dijelaskan diatas bahwa fitrah mengacu kepada potensi yang
dimiliki manusia. Potensi itu diantaranya yaitu,
1) Potensi beragama
Perasaan
keagamaan adalah naluri yang dibawa sejak lahir bersama ketika manusia
dilahirkan. Manusia memerlukan keimanan kepada zat tertinggi yang Maha
Unggul di luar dirinya dan dan diluar dari alam benda yang dihayati olehnya.
Naluri beragama mulai tumbuh apabila manusia dihadapkan pada persoalan
persoalan yang melingkupinya.
Akal akan
menyadari kekerdilannya dan mengakui akan kudratnya yang terbatas.[7]
Akal akan insaf bahwa kesempurnaan ilmu hanyalah bagi pencipta alam jagat raya
ini, yaitu Allah. Islam bertujuan merealisasikan penghambaan sang hamba kepada
Tuhannya saja. Memberantas perhambaan sesame hamba Tuhan. Insan dibawa
menyembah kehadirat Allah penciptanya dengan tulus ikhlas tersisih dari syirik
atau sebarang penyekutuannya.
2) Kecenderungan moral
Kecenderungan
moral erat kaitannya dengan potensi beragama. Ia mampu untuk membedakan yang
baik dan buruk. Atau yang memiliki hati yang dapat mengarahkan kehendak dan
akal. Apabila dipandang dari pengertian fitrah seperti di atas, maka
kecenderungan moral itu bisa mengarah kepada dua hal sebagaimana terdapat dalam
surat Asy-Syam ayat 7:
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ
7. dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya),
8.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
3) Manusia
bersifat luwes, lentur (fleksible).[8]
Manusia mampu dibentuk dan diubah. Ia mampu menguasai ilmu pengetahuan,
menghayati adatadat, nilai, tendeni atau aliran baru. Atau meninggalkan adat,
nilai dan aliran lama, dengan cara interaksi social baik dengan lingkungan yang
bersifat alam atau kebudayaan. Allah berfirman tentang bagaimana sifat manusia
yang mudah lentur, terdapat dalam surat Al Insan ayat 3
$¯RÎ) çm»uZ÷yyd @Î6¡¡9$# $¨BÎ) #[Ï.$x© $¨BÎ)ur #·qàÿx. ÇÌÈ
3. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada
yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
4) Kecenderungan bermasyarakat
Manusia
juga memiliki kecendrungan bersosial dan bermasyarakat. Menurut Ibnu Taimiyah, dalam diri
manusia setidaknya terdapat tiga potensi (fitrah), yaitu:[9]
a)
Daya intelektual (quwwat al-‘aql), yaitu potensi dasar
yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk. Dengan daya
intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
b) Daya
ofensif (quwwat al-syahwat), yaitu potensi dasar yang mampu menginduksi
obyek-obyek yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara
jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang.
c)
Daya defensif (quwwat al-ghadhab) yaitu potensi dasar yang dapat
menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang membahayakan dirinya. Namun
demikian, diantara ketiga potensi tersebut, di samping agama – potensi akal
menduduki posisi sentral sebagai alat kendali (kontrol) dua potensi lainnya.
Dengan demikian, akan teraktualisasikannya seluruh potensi yang ada secara maksimal,
sebagaimana yang disinyalir oleh Allah dalam kitab dan ajaran-ajaranNya.
Penginkaran dan pemalsuan manusia akan posisi potensi yang dimilikinya itulah
yang akan menyebabkannya melakukan perbuatan amoral.
Menurut Ibnu Taimiyah membagi fitrah manusia kepada
dua bentuk, yaitu:
1.
Fitrah al
gharizat
Merupakan
potensi dalam diri manusia yang dibawanya sejak lahir. Bentuk fitrah ini
berupa nafsu, akal, dan hati nurani. Fitrah (potensi) ini dapat
dikembangkan melalui jalan pendidikan.
2.
Fitrah al munazalat
Merupakan
potensi luar manusia. Adapun fitrah ini adalah diturunkan Allah untuk
membimbing dan mengarahkan fitrah al gharizat berkembang sesuai dengan
fitrahnya yang hanif. Semakin tinggi interaksi antara kedua fitrah
tersebut, maka akan semakin tinggi pula kualitas manusia.
Dari semua
penjelasan mengenai potensi manusia, tampak jelas bahwa lingkungan sebagai
faktor eksternal. Lingkungan ikut mempengaruhi dinamika dan arah pertumbuhan fitrah
manusia. Semakin baik penempaan fitrah yang dimiliki manusia, maka akan
semakin baiklah kepribadiannya. Demikian pula sebaliknya, penempaan dan
pembinaan fitrah yang dimiliki tidak pada fitrahnya maka manusia akan
tergelincir dari tujuan hidupnya. Untuk itu salah satu pembinaan fitrah
dengan pendidikan.
F.
Kehendak Bebas Manusia
Pendidikan
Islam yang di lakukan untuk membina manusia agar menjadi manusia berinsan kamil
dan bertauhid kepada Allah sesuai ftrah nya, maka harus dilakukan an berjalan
di atas dasar dari fitrah yang telah dibentuk Allah dalam setiap pribadi
manusia. Pola dasar ini mengandung potensi psikologis yang kompleks,[10]
Dimana didalamnya terdapat aspek-aspek kemampuan dasar yang dapat dikembangkan
secara dialektis interaksional (saling mengacu dan mempengaruhi ) untuk
membentuk kepribadian yang serba utuh dan sempurna melalui arahan kependidikan.
Salah satu
aspek potensial dari apa yang disebut fitrah adalah kemampuan
berpikir manusia dimana rasio atau intelligesi (kecerdasan) menjadi pusat
perkembangannya. Para pendidik muslim menganggap bahwa kemampuan ini menjadi
pembeda yang paling esensial antara manusia dengan makhluk lainnya. Seperti
hewan dan tumbuhan tidak akan didapati kapabilitas berfikir seperti pada
manusia. Dengan kemampuan berfikir, manusia diberikan kebebasan berkehendak
untuk melakukan sesuatu.
Dalam
kaitannya dengan kemampuan dasar, Abul al Maududi menyatakan bahwa
manusia dalam kehidupannya terdapat dua aspek atau suasana kehidupan yang
berbeda. Manussia memiliki kebebasan dalam memilih beriman atau tidak.
Hal ini ditegaskan dalam QS. Al Kahfi: 29
È@è%ur ,ysø9$# `ÏB óOä3În/§ ( `yJsù uä!$x© `ÏB÷sãù=sù ÆtBur uä!$x© öàÿõ3uù=sù 4 !$¯RÎ) $tRôtGôãr& tûüÏJÎ=»©à=Ï9 #·$tR xÞ%tnr& öNÍkÍ5 $ygè%Ï#uß 4 bÎ)ur (#qèVÉótGó¡o (#qèO$tóã &ä!$yJÎ/ È@ôgßJø9$%x. Èqô±o onqã_âqø9$# 4 [ø©Î/ Ü>#u¤³9$# ôNuä!$yur $¸)xÿs?öãB ÇËÒÈ
29. dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu;
Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa
yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan
bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika
mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi
yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan
tempat istirahat yang paling jelek.
Kehendak
bebas (free will) ini yang membuat manusia mengadaka pilihan yang berasal dari
unsur yang berinteraksi dengan fitrah. Perjalanan fungsi-fungsi fitrah ini
dipengaruhi oleh kehendak bebas yang dimiliki manusia.
G.
Hubngan Fitrah Manusia dan Kependidikan
Fitrah yang mengandung implikasi
pendidikan mengandung paham nativisme. Maksudnya bahwa manusia mempunyai
potensi dasar beragama yang tidak dapat dirubah.[11]
Fitrah yang bercorak nativisme ini berkaitan juga dengan factor
hereditas (keturunan) yang bersumber dari orang tua, termasuk juga keturunan
beragama. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Nuh ayat 26-27
tA$s%ur ÓyqçR Éb>§ w öxs? n?tã ÇÚöF{$# z`ÏB tûïÍÏÿ»s3ø9$# #·$y ÇËÏÈ y7¨RÎ) bÎ) öNèdöxs? (#q=ÅÒã y$t6Ïã wur (#ÿrà$Î#t wÎ) #\Å_$sù #Y$¤ÿ2 ÇËÐÈ
26. Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan
seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
27. Sesungguhnya jika
Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu,
dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat
kafir.
Menurut
Ali Fikri dalam buku M. Arifin, salah
seorang ahli pendidikan Mesir menyatakan bahwa kecenderunga nafsu
berpindah dari orang tua secara turun temurun.Namun demikian fitrah itu
tetap harus dipelihara dan dan dijaga. Sehingga peran lingkungan sangat penting
dalam mengembangkan potensi seorang manusia. Potensi anak akan dikembangkan melalui proses pendidikan. Sehingga
dalam proses pendidikan menjelaskan bahwa fitrah yang telah dibawa sejak
lahir bagi anak akan memiliki pengaruh yang cukup besar dipengaruhi dengan
lingkungan.
Fitrah tidak akan berkembang tanpa
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar. Lingkungan mampu mengubah fitrah
secara drastis, ketika lingkungan sebagai tempat interaksi membentuk kepada hal
yang buruk. Sifat dasar fitrah ditentukan dari semakin sering atau
tidaknya dengan lingkungan. Meskipun demikian, lingkungan tidak selamanya mampu
mengubah kepribadian seseorang. Banyak juga contoh orang baik lahir dari
lingkungan atau masyarakat yang zhalim.
Lingkungan
merupakan faktor yang mepengaruhi manusia, meskipun demikian bukanlah menjadi
faktor utama. Hal ini dikarena masih adanya faktor lain yang bisa mempengaruhi
tingkah laku manusia. Melalui proses belajar, manusia bisa menjadi orang-orang
yang bermanfaat. Fitrah tersebut harus diarahkan kearah yang positif
agar tidak menimbulkan suatu persepsi yang negative.
Konsep fitrah
juga menuntut agar pendidikan islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan demi
terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah. Sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya bahwa fitrah manusia dekat dengan tauid. Tauhid
telah menjadi essensi dari semua bentuk agam-agama. Konsep tauhid inilah
yang memberikan tekanan kekuasaan Allah yang mesti dipatuhi dalam kurikulum
pendidikan islam. Sebagaimana dalam firman Allah QS. Al A’raf: 172.
øÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPy#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJÍhè öNèdypkôr&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka
menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)",
Fitrah juga dapat diartikan sebagai
kecenderungan-kecenderungan, seperti makan, minum, kebutuhan berketurunan dan lainnya. Kecenderunga ini berperan bagi
jasmani manusia yang tercipta dari tanah, sebagimana terdapat dalam surat As- Sajadah
ayat 7
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ
7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kebutuhan-kebutuhan
tersebut merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Apabila ditelaah, kebutuhan manusia hampir sama dengan kebutuhan
makhluk lainnya, seperti binatang dan tumbuhan. Tambahan lagi, manusia selalu
ingin dan mengikuti rasa nyaman dan tidak ingin tunduk pada kode etik.
Apabila manusia bertingkah laku seperti itu,
maka mirip dengan tingkah laku binatang. Untuk membedakan manusia dengan
penciptaan Allah yang lain, maka manusia harus dididik. Kecenderungan tesebut
tetap harus dipenuhi seperti makan dan minum, dan lainnya. Tetapi kecenderungan tersebut harus tetap dikontrol
sehingga bisa terealisasikan dengan baik.
H.
Implikasi pendidikan yang mengacu kepada fitrah manusia
Dalam
Rangka membina dan mengembangkan seluruh potensi, baik potensi jasmani maupun
rohani, secara efektif dapat dilakukan pendidikan. Dalam proses pendidikan,
manusia mampu membentuk kepribadiannya, mentransfer kebudayaannya dari suatu komunitas
kepada komunitas
yang lain. Mengetahui nilai baik dan buruk sesuatu hal, dan lain sebagainya.
Telah
ditegaskan tentang fitrah yang baik dan sifat dasar manusia yang
menguntungkan. Namun, belum memancarkan cahaya bagi sumber kejahatan atau
hal-hal yang memunculkan perbuatan yang jahat. Untuk itu diperlukan
sumber-sumber pencarian dimana manusia memberikan reaksi terhadap objek-objek
yang ada padanya.
Untuk itu
manusia harus terus belajar agar bisa menhadapi kondisi-kondisi tersebut
diatas. Pendidikan harus mampu mengsinergikan antara potensi jasmani dan rohani agar tidak
terjadi ketimpangan seperti banyak terjadi di zaman sekarang ini.
Implikasi-implikasi kehendak bebas manusia
telah melibatka proses pendidikan. Pendidikan menjadi titik perhatian dengan
memberi bantuan kepada pelajar yang
mengevaluasi alternatif-alternatif dan menyeleksi mana
yang baik dan mana yang buruk. Pendidikan tidak dipandang sebagai proses
pemaksaan dari seorang pendidik untuk menentukan setiap langkah yang harus
diterima oleh anak didiknya secara individu.
Maka bimbingan merupakan Implikasi yang mana karakteristik pendidikan yang
utama harus memperhatikan kebebasan ini. Dengan demikian, muncul tingkatan
hidayah, dimana hidayah kedua diperoleh dari pendidik sedangkan hidayah pada
tingkatan ketiga diperoleh oleh anak didiknya.
Pendidikan
harus dikaitkan dengan pengembangan teknik-teknik yang at raya memadai. Hal ini
dikarenakan sifat lahiriyah dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia.
Namun juga, bumi dihamparkan sebagai kemudahan bagi manusia, seperti
adanya malam dan siang. Malam dan siang matahari dan bulan dan objek lainnya
Telah di
tegaskan bahwa fitrah yang baik sifat dasarnya menguntungkan manusia
lainnya.Namun demikian belum mampu melibaskan cahaya bagi sumber kejahatan atau
hal-hal yang memunculkan perbuatan jahat. Sumber-sumber jahat I tersebut tidak
di peroleh kecuali manusia memberikan reaksi terhadap objek-objek yang ada
padanya karna tidak ada objek lainnya. Hal ini dikarenakan benda-benda
gemerlapan hanyalah ujian.ak sanggup
Acuan al
qur’an yang berkenaan dengan alam semesta menunjukan bahwa alam jagat raya
merupakan sahabat bagi manusia.Sehingga tujuan dari pendidikan yaitu adanya
integritas antara dua kecerdasan.Penekanan kecerdasan untuk menundukkan
musuh-musuh yang tidak sedikit jumlahnya seakan-akan diiringi oleh perasaan
takut dan gelisah.Namun,begitu juga sebaliknya alam bisa menjadi hal yang
menguntung kan.Sehingga manusia lebih aman dan lebih selamat.
I. Penutup
Manusia
memelukan Pendidikan untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Hal ini dikarenakan, fitrah
manusia tidak bisa dibiarkan berkembang bebas. Fitrah tersebut harus
dididik dan diarahkan agar sesuai dengan tujuan peran manusia diciptakan di muka bumi ini. Sebagaimana
telah dijelaskan bahwa fitrah mempunyai dua kecenderungan yang berlawanan, yaitu kearah kebaikan dan ke
burukan. Untuk itu, proses pendidikan harus dilakukan, agar manusia tetap
berada dalam lingkup kebaikan.
sebagimana terdapat dalam surat As- Samsy: ayat 7 – 10
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ ôs%ur z>%s{ `tB $yg9¢y ÇÊÉÈ
7. dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya),
8.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
9.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10.
dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Daftar Pustaka
Abdullah,
Abdurrahman Saleh. 2007. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al Qur’an.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Ali,
Yunasir. 1997. Manusia Citra Ilahi. Jakarta: PT Temprint
Al
Syaibani, Omar Muhammad al Toumy. 1979. Falsafa Pendidikan Islam. Jakarta:
Bulan Bintang
M.Arifin.
2003. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara
——.
Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara
Nizar,
Samsul. 2001. Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta:
Media Pratama
Ramayulis.
2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Suharsono.
2005. Mencerdaskan ANak. Depok: Inisiasi Press
[1] Samsul
Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikira Pendidikan Islam, (Jakarta: Media
Pratama,2001), h. 44
[2] M.Arifin,
Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003) h. 42
[3] Samsul
Nizar, Op Cit., h. 73
[5] Abdurrahman
Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan AL Qur’an, (Jakarta:
PT Rineka Cipta, 1994). H. 68
[7] Omar
M. Al Toumy al Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam (Terjemahan), (
Jakarta: Bulan Bintang,1979). h. 122
[10] M.
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta:Bumi Aksara, 1991) h. 158
[11] Ibid.h.43
Tidak ada komentar:
Posting Komentar